
Pengaman yang tadi terpasang sudah terlepas, dan orang yang tadi membantunya memasang alat VR sekarang membantu Athela untuk melepaskannya. Saat alat itu telah terlepas, Athela sedikit menyipitkan matanya karena belum terbiasa. Namun kemudian ia bangkit dan ikut berjalan keluar dari sana.
Wendy menatap Athela yang keluar dari ruangan itu sembari terseyum. Kemudian dia menyerahkan kembali V-B miliknya. Athela mengambil kembali V-B nya dan menatap Wendy meminta penjelasan.
"Kamu berhasil! Mulai hari ini kamu resmi menjadi murid di sini." selamat Wendy kepada Athela.
"Kamu punya 3 element. Red Fire, Water, and Earth." lanjut Wendy. Athela mengangguk kan kepalanya sembari memakai kembali V-B miliknya.
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu ke kamar asrama mu. Tas dan kopermu sudah ada di sana." ujar Wendy yang kemudian membuka pintu ruang VR itu dan keluar dari sana.
Athela kira saat Wendy membuka pintu itu, mereka berdua akan langsung sampai di depan kamarnya atau bahkan di dalam kamar asramanya. Tapi ternyata, mereka keluar dengan biasa dsn sekarang berada di dalam lift untuk turun ke lantai paling bawah.
Saat sampai di bawah, sudah tidak banyak murid yang tersisa di sana. Mungkin permainan telah selesai sejam yang lalu dan Athela saja yang terlalu lama di ruang VR.
"Kegiatan belajar-mengajar elemen dan reguler akan dimulai besok lusa, sedangkan semua kelas sihir akan di mulai minggu depan." jelas Wendy sembari kedua orang itu berjalan keluar dari gedung bundar itu.
"Kenapa sihir dimulai minggu depan?" tanya Athela.
"Karena, setiap tahunnya, pada minggu ini ada festival penyihir dan kegiatan budaya mereka. Semua sekolah sihir ataupun campuran pasti akan menunda kelas sihir dari pada kelas yang lainnya." jelas Wendy.
Mereka berjalan menuju sebuah gedung yang cukup jauh dari gedung PPRE (Pusat pelatihan dan Riset Element) yang dalam sebuah kompas mungkin berada di bagus barat dan gedung panjang di bagian timur yang membentang dari timur laut sampai tenggara.
"Sekarang kita akan ke asrama yang berada di sebrang sana. Kalau gedung utara adalah gedung kelas untuk kelas Element dan sihir. Gedung di selatan, di sebrangnya adalah gedung utama, kelas regular, ruang guru, aula, ruangan saya juga berada di sana. Tadi di samping kanan gedung PPRE ada gedung olahraga dan Ekskul. Ada sekitar 31 macam cabang olahraga dan 20 ekskul. 2 organisasi. Nanti penjelasan lebih lanjut ada di buku panduan. Nah, kita sudah ada di depan lift asrama. Pergilah ke lift di kiri, saat masuk tekan nomor 5. Kamarmu nomor 534. Ibu permisi." setelah menjelaskan beberapa hal dan mengantar Athela ke gedung Asrama, Wendy pamit karena memiliki urusan lain.
Athela masuk ke dalam gedung bercat abu-abu, bercampur putih dan hitam. Kemudian dia berjalan mendekati lift di sebelah kiri dan masuk. Setelah itu, dia memencet tombol untuk lantai 5 dan lift itu mulai naik ke atas.
Saat pintu lift terbuka di lantai 5. Koridor besar di depannya nampak lumayan ramai, tidak seperti tadi di bawah yang sepi.
Athela berjalan perlahan mencari kamar bertuliskan 534. Melihat ke arah kanan dan kiri untuk menemukan angka tersebut. Dan akhirnya dia berhasil menemukan kamar dengan di samping pintunya tertulis angka 534 di atas layar.
Athela mendekat ke arah pintu itu dan melihat ke arah layar berbentuk persegi panjang di sana. Kemudian dia teringat cara membuka ruangan VR tadi yang di lakukan bu Wendy. Athela mencoba cara yang sama. Dia mensejajarkan gelangnya yang terpasang di pergelangan tangannya. Dan saat itu juga langsung muncul nama lengkapnya dan pintu terbuka secara otomatis.
Athela sedikit kagum ketika mencobanya sendiri. Tak mau membuang waktu lebih banyak lagi, gadis itu langsung masuk kedalam kamarnya.
Hal pertama yang Athela liat saat di dalam adalah, terdapat 2 kasur single yang masing-masing di depannya ada sebuah meja belajar yang cukup besar. Kasur satunya berwarna abu-abu kebiruan, sedangkan sebelahnya berwarna putih. Begitu pula dengan meja belajar. Dan di meja belajar yang berwarna abu-abu ke biruan terlihat telah tersusun banyak buku, bahkan rak di atas meja belajar juga telah terisi buku-buku.
Tiba-tiba, bagian tengah yang berada di antara dua kasur itu terbuka dan keluarlah seorang gadis mengenakan sebuah sweater berwarna biru dongker dengan tulisan Pixie di tengahnya, dipadukan dengan sebuah jins dan sepatu kets berwarna putih. Rambut gadis itu terurai, warnanya adalah abu-abu ke biruan seperti kasur dan meja belajarnya.
"Owh... Halo... Kamu pasti siswi baru kan? Salam kenal, namaku Lily Western. Kamu?" tanya gadis itu dan memperkenalkan dirinya sembari berjalan mendekat ke arah Athela.
"Athela Es- Pandora." ucap Athela dengan cepat. Dia tidak mengatakan nama tengahnya seperti yang Neneknya katakan padanya.
"Nama yang unik, sama seperi rambut dan matamu. Apa kamu penyihir?" tanya Lily.
"Bukan, aku elementer. Apa kamu elementer?" Lily menggeleng kemudian tersenyum.
"Bukan, aku penyihir. Oh iya, selamat datang di IAO! Dan senang berkenalan dengan mu." ujar Lily dengan senyuman hangat. Athela membalas senyuman Lily dengan senyuman kecil.
"Bukannya kelas sihir dimulai minggu depan?" Tanya Athela sembari duduk di atas kasur nya. Dan secara otomatis, kursi itu berubah menjadi warna ungu muda dan begitu pula dengan meja belajarnya.
"Memang sih. Tapi aku lebih suka festival disini. Plus, aku gak mau terlalu banyak mencatat karena menyusul masuk kelas regular. Apalagi kelas Kimia. Bisa mampus kalau satu kali gak masuk." jawab Lily. Athela hanya mengangguk.
"Lemari baju ada di balik dinding disana, kamu ke kanan. Ada juga kamar mandi di sana." Athela mengangguk kemudian mengangkat tasnya menuju ke tempatyang dimaksud Lily.
Setelah membersihkan dirinya dan menyusun pakaiannya di belakang. Athela keluar dari bagian belakang kamar mengenakan sebuah piama berwarna Hitam dengan garis pinggiran putih.
"Pakai jubah mu. Ini sudah jam makan malam." ujar Lily ketika melihat Athela keluar dari ruang ganti.
Athela menyerengit bingung. Kemudian dia mengingat bahwa melihat ada jubah di gantungan lemarinya di samping piala yang ia pakai ini.
"Jubah yang mana?" ya tentu saja Athela bertanya. Ada 3 jubah di sana dengan warna dan model yang berbeda.
"Jubah berwarna hitam yang panjangnya hanya selutut dan paling simpel." Athela mengangguk kemudian dia kembali ke ruang ganti untuk mengambil jubah yang dimaksud Lily.
Athela mengikat jubah itu pada kerah piyama-nya. Piyama yang juga sebenarnya sudah tersedia di lemari dan karena memang dia tidak punya piyama makanya dia memakainya.
Setelah memakai jubah itu, Athela keluar dan mendapati Lily yang telah berdiri dengan memakai jubah dan piyama yang sana dengannya.
Kedua gadis itu kemudian berjalan keluar dari kamar mereka menuju ke ruang makan. Saat keluar, murid-murid yang lain juga sedang berjalan menuju ke lift dan bergantian untuk turun. Yang tidak sabar, mereka memilih untuk turun dengan tangga.
Sistem lift sekolah ini berbeda dari yang lain. Tentu ada campuran sihir dan tekhnologi tinggi yang mengimbanginya.
Jadi bagai bianglala yang turunnya bergiliran untuk naik dan turun dan lift itu terus berputar. Makanya dibanding lift yang lain, lift asrama itu menjadi lift terbaik dan tidak membuat orang-orang mengantri terlalu lama.
Kedua gadis itu kemudian naik kedalam lift dan lift itu berjalan naik ke lantai paling atas.
Ruang makan di IAO tentu bernuansa modern. Ruang makan mereka berada di rooftop dengan pemandangan malam secara langsung, namun saat pagi dan siang, atap akan menutup dan menjadi ruang biasa dengan hiasan elegant. Dengan nuansa bertema taman, dengan banyak meja panjang yang berbaris rapi. Kecuali satu meja yang membentang dengan horizontal di ujung ruangan.
Seluruh murid me-ngantri untuk mengambil makanan. Athela dan Lily langsung duduk di barisan paling ujung sebelah kanan yang berbentang jauh dari meja horizontal.
Saat akan duduk, Athela mendengar namanya dipanggil oleh suara yang terdengar familiar di telinganya.
"Athela!" saat berbalik dia melihat Oceana dan yang lain berjalan mendekatinya dengan tangan yang membawa nampan makanan juga.
"Astaga! Kamu ternyata sekolah di sini juga." seru Ana. Athela hanya tersenyum tipis. Ana membalas senyuman Athela, namun saat melihat siapa yang ada di samping Athela membuat Ana berdecak sinis.
"Athela, lebih baik kamu gak dekat-dekat sama penyihir licik di samping mu itu." Athela menyerengit bingung. Apa yang dimaksud Ana adalah Lily? Athela melihat ke arah Lily yang menunduk lesu.
"Kamu bisa makan bareng kami saja. Daripada dengannya." ajak Ano yang sedari tadi berdiri di belakang saudari kembarnya.
"Em... Aku sama Lily aja. Soalnya kami sekamar. Lain kali saja ya..." Ana mengangguk mengerti, kemudian mereka langsung pergi ke tempat lain untuk duduk. Sedangkan
"Kenapa Ana berkata seperti itu tentang mu?" tanya Athela yang bingung saat mereka telah duduk di kursi mereka.
"Hanya kesalahpahaman di masa lalu. Aku tidak ingin mengungkitnya lagi." Athela tidak memaksa Lily untuk menjawab lebih lanjut jadi dia hanya akan diam. Kedua gadis itu duduk dan langsung melahap makanannya.
Lama kelamaan, makanan mereka terus berkurang. Namun selama makan, Athela merasa pemuda yang duduk jauh di bangku paling ujung seperti terus menatapnya tajam. Bahkan saat Athela melihat ke arah pemuda itu, dia tetap menatapnya dengan tatapan datar nan dingin. Tapi melihat wajah pemuda itu, dia merasa mengenalnya.
Makan malam berakhir dengan biasa saja. Acara penyambutan akan dilakukan saat kelas sihir juga telah di mulai, yang berarti itu adalah minggu depan. Setelah makan, mereka semua langsung kembali ke kamar masing-masing.
Selama perjalanan kembali. Athela dan Lily menjadi pusat perhatian. Seluruh atensi dan bisikan-bisikan tak mengenakkan tentang Lily, dan atensi penasaran tentang Athela karena rambut dan matanya yang unik atau bisa dibilang aneh.
Athela mendengar bisikan-bisikan tentang Lily yang terdengar sangat jahat. Dan dia merasa sangat penasaran mengapa Lily seperti di kucilkan. Padahal gadis itu sangat cantik dan baik. Tapi Athela tidak akan memaksa Lily untuk bercerita dengannya.
Dan ngomong-ngomong dia sekarang memikirkan pemuda yang saat makan tadi terus menatap ke arahnya dengan tatapan tajam. Entahlah, dia bingung kenapa pemuda itu menatapnya seperti itu.
Dan akibat dari lamunannya, dia malah menabrak orang yang sedari tadi dia pikirkan.
'Bruk...
Dahi Athela terbentur sebuah dada bidang seorang pemuda dengan rambut putih khasnya itu. Pemuda dengan raut wajah yang selalu datar dan tatapan tajam nya menatap Athela dengan mata biru nya itu dengan tatapan dingin.
Athela terkejut saat melihat siapa yang ia tabrak. Orang yang baru saja dia pikirkan. Lily juga terkejut ketika menyadari Athela menabrak seseorang, begitu pula orang-orang yang berada di sekitar sana.
Iris ungu itu saling bertatapan dengan iris se biru lautan itu. Tatapan mereka terputus saat sebuah kilatan merah bersambar di iris biru itu walau hanya sedetik.
"Wowowo... Santai kak. Dia tidak sengaja menabrakmu." ujar pemuda di samping si rambut si putih itu kala melihat kilatan merah di mata kakaknya.
Athela menunduk kemudian sedikit membungkuk sebagai isyarat maaf, kemudian dia menyingkir dari hadapan pemuda itu bersama Lily yang langsung bertanya kepada Athela memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.
"Ada apa denganmu? Dia hanya menabrakmu. Itupun pelan. Kenapa kakak sampai emosi seperti itu?" tanya Alex penasaran. Sang kakak tidak menjawab, dia berbalik melihat ke arah jalan Athela bersama Lily baru kemudian tiba-tiba menghilang dengan kekuatan khususnya dan itu membuat Alex menggeram kesal.
"Crown Prince Jack. Awas saja kamu! Pergi tiba-tiba seperti itu."
****