
Hari ini pembelajaran hanya berlangsung sebentar. Bahkan ada yang meniadakan kelas untuk hari ini karena sibuk mengurus acara inti.
Hari ini adalah hari yang di paling di tunggu-tunggu semua murid di IAO. Hari pemilihan partner. Yang diadakan setiap tahun. Tingkat 11 akan mengambil undian nama adik kelas dan nama yang tertera di kertas yang dia ambil akan menjadi patnernya selama setahun penuh. Tentu semua tidak sabar, apalagi para siswa siswi kelas 10 yang baru pertama kali mengikuti adat tahunan IAO.
Sebagai partner, mereka diharuskan memiliki kerja sama yang baik walau memiliki tingkat elemen bahkan sihir yang berbeda. Dan saat ujian semester nanti, bukan hanya kemampuan individu yang akan menunjang nilai naik kelas, tapi nilai kelompok itu juga lah. Dan dari patner ini, beberpaa siswa siswi kelas 10 yang berbakat bisa saja di masukkan dalam tim misi khusus IAO. Dan jika memiliki partner yang termasuk dalam tim khusus itu, dia bisa merekomendasikan kita untuk masuk jika merasa kalau partner nya memiliki bakat yang tidak boleh di sia-siakan.
Walau begitu, dibanding dengan hal itu, para siswa dan siswi tingkat 10 lebih menginginkan untuk berpasangan dengan para pangeran tampan dan putri cantik ataupun idolanya. Dan kakak tingkat juga menginginkan hal yang sama. Lagipula, siapa yang tidak ingin setim dengan Jack, Alex, Wind, Quinna dan pangeran-putri lainnya?
Mungkin di IAO hanya Athela dan Lily sebagai murid biasa yang di pemilihan pasangan ini tetap biasa saja. Malah mereka berharap akan setim, lagipula disini bisa sesama ataupun lawan jenis. Tergantung nama yang dia dapat di undian.
Seluruh siswa dan siswi IAO telah berkumpul di aula. Kemudian seluruh murid tingkat 10 di bagu menjadi 10 kelompok dimana 1 kelompok berisi 25 orang. Total kelas 10 sebenarnya adalah 350 namun 100 diantaranya adalah non-Magel yang tentu tidak mengikuti pemilihan partner itu.
Mereka kemudian di suruh menunggu dengan tenang di dalam ruangan kelas. Ya walau pasti di dalam keadaan tidak tenang dan sibuk membayangkan bagaimana atau siapa partner mereka nantinya. Terutama para gadis-gadis yang heboh sendiri dan membayangkan mereka berpatner dengan para pangeran.
"Aduh, semoga aku pasangan sama Prince Jack, kan bisa sekalian pendekatan..." kata seorang gadis berambut blond yang duduk di sebrang Athela. Athela memutar kedua bolamatanya malas saat mendengar itu.
"Iya aku juga. Mudah-mudahan aku dapat partner para pangeran tampan. Huhu pasti seneng banget!" Ujar gadis berambut coklat sebahu yang duduk di depan gadis pirang.
Athela bingung dengan gadis-gadis itu, mengapa mereka ingin sekali berpasangan dengan para pangeran yang belum tentu akan cocok dengan kekuatan mereka nanti di banding berpasangan dengan seseorang yang bisa di ajak berkerja sama dengan baik. Apalagi Jack, ya walau Jack memang baik (hanya ke Athela), tapi dia itu usil (hanya ke Athela) dan sedikit dingin, mengapa mereka ingin berpasangan dengan seorang pangeran kutub es itu? (Julukan baru dari Alex). Yah tampang memang bisa memenangkan segalanya.
Kalau Athela di suruh memilih secara logika antara Jack dan Lily ataupun Quinna, tentu dia memilih antara Lily dan Quinna. Tapi kalau hati Athela yang di suruh memilih, tentu jawabannya akan berbeda.
Speaker sekolah berbunyi kemudian memberitahukan bahwa sang Putra Mahkota akan mengawali pencabutan nama di kotak nama dan dilanjutkan dengan para pangeran dan putri lainnya.
Mendengar hal itu para gadis-gadis di kelas kembali heboh dan terus berdoa agar bisa berpasangan dengan mereka. Sedangkan Athela hanya dapat menutup telinganya karena kedua gadis di sampingnya berteriak histeris seperti mendapatkan sebuah dorprize berupa rumah mewah. Athela berharap penyiksaannya cepat berakhir.
****
Di lain tempat di waktu yang sama...
Sang putra mahkota yang harus mengawali pengambilan nama di kotak mulai menaiki panggung dan berdiri di belakang kotak bulat yamg berputar perlahan untuk mengacak nama-nama yang ada di dalam.
Walau kotak itu transparan, kertas di dalamnya berbentuk surat kecil berwarna putih. Walau begitu, box dan kertas-kertas itu telah di beri mantra agar tidak bisa di tembus atau dapat membuat kecurangan lainnya. Itu adalah ide dari kepala sekolah sendiri karena kejadian tahun lalu yang banyak mencoba menembus untuk mencari nama pasangan yang ia inginkan.
Jack berdiri di hadapan box itu dan kemudian mengambil selembar surat ketika box itu telah berhenti dan membuka celah kecil yang hanya bisa di muat oleh satu tangan.
Dengan penuh harapan dan kehati-hatian dia mengambil salah satu kertas dan menarikmya keluar. Setelah itu membukanya dan melihat nama dan ruangan dimana partnernya berada.
Jack tanpa menunjukkan ekspresi ataupun tanggapan apapun lamgsung berjalan turun dan mempersilahkan Wind yang berada di barisan kedua untuk mengambil undian.
Jack berjalan dengan tenang menuju ke ruangan yang tertera di kertas tersebut. Sepanjang koridor, gadis-gadis yang duduk di samping jendela seperti berharap Jack akan masuk kedalam kelas yang mereka tempati. Sampai akhirnya ia berhenti di depan ruang kelas bertuliskan 'general 7'. Pintu terbuka otomatis dan menampilkan wajah yang paling di nantikan para gadis-gadis untuk memasuki ruang kelas mereka.
Hampir seluruh siswi yang ada di kelas berteriak histeris. Dan para cowo hanya bisa mengendus kesal karena kebisingan itu plus karena iri.
Sang pangeran berambut putih itu berjalan masuk dan berdiri tepat di depan mereka. Kemudian membuka kertasnya bersiap menyebutkan nama sang partner.
"General 7, Athela E Pandora." Ujarnya yang berhasil membuat para siswi-siswi yang heboh dan bermimpi tinggi jatuh seketika.
Athela yang mendengar namanya terpanggil mendongak setelah dia berusaha tidur tadi, fyi dia tidak tidur semalam karena kerja tugas praktek membuat ramuan yang tidak jadi di kumpul hari ini.
"Hei! Nama kamu di sebut tuh!" Bisik gadis yang duduk di sampingnya. Mendengar itu Athela berdiri dan berjalan kedepan. Kemudian dia dan Jack pergi meninggalkan kelas yang penuh dengan helaan nafas kecewa.
Jack berjalan duluan dan diikuti Athela di belakang. Tiba-tiba pemuda itu berhenti, alhasil Athela menabrak punggu lebar nan berotot itu.
"Auch!" ringisnya.
"Kamu gak papa?" Tanya Jack yang terkejut Athela meringis. Athela hanya mengangguk dan sedikit mengusap jidatnya.
"Lagian kenapa berhenti tiba-tiba?" tanya Athela dengan sedikit kesal. Sepertinya hanya Athela yang bisa mengomel dengan bebas kepada seorang putra mahkota selain sang ibunda.
"Maaf... Soalnya kamu malah jalan di belakang. Omong-omong aku mau bawa kamu ke suatu tempat." Athela menyerengit bingung. Namun kemudian tanpa membaritahukan atau memberi intruksi apapun, Jack memegang bahu Athela dan mereka melakukan teleport ke sebuah tempat yang Jack maksud.
Dalam sekejab mata mereka telah sampai di sebuah lahan luas yang dikelilingi taman bunga. Lebih tepatmya mereka seperti berada di atas tebing yang indah.
"Ini dimana?" tanya Athela sembari melihat keadaan sekitar.
"Ini tempat pribadiku. Aku biasa latihan atau menyendiri di sini." jawab Jack dengan santai.
"Owh, private place for young crown prince." ejek Athela.
"Gak juga. Aku menemukan tempat ini sendiri dan tidak ada yang permah kesini selain aku, sepertinya... Bisa dibilang, this is totally pure from me to me. Lagian aku memang tidak sengaja menemukannya." Balas Jack sembari duduk di atas rumput yang terpotong rapi.
"Kalau begitu, kenapa tempat ini sangat bersih dan rapi? Bahkan rumputnya." Tanya Athela dan ikut duduk di samping Jack.
"Magic."
Athela menoleh bingung ke arah Jack. "Bukannya kamu tidak bisa sihir ya?"
Jack terkekeh. "Bukan tidak bisa, hanya saja sihir ku lemah. Paling hanya bisa mantra sederhana seperti mantra membersihkan dan semacamnya."
Athela memgangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Berarti kamu bisa gantiin pelayan kamu dong!"
Jack tertawa. "Kurasa hanya kamu yang paling berani mengejek seorang pangeran." ucap Jack saat mendengar godaan Athela. Gadis itu benar-benar tidak memikirkan soal derajat dan Jack menyukai itu.
"Jadi kita akan latihan di sini?" Tanya Athela, Jack mengangguk.
Suasana menjadi hening. Hanya ada angin yang menerpa lembut permukaan kulit mereka dan membuat rambut keduanya.
"Eh ini jam berapa? Bukannya selesai harus berkumpul dulu?" tanya Athela yang tersadar dari suasana nyaman itu.
Jack mengangguk. Athela berdiri duluan. Dan merapikan pakaiannya yang sedikit kusut karena duduk tadi. Jack juga ikut berdiri dan tepat berada di belakanh Athela.
Karena ingin menghampiri Jack, Athela berbalik namun siapa sangka Jack berada tepat di belakangnya yang membuatnya terkejut. Sangking terkejutnya, Athela sampir tersandung kaki sendiri. Untung Jack dapat menahannya dan menariknya mendekat agar tidak jadi terjatuh.
Mata keduanya saling menatap tanpa berkedip. Degub jantung yang saling beriringan, dan hembusan angin yang membuat suasana itu menjadi semakin kondusif.
Athela mungkin tidak jatuh ke tanah, sayangnya hatinya yang jatuh lebih dalam lagi tanpa ia sadari. Benarkan?