The Last Blossom

The Last Blossom
2. HUJAN HARI ITU



“Hujan membawa kesedihan dan kebahagiaan


Rasa itu beraneka namun tak sama


Entah kenangan ataukah harapan


Keduanya surut jika tak bersama”


Menjelang jam pelajaran terakhir usai, Ibu Lia sang guru biologi memberikan pengumuman penting bahwa untuk pembelajaran jenis-jenis tumbuhan jamur akan dilaksanakan langsung di alam. Hal ini langsung membuat kelas hiruk-pikuk menyambut kabar gembira yang datang dari Ibu Lia. Karena itu berarti besok seharian mereka akan belajar di luar sekolah dan jalan-jalan.


Hal ini tentu sangat merepotkan bagi Ibu Lia yang akan membawa 2 kelas sekaligus yaitu kelas 11 B dan 11 C, tapi bagaimanapun ilmu tetap harus tersampaikan kepada siswa-siswanya. Oleh karena itu Ibu Lia mengajak Pak Fikri untuk membantunya.


“Jadi anak-anak, kalian sudah ada di sekolah pukul 8 pagi. Ibu tidak akan memaafkan kalian yang telat datang, jika tidak hadir maka nilai kalian kosong. Persiapkan pula jurnal sebagai dasar kalian tentang jenis-jenis jamur. Kita akan mencari jamur besok dan kalian akan mengamatinya langsung di lapangan, Mengerti?!” jelas Ibu Lia.


“Baik buuuuu” teriak para murid bersemangat mengingat hari esok.


Terlihat di bangku belakang Elza memasukkan bukunya dengan tenang kedalam tasnya. Dia tak bereaksi seperti teman-teman mereka yang lain.


“Menurutmu aku pakai baju apa besok, apakah ungu terlalu mencolok?” Tanya Baby kepada Elza.


“Pakai yang nyaman saja” kata Elza.


“Baiklah aku pakai kuning saja” jawab Baby. Mendengar pertanyaan konyol dari Baby membuat Elza tersenyum lebar.


Di sampingnya Rose sangat bersemangat dengan menelpon Prisil memastikan bahwa besok kelasnya bersama-sama mengikuti kelas Ibu Lia di luar ruangan.


“Apakah kau sudah pulang? Jemi masih di kelas?” Tanya Rose terang-terangan.


“Tunggu aku disana, aku kesana sekarang!” kata Rose sambil mengambil tasnya dan berlari keluar kelas.


Mendengar nama Jemi disebut oleh Rose menggetarkan mulut Baby yang ingin bergosip lagi. Dia pun berbalik dan bercerita kepada Elza tentang kejadian Rose dan Jemi kemarin.


“Aku yakin mereka pacaran, Rose membuatnya sangat jelas, bahkan Jemi lewat di depan kelas kemarin untuk pertama kalinya dia lewat sini” ujar Baby.


“Sungguh?” Elza memperjelasnya.


“Mmmm mereka jadi Couple goal yang trending topik di sekolah kita” Baby meyakinkan.


Seketika wajah Elza murung, ia berdiri dan memakai sweaternya bersiap untuk pulang.


“Aku duluan beb” kata Elza masih memaksakan senyumnya.


Elza berjalan menuju gerbang sambil memikirkan kabar yang dikatakan oleh Baby. Kakinya hampir tersandung oleh batu, seseorang menarik tasnya sehingga Elza tidak terjatuh.


“Tunggu aku di samping sekolah” Kata Jemi melewati Elza.


“Dia memang sangat cuek” kata Elza berbisik kepada dirinya sendiri.


Elza menuggu di samping sekolah, angkot yang biasa dinaikinya sudah berlalu tapi Jemi belum juga terlihat keluar dari gerbang. Rose terlihat di kejauhan datang menghampiri Elza.


“Kau menunggu Jemi? Tunggulah beberapa saat lagi, dia tidak akan keluar sebelum semua siswa pergi. Itu karena dia ingin mengantarmu pulang” Kata Rose seperti merendahkannya dan pergi dari hadapan Elza.


Elza yang mendengarnya mencoba diam tak ingin menghiraukan perkataan Rose namun jauh di dalam hatinya sangat terganggu akan hal itu, mengingat kemarin adalah hari jadian pertamanya dengan Jemi.


Setelah lama menunggu akhirnya Jemi datang.


“Naiklah” kata Jemi sambil tersenyum. Elza membalasnya.


“Kenapa sangat lama?” Tanya Elza ingin memastikan yang dikatakan Rose.


Elza terdiam mendengar jawaban Jemi. Ia merasa perkataan Rose ada benarnya, seperti teman lainnya mereka semua malu berteman dengan Elza terang-terangan, hal itu membuat Elza menjadi diam selama perjalanan.


“Kita akan sampai, kau tidak mengucapkan apapun” ungkap Jemi.


Sampai di ujung jalan Jemi pun memberhentikan motornya, Elza turun dan membuka helm nya.


“Jika kau risih pulang denganku, tidak perlu seperti ini lagipula rumahmu sangat jauh dari sini” Elza meletakkan helmnya di setir motor.


“Bukan seperti itu” ungkap Jemi.


“Lalu?” Tanya Elza.


“Aku tidak ingin ada gosip, dan ini soal kita berdua bukan mereka” pendapat Jemi.


Elza mengangguk mengerti maksud Jemi, ia tak ingin memperpanjang perdebatan. Jemi meminta nomer telpon Elza untuk menghubunginya di waktu luang. Elza memberinya dan berbalik menaiki bukit tanpa pamit kepada Jemi. Perasaan Elza masih tidak puas dengan jawaban Jemi yang tidak meyakinkan.


Saat menyukai seseorang, kita harus menanggung sakitnya juga. Ternyata seperti ini berat. Gumam Elza dalam hati. Ia berjalan dengan tertunduk, kali pertamanya berpacaran tak seindah kisah romantis yang biasa dilihatnya di film. Begitulah hidup selalu dan akan selalu dipenuhi konsekuensi kapanpun dalam situasi apapun.


Elza berbaring dan membaca novel kesukaanya yang ditulis oleh Tere Lie. Hp nya berdering di sudut kasur, tertera nomer baru di layar hp nya.


“Dengan siapa?” Elza menjawab telepon itu.


“Pacar barumu” kata Jemi.


“Aku akan menyimpan nomermu” kata Elza.


“Apa kamu marah?” Tanya Jemi menyadari sikap Elza saat di jalan tadi.


“Tidak, aku hanya menerima imbalan dari bahagia kemarin” Elza menunduk.


“Sungguh aku tidak mau ada gosip, aku tidak mau kau terganggu akan hal itu” jelas Jemi.


“Tapi kau membiarkan gosipmu dan Rose menjadi perbincangan publik” Elza tak tahan lagi.


“Rose yang mengejarku, kau tau aku bukan? Aku tidak bisa banyak bicara di hadapan banyak orang. Denganmu aku berusaha” Jemi meyakinkan Elza.


“Aku akan mencoba mengerti, maaf aku tidak befikir sampai kesana. Aku masih berusaha mengenalmu lebih jauh” Ungkap Elza.


“Terima kasih za, sampai jumpa besok” Kata Jemi menutup teleponnya.


Elza mencoba mengerti maksud dan perhatian Jemi yang tak ingin Elza tersakiti karena perbincangan orang lain. Untuk menenangkan diri Elza naik ke puncak.


“Nak ini ada buah-buahan yang dibawa Pak Kamil, keluarlah” Teriak Ibu Ratih dari ruang tamu.


“Aku akan naik ke puncak bun, Elza akan bawa apelnya saja” Elza memasukkan apel itu ke sakunya sambil tersenyum kepada Ibunya.


“Baiklah, haruskah kita buat pondok di puncak sana?” Tanya Ibunya.


Dengan pelukan Elza berkata “Sungguh aku akan mencubit ibu jika naik kesana, ibu bisa sesak nafas” Kata Elza tertawa kecil memeluk ibunya.


“Pergilah” kata Ibunya dengan senyuman.


Sesampainya di puncak terlihat Elza memandangi apel di tangannya, ia teringat masa kecilnya yang sangat bahagia bersama Ibu Ratih dan Pak Saidt namun hal itu tidak bisa ia rasakan lagi setelah kematian adik bayinya. Kedua orang tuanya akhirnya hanya berfokus pada Elza, alasan ayahnya untuk bekerja diluar kota semata-mata untuk memberikan penghasilan yang lebih baik untuk keluarganya terutama untuk pendidikan Elza. Setiap ayahnya pulang dari kota pasti ia membawa selalu membawakan apel sebagai oleh-oleh dari kota. Sambil menggigit apelnya Elza meneteskan air matanya yang rindu dengan kehadiran ayahnya di rumah.


🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤


note: Jangan lupa like 👍 dan komen ☺️yaah, setiap episode akan aplod setiap hari jam 8 malam. Terima kasih readers n author ❤️