
"Prince Jack!" panggil seorang gadis dengan rambut berwarna biru berseling putih.
Jack mendengar bahkan mengetahui siapa yang memanggilnya. Namun, pemuda itu berpura-pura tidak mendengar dan tetap berjalan tanpa merasa apapun.
"Jack! Aku memanggilmu sejak tadi, apa kamu tidak mendengarku?" ujar Oceanna saat menghadang jalan Jack. Jack tidak memberi tanggapan ataupun jawaban kepada Anna. Lihat wajahnya saja Jack malas apalagi mengobrol dengan gadis itu.
Walaupun Jack men-cuekinya Oceanna tidak menyerah. Gadis itu kembali berbicara tentang apa yang memang ingin ia sampaikan.
"Aku mau belajar teknik es yang baru, tapi sulit sekali. Mau membantuku?" tanya Oceanna dengan wajah memelas. Mungkin jika dia meminta tolong pada orang lain pasti akan segera di kabulkan, apalagi wajah cantiknya yang begitu imut ketika melakukan ekspresi itu. Sayangnya dia sedang membujuk Jack yang hanya bisa luluh oleh 2 orang spesial di hidupnya.
"i'm Busy!" jawab Jack dengan sarkis dan berjalan melalui Oceanna.
Ternyata Oceanna tidak menyerah dan mempunyai permintaan lain. Dia kembali menghalangi Jack dan itu membuat Jack bertambah kesal. Wajahnya menjadi lebih datar lagi.
"Kalau begitu, nanti saat pemilihan partner, pilih aku ya?! WAJIB!" pinta Oceanna memaksa.
"It's Impossible. Kalau kamu lupa, kamu juga ikut memilih partner." ujar Jack yang diakhiri desisan sinis. Saat berjalan melewati Oceanna, Jack tiba-tiba terdiam.
"Bagaimana? Pasti kamu berubah pikirankan?" kata-kata Oceanna sama sekali tidak terdengar di telinga Jack. Pemuda itu tiba-tiba menjadi tuli.
Oceanna yang bingung kenapa Jack hanya diam, melihat kearah pandang Jack. Disana ada Athela yang bergandengan dengan Lily dan gadis itu terlihat berdebat dengan Alex yang berdiri di sampingnya sedangkan Lily hanya mencoba menenangkan Athela beberapa kali karena benar-benar ingin menghabisi Alex.
"Well, look who is it..." ujar Oceanna yang lebih mirip dengan sindiran. Athela dan Alex berhenti berdebat. Lily yang tadinya tertawa sesekali karena merasa Athela dan Alex lucu juga ikut berhenti, bahkan gadis itu menunduk tidak berani menatap Oceanna sama sekali.
"Tidak dapat Crown Prince, sekarang pindah mengejar Secont Prince huh..." Oceanna menatap sinis Lily. "Athela aku sudah memperingatkan mu untuk jauh-jauh dari gadis jalang di sampingmu itu. Kamu tidak tau apa yang akan dia manfaatkan darimu. Mungkin mengambil Alex? Kalian terlihat akrab. Well sebagai kakak ipar, aku..." belum selesai Oceanna membicarakan angan-angannya, Jack tiba-tiba menarik Athela, bahkan mengendong gadis itu ala 'bridal' dan langsung menghilang karena teleportasi. Dan itu membuat mereka semua shok, terutama Oceanna.
'Jadi dia bukan melihat Lily melainkan Athela?! DAMN, SHIT! Awas saja, suatu haru nanti Jack, kamu yang akan berlutut memohon padaku.'
****
Jack berteleport ke sebuah taman luas yang sangat indah. Bunga-bunga yang bermacam-macam warna dan jenis tersusun dengan indah, begitu pula dengan pepohonan dan tumbuhan indah dan langka lainnya.
Jack menurunkan Athela dari gendongannya. Athela yang tadinya terkejut dan sangat ingin bertanya pada Jack mengapa tiba-tiba membawanya pergi begitu saja malah melupakan hal itu karena terpesona dengan keindahan taman di hadapannya. Terpesona dengan hamparan bunga dan pepohonan yang begitu cantik.
Sembari melihat-lihat sekitarnya, Athela bertanya pada Jack. "Kita ada dimana?" tanya Athela sembari mendekati sebuah mawar yang baru mekar.
Jack berjalan mendekat ke arah Athela dengan kedua tangan ia masukkan kedalam kantong celana seragamnya. "The Heaven Garden of Ozorania Kingdom." jawab Jack dengan santainya.
Mendengar itu, Athela menegakkan badannya dan berbalik menatap Jack. "Jangan bilang kalau sekarang kita sedang berada di istana." Jack malah mengangguk. Athela melarangnya berucap jadi Jack hanya mengangguk sebagai jawaban pastinya.
Reflek, Athela memukul bahu Jack. "Kamu gila? Aku bisa dihukum kalau sampai ketahuan berada di sini!" panik Athela.
"Itu tidak akan terjadi. Kan aku bersamamu." saat Jack mengatakan itu entah kenapa wajahnya terasa panas.
Karena tidak ingin Jack melhat wajahnya yang sepertinya memerah, gadis itu berbalik dan kembali melihat-lihat bunga yang ada.
Jack sebenarnya sadar kalau wajah Athela sedikit memerah. Pemuda itu bahkan tersenyum walau sangat tipis. Kemudian secara tiba-tiba Jack menggenggam tangan Athela dan membawanya pergi.
"Kita mau kemana?" tanya Athela karena Jack tiba-tiba menariknya.
Jack tidak menjawab dan terus menarik Athela. Mereka berjalan mengelilingi taman. Bahkan sekarang mereka tengah naik keatas sebuah jembatan kayu yang melintang diatas sebuah sungai.
"Em, Prince Jack... Ak-" Jack tiba-tiba berhenti membuat Athela juga berhenti berbicara karena kaget.
"Kamu memanggil Alex tanpa embel-embel prince, tapi sangat kaku denganku. Panggil aku seperti Alex biasa memanggil ku!" pinta Jack sembari menatap Athela tepat di manik ungu itu.
"Seperti yang Alex panggil untukmu? Ice Prince atau si kejam? Atau, tunggu aku lupa satu lagi panggilan Alex untukmu, kalau tidak salah ada Beruangnya. Ah, beruang kutub!" goda Athela untuk Jack dengan menyebutkan beberapa panggilan khusus Alex untuk kakak tersayangnya, sekaligus Athela telah berhasil mengurangi umur Alex dengan cepat.
'Awas kamu Alex!' batin Jack kesal.
"Panggil Jack saja. Kita seumuran... Ekhm, maksudku hanya beda setahun." Athela sedikit curiga karena Jack salah berucap kalau mereka seumuran, namun kemudian dia mengabaikannya.
"Kalau begitu, Jack kenapa kamu membawa ku kesini?" tanya Athela tanpa memakai embel-embel Prince lagi. Bahkan keduanya kembali berjalan menyusuri taman dengan tangan yang masih saling bergandengan.
Athela menyerengit bingung. Apa masuk akal seorang pemuda tiba-tiba menggendong seorang gadis tanpa aba-aba dan berteleport ke taman yang luas dan indah dengan alasan hanya ingin. Jelas itu tidak masuk akan.
"Tidak adakah alasan yang lebih logis dan masuk akan?" tanya Athela lagi.
"Kalau begitu. Ra-ha-si-a!" jawab Jack dengan penekanan di akhir kata.
'Tidak mungkin aku mengatakan sekarang kalau aku cemburu Athela. Kamu bahkan belum mengingatku sedikitpun.' batin Jack tentang alasan sebenarnya dia membawa Athela. Jack cemburu dengan kedekatan Athela dan adiknya dan ingin juga berduaan dengan Athela.
Athela membuang nafas kesal kemudian berjalan lebih dahulu dan berhasil melepaskan genggaman mereka. "Athela! Tunggu aku!"
Athela mempercepat langkahnya, namun Jack menariknya dan mereka bersembunyi di balik sebuah pohon. Ternyata ada beberapa maid yang baru saja selesai membersihkan Gazebo yang berada di dekat danau.
"Ja-" Jack langsung memberi isyarat kepada Athela untuk tetap diam dan Athela hanya menurut.
Saat para maid itu telah pergi. Jack bernafas lega dan baru menyadari satu hal. Ia memeluk Athela dan jarak wajah mereka terlalu dekat. "Jack, sudah aman. Kamu bisa melepasku sekarang." Jack segera melepaskan lingkaran lengannya di pinggang Athela dan Athela berjalan menjauh dan keluar dari persembunyian mereka.
Saat keluar dari persembunyian, mereka berjalan ke arah gazebo yag berada di pinggir sungai. Lebih tepatnya Athela berjalan kesana dan Jack hanya mengikut.
"Kalau begitu aku punya pertanyaan yang lain." ujar Athela. Jack bersandar di tiang gazebo yang bergaya ala yunani itu dengan tangan bersimpah di dada.
"Kenapa tadi kita harus bersembunyi?" tanya Athela. Tentu gadis itu bingung karena tadi Jack mengatakan mereka tidak apa-apa di sana karena ada dia.
"Bisa saja mereka melihat kita, tapi aku tidak ingin dapat hukuman dari raja karena membolos dan bersama seorang gadis di taman istana." jawab Jack. Dan Jack baru menyadari satu hal, ini pertama kalinya dia menjelaskan tentang suatu hal yang tidak terlalu penting dengan panjang selain ke ibunya.
"Jadi kamu bohong!"
"Tidak juga, kita aman karena bisa dibilang ini wilayahku, tapi hanya salah jam saja." Athela ingin sekali menceburkan Jack dengan wajah datar nan santainya itu. Bisa-bisanya pemuda itu bilang aman namun ternyata tidak sama sekali. Yah, tabiat lelaki.
"Kalau begitu, kenapa kamu membawa ku ke sini? Banyak kok taman atau tempat yang lain." tanya Athela.
Jack tersenyum kecil, kemudian berjalan mendekati Athela dan berdiri di samping gadis itu. Tinggi Athela yang hanya sebatas dagu Jack harus mendongak agar mereka saling menatap satu sama lain.
Jack tersenyum kemudian memandang ke arah danau. Dan saat Jack tersenyum, Athela baru menyadari kalau Jack memang jauh lebih tampan daripada Alex. Bahkan dengan wajah datarnya saja sudah sangat tampan apalagi saat tersenyum.
"Waktu umurku 7 tahun ada seorang gadis hampir tenggelam disini. Umurnya setahun lebih muda dariku." Athela ikut memandangi danau itu.
"Gadis itu hampir tenggelam karena ingin mengambil jepitannya yang jatuh didanau ini karena keasikan bermain di gazebo bersama Alex dan Quinna." Jack kembali tersenyum kecil karena mengingat masa lalunya itu.
"Siapa Quinna?" tanya Athela karena memang merasa tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya.
"Princess of the Aqua Kingdom." Athela hanya mengangguk mengerti dan mempersilahkan Jack melanjutkan ceritanya.
"Lucunya, jepitan itu jatuh karena Alex tidak sengaja membakarnya dan reflek melepasnya dari rambut gadis itu dan membuangnya ke danau. Gadis itu marah dan menginjak Alex sekuat tenaga kemudian tanpa pikir panjang langsung meloncat terjun padahal dia tidak bisa berenang." Athela sedikit terkekeh.
"Itu bodoh." tanggapnya dengan cepat.
Jack tertawa kecil dan mengangguk. "Ya dia terlalu polos dan nekat makanya jatuhnya ke bodoh. Singkat cerita Alex ingin menolong tapi saat itu dia juga baru belajar berenang, sedangkan danau ini cukup dalam. Quinna ingin menolong namun dia sedang dalam tahap pertumbuhan sehingga harus menghindari yang namanya kolam dan berenang. Jadi mereka berdua memanggilku dan menyuruhku menolongnya. Tentu aku langsung berlari dan menolongnya, bahkan memberinya nafas buatan karena Alex dan Quinna terlalu lama memberitahuku." cerita Jack.
"Jadi karena ciuman pertamamu disini yang menjadikan tempat ini favorit mu?" tanya Athela menebak jawaban pertanyaannya dibalik cerita Jack. Sebenarnya Athela merasa ada sesuatu yang mengganjalnya seperti tidak ingin Jack membenarkan tebakannya.
"Well, yes and no. Tempat ini penuh dengan kenangan menyenangkan dan itulah yang membuatnya spesial."
"Biar ku tebak! Gadis itu, pasti cinta pertamamu... kan?" Athela kembali merasakan rasa sesak yang tadi ia rasakan. Dan dia merutuk bibirnya yang malah bertanya padahal dia sendiri tidak sanggup mendengar jawabannya.
Jack tidak menjawab, hanya tersenyum. Namun bagi Athela itu sudah cukup untuk menjawab semuanya.
Athela hanya tidak tau satu hal dan tidak ingin mengetahuinya. Yaitu siapa gadis yang dimaksud Jack.
****