The Last Legacy (Hidden Identity)

The Last Legacy (Hidden Identity)
14. Looking for



Jangan lupa like and comment. kalau menyukainya beritahu temanmu ya!


*****


Selalu menjadi pusat perhatian adalah hal yang paling di benci oleh Jack. Bukan-bukan dia benci di tatap orang-orang, hanya saja cara menatap para siswi di sekolahnya bisa dibilang berlebihan. Bahkan ada yang menggodanya secara terang-terangan. Melakukan segala hal agar mendapatkan perhatiannya dan berakhir tidak di tanggapi oleh Jack sedikit pun. Well, kecuali yang mencari perhatian adalah Athela. Tapi mungkin akan berakhir terbalik. 


Selain Jack, Alex juga tentu selalu menjadi pusat perhatian. Karena sebagai pangeran yang tampan melibihi naluri normal. Tentu saja saat keduanya lewat, apalagi berasama, tiba-tiba suasana koridor yang sudah riuh bertambah ricuh. Gadis-gadis itu berteriah heboh dan tidak bisa mengontrol ekspresi dan isi hatinya. Beberapa yang berani menyapa mungkin masih di balas oleh Alex yang memang pada dasarnya friendly. Tapi, jangan berharap lebih untuk Jack. Melirik saja tidak. 


Seperti sekarang ini. Pangeran bersaudara itu sedang berjalan menyusuri koridor akan pergi ke gedung ekstra kulikuler bersama. Dan sepanjang koridor yang mereka lewati penuh dengan teriakan histeris, pujian entah yang nekat maupun yang hanya membisik, belum lagi sejuta saapan yang hanya Alex yang membalas sedangkan Jack sudah sangat ingin kabur sejak tadi namun dia urungkan karena tempat itu terlalu ramai. Ingin teleport pun dia berpikir karena sebentar dia akan masuk kelas ekstra kulikuler Berkuda. 


Saat mereka telah sampai di depan lapangan, Jack tiba-tiba merasa kepalanya berat dan sakit. Entah karena apa. Jack adalah tipe jarang sakit, salah satu faktor adalah karena darah Vampirnya yang dominan daripada darah manusianya. Makanya dia bingung kenapa dia bisa sakit tiba-tiba. Sangking sakitnya, dia sampai berpegangan pada dinding yang ada di sampingnya dengan tangan kirinya dan tangan kanannya memegang kepalanya. 


Alex yang melihat kakaknya tiba-tiba oleng dan bertumpu pada dinding segera mendekat dan bertanya ada apa. "Kak! Kamu tidak apa-apa?" Jack sedikit meringis namun kemudian menggeleng pelan menjawab pertanyaan Alex bahwa dia tidak apa-apa. Sayangnya kata-katanya berbanding terbalik dengan yang sekarang terjadi. 


Jack merasa tubuhnya lemas dan jatuh pingsan. Itu membuat Alex panik karena kakaknya itu tidak pernah pingsan bahkan sakit selama 17 tahun hidupnya. Dan sekarang, entah karena apa tiba-tiba Pangeran Mahkota itu jatuh di sampingnya. 


"Jack!" selain Jack, ternyata ada orang lain yang melihat Jack pingsan dan segera menghampiri kedua pangeran muda itu. 


"Quinna! Kamu sudah kembali?" tanya Alex yang melupakan bahwa kakaknya tengah pingsan sekarang. 


Quinna menjitak kepala Alex karena masih sempat bertanya di saat gawat seperti ini. Karena itu pula, Alex sadar kembali kalau kakaknya tengah pingsan dan harus segera di pindahkan ke ruang kesehatan. 


Alex membawa Jack keruang kesehatan sedangkan Quinna menghubungi Wendy. Dokter yang menjaga di ruang kesehatan terkejut melihat Alex memapah Jack dan membantu pangeran itu. 


Quinna datang bersama dengan Wendy dan Wendy segera mengecek keadaan Jack. Sedangkan Quinna dan Alex disuruh untuk menunggu di belakangnya. 


"Kemarin Athela dan sekarang Jack." gumam Alex yang dapat di dengar Quinna. 


"Jack hanya kelelahan, sepertinya seminggu ini dia sibuk dan semalam tidak tidur sama sekali dan banyak pikiran." jelas Wendy saat selesai melakukan pemeriksaan awal pada Jack. 


"Tapi bukannya Vampir tidak bisa lelah?" tanya Alex bingung, pasalnya di banding dengannya darah Vampir Jack hampir 80% dan itu tinggi. 


"Ya, jika kau 100% Vampir. Jack tetap punya darah manusia dan Elementer yang memiliki kapasitas terbatas pemakaian. Dia hanya butuh istirahat sebentar dan vitamin. Nah sekarang kalian bisa kembali ke kelas." Alex mengangguk dan pergi dari sana, sedangkan Quinna berjalan mendekati Wendy.


"Wendy. Aku ingin bertanya tentang sesuatu." Wendy menoleh menatap Quinna.


"Saat penobatanku sebagai putri mahkota, kekuatanku terbuka begitupula dengan ingatanku. Kenapa ingatan bersama gadis berambut ungu itu dikunci?" tanya Quinna kepada Wendy. Wendy terlihat biasa saja karena dia memang sudah menyadari itu. Sama seperti Jack yang mengingat Athela dalam sekali pandang. 


"Itu karena seluruh petinggi sepakat agar ingatan tentang klan Esterina sebaiknya hanya di ingat sedikit orang untuk melindungi keturunan terakhirnya. Dan ngomong-ngomong tentang itu, bisa kamu tolong carikan Athela? Jika Jack pingsan besar kemungkinan adalah karena Athela." Quinna mengangguk kemudian berjalan keluar dari ruang kesehatan dan mencari Athela. 


Saat sedang mencari Athela, Quinna melihat Oceanna masuk kedalam sebuah toilet dengan dayang-dayangnya dan membawa tali? Bukankah itu aneh? Karena curiga, Quinna pergi ke kamar mandi wanita itu untuk mengecek, namun ternyata terkunci. Bahkan di dalam tidak terdengar apa-apa, pasti karena Oceanna menggunakan sihir pengedap suara. Tapi itu tidak membuat Quinna menyerah, dia malah takut siapa yang sedang di siksa. 


Quinna mengendalikan air dan ngalirkannya di lobang kunci kemudian membekukannya hingga berbentuk kunci yang dipakai kemudian memutar kunci itu dan membuka pintu dengan tergesa-gesa. 


Di dalam, Oceanna sedang memegang tali dan akan melilit Lily dengan kedua temannya menahan gadis itu. Namun saat kedatangan Quinna ketiga gadis itu terkejut sampai-sampai hampir melepaskan Lily. 


"Q-quinna? How you?" tanya Oceanna terbata-bata. 


"Oh hai! Miss me?" tanya Quinna dengan senyum liciknya. Kemudian dia kembali melakukan pengendalian air untuk melepaskan Lily dari kedua teman Oceana dengan menyiramkan air panas ketangan mereka. Tidak hanya mereka, bahkan Oceanna pun terkena, namun Oceanna menahannya dengan es dan membuat uap terbentuk. Dengan memanfaatkan keadaan yang kacau itu, Quinna menarik Lily dan berlari menjauh. 


Kekuatan Quinna adalah air dan mutiara, dia bisa merubah suhu air menjadi sepanas didihan atau sedingin es. Dan bahkan bisa mengontrol siapa yang akan merasakan perubahan itu, makanya saat menyerang kedua teman Oceanna tadi Lily yang terkena sedikit percikan tidak merasakan panasnya. 


"Lily, kamu tau Athela?" tanya Quinna saat mereka telah berhasil lolos dan tengah berada di tengah koridor ramai.


"Tentu, dia teman sekamarku. Tunggu, dari mana kamu mengenalnya?" bingung Lily karena seingatnya ini hari pertama Quinna bersekolah. 


"Tidak penting aku mengenalnya dari mana, kamu tau dia dimana sekarang?" 


"Mungkin masih di perpustakaan, tadi dia bilang padaku akan ke perpustakaan." Quinna mengangguk kemudian keduanya pergi menuju ke perpustakaan sekolah. 


"Dimana Athela?" Quinna mengarahkan dengan dagunya, kemudian keduanya berjalan mendekat kearah Athela. 


"Athela?" Lily sedikit panik takut Athela belum pulih sepenuhnya dan sekarang pingsan. 


Mendengar namanya terpanggil, Athela mendongak bangun dari tidurnya yang menjadikan tangannya sebagai tumpuan. Saat melihat Athela bangun, kedua gadis itu reflek membuang nafas lega. 


"Kamu tertidur?" tanya Lily memastikan. Athela mengangguk. 


"Sepertinya begitu. Sedang apa kamu di sini Lily?" tanya Athela yang telah bangun sepenuhnya. 


"Em, sebenarnya dia yang mencarimu." Athela menatap ke gadis di samping Lily. Seorang gadis dengan rambut sebiru samudra.


"Hai, Athela! Aku Quinna. Wendy menyuruhku mencarimu tadi." Quinna melambaikan tangannya sembari memperkenalkan dirinya, karena dia sadar Athela pasti tidak mengingatnya.


Dahi Athela mengerut. Dia merasa familiar dengan nama itu.


'Quinna? Princess of Aqua Kingdom?' batin Athela mengingat-ingat percakapannya dengan Jack waktu itu.


"Kenapa Wendy mencari ku?" tanya Athela.


Quinna tersenyum. "Dia hanya ingin memastikan kamu tidak kenapa-napa. Soalnya Jack pingsan tadi dan belum sadar hingga sekarang." Athela dan Lily melotot terkejut mendengar itu. Bahkan Athela reflek berdiri dari duduknya.


"Jack pingsan? Kenapa bisa?" tanya Lily khawatir.


"Sepertinya kelelahan."


Athela menatap Quinna dengan ekspresi bingung. Kemudian kembali bertanya, "Apa hubungannya Jack pingsan dengan aku? Maksudku, kenapa Wendy takut aku sedang kenapa-napa padahal yang pingsan adalah Jack?"


Quinna mengedikkan bahunya tanda bahwa dia juga tidak tau alasannya. "Bagaimana kalau kita ke ruang kesehatan melihat Jack sekalian bertanya pada Wendy?" saran Quinna. Athela dan Lily mengangguk setuju, kemudian Athela membawa kedua buku dan pergi ke tempat informasi untuk meminjam buku yang tadi dia ambil. Kemudian baru mereka pergi ke ruang kesehatan.


"Nice book!" puji Quinna melihat buku Klan Esterina.


Athela menoleh dan mengangguk. "Makasih."


"Itu buku klan ya?" Athela menoleh terkejut mendengar tebakan Lily.


"Bagaimana kamu tau?"


"Setiap klan punya buku dan bentuknya rata-rata seperti itu. Pembedanya biasanya warna buku dan batu di tengahnya, tapi aku tidak pernah melihat yang berwarna ungu." jelas Lily.


'Tentu saja tidak pernah!' batin Athela dan Quinna di saat bersamaan.


"Ah ini? Entahlah, hanya dapat saja tadi. Mungkin klan lama?" alibi Athela karena tidak bisa menjelaskannya untuk sekarang pada Lily. Lily percaya dan mereka kembali hening.


Saat keduanya sampai di ruang kesehatan. Jack telah sadar, bahkan sekarang tengah berdebat dengan Wendy.


"Kubilang kamu harus istirahat! Tenang saja, aku sudah menyuruh Quinna untuk mencarinya." ujar Wendy.


Jack memutar kedua bola matanya malas. "Tetap saja aku juga harus memastikan dia baik-baik saja atau tidak! Bagaimana kalau penyebab aku pingsan karena Athela—"


"Aku kenapa?" Athela menyela ucapan Jack yang membuat kedua orang itu terkejut melihat kedatangannya bersama Quinna dan Lily.


Wendy langsung menghampiri Athela untuk mengecek keadaan gadis itu. "Kamu tidak apa-apa?" tanya nya.


"Yeah, i'm fine. Apa hubungannya aku sakit dengan pingsannya Jack?" tanya Athela penuh selidik.


Wendy terdiam, begitupula dengan Jack. Apa mereka harus menceritakan segalanya pada Athela sekarang? Bahwa hidup pangeran Mahkota terikat dengan nya....