
Jack berjalan memasuki ruang Singgasana kerajaan Ozora dengan langkah tegas dan penuh wibawa. Hari ini, adalah weekend dan tidak ada kelas sama sekali. Dia hanya ada jadwal latihan bersama dengan Athela sebentar sore, selain itu dia memiliki tugas diistana.
"Hormat ayahanda," ujar Jack sembari membungkuk hormat.
Orlando, raja Ozora sekaligus ayah dari Jack mengangguk menerima hormat dari Jack kemudian bangkit dari kursi kebesarannya mendekati Jack.
"Ayo, kita pergi sekarang," ujar Raja Orlando yang mengajak Jack pergi menuju ke area berkuda.
Hari ini mereka akan pergi berburu bersama dengan gaya tradisional yaitu menggunakan kuda dan panah. Walaupun Jack bisa menangkap buruan dengan mudah karena dia turunan Vampir, tapi menangkap dengan cara tradisional seperti ini lebih menyenangkan dan juga menjadi refreshing sendiri.
Saat mereka telah sampai di lapangan berkuda, Raja Orlando menaiki kudanya yang berwarna putih itu. Begitu pula dengan Jack. Nama kuda Jack adalah James sedangkan nama kuda ayahnya adalah Hans.
Jack naik ke atas kudanya kemudian mengelus kepala kudanya dengan lembut. "Ayo kita pergi James," bisiknya kemudian mulai membawa kudanya menuju hutan mengikuti Ayahnya dan beberapa kesatria yang ikut bersama mereka.
Mereka memasuki kawasan hutan barat kerajaan dan mulai mencari hewan buruan mereka. Jack menajamkan penciuman dan pendengarannya. Karena dia memiliki darah Vampir yang mendominasi, kekuatan vampir yang ia miliki juga kuat. Seperti pendengaran dan penciuman.
"Jack, merasakan sesuatu?" tanya Ayahnya. Raja Orlando bukanlah Vampir, dia adalah elementer Api turunan dari kerajaan Le Soleilon. Jack mendapat turunan vampir dari kakek buyut ibunya, keluarga kerajaan Moisan.
"Aku mencium bau rusa di arah sana," ujar Jack. Raja Orlando mengangguk kemudian berkuda ke arah yang di maksud Jack dengan Jack yang berada di depan mengarahkan.
Mereka memelankan kuda mereka saat mendengar suara gemersik dari semak-semak. Jack memberi tanda untuk mempersiapkan panah untuk berjaga-jaga. Kemudian, secara tiba-tiba ada 3 rusa yang meloncati semak-semak itu yang membuat beberapa prajurit terkejut dan panah mereka tidak mengenai sasaran dengan tepat. Sedangkan Jack dan Raja Orlando belum menembak dan menunggu saat yang tepat. Rusa-rusa itu juga berlari karena merasakan ancaman.
Tak
Tak
Ketiga rusa yang tengah berlari ingin menghindari mereka terjatuh sesaat setelah mendapatkan panah mendarat ditubuh mereka. Raja Orlando mengenai satu dan Jack mengenai dua karena dia dengan cepat menembakkan 2 panah secara bergantian dengan tepat.
"Kemampuan memanahmu semakin baik. Kamu bisa menggunakannya dengan kekuatanmu. Itu adalah hal yang sangat cerdik," puji Raja Orlando.
"Terima kasih atas pujiannya," jawab Jack dengan sedikit kaku. Jack tidak terbiasa dipuji dan dia memang tipe orang yang kaku saat berkomunikasi, makanya Ayahnya sendiri maklum jika Jack menjawab dengan seperti itu.
Jack dan Alex tentunya berbeda. Jika Alex yang dipuji tadi itu dia pasti akan makin membesar-besarkannya dan berujung membuat orang kesal. Memang sangat berbeda.
"Sepertinya berburu kali ini sudah cukup. Ayo kita kembali ke istana," pinta Raja Orlando. Kemudian 3 kesatria yang bersama mereka pergi mengambil buruan rusa tadi dan mereka mengendarai kuda mereka kembali ke istana bersama dengan Jack dan Raja Orlando dengan kecepatan sedang.
"Omong-omong, di mana adikmu?" tanya Raja Orlando kepada Jack.
Jack berpikir sejenak mengingat di mana keberadaan adiknya itu. "Kalau tidak salah dia ada kelas susulan Biologi."
"Kelas susulan?" tanya Raja Orlando yang terdengar bingung kenapa anak bungsunya itu bisa mendapat kelas susulan.
"Dia mengacau di kelas praktik bedah katak." Raja Orlando malah tertawa dengan keras ketika mendengar penjelasan Jack tentang Alex yang mendapat kelas susulan.
"Astaga! Anak itu memang sangat mirip denganku," ujar Raja Orlando yang membuat Jack menghela nafas heran.
"Yah, Alex memang selalu mirip denganku. Dan Putra mahkota kita sangat mirip dengan ibunya."
"Bukankah aku lebih mirip dengan Paman Fatur?" tanya Jack yang merasa ibunya lebih memiliki kesabaran ekstra bukanlah sifat dingin seperti yang dia miliki.
"Benar juga. Ekspresimu dinginmu saat menatap orang yang kamu curigai seperti saat Pamanmu yang menatapku ketika mengatakan ingin menikahi ibumu. Membuat orang menggigil seketika," ujar Raja Orlando yang kembali merasa merinding ketika mengingat hal itu.
"Omong-omong tentang pernikahan, Pangeran Mahkota Jack, apakah kau sudah-" belum selesai Raja Orlando berkata, Jack langsung melesatkan kudanya meninggalkan ayahnya dan para kesatria jauh di belakang mereka.
"CROWN PRINCE JACK VULCAN OZORANIO!" teriak ayahnya dari kejauhan yang masih dapat ia dengar, namun dia tidak mengidahkannya dan terus melaju kembali ke istana.
Tentu saja, Jack lebih dulu sampai di istana daripada pasukan ayahnya. Dia segera mengembalikan James ke kandang dan berpesan pada salah satu Kesatria di sana kalau ayahnya mencari bilang bahwa dia ada latihan partner.
Dan 15 menit setelah kepergian Jack, Raja Orlando sampai kembali ke istana dan turun dari kudanya kemudian bertanya pada kesatria yang berjaga di sana.
"Apa kamu tahu di mana keberadaan pangeran Jack?" tanya Raja Orlando.
"Pangeran Mahkota berkata dia memiliki latihan dengan Partner sekolahnya Yang Mulia," jawab kesatria itu.
"Dasar anak itu!" kesal Raja Orlando.
****
Saat berjalan masuk, ternyata lobi asrama cukup ramai. Mungkin karena kebanyakan dari para murid akan pergi berjalan-jalan atau melakukan kegiatan mereka masing-masing. Jack juga dapat mendengar bisikan-bisikan berupa pujian karena dia memakai seragam kerajaan resmi.
"Lihatlah, Jack dengan seragam kerajaan adalah yang terbaik. Dia sangat tampan."
"Ah, aku jadi ingin pingsan rasanya, dia terlalu hot."
Bukannya merasa senang ketika dipuji oleh para siswi-siswi itu, Jack malah merasa risih dan mempercepat jalannya menuju ke lift. Tapi sepertinya hari ini dia tidaklah seberuntung itu. Mengapa? Karena orang yang paling tidak ingin dia temui malah ada muncul dan langsung menggandeng lengannya.
"Jack!" panggil Oceana dengan nada manja sembari bergelantungan bagai monyet di lengan Jack.
Jack yang risih mencoba dengan paksa melepaskan gandengan Oceana di lengannya. Namun saat terlepas, dengan cepat Oceana kembali melingkarkan lengannya di lengan Jack dan itu membuat Jack kesal.
"Jack, kamu pasti baru dari istana. Kamu habis melakukan apa dengan calon mertua?" Jack menatap tajam dan dingin kearah Oceana namun sepertinya itu tidak berhasil untuk membuat Oceana menyerah.
Tiba-tiba, Jack berhenti berjalan karena mencium aroma yang begitu memabukkan.
Athela, batinnya berkata ketika mencium aroma lavender yang begitu kuat. Jack bahkan dengan spontan berbalik dan melihat kedatangan Athela, Lily dan Quinna yang memakai pakaian bebas dengan beberapa buku di pelukan mereka. Sepertinya mereka baru kembali dari perpustakaan sekolah.
Athela yang merasa ditatap menoleh dan mendapati Jack menatapnya. Dia tersenyum kecil namun saat melihat ada Oceana di samping Jack, Athela reflek berdecak kesal. Bukan hanya Athela, bahkan Lily dan Quina ikut kesal hanya karena melihat keberadaan Oceana.
Sedangkan Oceana yang bingung kenapa Jack tiba-tiba berhenti dan berbalik langsung merasa emosi karena ternyata Jack menatap ke arah ketiga musuhnya.
"Well, look who's here," sindir Quina pada Oceana yang menempel pada Jack.
Jack kembali memaksa melepaskan lengan Oceana darinya agar Athela tidak salah paham dan itu berhasil membuat Oceana kesal setengah mati.
"Athela tadi-"
"Sampai jumpa nanti sore," ujar Athela tanpa mendengar apa yang akan dikatakan Jack dan berjalan kembali. Namun dia berhenti sejenak di samping Oceana.
"Kurasa kamu masih merasakan rasa sakit dari pertarungan kita berdua waktu itu bukan?" bisik Athela dengan smirk di wajahnya. Setelah itu dia kembali berjalan diikuti dengan Lily dan Quina.
Jack juga langsung berjalan meninggalkan Oceana dan berpikir bagaimana dia akan menjelaskan kejadian tadi pada Athela sore nanti. Dia takut Athela salah paham dan membencinya, itu tidak boleh terjadi.
Kepergian Jack begitu sama berhasil membuat Oceana benar-benar kesal hingga hampir meledak jika dia tidak ingat bahwa dia ada di lobby asrama. Kalau dia mengamuk di sini bisa-bisa dia dihukum sebentar.
Awas saja kamu Athela, aku akan menghancurkanmu dengan tanganku sendiri! batin Oceana yang penuh amarah dan benci.
****
Seorang Pria bersurai Ungu ke hitaman itu terlihat tengah menghisap putung rokoknya dengan dalam sembari menikmati suasana kota Ozora dari atas atap gedung sebuah perusahaan. Dia memandangi seluruh penjuru kota dan mengamati kegiatan-kegiatan para manusia biasa serta kaum-kaum lain di keramaian itu.
"Tuan!" dia menoleh dan mendapati anak buahnya datang sembari berduduk hormat.
"Laporan," ucapnya secara singkat namun jelas. Suaranya yang berat dan penuh intimidasi itu membuat anak buahnya merinding seketika.
"Athela tidak hanya bisa 3 elemen, namun dia baru saja mendapatkan elemen es tuan. Namun anehnya, elemen es yang dia miliki berbeda dari elemen es pada umumnya ataupun elemen es khusus," jelasnya tanpa bangkit sedikitpun ataupun berani mendongakkan kepalanya.
"Ternyata dugaanku benar. Dia memang pernah meminum darah rainbow unicorn," lirihnya. Kemudian dia berbalik dan berjalan mendekati bawahannya itu.
"Kerja yang bagus, namun sepertinya hidupmu harus berakhir hari ini..."
"Kumohon tuan- Akh!" pria yang tadi melapor itu telah berubah menjadi abu dalam sedetik.
Keponakanku, tunggu pamanmu ini datang berkunjung....
****