The Last Legacy (Hidden Identity)

The Last Legacy (Hidden Identity)
20. Magic Class



Athela mengambil tongkat sihirnya yang berada di dalam laci kemudian memasukkannya kedalam kantung seragamnya. Sekarang ini dia memiliki kelas sihir dan akan di laksanakan di gedung sihir.


Beberapa hari sebelumnya, Athela telah belajar banyak dari Lily yang telah berada di level teratas kelas sihir. Kelas sihir sendiri memiliki tingkatan level yang sama dengan Element. Level nya adalah 1-10. Dan tingkat kelas sendiri mempengaruhi tingkat level sihir. 


Athela berada di level 8, dimana level itu dipenuhi oleh anak-anak kelas 11 dan 12. Dan sepertinya hanya dia yang kelas 1. Dan sepertinya itu adalah hal yang mengejutkan bagi yang lain karen Athela sendiri bukanlah seorang penyihir murni. DIrinya memiliki kekuatan elemen yang cukup kuat dan bahkan telah di akui oleh kepala sekolah sendiri setelah menyaksikan pertarungan antara Athela dan Oceana beberapa hari yang lalu. 


Saat Athela masuk kelas, dia langsung menjadi pusat perhatian orang-orang. Mereka langsung berbisik-bisik namun tidak sadar suara mereka cukup keras hingga Athela sendiri dapat mendengar dengan jelas percakapan mereka. 


"Itutuh, yang kemarin ngalahin Oceana. Kok bisa ya sihirnya kuat juga?" bisik seorang gadis kepada temannya. 


Mereka adalah sekelompok half penyihir sekaligus kakak kelas Athela dilihat dari logo samping seragamnya. Mereka telah berada di tingkat 12. 


"Lihat saja rambutnya, ungu. Tentu saja banyak hal aneh yang terjadi padanya." 


Memangnya apa yang aneh dengan ungu? pikir Athela bingung. Ya memang sih tidak ada yang memiliki rambut sepertinya selain dirinya di sini. Tapi, bukan berarti Athela aneh bukan?


"Jangan-jangan dia punya ilmu hitam lagi. Maksudku, tidak ada orang di seluruh planet ini yang bisa menguasai sihir dan elemen secara seimbang. Selalu ada satu yang lebih kuat." ujar gadis yang lainnya. 


"Jangan terlalu memperdulikan mereka. Mereka hanya iri padamu." tiba-tiba seseorang mengintupsi. Athela menoleh dan mendapati seorang pemuda dengan rambut biru tua di sampingnya tengah tersenyum padanya. Pemuda itu bersama dengan 2 temannya, yang satu cewek dan yang satu cowok. Sepertinya mereka sepasang kekasih melihat seberapa dekat mereka.


Athela hanya mengangguk. 


"Omong-omong, namaku Kalios Western. Dan mereka Wanda Bertrade dan Hendry Wong." ucapnya memperkenalkan diri. 


Western? Bertrade? Terdengar familiar, batin Athela yang merasa pernah mendengar nama belakang mereka. 


"Aku-"


"Athela. Ya, kau cukup terkenal." Athela hanya tersenyum canggung. 


"Kalian kelas berapa?" tanya Athela. 


"Kami kelas 12."  


Kemudian seorang pria berumur kisaran 50 tahun dengan rambut berwarna hijau tua masuk yang membuat murid-murid lain duduk di tempat masing-masing. Dari raut wajah yang ditampilkan, Athela menebak guru ini tidaklah terlalu galak, bisa dibilang dalam taraf standar. Namun melihat rambutnya yang sepenuhnya berwarna hijau tua ke hitaman menandakan dia adalah seorang penyihir hebat.


"Aku boleh duduk di sini kan?" tanya Kalios dan Athela mengangguk mempersilahkan. 


"Oke anak-anak. Buka buku mantra kalian halaman 5, hari ini kita akan mempelajari mantra teleportasi untuk benda. Semakin berat bendanya semakin banyak tenaga yang di keluarkan. Mantra untuk teleportasi benda lebih mudah dibanding teleportasi diri." jelasnya.


"Ini pertamakalimu ikut kelas sihir bukan?" tanya Kalios dengan suara berbisik. Athela menoleh sekilas kemudian mengangguk. 


"Guru sihir kita namanya Mr. Jacob Ferran. Dia salah satu petinggi klan Ferran karena sihirnya yang begitu kuat." jelas Kalios. 


Athela ingat, klan Ferran adalah salah satu dari 5 klan Bangsawan. Klan-klan bangsawan ini di tidaklah mengikuti garis keturunan, namun perkerjaan. Kalau Mr. Jacob adalah klan Ferran berarti selain sebagai guru dia adalah salah satu pelindung planet Ozora. 


"Baiklah, siapa yang ingin mencoba lebih dahulu?" 


Tidak ada yang berniat mengacungkan tangan dan hanya diam di tempat melihat kearah lain. Mr. Jacob terlihat menghela nafas pelan. 


"Kalau begitu saya akan tunjuk saja." ucapnya, kemudian dia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kelas. Tatapannya berhenti pada Athela dan Athela tau dialah yang akan di tunjuk naik. 


"Athela, maju kedepan dan coba kamu praktekkan mantra ini." ucapnya sembari tersenyum ramah dan meyakinkan Athela untuk maju. 


Athela membuang nafas perlahan kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah kedepan. Murid-murid yang lain menatap kearah Athela dengan berbagai macam cara pandang.


Saat Athela telah berada di depan, Mr. Jacob memunculkan sebuah apple di atas meja guru. 


"Sekarang, lihat kearah apel itu. Fokuskan pikiranmu, pikirkan tempat yang akan kau tuju untuk apel itu. Untuk sekarang coba, pindahkan saja ke meja mu." Athela melihat Apel itu kemudian kearah bangku yang tadi dia duduki. 


"Setelah penggamaran lokasi perpindahan sudah jelas. Ucapkan mantranya kepada Apel itu." 


"Moventurobject~" ujarnya sembari mengayunkan tongkan kearah apel di depnnya. 


Beberapa detik tidak terjadi apa, namun kemudian apel itu bergetar dan menghilang. Semua orang secara serentak menoleh kearah tempat duduk Athela. 


Apel itu masih tidak muncul, namun 3 detik kemudian Apel itu perlahan muncul dan berada di atas meja Athela dalam keadaan utuh. Seketika semuanya bertepuk tangan atas keberhasilan Athela dengan sihirnya, begitu pula dengan Mr. Jacob. 


"Good Job, Athela. Nah, sekarang..." tiba-tiba muncul apel di setiap meja di depan para murid-murid. 


"Kalian harus memperaktikkannya dengan memindahkannya ke keranjang ini. Athela kembalilah duduk di tenpatmu." Athela kembali duduk di tempatnya dan murid-murid yang lainpun mempraktekkan mantra yang diajarkan. 


****


"Ugh! Akhirnya selesai juga kelas sihir." ucap Kalios sembari meregangkan tangannya.


"Yah, baru hari pertama tapi sudah banyak yang di pelajari." ujar Hendry. 


"Oh iya, ini sudah jam makan siang. Mau ke kantin Athela?" Athela mengangguk kemudian mereka berempat berjalan menuju ke kantin. 


Keempat remaja itu berjalan menuju ke ruang makan untuk makan siang. Athela, Kalios, Wanda dan Hendry mengantri untuk mengambil makan, kemudian mencari tempat kosong untuk makan.


Saat sedang mencari tempat, Athela mendengar namanya di panggil dan ternyata yang memanggilnya adalah Quinna.


Quinna tidak sendiri, dia bersama dengan Lily, Jack, Alex, Wind, Tion dan seorang gadis lagi dengan rambut pirang dan mata berwarna hijau.


Quinna menghampiri Athela bersama dengan yang lain.


"Kalios, kamu sudah datang ternyata." Ujar Lily saat menyadari keberadaan Kalios di belakang Athela.


"Tentu saja, aku tidak ingin melewatkan kelas sihir pertamaku di semester ini." Ujarnya yang sepertinya sangat akrab dengan Lily.


Western? Tunggu, nama belakang Lily dan Kalios sama! Mereka saudara? Batin Athela baru menyadari kalau nama belakang Lily dan Kalios sama.


"Kalian saudara?" Tanya Athela dengan polosnya.


Lily terkekeh. "Sepupu lebih tepatnya. Kalau saudara tidak mungkin dia berada di level 8 sihir padahal sudah kelas 12."


Kalios menatap Lily kesal. "Kamu secara tidak langsung tengah mengejekku bukan?" Lily kembali terkekeh.


Kemudian mereka berjalan ke tempat kosong dan duduk bersama. Saat Athela duduk, Kalios ingin duduk di samping Athela namun langsung di tarik Lily secara untuk duduk di sebrang bersamnya, bahkan Kalios sampai kesal karena dia sudah hampir duduk tapi malah di tarik begitu saja.


Jack duduk di samping kiri Athela, sedangkan di kanan Athela di ujung kursi ada Alex, di samping Jack ada Quinna dan di samping Quinna ada Wind. Di sebrang, Alex berhadapan dengan Tion, kemudian ada Kalios, terus Lily, Wanda dan Hendry.


Kalios menatao tajam Lily karena menariknya begitu saja saat akan duduk di samping Athela. Lily tidak mengidahkan dan hanya fokus pada kegiatannya.


Kemudian, Kalios melihat kearah Athela, dia merasa ada yang aneh. Tingkah Athela dan Jack terlihat berbeda? Entahlah Kalios tidak terlalu memikirkannya.


"Athela, sebentar ada kuis Kimia, kau ingat bukan?" Athela mengangguk menjawab pertanyaan Alex.


"Alex." Ucap Jack dengan nada penuh peringatan karena Alex berbicara disaat mereka tengah makan. Alex hanya menyengir tanpa dosa kemudian melanjutkan makannya.


Kemudian merekapun selesai makan. Athela pergi bersama Alex karena memiliki kelas yang sama yaitu kelas Kimia. Mereka lebih duluan pergi karena akan kuis sebentar.


"Jadi kalian ada kelas apa nih?" Tanya Wanda.


"Aku ada kelas Elemen." Jawab Tion.


"Aku, Jack dan Wind ada kelas khusus. Yang lain?"


"Aku, Kalios dan Hendry ada kelas Matematika. Kalau begitu sampai jumpa." Kemudian mereka berpisah menuju ke tujuan masing-masing.