The Last Legacy (Hidden Identity)

The Last Legacy (Hidden Identity)
4. IAO & Entrance test



jiAthela dan wanita itu tiba-tiba muncul di dalam sebuah bangunan. Sebuah ruangan bercat putih dengan fasilitas yang modern. Di tengah ruangan ada sebuah meja, dan banyak layar dari kaca. 


Di depan layar paling besar ada sebuah sofa putih dan meja yang penuh dengan toples berisi kue. 


"Ini dimana? Dan kamu siapa?" 


Wanita itu kembali tersenyum. Kemudian mengajak Athela untuk duduk di sofa. 


"Ini ruangan ku. Aku adalah kepala sekolah di Internasional Academy of OZORA Prep. Namaku adalah Wendy Qozzy Fonda. Anak tertua dari klan Fonda yang memegang bagian akademik." jelas Wendy. 


Yang Athela tangkap dan mengerti adalah, dia berada di ruangan wanita bernama Wendy yang seorang kepala sekolah yang tidak diketahui Athela. 


"Sepertinya kamu masih bingung dengan beberapa hal. Akan ku jelaskan langsung ke intinya. Sekarang kamu berada di ruanganku, yang berada di  atau yang biasa di kenal dengan IAO. Ibumu sudah mendaftarkan namamu di akademi ini sejak kamu baru lahir. Namun karena IAO juga punya syarat dan ketentuan, maka hari ini kamu akan menjalani test pendaftaran sebagai murid IAO." Athela diam saja karena dia masih menuntut penjelasan yang lebih rinci. 


"Setelah test, dengan hasil yang akan kamu dapat, bisa langsung menentukan kamu lulus atau tidak dan tingkat kelas mu. Kelas disini tidak di mulai dengan umur, kecuali kelas reguler yang wajib dan memang sesuai dengan tingkat umur kamu. Sebelum aku jelaskan lebih lanjut, bagaimana kalau kita jalani test nya sekarang?" Wendy berdiri lebih dahulu, dan diikuti dengan Athela. 


"Tas sama kopermu taruh saja di sini, kamu cuman akan test elemen." Athela pun menaruh tas dan kopernya di atas sofa putih itu, kemudian mereka berjalan mendekati pintu yang berada di bagian belakang ruangan. 


Saat pintu itu di buka, mereka sampai di sebuah gedung besar berbentuk bundar dengan Athela dan Wendy yang berjalan di atas sebuah lapangan luas yang dibawah sedang terlihat ada dua orang berjenis kelamin laki-laki sedang melemparkan api dan es satu-sama lain. Atapnya seperti sebuah kubah dari kaca namun menghalangi sinar matahari dan menjadikannya cahaya seperti lampu secukup yang diperlukan untuk penerangan.


Mereka tidak melanjut perjalanan mereka dahulu dan berhenti tepat di tengah-tengah koridor kecil itu dan melihat ke bawah. Saat Athela menoleh ke belakang, pintu yang mereka lewati telah menghilang. 


"Kita berada di pusat pelatihan & riset elemen. Yang dibawah adalah lapangan penguji. Biasa digunakan untuk ujian atau sekedar untuk latihan. Ujian yang dipakai itu biasanya bagaimana cara kamu bisa menyesuaikan elemen yang ditunjukkan di layar untukmu, jika kamu memiliki lebih dari satu elemen yang dikuasai, biasa juga kamu diharuskan menggunakan keduanya dengan ketentuan yang berlaku." 


"Yang berambut merah itu api, dan perak itu es bukan?" Athela menoleh ke arah Wendy dan bertanya. Wendy mengangguk membenarkan pertanyaan Athela.  


"Es dan Api sangat bertolak belakang, tapi kedua pemuda itu bisa menguasai Es dan Api. Lihat rambut mereka. Yang berambut putih, ujung-ujung rambutnya berubah menjadi merah, dan yang berambut merah menjadi putih. Itu jarang terjadi kecuali mereka memiliki keturunan campuran api dan es." jelas Wendy. 


"Seperti kesatuan kedua kerajaan besar? Moisan dan Le Soleil." tebak Athela. Wendy kembali mengagguk dan kembali melihat ke arah bawah. 


"Yang berambut merah, adalah Pangeran Alex. Dia seumuran denganmu, sedangkan yang berambut putih adalah kakaknya, Putra Mahkota, Pangeran Jackson Vulkan Ozoranio." Athela mendesah mengerti. Pantas saja keduanya tampak mirip. Bedanya hanya rambut dan ekspresi? Soalnya sang adik terliat tersenyum bahagia dan menikmati jalannya pertandingan, sedangkan sang kakak sangat serius. 


"Kamu bisa melihatnya lain kali, sekarang kita ke ruang test." Athela mengangguk, kemudian mengekor di belakang Wendy menuju ke tempat yang Wendy maksud. 


Mereka telah keluar dari koridor itu. Mereka berada di koridor lain yang mengikuti bentuk gedung yang bulat, hanya saja mereka berada di lantai paling atas. Gedung itu berlantai 10. Tengah-tengahnya kosong, khusus untuk lapangan, kecuali koridor tengah itu. Di lantai 10, ada beberapa ruangan simulasi yang bisa digunakan untuk latihan atau uji coba masuk. 


Koridor lantai 10 itu tidak terlalu ramai, berbeda dengan koridor lantai 1,2, dan 3 yang dipenuhi para siswa-siswi, dari berbagai kelas. 


Wendy berdiri di depan sebuah pintu putih, seperti pintu-pintu yang lainnya yang berada di lantai 10. Kemudian dia mengangkat lengannya ke arah sebuah layar kecil di dinding samping pintu. Setelah tertulis 'sukses' pintu tersebut terbuka, dan mereka langsung masuk kedalam. 


Hal pertama yang Athela liat adalah sebuah dinding kaca yang di sebrang sana ada sebuah Kursi berwarna putih. Terlihat biasa namun aneh. Ada beberapa orang di dalam sana, didinding kaca muncul sebuah simbol berbentuk api biru dan merah, air, es, petir, gunung yang mengeluarkan lava, tanah, dan sebuah simbol lingkaran rumit. 


"Ini adalah ruang viritual test. Kamu akan duduk di sana, dan mengikuti test dengan otak mu." jelas Wendy secara singkat. 


"Ini aman kan?" tanya Athela. 


"Tentu saja. Kamu akan di beri lawan per level. Levelnya hanya sampai 3, jika kamu lulus ketiga level itu, berarti kamu lulus ujian masuk. Nilai test berdasarkan bagaimana kamu mengalahkan lawanmu dan seberapa cepat itu. Dan selama tiga level, kamu hanya punya 3 nyawa. Kamu akan melawan lawanmu dengan elemen yang kamu punya." 


"Tapi, aku bahkan tidak tau elemen apa yang aku punya dan bisa ku kuasai." Wendy tersenyum dan mengangguk  mengerti apa yang dibingungkan Athela. 


"Itulah kenapa kita akan mengangtifkan semua elemen, bahkan sihir test, dan membiarkan kamu yang menunjukkan sendiri elemen apa yang kamu kuasai. Sekarang masuklah kedalam." 


Athela melangkah mendekati bagian dinding kaca yang selurusan dengan pintu masuk. DInding itu tergeser, dan masuklah dia bersama seorang petugas dengan jas dokter. 


"Berikan gelangmu, kasih masuk kedalam kotak ini." kata orang itu menyuruh Athela melepaskan V-B miliknya dan menaruhnya di kotak gelang yang dipegangnya. Kemudian Athela diberi arahan untuk duduk di kursi. 


"Kamu harus fokus danjangan panik saat melihat lawanmu. Fokus, cari titik lemahnya dan serang. Mengerti?" Athela mengangguk mengerti kemudian dipasangkan sebuah VR kekepalanya dan telinganya. Saat VR itu terpasang dengan sempurna, dua buah sabuk pengaman muncul dan menyilangi tubuh Athela. 



Tiba-tiba ada sebuah cahaya berwarna biru yang sangat menyilaukan, bahkan Athela menutup matanya rapat karena cahaya yang di keluarkan benar-benar sangat terang. 


Cahaya itu perlahan meredup, dan Athela juga membuka matanya perlahan-lahan, mencoba menyesuaikan dengan cahaya yang ada. Saat matanya terbuka dengan sempurna, dia berada di sebuah hutan rawa. Dengan air rawa yang membasahi celananya. Dan Athela sadar bahwa dia mengenakan baju yang berbeda. Sekarang dia memakai sebuah celana jins hitam, dengan kaos putih dan jaket kulit hitam pula.


Athela terdiam sejenak, dia cukup kagum dengan teknologi yang baru saja dia rasakan ini. Namun tak lama, dia berjalan dengan berhati-hati karena daerah bawah air itu sangat licin dan lengket. 


Belum lama dia berjalan, ada sesuatu yang menahan kakinya dan menariknya keluar dari rawa yang berakhir di atas sebuah tanah lumpur. 


"Akh!" erang Athela saat merasa tubuh depannya mendarat dengan tidak mulus ketanah. Sesaat setelah dia mendarat, muncul sebuah pengukur nyawanya yang berkurang 1/5. 


Athela mengendus kesal, kemudian gadis itu kembali bangkit dan mencari dimanakah lawannya berada. 


Athela melihat kearah sekelilingnya, dan dia sedikit tersentak ketika mendengar suara dari belakangnya. Dan munculah sebuah monster yang terbuat dari entah itu rumput, lumut, atau mungkin batang jalar. 


Monster itu dengan cepat bergerak kearah Athela, dan Athela yang bingung harus melakukan apa malah berlari sekuat tenaga, bahkan berlari di batang pohon dan saat dia lebih tinggi dari monster itu, Athela langsung meloncat jungkir balik dan mendarat dengan sempurna di belakang monster rawa itu. 


Monster rawa itu terlihat kebingungan, namun dia langsung berbalik dan kembali menemukan keberadaan Athela. 


Athela melotot terkejut, saat akan kembali berlari, tubuhnya malah langsung dililit dan kakinya meninggalkan pijakan di tanah. 


Athela terus bergerak berusaha untuk melepaskan batang yang mengelilinginya itu, namun bukannya melonggar malah makin mengerat dan itu membuat Athela sesak nafas dan kekurangan oksigen. 


Gadis itu merasa kesal karena dapat dengan mudah di kalahkan. Namun tiba-tiba paru-parunya terisi dengan oksigen kembali dan dia merasa ikatan di tubuhnya melonggar. 


Athela menyadari satu hal. Dia bisa elemen api. Namun tetap saja, gadis itu bingung bagaimana cara mengeluarkannya. 


Monster rawa itu menggeram kesal dan kembali menyerang Athela. Namun Athela dapat meghindar dan langsung meninju udara dengan sekuat tenaga, dan api yang menjadi perwujudan tenaga pukulan Athela yang langsung membakar lengan kanan monster itu. 


Athela tersenyum bangga, kemudian dia kembali menyerang bertubi-tubi sehingga monster rawa itu lenyap tak bersisah. Dan level 1 nya dapat dia selesaikan dengan baik. 


****


Level 2.


Cahaya kembali menyilaukan penglihatan Athela. Dan saat dia bisa membuka matanya dan menyesuaikan dengan cahaya yang ada, gadis itu berada di sebuah gurun pasir. 


Suhu udara dan matahari yang bersinar terik membuat Athela merasa sangat kepanasan. Gadis itu membuka jaketnya karena merasa kepanasan, belum lagi suhu udara yang tinggi bertambah terasa karena angin yang berhembus lumayan kencang. 


Entah kenapa Athela merasa dirinya memang tidak bergerak, namun sekarang seperti sedang turun? gadis itu menunduk dan melihat kenapa tubuhnya bergerak turun, ternyata dia berada di atas pasir hisab. 


Athela bergerak mencoba keluar dari sana, namun itu malah membuatnya makin tenggelam dengan cepat. 


Sekarang tinggal kepala Athela yang berada di atas, dan perlahan-lahan mulai tenggelam. 


Saat berada di dalam pasir sepenuhnya, mata Athela tertutup namun dia seperti dapat melihat sebuah tagar nyawanya yang berkurang dengan cepat dan menghilangkan 1 nyawanya. Berarti nyawa Athela tinggal 2, dan jika dia terlalu lama terjebak, nyawanya akan segera habis. 


Athela merasa ada sesuatu yang bisa dia tarik dari bawah dengan kedua tangannya. Dengan sekuat tenaga, gadis itu menggerakkan kedua tangannya agar menekuk dan mengetahui apa yang ia rasa seperti sebuah tarikan. 


"Akh!" erang Athela dengan sekuat tenaga menggerakkan kedua lengan tangannya. 


'Byur...


Athela terdorong keluar bersamaan dengan sebuah lojakan air yang sangat bersar ikut keluar. Gadis itu terlempar dan mendarat di pasir dengan tubuh yang basah karena air, bahkan dia terbatuk-batuk karena seperti habis tenggelam ke dalam air. 


'Owh, great, i can fire and water.' 


setelah itu cahaya biru kembali menyilaukan matanya.


****


Level 3


Athela terbangun di sebuah tempat asing. Disana sedikit gelap, namun kemudian muncul cahaya dari obor yang berada di tiang-tiang bangunan. 


Athela berdiri dari posisinya yang terduduk di tanah. Gadis itu menatap kesekitar untuk ketiga kalinya. Mencoba menebak dimana dia dan apa yang akan dia hadapi sebentar. 


Athela memfokuskan pandangannya, dia sepertinya berada di sebuah tempat kuno. Atau perpustakaan kuno? Karena di depannya banyak sekali terlihat sebuah rak-rak buku. Dan di sampingnya ada sebuah kolam kering. Mungkin dia berada di tengah-tengah perpustakaan kuno itu. 


"Perpustakaan kuno. Dinding, rak dan lantai dari tanah. Tidak ada cahaya matahari. Jangan-jangan..." gumam Athela untuk dirinya sendiri. 


"Ergggg..." suara menyeramkan yang terdengar dari balik rak buku di belakang Athela, diikuti dari depan dan samping Athela yang ikut terdengar suara erangan menyeramkan. 


Muncul sebuah zombi yang terbaluti dengan perban di seluruh tubuhnya. Biasanya zombi itu disebut dengan mumi. Monster kuno gurun pasir. 


Ada 4 mumi yang muncul, dari depan, belakang dan samping kanan/kiri Athela. Saat mumi itu mendekat, Athela langsung menyerang mereka dengan pukulan api dan tendangan. Athela sedikit mulai mengerti cara mengenakan kekuatan elemen itu, terutama untuk api. Dia seperti berantem kayak biasanya, melakukan teknik tinju dan tendangan namun kepada udara dan mengubah oksigen di sekitar menjadi api. 


Satu-persatu keempat mumi itu terbakar dan berubah menjadi abu. Namun Athela sadar itu terlalu mudah. Dan tebakannya benar. Dari keempat arah itu muncul lebih banyak Mumi. 5 dari masing-masing arah. 


Athela kembali mengeluarkan api, dia mencoba untuk melemparnya dan merhasil langsung membakar dua. Gadis itu kemudian menendang ke arah kanan dan langsung meninju ke arah depan dan mengabisi semua mumi yang ada. 


Athela menyeka bulih keringatnya yang mengalir karena kelelahan dan suhu udara panas di sana. Ingin sekali dia sedikit beristirahat dan mengumpulkan tenaga, namun sayangnya para mumi muncul kembali dengan jumlah yang lebih banyak dan lebih besar. 


Para mumi itu kembali menyerang Athela dengan penuh nafsu, Athela juga langsung menyerang semua mumi itu. Muminya bertambah banyak dan bertambah besar. 


Saat Athela fokus menyerang, seorang mumi menangkap kakinya saat menendang dan menyeretnya jatuh. Kemudian dia di lilit dengan perban mumi itu sampai tak dapat bernafas. Nyawa Athela hilang satu, sekarang dia tinggal memiliki 1 nyawa tersisa. 


Dengan sekuat tenaga, Athela mengerang kesal dan membakar perban yang melilitnya. 


"Akhg!" erang kesal Athela yang mengeluarkan api dari seluruh tubuhnya yang membakar seluruh perban yang melilitnya bahkan sumber perban itu. 3 mumi ikut terbakar. 


Athela jatuh tersungkur saat terbebas dari perban. Gadis itu langsung memperbaiki posisi nya menjadi terduduk dengan satu lutut sebagai ganjalan. Kemudian dia berdiri dan kembali menyerang Mumi yang jumlahnya makin banyak itu. 


Athela melompat kearah satu mumi ke mumi lainnya untuk dapat melompat tinggi ke udara. Selama dia di udara dia langsung mengeluarkan api terus menerus dan membakar semua mumi yang ada. Namun mumi-mumi itu terus berdatangan. 


Athela mendarat kembali ke tanah dengan posisi bersedia dan tinak sengaja ia meninju tanah karena pendaratan yang tidak sempurna. 


'creak...


Seluruh tanah di sana tiba-tiba bergetar, membuat beberapa Mumi yang mendekati Athela berhenti bahkan ada yang terjatuh. Seluruhnya bergetar kecuali yang di pijaki Athela. Dan kemudian tak lama, tanah itu retak dan hancur membuat semua mumi yang ada di sana jatuh tenggelam kedasar tanah. 


'MISSION ACCOMPLISHED.'


*****