The Last Legacy (Hidden Identity)

The Last Legacy (Hidden Identity)
6. When the Crown Prince Sneezing



sebelum membaca, like dulu ya guys...


***


Athela dan Lily berjalan keluar dari kamar Asrama mereka. Koridor asrama wanita terlihat penuh. Semua murid akan turun menuju ke Aula yang berada di gedung utama untuk pembukaan semester baru tahun ini. Mereka semua mengenakan seragam khusus.


Seragam mereka terdiri dari baju kemeja putih, kemudian memakai rompi berwan abu-abu dengan kerah berwarna Hijau Army untuk Magel dan Merah maron untuk non Magel. (Magel\= Magic-Elementers). Begitu pula dengan dasi yang terpasa di kerah kemeja mereka. Seragam itu memakai rok panjang berwarna senada dengan strip berwarna Hijau atau Merah. Terakhir, mereke mengenakan jubah berwarna abu-abu dengan kerah yang berwarna senada dengan kerah rompi dan dasi. Di Jubah mereka terpasang logo IAO yang berbentuk seperti seekor Naga berwarna merah dan hijau yang saling bersilang.


Selama perjalanan menuju ke Aula, Athela memakai tudung jubahnya karena merasa risih di perhatikan orang-orang karena tampilan rambutnya yang mencolok.


Mereka berjalan menuju ke Aula dan duduk dengan rapi di bangku yang tersedia. Begitu pula dengan Athela dengan Lily yang duduk di bagian belakang ujung. Athela tetap memakai tudung jubahnya, tak ingin membuatnya lebih menjadi pusat perhatian lagi.


"Selamat Pagi semuanya. Bagaimana kabar kalian semua pada pagi hari ini?" tanya Wendy sebagai pembukaan acara.


"Baik!"


"Pagi ini, saya selaku kepala sekolah akan memberikan ucapan 'selamat datang' untuk seluruh murid, terkhusus para murid baru. Selamat Datang dan selamat berjuang!


Selain itu pagi ini sekolah kita juga kedatangan tamu spesial. Mari beri sambutan untuk King Orlando and Queen Daina!" seluruh murid bertepuk tangan dengan semangat menyambut raja dan ratu mereka yang sedang naik ke atas panggung. Saat keduanya akan duduk, Semua orang membungkuk hormat baru kemudian kembali duduk begitu juga sang Raja dan Ratu.


"Nah, yang berikutnya pasti para gadis-gadis ini akan berteriak kesenangan melihat mereka. Tak berlama lagi, Mari bergabung dengan kita, Our Crown Prince of Ozora, Jackson Vulkan Ozoranio. And our second Prince, Alexander Neptune Ozoranio!"


Teriakan histeris penuh kekaguman terdengar dari seluruh penjuru Aula. Kedua Pemuda bersaudara itu tampil tampan dengan setelan kerajaan berwarna putih. Bedanya Baju kerajaan Jack memiliki kancing dan rantai penghubung berwarna emas sedangkan Alex berwarna silver. Keduanya tampil rapi dengan rambut yang di tata sedemikian rapi kesamping. Selain baju yang memiliki sedikit perbedaan, kedua rambut mereka juga berbeda. Jack berwarna perak dan Alex berwarna merah ke-orange, selain itu sekarang ini Alex tersenyum kepada yang lain dan Jack setia dengan tampang datarnya.


"Oke-oke. karena para tamu spesial hari ini telah lengkap. Tanpa menunda-nunda lagi, mari kita sambut King Orlando." kemudian Wendy mundur dan duduk di samping Pangeran Alex.


Kata-kata sambutan hangat dari Raja Orlando mulai terucap. Athela ingin fokus mendengarnya namun dia merasa seperti sedang diperhatikan oleh seseorang. Dan ternyata Pangeran mahkota kerajaan Ozorania sedang menatapnya dengan tatapan tajam dan menusuk. Bahkan sekilas ada kilatan merah di mata Pangeran muda itu.


Athela tidak tau kenapa, namun dia seperti tak bisa memutuskan kontak mata mereka. Mata biru itu berhasil menenggelamkannya dan membuatnya jatuh tanpa ia sadari. Jatuh pada lubang yang sudah ada sejak lama.


Jack tidak juga ingin memutuskan kontak mata itu. Mata Ungu yang begitu dia rindukan. Mata yang berhasil membuat seorang putra mahkota terdiam mematung dan merasakan dadanya berdebar kencang.


Acara saling pandang itu terputus karena Sang Ratu Ozorania memanggil Pangeran Mahkota yang terlihat terdiam mematung.


"Jack? Ada apa?" Jack tersadar dari tatapan itu dan meloneh menatap ibunya. Pemuda itu menggeleng kemudian fokus kembali ke ayahnya yang sedang menyampaikan pidato selamat datang.


Sedangkan di bagian Athela, Lily memanggil Athela hingga membuat gadis itu tersadar. "Athela, kenapa melamun?" Athela reflek menoleh menatap Lily yang bingung karena ia terdiam.


"Tidak apa-apa." jawab Athela.


Tanpa Athela dan Jack sadari, ada beberapa orang yang menyadari aktivitas saling tatap itu. Ada yang suka dan merasa Athela dan Jack itu terlihat imut, ada juga yang membencinya.


****


Setelah acara pembukaan, para siswa-siswi baru dikumpulkan untuk menentukan kelas yang akan mereka masuki mulai besok.


Mereka disuruh untuk memilih kelas regular dan akan mengikuti tes sihir yang akan di laksanakan di gedung sihir sebentar siang. Sedangkan murid tingkat atas mulai ikut pelajaran masing-masing.


Karena Athela termasuk murid baru, dia terpaksa harus terjebak dengan kumpulan manusia terkepo (karena masih baru dan tidak tau banyak).


Athela hanya bisa mengendus bosan karena dirinya terjebak dengan kumpulan-kumpulan orang aneh. Setidaknya dia akan menahan untuk tidak ikut menjadi aneh.


Akhirnya, Athela dapat bernafas lega setelah sekian lama. Namanya dipanggil dan segera dia maju untuk mengambil kertas pendaftaran.


"Athela E. Pandora?" Athela mengangguk. Kemudian guru muda itu memberinya sebuah tablet berwarna putih. Saat dia memegangnya Tablet itu berubah warna menjadi pelangi.


"Oke ini sedikit aneh. Tapi ya sudah lah, bawa saja dan pilih kelasmu, kemudian kirim ke situs sekolah, kalau sudah tau ingin masuk eksul apa, bisa langsung pilih dan kirim ke situs ekskul yang diinginkan. Dan semua peraturan sudah tersimpan didalam sana. Tablet itu menjadi milikmu selamanya. Jangan lupa untuk datang di tes sihir sebentar siang di gedung sihir." Athela kembali mengangguk kemudian berjalan menjauh dan pergi keluar dari aula.


Karena penasarannya, Athela menyalakan tablet itu dan melihat-lihat kelas yang akan dia pilih.


Sangking fokusnya, Athela tidak sadar ada seseorang yang sedang berjalan dari berlawanan arah dengannya. Dan karena itu, bahunya tersambar cukup keras dengan sebuah lengan kekar nan kuat. Tabletnya terlempar begitu pula dengan dirinya, namun dengan cepat orang yang menabrak Athela menahan gadis itu agar tidak terjatuh dan juga berhasil menangkap tablet gadis itu dengan sempurna.


Mata ungu Athela melebar karena terkejut. Dan tak sengaja matanya saling bertaapan dengan mata biru itu. Dengan cepat Athela berdiri dengan baik dan mundur selangkah karena merasa mereka terlalu dekat.


"Ah ini tablet-mu." serah pemuda itu.


Athela mengambilnya. "Terimakasih... Pangeran."


"Hey! Tidak usah terlalu formal denganku. Kita seangkatan. Panggil Alex saja." ujar pemuda dengan iris mata biru namun berambut orange-kemerahan.


"Oh, kalau begitu terimakasih Alex." Alex tersenyum dan memberikan jempol kepada Athela sebagai tanda pembenaran.


"Alex!" panggil sang kakak yang berdiri di belakang mereka dengan kedua tangan berada di saku celananya.


Athela ikut berbalik melihat siapa yang memanggil Alex dengan nada dingin seperti itu. Dan tentu saja hanya sang kakak yang berani memanggil pangeran Ozora dengan cara seperti itu.


"Eoh halo kak. Lihat, aku dapat teman baru. Oh iya, namamu?" tanya Alex kembali menatap Athela yang masih menatap kearah Jack.


"Oh, namaku Athela." jawab Athela dengan cepat. Dia merasa sedikit merinding dan sedikit dingin karena Jack yang menatapnya dengan tatapan dingin itu.


"Kalau begitu, salam kenal Athela." Alex mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Saat Athela mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pangeran muda itu, tiba-tiba tangan Alex membeku karena Crown Prince Jack yang bersin dan tepat di mengarah ke tangan Alex.


"Holly shit! Yang benar saja!" kesal Alex saat melihat tangannya membeku akibat ulah kakaknya.


"Eoh, maaf." ucapnya meminta maaf dengan tidak ikhlas dan pergi meninggalkan mereka begitu saja.


"Kak jangan pergi begitu saja. Tangan ku membeku. Kak! Hello! Prince Jack! You know my ice power doesn't work with you ice spell." Jack tidak menghiraukan teriakan Alex dan terus berjalan. Mau tidak mau Alex mengikuti Jack kalau tidak tangannya tidak akan kembali seperti semula.


"See you soon Athela! KAK TUNGGU AKU!"


Athela hanya menatapan kepergian Alex dan Jack dengan tatapan aneh. Yah, menurut nya kedua pangeran dari Ozorania itu memiliki kepribadian yang aneh.


****