
Athela kira, perjalanannya sudah akan berakhir. Namun nyatanya, jalan setapak itu ternyata sangat panjang, belum lagi dia sama sekali belum menemukan tanda-tanda keberadaan kota yang bisa di tandai dengan gerbang besar berwarna putih dan keramaian orang-orang. Sedangkan tempatnya berada sekarang sangatlah sepi. Tidak ada orang ataupun kendaraan.
Dan sekarang, bukannya mendapat petunjuk, dia malah di hadapkan dengan sebuah pertigaan. Untungnya ada papan tanda di antara tiga jalan itu, salah satu jalan adalah yang dia lalui.
Tertulis, kalau ke kiri kita akan ke desa grassland dan beberapa desa lain yang tertera di sana, dan kalau kekanan baru menuju ke ibu kota. Yaitu, city of Ozora.
Namun ada satu kendala. Athela melihat jarak dari tempatnya ke ibu kota. Tertulis 1.551 km. Athela melongo terkejut. Kalau masih sejauh itu, bisa-bisa dia mati saat sampai di sana, dan sampainya juga mungkin tahun depan.
"Hei! Kamu sedang apa?" Athela menoleh karena mendengar suara seseorang.
Ada sekelompok orang. 2 cewek dan 2 cowok. Mereka terlihat seumuran dengan Athela dan juga mereka memakai tas ransel di punggung mereka.
"O-oh hai. Aku sepertinya tersesat." kata Athela saat anak yang bertanya itu menatapnya.
"Kamu ingin ke ibu kota?" Athela mengangguk mengiyakan pertanyaan dari pemuda dengan rambut berwarna biru.
"Kalau begitu bareng kami saja. Kami juga akan ke sana, naik kereta. Mau ikut?" Athela mengangguk setuju, kemudian mereka jalan bersama. Melewati jalan ke kanan.
Sebenarnya, Athela tidak tau apa itu kereta, dan kenapa dia harus menaiki itu. Tapi, karena tujuan mereka sama, Athela mengikut saja.
Hanya jalan sekitar 10 menit, mereka menemukan sebuah jalan menuju ke bawah tanah. Dan di bagan tangga sudah ramai orang menuju turun ke bawah.
"Hei, rambut ungu! dimana gelang mu?" tanya pemuda dengan rambut berwarna merah itu kepada Athela.
Athela menoleh dengan tatapan bingung. Kemudian pemuda itu mengangkat lengannya, memperlihatkan gelang yang pemuda itu maksud. Gelang yang pemuda tunjukkan memiliki model yang sama dengan gelang Athela namun permatanya berwarna putih.
Karena sadar Athela belum memakai gelangnya, mereka berhenti di bagian pinggir tangga menunggu Athela mengambil gelangnya. Sedikit sulit karena Athela melakukannya sambil berdiri dan di sana sangat ramai, namun Athela akhirnya bisa mengambil gelangnya. Namun ada hal aneh lainnya. Warna gelangnya berubah menjadi putih, sama seperti gelang yang lainnya pakai.
Athela mengedikkan bahunya acuh dan langsung memakai gelagnya di pergelangan tangan kanan. Dan mereka berlima berjalan turun menuruni tangga bersama.
"Kenapa kamu tidak memakainya sejak dirumah?" tanya gafis berambut biru ber-ombre putih.
"Memangnya ini kegunaannya apa?" gadis berambut biru-putih itu menepuk jidatnya, sedangkan yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
"Nanti akan ku jelaskan saat di kereta." Athela hanya mengangguk.
Mereka berenam berdiri menunggu kereta. Saat pintu kereta terbuka mereka langsung masuk kedalam dan mengambil tempat kosong untuk berenam.
Mereka duduk saling berhadapan. Mulai dari Athela yang di samping jendela, gadis berambut biru-putih, dan gadis berambut coklat yang diujung dekat jalan. Di sebrang mereka, pemuda berambut biru yang bersebrangan dengan Athela, kemudian berambut merah.
"Omong-omong, kita belum mengenalmu. Nama ku Oceana Pirce biasa di panggil Ana, itu yang berambut biru saudara kembarku namanya Oceano Pirce, biasa di panggil Ano. Ini namanya Cecil. Dan yang rambut merah namanya Gion." jelas gadis bernama Oceana itu.
"Namaku Athela. Senang berkenalan dengan kalian semua." kata Athela sembari tersenyum tipis. Dan Ano tiba-tiba tersedak tanpa sebab.
Ana hanya menggelengkan kepalanya melihat saudara kembarnya yang tiba-tiba tersedak. Gadis itu tau kalau saudara kembarnya itu terpesona dengan senyum manis Athela walaupun Athela hanya tersenyum tipis.
"Rambut dan matamu unik. Apa kamu penyihir murni? Atau elementer?" untuk kesekian kalinya Athela menyerengit bingung.
"Sepertinya selama perjalanan ini, kita akan banyak menjelaskan." kemudian Ana berbalik menatap Athela lekat. Athela hanya dapat mengangguk, begitu pula dengan yang lainnya.
"Jadi, kita mulai dari mana?" tanya Ana.
"Dari gelang." Ana mengangguk kemudian mulai menjelaskan.
"V-Bracelet atau gelang serba guna. Gelang ini adalah akses identitas kita khusus untuk ibu kota. Untuk masuk ke kota Ozora, seseorang bahkan bayi harus mempunyai V-B. Biasanya orang tua sudah menyiapkan ini saat anak mereka baru lahir, dan untuk anak-anak berumur 10 tahun sampai remaja yang belum punya perkerjaan, gelang ini akan berwarna putih. Anak-anak dibawah 10 tahun akan berwarna sesuai dengan perkerjaan orang tuanya.
Gelang ini adalah segala akses teknologi. Tabungan dari bank bisa di dapatkan dari mesin dengan menyambungkannya dengan gelang ini, kemudian gelang ini juga bisa menjadi pendeteksi penyakit, peta, dan banyak lagi. Tapi semua akses itu bisa di tembus jika sudah di tambahkan. Untuk penambahannya itu harus pergi ke pusat akses. Contoh untuk bank, harus ke bank central Ozora. Beda lagi dengan akses dasar seperti komunikasi, peta, dan identitas diri.
Pokoknya gelang ini tidak boleh di lepas atau dilupa. Dan ini juga tahan air." jelas Ana secara singkat. Karena pengertian dan kegunaan dari V-B itu sangat banyak, dan kalau di jelaskan secara rinci akan habis memakan waktu hingga besok.
"Bagaimana dengan hubungan rambutku dengan penyihir dan elementer?" tanya Athela.
"Penyihir murni (read; hanya bisa menggunakan magic) tidak bisa menggunakan elemen, tapi elementer bisa belajar sihir apalagi jika mereka half. Untuk masalah warna rambut, ada beberapa rambut yang langkah dan ada juga yang banyak dimiliki. Rambut umum itu adalah hitam dan coklat tua. Langka itu rambut berwarna Perak dan sepertinya sekarang ada ungu. Sedangnkan banyak namun khusus itu seperti Merah, Biru muda, hitam kebiruan, Hijau, Coklat almond, Abu-abu dan Orange.
Untuk hitam dan coklat tua, biasa dimiliki semua orang biasa (non-magel) atau sebutannya adalah Muzh. Banyak juga penyihir yang punya rambut hitam, beda dengan penyihir berambut hijau atau hitam yang sudah hampir ke biru, biasanya itu keturunan atau level kekuatan. Penyihir itu kuat di pertahanan namun sedikit lemah di penyerangan, karena mereka hanya membuat tiruan dari kekuatan elementer.
Rambut elementer juga bermacam-macam: Petir (Abu-abu), Api (Merah/Biru tua), Bumi (Coklat almond), Lava (Orange), Air (Biru), Es (Putih/Platinum) dan Angin (biru muda). Elemen langkah ada tiga, Es, Blue Fire and Lava. Dan yang paling langka adalah Es. Hanya keturunan kerajaan Bulan dan Ozora yang punya elemen es, kecuali dia terpilih oleh takdir. Dan tidak semua elementer, ada juga punya warna biasa.
Eh, sepertinya yang paling langka adalah rambut mu, ungu. Kalau Platinum ada Prince Jack dan adiknya Alex, tapi Alex hanya berubah kalau sedang memakai kekuatan esnya.
Selain rambut, ada perubahan mata. Kalau mata, lebih langka lagi. Hanya ada beberapa. Biasanya karena dia half penyihir atau Vampir. Atau Elemen yang dia kuasai dua atau lebih. Sejauh ini yang gue liat langsung perubahan mata itu cuman dua orang. Crown Prince Jack dan prince Alex. Mata mereka bisa berubah menjadi merah. Itu karena mereka half vampir, darah vampir yang sudah turun temurun.
Yang membingungkan adalah rambut ungu dan mata ungumu." jelas Cecil sejelas-jelasnya.
"Ada yang mau kamu tanyakan lagi?"
"Rambut Ana. Dia biru bercambur putih." Cecil menepuk jidatnya karena melupakan warna rambut Ana.
"Ana bisa es. Ibunya terpilih oleh takdir memiliki kekuatan langkah es. Namun karena Ana bukan keturunan langsung, rambutnya menjadi bercampur." Athela mendesah mengerti mendengar penjelasan tambahan Cecil.
"Athela, apa kamu ke ibu kota untuk sekolah?" tanya Ano penasaran.
Athela mengedikkan bahunya, tanda dia juga tidak tau. "Tujuan utama ku sekarang adalah ke bank city center of Ozora. Setelah itu, aku tidak tau."
"Memangnya, kenapa kamu ke ibu kota? Dimana orang tuamu?" tanya Gion.
"Aku tidak ingat tentang kedua orangtuaku, setahu ku mereka meninggal 8 tahun lalu, terus nenekku baru saja meninggal kemarin dan itulah kenapa aku ke Ibu kota. Nenekku yang menyuruhku." jawaban Athela membuat Gion merasa canggung.
****
"Jadi kita berpisah disini?" Athela mengangguk.
"Kalau begitu sampai jumpa lagi Athela. Kami duluan."
Setelah kepergian kelima teman barunya, Athela memencet batu yang ada di tengah gelang. Muncul-lah sebuah cahaya persegi berwarna biru dengan tulisan dan gambar yang berwarna pulih. Athela memencet gambar peta dan masuk kedalam akses peta seluruh ibu kota dan planet itu.
"Bank center city of Ozora." kata Athela. Secara otomatis, peta yang menunjukkan bentuk dan warna planet langsung membesar hingga menunjukkan sebuah pulau 3D. Setelah itu, Athela mengikuti arahan yang ada di sana.
Ternyata Bank itu tidak jauh dari stasiun, tapi karena ramai, itulah yang membuatnya cukup lama untuk sampai.
Jalanan ramai dengan pejalan kaki, belum lagi Athela juga terkagum-kagum dengan gedung tinggi dan sebuah papan besar yang menyala. Untung saja raut wajahnya tetap datar walau dalam hati merasa Ibu kita sangatlah indah.
Athela berhenti di depan sebuah gedung menjulang tinggi yang di atas pintu masuk tertulis, Bank center city of Ozora. Tanpa membuang-buang waktu, Athela segera masuk kedalam gedung itu.
Didalam juga sangat ramai. Ada yang duduk di kursi yang di sediakan dan ada yang sedang berbincang. Ada juga yang mengantri di depan kaca berbentuk persegi panjang. Yang paling banyak adalah bagian pemasukan dan pendaftaran yang memiliki 18 barisan antrian dan semua nya tidak ada yang kurang dari 10 orang.
Karena bingung harus menyerahkan kemana surat yang dia dapat. Akhirnya Athela memilih untuk bertanya kepada entahlah, dia tidak yakin itu manusia atau bukan, sebuah besi yang berdiri di belakang meja dengan tulisan pusat informasi. Namun sebelum kesana, dia lebih dahulu mengambil amplop dari kopernya baru dia berjalan ke sana.
"Permisi!" panggil Athela sopan. Sebuah robot pria yang berpakaian seragam berwarna merah untuk Bank terlihat menoleh dan tersenyum kepadanya.
"Ada yang bisa di bantu?"
Athela langsung menyerahkan amplop itu kepada robot itu. Sang robot terlihat membaca bagian depan yang tertulis bahasa yang Athela tidak ketahui namun dia pahami.
"Aw!" kata robot itu. Athela menyerengit bingung. Kenapa manusia besi itu malah berkata 'aw'? Memangnya dia sedang jatuh?
"Mari ikuti saya." kata robot itu yang berjalan lebih dahulu, diikuti Athela di belakangnya.
Robot itu membawa Athela ke dalan lift. Kemudian lift itu berhenti di lantai paling atas gedung.
Mereka keluar dan berjalan di sebuah koridor sepi. Tak lama berjalan, sampailah mereka di depan pintu besar dan megah. Robot itu masuk duluan, baru kemudian Athela mengikut.
Robot pria itu berhenti di samping sebuah meja besar di tengah ruangan. Seorang pria dengan setelan jas tengah duduk di kursi kebesarannya. Robot itu memberikan amplop yang entah berisi apa, Athela tidak tau. Kepada pria tersebut.
"Halo Athela." dahi Athela mengerut bingung.
"Akhirnya kamu sampai juga. Saya kira kamu tersesat." ujar pria itu. Dan Athela masih memandang aneh pria didepannya.
"Mungkin kamu lupa dengan saya. Nama saya Xander. Saya pemilik bank ini dan bank di seluruh planet ini." Athela berdecak kagum mendengar pengakuan Xander.
"Tapi, bagaimana kamu tau namaku?"
Xander tersenyum, kemudian mulai membuka amplop itu.
"Apa kamu mengerti bahasanya?" tanya Athela lagi.
"Bahasa yang ada di amplop, saya tidak mengerti sama sekali." kemudian Xander membalik kertas itu sehingga mengarah ke Athela. "Namun yang ada di surat, saya mengerti." lanjutnya.
"Kemarikan gelangmu. aku akan mendaftar kan nya." Athela segera melepaskan gelangnya dan menyerahkannya ke Xander.
Xander terlihat menaruh gelang Athela di atas sebuah benda bulat, dan gelang Athela berdiri dengan sempurna dan melayang. Pria itu langsung sibuk memencet-mencet layar besar dari kaca itu dengan sangat serius.
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku tadi. Bagaimana kamu mengenalku?" ulang Athela.
Xander melirik sebentar kemudian menekan tombol enter. Setelah itu batu yang ada di gelang Athela mengeluarkan sinar yang memiliki beberapa campuran warna, putih, pink, biru dan ungu, namun tidak bersinar terlalu terang.
Xander berdiri dari duduknya dan berjalan ke hadapan mejanya yang berarti dia berdiri di depan Athela.
Pria itu menyerahkan gelang Athela dan Athela menerimanya kembali. Namun dia masih meminta penjelasan.
"Saya dahulu satu sekolah dengan Ayah dan Ibumu. Pas kamu lahir, saya juga datang. Dan ibumu, mempercayakan masalah kehidupan mu mulai sekarang sampai kedepannya kepada saya." jelas Xander.
"Kamu tidak tau tujuanmu lagi setelah amplop itu bukan?" Athela mengangguk.
Xander memencet gelang miliknya. Permata Xander berwarna abu-abu. Setelah ia pencet, muncullah sebuah cahaya dengan gambar seseorang.
"Hei! Fonda..." kata Xander kepada layar di depannya itu.
Layar itu terlihat bergerak. Karena memang mereka sedang melakukan Video call.
"Ada apa, Bertrade?! Kamu menelpon di saat yang tidak tepat!" seru wanita di layar.
"Segeralah kemari. Anak Liony telah datang." kata Xander. Athela tau kalau baru saja nama ibunya di sebut.
"KENAPA KAMU TIDAK BILANG DARI TADI!" teriak wanita itu dan langsung memutuskan sambungan telpon itu secara sepihak.
"Tunggu dia datang. Tidak akan lama. Mungkin 5 detik dari sekarang." dan seperti kata Xander. 5 detik kemudian ada yang membuka pintu ruangan pria itu dengan keras.
Wanita itu dengan anggunnya berjalan mendekati Athela. Wanita dengan kemeja berwarna putih dan jas berwarna merah marun namun tidak dia pakai dan hanya menggantung di bahu, dengan sepatu berwarna senada, rambutnya ia biarkan terurai. Sangat anggun dan menawan.
"Hai Athela. Sekarang tujuanmu adalah bersamaku." katanya. Kemudian dia mengeluarkan sebuah tongkat dan mereka menghilang dari sana.