
Jangan lupa untuk klik suka ya... itu akan membantuku.
****
Pagi ini, Athela dan Lily telah siap dengan seragam mereka. Seragam yang panjangnya hingga lutut, berwarna Army, kemeja pitih di dalamnya dan sebuah rompi yang panjangnya hingga 10 cm di atas rok seragam. Rompi mereka berwarna biru tua bergaris putih, dengan kerah berwarna hijau army dengan 4 kancing di atas dan 3 kancing di bagian bawah yang tersambung rantai kecil. Tak lupa dasi berwarna senada dengan rompi dan sebuah pin berbentuk mahkota bersayap yang terantai dengan salah saat kancing. Tak lupa rim yang melingkar di pinggang mereka.
Keduanya langsung keluar dari kamar dan menuju ke gedung regular. Pelajaran hari ini untuk Athela adalah Kimia, Geografi, sejarah dan kelas khususnya dengan kepala sekolah.
Athela dan Lily berpisah di dekat tangga gedung. Lily akan naik ke lantai 2 karena kelasnya berada di lantai 2. Sedangkan Athela di lantai 1.
Athela kemudian menyusuri koridor mencari lab kimia. "Hei, Ho!" ujar seseorang mengagetkan Athela karena berbisik di telinga Athela secara diam-diam.
Athela reflek melayangkan tinjuannya ke samping kanan (telinga yang di bisik) dan mengenai orang yang iseng itu.
"Aduh!" tinjuan Athela mengenai perut pemuda itu hingga terdorong kebelakang dan mengerang kesakitan.
"ALEX!" teriak Athela yang terkejut siapa yang dia tinju sebenarnya.
"Yap, this is me... Gila! Tinjuan mu, serasa organ-organku ingin keluar semua." keluh Alex yang masih merasakan sakit di bagian perutnya.
"Maaf, lagian ngapain kamu ngagetin aku? Inilah akibatnya."
"Kamu sama saja dengan Kak Jack, sama-sama kejam!" Athela memutar kedua bola matanya malas dan berjalan duluan meninggalkan Alex.
"Hei! Kamu sudah melukaiku dan sekarang pergi begitu saja? Benar-benar tidak sopan!"
Athela tidak perduli dan tetap berjalan mencari lab Kimia.
"Athela! Aku memanggil mu sejak tadi dan kamu tidak menoleh sama sekali." gerutu Alex karena Athela mengabaikannya.
Athela berhenti berjalan dan menghela nafas pelan. Kemudian dia berbalik menatap Alex, "Aku tidak menoleh karena menanggapi nu sama saja dengan buang-buang waktu berhargaku. Bye! Ada kelas kimia yang harus ku hadiri."
"Athela! Ternyata kamu begitu tega!" ujar Alex mendramatisir.
'Apa dia benar seorang pangeran? Mengapa sifat nya begitu aneh dan alay? Aku sampai ragu dia benar-benar pangeran kedua dari Ozorania.' batin Athela yang pusing melihat tingkah aneh bin ajaib Alex.
****
"Sebelum mengakhiri pelajaran hari ini, saya akan mengingatkan bahwa 2 minggu lagi pemilihat partner akan di lakukan. Tingkat 11 akan memilih partner mereka secara acak dengan sebuah undian. Saya ingin kalian untuk bisa mengakrabkan diri dan tidak canggung. Dan jika kalian sudah menjadi partner nanti, kalian harus belajar berkerja sama. Sekian terimakasih." kemudian guru itu berjalan keluar dari kelas.
Athela merapikan sedikit pakaiannya dan berjalan keluar juga dari kelas. Kelas tadi adalah kelas terakhirnya hari ini, dan dia akan pergi ke ruangan Wendy untuk melanjutkan latihan khususnya.
Sebenarnya, Athela juga ingin menanyakan tentang perihal 'partner' tadi. Karena memang dia masih baru dalam segala hal, mungkin Wendy akan menjelaskan beberapa hal sebentar.
Tak butuh waktu yang lama untuk Athela sampai di ruangan Wendy. Itu karena ruangan Wendy yang berada di gedung yang sama dengan kelas regular.
Saat akan memencet bel, seseorang keluar dari ruangan tersebut. Pemuda dengan iris biru yang berhasil membuat Athela mematung karena terkejut.
"Kamu ingin masuk kedalam?" tanya pemuda itu karena sadar kalau Athela hanya terdiam.
"Eo? Oh iya. Makasih pangeran." ujar Athela dengan cepat dan langsung masuk kedalam ruangan Wendy.
"Athela ternyata kamu sudah datang." sambut Wendy.
"Iya Miss."
"Kemari lah, hari ini kita akan melatih element mu." Athela mendekat ke arah Wendy dan kemudian mereka menghilang pergi ke tempat yang hanya Wendy tau.
Mereka sampai di sebuah lahan yang dikelilingi hutan lebat. Hanya tempat yang mereka pijak tidak ada pohon sama sekali, hanya sebuah pada rumput yang sepertinya sudah di potong rapi hingga tidak menjulang tinggi, bahkan rumput-rumput itu tidak dapat menenggelamkan kaki mereka.
"Kita dimana?" tanya Athela sembari melihat keadaan sekitar dengan terkagum-kagum.
"West Forest. Hutan yang penuh dengan ketentraman dan kedamaian. Hutan ini dahulu adalah tempat tinggal bagi semua hewan mistis." jelas Wendy dengan singkat.
"Kalau begitu, apa tidak apa-apa kita berlatih di sini?"
Wendy mengaguk. "Hewan-hewan mistis sering berpindah-pindah. Mereka akan mencari tempat baru setahun sekali. Bahkan biasa mereka akan pindah planet untuk mencari tempat yang tepat."
"Sekarang, buka kuda-kuda mu dan kita akan belajar cara menyerang menggunakan 2 element secara bersamaan. Namun pertama, coba keluarkan satu-persatu element mu."
Athela mengangguk mengerti. Gadis itu memposisikan kakinya dan kepalan tangannya. Bersiap untuk menyerang. Kemudian Athela menginjak tanah di bawahnya dengan sedikit keras dan membuat sebagian hutan itu bergetar. Kemudian dia maju dengan kaki satunya yang membuat sebuah batu besar terbentuk tinggi.
Setelah itu Athela menendang udara menyebabkan semburan Api keluar dari ujung kakinya. Dan meninju dengan sekuat tenaga dan berakhir mengeluarkan api dari tinjuan-nya. Terakhir, Athela bergerak lebih tenang dengan telapak tangan yang terbuka. Bergerak leluasa dengan ketenangan dan ketepatan. Aliran air mengikuti gerakan tangan Athela dan bergerak kesana-kemari.
'Plok... Plok...'
Athela tersadar saat Wendy bertepuk tangan. Dia tadi merasa seperti sesuatu merasukinya dan membuatnya dapat mengendalikan ketiga elemen itu dengan lincah.
"Kenapa?" tanya Wendy yang melihat Athela yang kebingungan.
"Entahlah, mungkin karena baru kali ini aku benar-benar mengeluarkan nya, hanya sedikit terasa aneh. Dan aku sedikit terkejut aku dapat dengan lihai mengendalikan nya." ujar Athela menjelaskan mengapa dia merasa kebingungan.
"Tentu kamu lihai. Itu karena kamu sudah bagus dalam hal bela diri dan memiliki reflek yang bagus. Secara otomatis, otakmu menerima rangsang element dan mencernanya dengan baik. Walau begitu kamu tetap harus banyak latihan untuk bisa meningkatkan kekuatanmu. Begitu juga dengan sihir." Athela mengangguk mengerti.
"Oke. Hari ini, seperti yang tadi ku katakan, kita akan belajar bagaimana cara mengeluarkan kedua element secara bersamaan." Wendy berpindah posisi menjadi menghadap Athela. Keduanya berdiri dengan jarak sekitar 3 meter karena Wendy akan mempraktekkan materinya.
Wendy bersiap di posisinya. Sembari fokus dia juga menjelaskan dengan detai bagaimana cara diakukan tehnik itu. "Pada dasarnya, melakukan element adalah bagaimana kita merasakan udara, api, air, tanah, es, lava, dan petir mengalir di nadi kita. Sesuai dengan apa yang bisa kita kendalikan, jika kamu sudah benar-benar bisa mengendalikannya, saat mengeluarkannya pun kamu dapat mengukur seberapa besar atau seberapa kuat element yang keluar itu. Kunci utama yang pertama adalah merasakan. Saat akan mengeluarkan dua element atau lebih sekaligus, rasakan element mu mengalir di sepanjang urat nadi dan bayangkan dimana mereka akan keluar." kemudian Wendy berhasil mengeluarkan dua element berbeda dari kedua tinjuannya. Tangan kanannya mengeluarkan api dan tangan kirinya mengeluarkan petir.
Athela menatap penuh kekaguman kepada Wendy. Bahkan gadis itu reflek bertepuk tangan.
"Itu masih dasar Athela. Sekarang aku ingin kamu yang mencobanya. Ingat! Kuncinya, feel it, thingking, and do it. Easy peasy. Dan satu lagi, gunakan element yang tidak saling bertolak belakang." Athela mengangguk mengerti, kemudian kembali memasang kuda-kudanya dan berkerak membuat beberapa jurus, bahkan untuk dapat lebih merasakannya, Athela sampai menutup matanya.
"Saat kamu telah merasakan element mu mengalir mengikuti nadimu, pikirkan dimana mereka akan keluar sebagai serangan. Kalau suda merasakan element mu seperti akan keluar dari ujung jari-jarimu, bebaskan sekarang juga." Athela mengangkat bebatuan dari tanah yang dikendalikan oleh tangan kananya dan membuat pusaran air kecil dengan tangan kirinya.
"Awalan yang bagus." puji Wendy melihat kemajuan Athela dengan cepat.
"Thanks. Oh iya Miss Wendy."
"Ya?"
"Ada yang ingin ku tanyakan. Mengenai orangtua ku, dan beberapa tentang hal sekolah ini." ujar Athela.
"Oke. Latihan cukup sampai disini saja dulu untuk hari ini. And now it's story time." kemudian Wendy membuat mereka kembali ke IAO, lebih tepatnya di ruangnnya.