
Athela dan Jack kembali ke sekolah dengan kekuatan teleportasi milik Jack. Keduanya merasa sedikit canggung setelah kejadian tadi. Dan sejak tadi hingga sekarang mereka telah sampai di depan asrama, tidak satupun ingin berbicara dan masih sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Kalau begitu, sampai nanti." ucap Athela kemudian berjalan lebih dulu ke koridor asrama cewek. Jack menghela nafas kecewa. Dia kecewa karena hanya bisa diam sampai Athela pergi lebih dahulu.
Athela berjalan mendekati lift untuk asrama cewek. Jantungnya masih berdegup kencang, wajahnya terasa panas dan pikirannya tidak fokus. Berada di dekat Jack sebentar saja sudah terasa begitu panas dan aneh. Aneh karena terkadang dia tidak bisa mengontrol tindakannya sendiri.
Saat pintu lift terbuka, Athela yang akan berjalan masuk di cegat oleh seseorang. Lengannya di tarik dengan kuat yang membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. Athela berbalik dan mendapati Oceana menahan lengannya dan berdiri di belakangnya dengan ekspresi geram.
"Tukaran denganku!" pintanya.
Athela menyerengit bingung, tidak mengerti dengan maksud perkataan Oceana yang menyuruhnya bertukar. Bertukar tentang apa? pikir Athela bingung.
Menyadari kebingungan Athela. Oceana tersenyum miring. "Kita tukar kelompok, aku akan berpasangan dengan Jack dan kamu berpasangan dengan partnerku sekarang." ujarnya dengan nada paksaan.
"Bukannya tidak boleh bertukar partner ya?" ucap Athela mencoba tetap sabar walau sejak tadi dia sudah kesal.
"Cih, peraturan konyol itu. Bisa bertukar tapi harus dengan alasan yang jelas dan kuat."
"Kalau begitu apa alasanmu untuk bertukar partner denganku?" tanya Athela yang lebih seperti tengah menantang Oceana.
"Mudah, alasan kenapa kamu harus bertukar denganku adalah karena Jack milikku seorang. Dan sudah sepantasnya seorang pangeran bersama dengan sang putri." ucap Oceana dengan begitu percaya diri.
Athela membasahi bibirnya. "Jack bukan milik siapa-siapa. Dirinya adalah miliknya, dan kamu tidak ada hak untuk memintaku bertukar denganmu karena alasan konyol tidak masuk akal itu." ujar Athela berani. DIa merasa sifatnya saat berada di the Lost Village saat menjadi Purple Killer kembali. Dan Athela menyukainya.
Oceana menggeram kesal. Tangannya yang tadi menggenggam lengan Athela berpindah ke kerah seragam Athela, tangan yang satunya mengeluarkan kekuatannya dan hampir menyerang Athela jika saja temannya tidak mengingatkannya kalau disini ada cctv.
Oceana mengendus kesal. Kemudian dia menatap Athela dengan tatapan sedingin es. "kalau begitu, ayo kitabertanding. Satu lawan satu, di hall of Power. Kalau kamu menang aku tidak akan meminta untuk bertukar partner lagi, tapi kalau aku yang yang menang kamu harus mau bertukar denganku."
Athela tersenyum smirk dan menatap kembali Oceana dengan tatapan seperti mengatakan 'siapa takut?'. Kemudian teman Oceana dengan tongkat sihirnya mengucapkan sebuah mantra yang membuat mereka bertiga berpindah ke Hall of Power di PPRE (Pusat Pelatihan dan Riset Elemet) Mereka berada di lapangan bundar itu, lapangan untuk petarungan sihir maupun elemen.
Oceana berada disisi merah dan Athela di sisi biru. Ocean melirik kearah temannya yang berada di podium bagian kontrol untuk mengaktifkan pelindung agar elemen yang mereka tidak tercecer keluar. Seketika sekeliling mereka diselubungi dinding transparan bagai kaca.
Oceana menatap Athela dengan tatapan meremeh, sedangkan Athela hanya menampilkan ekspresi datarnya. Kemudian saat kedua selubung pelindung itu telah menyatu, muncul seperti hologram besar dan suara.
"Get Ready..." Athela dan Oceana bersiap dengan kuda-kuda mereka.
"Start!"
Oceana melemparkan serangan lebih dahulu. Sebuah bola es berukuran sedang dan langsung melemparnya ke Athela. Athela menghindar, kemudian berlari untuk bertarung jarak dekat dengan Oceana.
Athela meloncat sembari melemparkan sebuah bola-bola api secara berturut-turut yang membuat Oceana harus memfokuskan diri bertahan dari bola-bola itu. Kemudian Athela sampai di depan Oceana, keduanya saling melempar tinjuan dan tendangan.
Oceana beberapa kali terkena tendangan telak dan tinjuan telak dari Athela. Dalam hal elemen mungkin Oceana lebih unggul tapi pertarungan jarak dekat? Athela juaranya. Dia sudah sering bertarung tanpa elemen dengan para preman di desa lamanya. Dan Oceana bukan masalah baginya.
Pertarungan itu berlangsung sengit. Walau keduanya bertarung dengan jarak dekat, dibeberapa kesempatan mereka juga melemparkan elemen-elemen mereka. Seperti sekarang, Oceana yang sedikit kewalahan akibat serangan dari Athela mendapat tendangan telak di perutnya di tambah sebuah bola tanah berhasil mengenainya juga dan membuatnya terlempar ke belakang cukup jauh.
Athela berdiri di tempatnya dengan nafas tersenggal-senggal. Kemudian dia menyadari kalau podium penonton telah penuh dengan anak-anak yang tengah bersorak-sorai penuh semangat menonton pertarungan mereka.
Sebuah bola es besar mengarah kearahnya, Athela menoleh dan langsung bersalto melewati bola es itu, sayangnya sebuah bola es lain datang dengan cepat dan mengenai nya, membuatnya ikut terlempar hingga punggungnya menabrak dinding pembatas dengan keras.
"Akh!" ringis Athela saat punggungnya tertabrak dengan keras ke dinding pembatas, hidungnya mengeluarkan darah dan dia juga tba-tiba terbatuk dan mengeluarkan darah.
Di depan sana, Oceana telah berdiri dengan pandangan penuh emosi ke arah Athela. Dia langsung berlari ingin kembali menerjang Athela dengan elemen-elemen esnya. Athela berhasil mengelak dan segera bangkit. Tubuhnya terasa remuk karena hantaman keras tadi, tapi ini bukan waktunya untuk menyerah.
Athela meretakkan jalan yang di lewati Oceana, mencoba membuatnya jatuh ke lubang sementara dia juga melemparkan bola-bola api. Sayangnya itu tidak berhasil. Athela membuat bola besar dari elemen tanah kemudian membalurinya dengan api setelah itu melemparkannya ke Oceana. Oceana berhenti dan membuat bola es yang tidak kalah besarnya. Kedua bola besar itu saling beradu hingga membuat ledakan besar dan keduanya terlempar.
Oceana menyerang Athela tanpa henti dan diam-diam membuat sebuah jebakan es di beberapa pijakan di belakang Athela. Athela terpukul mundur dan salah satu kakinya menginjak jebakan dan es dengan cepat membekukan sebelah kaki Athela yang membuat pergerakannya tertahan. Athela hanya bisa diam di tempat sembari menangkis pukulan dan tendangan Oceana. Tapi kaki sebelahnya lagi ikut masuk kedalam jebakan yang membuatnya tak bisa bergerak sama sekali.
Athela berusaha sekuat tenaga melepaskan kakinya dari es, bahkan dengan kekuatan apinya namun hasilnya nihil.
"Maaf Athela, kurasa akulah yang akan menang. Apimu tidak akan berguna dengan mantra itu. Selamat tinggal." Oceana memusatkan kekuatannya ke tangannya, sebuah bola es mengumpul di atas telapak tangannya.
Oceana melemparkan bola es itu tepat kearah Athela...
****
Disisi lain...
"Perang 8 tahun lalu adalah melawan para pengkhianat yang berusaha menghancurkan istana. Perang itu berakhir dengan kemenangan telak di pihak kita. Walau begitu, banyak para pahlawan yang tumbang karena mengerahkan seluruh kekuatannya. Tapi, kebenaran sebenarnya adalah perang itu belumlah benar-benar berakhir..." ketiga murid yang mendengar penjelasan itu terlihat terkejut.
"Tunggu, bagaimana mungkin itu belum berakhir? Keadaan sekarang rasanya damai-damai saja." ujar Wind.
"Wind, sungai yang tenang jangan disangka tidak memiliki bahaya. Pasukan mereka memang mengalami kemunduran, namun pemimpin pengkhianat itu sendiri belum di temukan hingga sekarang. Satu-satunya orang yang pernah melawan secara langsung pemimpin peng-"
"Uhuk... uhuk..." penjelasan Wendy berhenti karena Jack tiba-tiba terbatuk dengan keras. Bahkan Wind dan Quinna ikut menoleh menatap kearah Jack yang terbatuk. Namun eksprei mereka tiba-tiba berubah menjadi terkejut karena batuk Jack bukan hanya batuk biasa.
Jack terbatuk dan mengeluarkan darah, bahkan darah keluar dari hidungnya juga. Segera Wind, Quinna dan Wendy berjalan menghampiri Jack.
"Astaga Jack! Kamu gak papa?" tanya Quinna yang masih terkejut. Jack tidak menjawab, dia sendiri terkejut kenapa tiba-tiba terbatuk dan mengeluarkan darah padahal sejak tadi dia baik-baik saja.
"Jack!" Wind menyerahkan tissu kepada Jack untuk membersihkan darahnya.
Wendy segera mengobati Jack, namun anehnya Jack tidak terluka sama sekali. Bahkan tidak ada yang salah. Berarti ada hal lain atau sumber lain yang menjadi masalah.
"Em, Wendy..." Quinna memanggil kemudian memperlihatkan tabletnya. Disana ada tertampang pertandingan yang tengah berlangsung di Hall of Power. Athela melawan Oceana.
"Astaga, apalagi yang anak itu lakukan!" kemudian Wendy berteleport ke PPRE, begitupula dengan Wind, Jack dan Quinna.
****
Kembali ke pertarungan Athela dan Oceana...
"Maaf Athela, kurasa akulah yang akan menang. Apimu tidak akan berguna dengan mantra itu. Selamat tinggal." Oceana memusatkan kekuatannya ke tangannya, sebuah bola es mengumpul di atas telapak tangannya.
Oceana melemparkan bola es itu tepat kearah Athela. Athela terkena telak dan kembali terlempar kebelakang, bahkan es yang membekukan kakinya tidak kuat menahan kekuatan Oceana.
Athela terjatuh lemah, kesadarannya mulai menghilang perlahan namun tiba-tiba perutnya terasa bergejolak. Sesuatu yang kuat terasa ingin meledak keluar darinya. Kesadaran Athela menghilang.
Tiba-tiba, orang-orang terkejut. Rambut Athela yang berwarna ungu lavender menjadi ombre silver ke unguan. Warna ungu itu hanya jelas di bagian atas namun makin kebawah makin menuju ke arah silver namun warna silver itu sendiri seperti tercampur dengan warna ungu rambut Athela. Saat Athela mendongak, Oceana dapat melihat dengan jelas warna mata Athela juga berubah warna menjadi ungu/silver seperti warna rambutnya.
Athela terlihat menatap Oceana dengan tatapan tajam namun terasa kosong.
Oceana sadar, sekarang keadaan akan benar-benar terbalik dan tidak berpihak padanya.
****
instagram: @nikeoorva