The Last Legacy (Hidden Identity)

The Last Legacy (Hidden Identity)
19. Athela Vs Oceana (Part 2)



Athela terduduk lemah, pandanganya memburam dan kesadarannya perlahan menghilang. Oceana di sebrang sana tersenyum penuh kemenangan, namun senyum itu tidak bertahan lama. 


Athela yang tadinya tertunduk, kembali mendongak dan berdiri tegak seperti tidak terluka sedikitpun. Luka-lukanya juga menyembuh dengan cepat. Namun yang membuat orang-orang terkejut adalah karena warna rambut Athela berubah, warna ungu dari rambutnya hanya berada di bagian atas, kemudian makin kebawah makin memudar menjadi warna silver keunguan. Bukan hanya rambut, Oceana dapat melihat dengan jelas bahwa warna mata Athela pun ikut berubah mengikuti warna rambutnya. 


Tatapan Athela tajam dan penuh dendam ke arah Oceana. Bahkan dari jarak mereka yang terlampau cukup jauh itu, Oceana bisa merasakan seberapa tajam dan mengimintidasi tatapan Athela, dia bahkan sampai mundur beberapa langkah sangking terpengaruhnya. 


Athela langsung berlari menyerang Oceana, namun Oceana terlalu lamban atau lebih tepatnya Athela makin cepat hingga dapat menyerang Oceana dengan telak. Bola es milik Athela mengenai Oceana tepat di perutnya hingga dia terpental ke belakang beberapa meter. 


Oceana bangkit dan kembali menyerang tidak kalah brutal. Dia terus melemparkan elemen-elemen esnya, memberi jebakan-jebakan walau tidak berguna lagi bagi Athela. 


Prak...


Prak... 


Es-es yang dilemparkan Athela dan Oceana saling berpadu, saling bertabrakan menimbulkan efek suara pecah beling. Bahkan beberapa yang meleset berhasil mengenai dinding pelindung. Elemen es dari Oceana saat terkena pelindung tidaklah menimbulkan efek apa-apa, namun saat elemen es dari Athela yang mengenai pelindung, rasanya terjadi ledakan besar hingga bergetar dan terasa keluar. 


Hawa dingin menusuk yang di keluarkan dari elemen es Athela juga dirasakan oleh para siswa-siswi yang tengah menonton di podium penonton. Mereka masih heran mengapa elemen es Athela berbeda. 


"Kita harus segera menghentikan mereka. Pelindung ini tidak akan bertahan sebentar lagi kalau Athela terus-terusan melempar esnya dan mengenai pelindung." ujar Wendy yang tengah menyaksikan Athela dan Oceana saling lawan dengan brutal di dalam sana. 


"Tapi bagaimana? Kalau kita membuka pelindung yang ada satu sekolah yang rusak." ujar Wind yang dibenarkan oleh Quinna dan Alex serta Lily. 


Jack tidak mengatakan apa-apa, matanya terus terfokus ke arah Athela dengan pandangan cemas. 


"Tapi kalau ini dibiarkan terus, nyawa Oceana dalam taruhan dan begitu pula dengan sekolah ini." ucap Wendy yang ada benarnya juga. 


Keadaan Oceana sudah sangat buruk. Sekujur tubuhnya luka-luka, rambutnya berantakan dan dilihat dari tenaganya yang tersisa, gadis itu tidak akan bertahan lama. Bahkan saat Oceana bergerak sekarang pun sudah terlihat dia tidak akan bertahan lebih lama lagi apalagi jika terkena serangan telah dari Athela. 


Jack terus menatap kearah Athela, batinnya terus-menerus memanggil nama gadis itu. 


Athela, batin Jack memanggil nama Athela karena khawatir. 


Athela yang siap menyerang Oceana dengan serangan terakhir tiba-tiba terdiam karena samar-samar dia mendengar seseorang memanggilnya. Dia menoleh kesamping dan mendapati Jack tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit dia artikan. 


Oceana yang melihat Athela mematung langsung mengambil kesempatan menyerang dengan bola esnya. 


Plak...


Bola es itu terkena telak di wajah Athela seperti sebuah tamparan, namun tidak memberikan efek apapun selain menaikkan emosi Athela. Athela melempar balik bola es yang sama, bola es sebesar bola handball dan mengenai Oceana hingga membuat gadis itu terpental jauh menabrak pelindung arena hingga retak. 


"Akh!" teriak Oceana kesakitan. 


Orang-orang terkejut saat melihat dinding pelindung retak, mereka membayangkan bagaimana jika mereka yang berada di sana. Es milik Athela pasti sangat kuat hingga bisa membuat dinding pelindung retak seperti itu. Dan lagi, hawa dingin yang tadi terasa samar-samar saat dinding itu retak hawa nya makin mendingin seperti sekarang sedang musim dingin. 


Oceana terbatuk dengan keras karena merasa perutnya diperas dan di timban sesuatu. Kemudian dia melihat kembali kearah Athela. Oceana yakin, bola yang dilempar Athela adalah es, tapi kenapa dia tidak bisa menahannya ataupun mengendalikannya? Dan lagi, rasanya lebih kuat, lebih dingin dan menyakitkan daripada terkena es biasa. 


Athela berjalan dengan langkah biasa namun terkesan menegangkan. Suasana menjadi sangat hening, yang terdengar hanya langkah Athela yang mendekat ke arah Oceana yang sudah berada di ambang kesadarannya. 


Athela membuat sebuah bola es besar. Oceana yang telah lemah karena terluka dan tenaganya habis hanya bisa pasrah, dia bahkan telah berpikir bahwa ini adalah akhir baginya. Namun, bola itu tidak makin membesar dan malah mengecil kemudian menghilang, AThela terlihat menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. Rambut Athela kembali seperti semula. Matanya yang tertutup kemudian terbuka, mata itu juga telah kembali seperti semula.


"Kamu tau Ana. Kita berbeda, dan hidupmu tidak akan berarti apa-apa untukku begitupula  dengan kematianmu. Aku tidak akan mengotori tanganku untuk membunuhmu dan malah membuatku terlihat menjadi sosok lain dirimu." ujar Athela dengan raut datar tanpa ekspresi itu. 


Selubung pelindung terbuka. Jack, Lily, Wendy, Quinna, Wind serta teman-teman Oceana berlari masuk kedalam dan menghampiri Athela dan Oceana. 


Oceano dan Gion membantu Oceana berdiri. Sedangkan Jack menahan punggung Athela yang terlihat oleng. 


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Jack dengan raut wajah khawatir. Athela menoleh dan mengangguk kecil. 


"Hanya sedikit mengantuk." ujarnya lemah. 


"Oceano dan Gion bawa Oceana ke ruang kesehatan. Lily dan Jack antar Athela ke kamarnya untuk beristirahat." Mereka mengangguk mengerti. 


Jack tiba-tiba berjongkok di depan Athela dan itu berhasil membuat para siswi-siswi yang menyaksikan berterak histeris. Bahkan Lily, Quinna, Wind dan Alex sampai menutup telinga mereka. 


Athela ingin menolak, sayangnya tubuhnya terlalu lemah untuk sekedar mengatakan tidak. Jadi dia menurut dan digendong Jack dipunggungnya. 


"Tidur saja kalau kamu mengantuk." ujar Jack saat Athela telah berada dalam gendongannya.


Kemudian Lily dan Jack berteleportasi langsung ke depan lift asrama wanita karena tidak bisa berteleport langsung ke koridor dalam. Lily menekan tombol lift dan mereka naik ke lantai 5 tempat kamar Athela dan Lily berada. Saat sampai di depan sana, Lily membuka pintu dan mempersilahkan Jack untuk masuk terlebih dahulu. 


Jack duduk di kasur Athela dan menurunkan Athela perlahan dengan bantuan Lily, setelah itu menyampirkan selimut hingga keleher Athela. 


Jack pamit untuk kembali karena kelas khususnya bersama Wendy akan dilanjutkan lagi.


****


Keesokan paginya, Athela telah siap dengan seragam sekolahnya yang biasa. Dia pagi ini ada kelas kimia dan sekarang sudah berada di gedung utama tempat kelas-kelas regular di adakan. Namun baru saja akan masuk kedalam kelas, namanya di panggil dari speaker sekolah yang membuatnya sendiri meringis karena merasa malu. 


"ATHELA E. PANDORA DAN OCEANA PIRCE SEGERA KE KANTOR KEPALA SEKOLAH!" 


"Makanya jangan nakal." ucap Alex yang tiba-tiba muncul di sampingnya. 


Athela menoleh dan menatap tajam Alex kemudian berjalan memutar menuju ke lantai 3 gedung utama, tempat ruangan Wendy berada. 


Saat sampai di depan ruangan Wendy, Athela mengetuk kemudian masuk setelah dipersilahkan langsung oleh Wendy. Athela masuk kedalam dan melihat Wendy tengah fokus dengan layar tablet di depannya, dan saat Athela datang baru dia mengalihkan pandangannya ke arah Athela. 


"Athela kamu mendapat jadwal baru. Kelas khusus mu akan bertambah, jadi kelas elemen biasamu akan berkurang. Dan sisa pemberitahuan kita tunggu Oceana dulu." 


Tak lama kemudian, Oceana datang dan Wendy segera memberitahu maksudnya memanggil keduanya. Wendy berdiri dari kursi kebesarannya dan mengajak kedua siswi sekolahnya itu untuk duduk di sofa sambil minum teh. 


"Jadi, ada yang ingin menceritakan lebih dulu sisi kronologi kejadian kemarin?" tanya Wendy. 


Oceana lebih dulu bercerita. Dia menceritakannya dengan begitu sungguh-sungguh dan manipulatif sehingga Athela adalah pelakunya. Kemudian Athela menceritakan dari sudut pandangnya dengan singkat, padat dan jelas. Tidak bertele-tele dan seluruhnya tentang kebenaran. 


Wendy mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Kemudian dia menatap Athela dan Oceana bergantian. 


"Menurut saya, kalian berdua salah. Oceana kamu harusnya sadar bahwa bertukar partner itu dilarang kecuali dengan alasan yang benar-benar khusus. Bahkan jika kamu dan Athela setuju untuk bertukar, pertukaran itu tidak akan terjadi jika pasangan yang lainnya tidak setuju. Kamu terlalu memaksa." 


"Tapi Miss, ak-" 


"Dan Athela, kesalahan kamu adalah karena menyetujui permainan itu begitu saja. Bisa dibilang kamu bisa menolak namun malah ingin ikut bermain padahal kamu tau itu salah. Dan lagi, kalian bertarung dengan mempertaruhkan Crown Prince Jack sebagai taruhannya, itu gak etis dan memalukan." Athela menghela nafas pelan. Dia mengaku salah.


"Ms. Wendy, bagaimanapun aku harus berpasangan dengan Jack. Harusnya Miss tau itu!" kekeh Oceana. 


"Oceana, sekali saya bilang tidak jawabannya akan tetap sama. Kamu bukan siapa-siapa Jack, jadi kamu tidak bisa seenaknya mengendalikan siapa yang akan bersama Jack." ujar Wendy dengan tegas. 


"Ta-tapi..." Oceana tidak melanjutkan ucapannya karena tatapan Wendy yang kelewatan menyeramkan. 


"Kalian akan mendapat hukuman. Pergi ke kolam renang dan bersihkan kolam renang dan sekitarnya. Sekarang!" kemudian Wendy menjentikkan jarinya yang membuat Athela dan Oceana menghilang dan tiba-tiba muncul di gedung renang. 


Bukan hanya itu, mereka muncul di atas kolam renang dan langsung tercebur ke dalam kolam. Athela dan Oceana terkejut dan sedikit memekik karena saat berteleport malah berada tepat di atas kolam renang. 


Athela berenang ke pinggir dan mengangkat tubuhnya. Sedangkan Oceana terlihat seperti hampir tenggelam. 


"Ana! Kolamnya gak dalam." ujar Athela yang membuat Oceana tersadar kakinya sampai di permukaan kolam. Athela hanya menggeleng heran melihat tingkah dramatis Oceana. 


Oceana memang tidak bisa berenang, tapi kalau masih sampai sih dia tidak apa-apa. Jadi Oceana berjalan ke pinggir kemudian naik ke pinggir kolam namun ternyata tidak semudah yang terlihat, alhasil Athela menolongnya. 


Sayangnya bukannya naik, Athela malah terjatuh kembali kekolam dan membuat Oceana tertawa mengejek. Athela dari bawah Oceana langsung mengangkat Oceana dan berhasil naik ke atas baru kemudian dia kembali naik. 


Keduanya langsung mulai membersihkan kolam renang seperti yang di perintahkan Wendy.