The Last Legacy (Hidden Identity)

The Last Legacy (Hidden Identity)
12. Magic without Wand



jangan lupa klik like!


****


"Lily?" Athela masuk kedalam kamarnya dan mencari keberadaan Lily. Dia baru saja kembali setelah diculik oleh Jack dan membuatnya hanya masuk kelas pertama dan kedua, Selebihnya dia membolos. 


"Athela, kamu sudah pulang ternyata. Jadi, dari mana dengan Jack?" tanya Lily yang sepertinya baru selesai mandi karena rambutnya basah. 


"Tidak dari mana-mana sih. Cuman taman biasa. Kamu abis mandi ya?" Lily mengangguk. 


"Mandi sana, nanti keburu jam makan malam." Athela mengangguk dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. 


15 menit Athela menghabiskan waktunya untuk mandi. Saat keluar dari kamar ganti dengan piama lengkap, Athela melihat Lily tengah fokus dengan tab-nya. 


"Ly, aku ingin tanya sesuatu." ujar Athela sembari duduk di pinggir kasurnya yang berada di sebrang kasur. 


Lily menoleh dan menatap Athela. "Ada apa?" tanya Lily dengan ramah. 


"Kamu kenal Quinna? Kalau tidak salah dia seangkatan dengan mu." Lily mengangguk. 


"Princess Quinna Gaudi Aqua. Seangkatan denganku, duyung murni dan orang yang sangat baik yang pernah ku kenal. Kekuatannya adalah Air. lautan adalah wilayah kekuasaannya." Athela mengangguk mengerti. 


"Tapi dari mana kamu bisa mengenal Quinna? Dia bahkan belum hadir di sekolah." tanya Lily yang sadar bahwa Athela mengenal Quinna padahal putri dari kerajaan Aqua itu belum hadir hingga kini di sekolah. 


"Just know. Tapi kenapa dia belum datang sampai sekarang? Padahal para penyihir saja sudah selesai dengan festival." 


Lily tersenyum manis, "Ada upacara pelepasan dan penobatan sebagai putri mahkota untuk Quinna jadi mungkin dia akan datang saat pembagian partner." Athela mengangguk-angguk mengerti. 


"Ada satu hal lagi yang ingin ku tanyakan deganmu." Lily menatap Athela dan berekspresi seperti 'katakan saja'.


"Kenapa Oceanna membencimu?" tanya Athela dengan hati-hati. "Kalau kamu masih tidak bisa cerita sekarang, tidak pap-" 


"Ada sedikit kesalahpahaman. Oceanna sebenarnya adalah orang yang baik. Dahulu, aku Oceanna, Oceanno, Quinna, Prince Jack dan Gion adalah sahabat. Ocenna sangat menyukai Jack dan rasa sukanya terlalu berlebih apalagi cara dia menunjukkannya dan itu membuat Jack sedikit menjaga jarak. Kami mulai bersahabat saat masuk SMP, kecuali Quinna dan Jack yang bersahabat sejak kecil. Jack termasuk sahabat kami, namun dia sebisa mungkin menghindari Oceanna yang memang terlalu agresif mendekatinya. Waktu berlalu, selain Quinna, aku menjadi sahabat terdekat Jack. Walau dia tetap tidak banyak bicara namun aku tau dia menganggapku seperti Quinna, sebagai sahabat atau sebagai saudara tak sedarah. Oceanna cemburu dengan kedekatanku dengan Jack dan mulai menuduhku dengan berbagai macam fitnah. Bahkan anak-anak lain menjauhiku karena mereka lebih percaya dengan Oceanna." cerita Lily secara singkat.


"Jack dan Quinna tidak membantumu?" tanya Athela dengan sedikit shok saat mendengar cerita Lily. 


"Mereka ingin, hanya saja aku melarangnya." jawab Lily dengan jujur.


"Why?" tanya Athela dengan nada penuh penasaran. 


"Karena aku tau, suatu hari nanti Oceanna akan sadar kalau yang berada di hati Jack bukan aku, Quinna ataupun dia. Tapi seorang gadis yang memang Jack tunggu sejak lama dan telah mengisi dan membekukan hatinya." jawab Lily sembari tersenyum saat kembali menatap Athela. 


"Maksudmu gadis yang pernah tenggelam di Heaven Garden?" tanya Athela, dan dia baru sadar kalau keceplosan saat melihat ekspresi aneh Lily. 


"Kamu tadi kemana sama Jack, ngapain aja? Jujur sini." bujuk Lily. Sebenarnya Athela tidak ingin menceritakannya tapi akhirnya dia menyerah karena Lily menawarinya puding kantin jatahnya dan akan diberikan kepadanya. 


"Jack membawaku ke Heaven Garden, dan dia cerita tentang 'gadis kecil' yang hamir tenggelam di sana karena Alex membakar pitanya dan membuangnya ke danau. Kamu tau, Jack menceritakannya sambil sesekali tertawa kecil." jelas Athela secara singkat. Lily terlihat melongo terkejut. 


"Kamu dan Jack pergi berdua ke The Heaven Garden di istana Ozorania beruda?!" tanya Lily yang hanya mengulangi pernyataan Athela karena tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Sedangkan Athela hanya mengangguk. 


"Terus Jack cerita tentang gadis yang ku maksud?" Athela mengangguk lagi.


"Cerita dengan lengkap?" Athela kembali mengangguk


"Dan dia tersenyum?" untuk keempat kalinya Athela mengangguk membenarkan.


"WOW! kamu tau? Aku tau cerita dan semuanya itu dari Quinna, Jack hanya setuju kalau Quinna boleh memberitahunya padaku dan dia hanya duduk sebagai pendengar. Jack bukan seperti Alex yang akan dengan sukarela menceritakan suatu kisah secara lengkap dan sampai menunjukkan ekspresi?" Athela hanya menaik-turunkan bahunya acuh. Tidak terlalu memperdulikan tesis Lily. Gadis itu malah beranjak dan pergi mengambil jubahnya karena sudah saatnya mereka pergi ke tempat makan. 


Melihat Athela tidak menanggapinya, Lily tersenyum kecil. 'Sejak awal aku sudah menduga itu kamu Athela. Gadis yang selama ini ditunggu Jack selama hidupnya.'


*Flashback on 


"Kenapa kamu tidak ingin kami membantumu? Kami sahabatmu Lily!" amuk Quinna saat Lily menolak bantuan dari Quinna dan Jack. Jack hanya mengangguk menyetujui seruan protes Quinna. 


"Biarkan saja, setidaknya sekarang aku dapat membedakan mana mereka yang benar-benar menganggapku sahabat." Quinna menghela nafas pelan. Alasan Lily terlalu sulit untuk di sangkal. 


"Oh iya Ly, Mau dengar cerita menarik?" Lily menatap Quinna bingung. Quinna tersenyum kecil kemudian menatap Jack dan berbisik sesuatu. Jack hanya mengangguk. 


"Kamu taukan kalau semua tuduhan Oceanna tidak benar? Apalagi tentang perasaan Jack?" Lily mengangguk.


"Kalau begitu ingin tau siapa yang sebenarnya mengisi hati es pangeran mahkota kita ini?" mata Lily berbinar dan langsung mengangguk dengan cepat. 


"Oke, dengarkan dengan baik. Ini tentang cinta pertama seorang Pangeran Mahkota Jack Vulkan Ozoranio. Tentang seorang gadis yang sangat pemberani dan kuat. Si gadis dengan rambut berwarna ungu..." 


kemudian Quinna mulai menceritakan beberapa ingatan bahagia mereka bedua bersama gadis berambut ungu itu sebelum menghilang. 


flashback off*


****


Athela berjalan bersama Lily menuju ke ruang makan. Kedua gadis itu seperti biasa menjadi pusat perhatian di sepanjang koridor. Apalagi saat ada seorang pemuda jangkung nan tampan dan di kenal semua orang berteriak memanggil Athela.


"ATHELA!" teriak Alex yang memanggil Athela dari jauh dan membuat gadis itu lebih menjadi pusat perhatian.


Tentu seketika semua orang yang berada di koridor menjadi penasaran siapa yang di panggil seorang Pangeran dari Ozoranio itu dengan begitu semangat. Dan saat mengetahuinya mereka bertambah semangat berbisik-bisik untuk bergosip tentang Athela dengan sejuta keanehannya dan penasaran bagaimana Athela bisa dekat dengan pangeran Alex.


"Oh, hai kak Lily." Lily hanya tersenyum menanggapi.


"Kalian mau ke ruang makan bukan?" Athela dan Lily mengangguk serempak.


"Kalau begitu ayo pergi bersama!"


Dan berakhirlah kedua gadis itu makan bersama Alex dan teman sekamarnya Tion. Kemudian datang lagi Jack bersama teman sekamar nya Wind. Athela duduk bersebelahan dengan Lily di kanannya dan Alex di kirinya, sedangkan Tion teman Alex duduk di sebrang Alex. Saat Jack dan Wind bergabung, Jack duduk di hadapan Athela dan Wind di hadapan Lily.


Saat sedang sibuk dan fokus untuk makan, Athela merasa ada alarm bahaya yang memperingati nya bahwa akan ada sesuatu yang menimpa Lily.


Dan yang benar saja, beberapa detik kemudian sebuah mangkok berisi sup labu terlempar tepat kearah Lily dan hampir tumpah di atas kepala Lily jika Athela tidak tiba-tiba berbalik menghadap Lily dan menggerakkan tangannya membuat mangkok beserta tumpahannya itu berhenti dan melayang di atas kepala Lily sekitar 5 cm sebelum benar-benar tertumpah ke gadis itu. Semua orang terkejut, termasuk Jack, Alex, Wind dan Tion. Bahkan Lily sendiri pun terkejut saat melihat mangkok itu melayang di atas kepalanya dan tidak mengenai nya sedikit pun.


Athela menahan mangkok beserta isinya dengan sihir namun tanpa tongkat sihir, itulah yang membuat yang lain terkejut. Bagainana mereka bisa tau kalau Athela menggunakan sihir? Itu karena di sekitar mangkok dan kuah-kuah sup terdapat garis sprak ungu.


Athela mengarahkan mangkuk itu agar tertumpah di tempat lain. Dia menjatuhkannya di lantai di belakang mereka.


Semua orang masih terdiam karena terkejut dengan apa yang Athela lakukan. Melakukan sihir tanpa tongkat? Itu adalah salah satu keahlian langkah yang telah hilang lama. Dan sekarang? Athela yang baru saja mengenal sihir mendapat keahlian khusus itu.


Pada dasarnya sihir menggunakan tongkat memerlukan mantra, sedangkan jika melakukan langsung dengan kekuatan khusus hanya perlu membayangkan dan melakukannya, tanpa mantra apapun. Seperti saat Athela menyelamatkan Lily tadi. Tanpa sihir apapun.


Seorang gadis tiba-tiba datang dan meminta maaf. "Maaf... Maaf... Tadi mangkuk saya terbang tiba-tiba. Sekali lagi saya minta maaf." ujar gadis itu yang sudah bergetar ketakutan. Lily mengangguk mengerti dan tersenyum memaafkan gadis itu lagi pula itu bukan salahnya. Sedangkan Wind, teman sekamar Jack menatap ke sebuah meja dan melihat ada seseorang yang kesal karena keusilannya gagal.


Kemudian mereka kembali menatap kearah Athela dengan pandangan bingung dan penasaran, kecuali Jack karena memiliki tebakan lebih dahulu.


Athela berdiri ingin membersihkan mangkuk yang pecah dan isinya telah tumpah itu bersama gadis tadi, namun saat baru saja akan beranjak pergi, dia merasa oleng dan sakit di bagian kepalanya. Dan kemudian Athela jatuh pingsan, untung ada Alex yang menahannya di belakang.


"ATHELA!" Jack berpindah ke sebrang dan mengangkat Athela dari Alex dan berteleport ke ruang kesehatan sekolah. Dan yang lain melupakan makanannya dan pergi ke sana juga.


Jack yang mengangkat Athela lansung membaringkan Athela dengan perlahan di atas brankar yang lebih mirip kasur itu. Kemudian Jack menghubungi Wendy.


Jack hanya memberikan pesan darurat, dan dalam sekejab Wendy telah sampai di ruang kesehatan dengan wajah sedikit panik.


"Ada apa dengan Athela?" tanya Wendy yang sedikit panik karena melihat Athela yang pingsan.


"Dia tiba-tiba pingsan saat habis menolong Lily. Aku tidak tau bagaimana, tapi Athela menggunakan sihir tanpa tongkat." jelas Jack secara singkat. Wendy mengangguk dan mulai memeriksa Athela.


Beberapa saat kemudian yang lain datang dengan wajah panik juga. Karena terlalu banyak Wendy menyuruh mereka semua untuk menunggu di luar dan membiarkan nya memeriksa Athela.


Wendy mulai memeriksa denyut nadi dan detak jantung Athela. Denyut nadi dan detak jantungnya terasa sangat lemah. Dan badan gadis itu terasa panas. Wendy mengukur panas Athela dengan layar scan kedokteran yang ada di sana dan menunjukkan seluruh yang terjadi di tubuh Athela.


Athela mengalami demam tinggi dan tenaganya terkuras. Namun ada juga yang tertulis di bagian paling bawah layar monitor.


**Denyut nadi: 57 denyut/menit


Suhu: 39° derajat


Akibat? Kehabisan tenaga dan kelelahan.


*Faktor lain: segel penahan kekuatan melemah dan akan segera terbuka***.


Wendy yang melihat itu menghela nafas pelan. Dia tau satu hal, Athela harus segera bisa menguasai beberapa kekuatan nya yang baru muncul dengan cepat sebelum yang lainnya muncul dan membuat gadis itu tak dapat bertahan.


Wendy menyuntikkan sebuah obat dan memasang kan selimut pada Athela kemudian dia berjalan keluar dari ruang kesehatan itu.


Saat melihat Wendy berjalan keluar dari sana, semuanya lansung berdiri karena penasaran dengan keadaan Athela.


"Athela hanya kelelahan, aku akan menbiarkannya beristirahat disini untuk hari ini. Kalau besok dia sudah baikan dia baru akan kembali ke asrama. Kalian sudah boleh kembali ke kamar masing-masing." akhirnya semua nya bisa bernafas dengan lega. Kemudian semuanya pamit dengan Wendy untuk kembali kekamar masing-masing kecuali Lily dan Jack.


"Jack aku ingin bicara denganmu. Dan Lily, tidak apa-apa, aku akan menjaga Athela. Lebih baik kamu istirahat, besok hari pertama kelas sihir dimulai bukan?"


Lily menghela nafas kecewa kemudian pamit dan kembali kamar asramanya dengan wajah murung. Sedangkan Jack berjalan mendekat ke arah Wendy.


"Kita bicara di dalam." Jack mengangguk dan keduanya berjalan masuk kedalam ruang kesehatan. Wendy mengunci ruangan itu dan membuatnya menjadi kedap suara agar orang diluar tidak dapat mendengarnya.


"Ada apa?" tanya Jack.


Wendy menghela nafas pelan kemudian dia menunjuk ke arah monitor. "Kondisi Athela sangat lemah. Segel kekuatan yang ibunya bangun kurasa melemah. Aku tidak tau Segel apa dan sedang menahan apa tapi aku ingin kamu terus mengawasi Athela sebisa mu." Jack mengangguk mengerti.


"Dan ada hal lain. Jack kamu ingat pernah mendonorkan darahmu pada Athela koma waktu umur 4 tahun?" Jack kembali mengangguk.


"Sebenarnya aku ingin kamu mendonorkan sedikit darahmu untuk kedua kalinya pada Athela. Hanya saja kamu tau bukan kalau seorang vampir memberikan darahnya kepada non Vampir?" Jack hanya diam. Bukan karena tidak tau tapi karena dia sangat tau dan mengerti hal itu.


Saat seorang vampir telah dua kali memberikan darahnya secara sukarela, dia tidak akan bisa lepas dari gadis yang dia berikan darah nya itu. Orang itu bisa dibilang akan menjadi sumber kehidupannya. Saat orang itu sakit dan segalanya dia akan merasakannya juga, jadi saat orang yang dia berikan darah meninggal, vampir itu tak lama juga akan ikut menemui ajalnya. Dan ini hanya berlaku untuk Vampire yang memberikan darahnya ke lawan jenis.


"Aku tau ini keputusan yang sangat besar jadi kalau kamu butuh waktu tidak pa-"


"Aku bersedia." jawab Jack dengan mantab.


"Kamu serius? Bukankah kamu-" ucapan Wendy kembali terpotong karena Jack mengucapkan kalimat yang sudah tidak bisa dibantah Wendy.


"Aku mencintai nya, dan selain diriku apa ada yang lain yang bisa membantu Athela?" Wendy menghela nafas pelan. Kemudian mengarahkan Jack untuk duduk di kursi dan Wendy mengambil sebuah suntik untuk mengambil beberapa mili darah Jack.


Jack membuka jubahnya dan menggulung lengan baju bagian kanan nya dan membiarkan Wendy mengambil darahnya dari nadinya.


Kemudian Wendy terlebih dahulu mengoleskan sebuah cairan di kapas yang berwarna merah kekuningan kemudian baru menyuntik Jack dan mengambil darahnya.


Setelah selesai, darah Jack yang berada di jarum di pindahkan ke tempat berbentuk oval panjang. Kemudian Wendy mengambil jarum baru dan memasukkan kembali darah itu ke jarum dan mentransfer nya ke Athela yang di suntik dari nadi tangannya.


Tidak terjadi apa-apa, namun tiba-tiba tubuh Athela kejang-kejang dan itu membuat Jack terkejut dan panik.


"Tenang Jack. Darahmu sekarang sedang beradaptasi dan membantu Athela. Lagipula kalau Athela kenapa-kenapa bukankah kamu juga merasakannya?" Wendy benar. Dan Jack percaya kalau Athela tidak apa-apa karena memang dia tidak merasakan apa-apa hanya saja melihat Athela seperti itu membuatnya sedikit sakit.


"It's oke Jack. Kamu kembali saja ke kamar. Besok pagi Athela pasti sudah bugar kembali." yah, mau tidak mau Jack harus kembali ke kamar nya karena dia juga butuh istirahat agar mengembalikan darahnya yang dia beri tadi. Asal kalian tau saja, sel darah vampir lebih sedikit dari pada manusia.


Jack cuman dapat berharap, semoga apa yang Wendy katakan benar.


****