
Sore itu di taman kota Elza yang sudah sehat terlihat tersenyum melangkahkan kakinya di samping Jemi. Mereka melakukan kencan pertama mereka. Memakai sepatu yang senada. Elza terlihat manis dengan sweater merahnya dan Jemi memakai hodie hitam. Tersenyum bahagia memandang satu sama lain.
“Kau tahu untuk apa rasa peduli di ciptakan?”
Tanya Jemi menghentikan langkahnya.
“Untuk bisa menghargai orang lain mungkin” jawab Elza.
“Itu salah satunya, peduli adalah rasa yang
mendarah daging. Tapi ada peduli yang berlebihan dan ada peduli yang diabaikan.
Za saat kau tahu sesuatu yang buruk tentangku. Tolong jangan langsung
membenciku, tapi peduli lah padaku? Cukup sekali”
“Begitukah? Apakah aku akan mendengar hal buruk?” sahut Elza sambil memandangi sepasang mata Jemi.
“Kita berdua sudah tahu, ada penghalang dari
hubungan ini, orang tua kita, status keluarga semacamnya. Tapi aku masih
mencoba mencari jalan keluarnya. Saat aku mengambil keputusan, berarti itulah
jalan keluar yang paling bisa ku andalkan, saat itulah aku memintamu untuk
peduli dan menunggu ku, bisakan?”
“Akan ku usahakan, apa opsi dari jalan keluarnya” Elza bertanya sambil mencoba tersenyum.
“Semuanya kemungkinan terburuk. Aku tetap disini namun tak bisa bergandengan denganmu, ataukan aku harus pergi untuk
mempertahankanmu tapi masih harus terlibat perjodohan dengan anak rekan ayahku.
Aku tahu pilihan ini sulit, tapi kumohon mengertilah” jelas Jemi dengan wajah
murung.
“Kenapa serumit ini? Aku tidak akan bertanya
seperti itu. Aku pun sudah memikirkannya. Aku akan menunggu sedikit lebih lama.
Tidak bisakah kau tetap disini, kini giliranku menatapmu dari jauh” Kata Elza
masih menahan air matanya.
Terlihat seseorang dari balik pohon memotret mereka berdua. Hal itu dilihat oleh Jemi namun tak diperdulikan olehnya. Dia ingin
tahu apakah hal itu diperbuat oleh ayahnya, jika benar itu ayahnya maka ia akan
mendapat teguran. Hal itu bisa memperjelas semuanya.
“Dugaanmu benar, suara kamera terdengar di
belakang ku” Kata Elza pelan. Jemi mengangguk dan mengalihkan pembicaraan.
“Bisakah aku menculik mu hari ini? Mari kita
bersenang-senang hari ini” Jemi tersenyum untuk menenangkan Elza.
Mereka berdua menikmati hari itu dengan sangat indah, Jemi dan Elza berjalan melewati tokoh boneka dengan sigapnya Jemi menarik Elza untuk masuk ke dalam toko tersebut, dia membeli boneka beruang putih yang lucu lalu memberikannya kepada Elza, makan es krim bersama dan
menikmati senja di penghujung waktu itu.
“Senja mengajarkan kita arti perpisahan yang
indah. Tak kusangka hubungan yang terlalu lama aku dan kamu tunggu akan serumit
ini, akan kah berakhir bahagia? Akankah seindah ini akhirnya?. Jangan
pertanyakan itu Jem, kita hanya perlu menjalaninya sampai kita berdua sampai di
titik nol. Kau berjanji?” Elza megacungkan kelingkingnya tanda janji akan dibuat.
“Mari kita lakukan itu, mari mencoba terus
menerus. Titik nol pun pertanda akan memulai yang baru kan?” Jawab Jemi
mengaitkan kelingkingnya.
Elza tersenyum manis mendengar jawaban Jemi. Hal yang membuatnya sedikit takut namun juga berharap, terasa lebih ringan saat janji dikaitkan.
Setelah mengantar Elza pulang ke depan rumahnya, akhirnya Jemi pun kembali untuk pulang, ia masih terus diikuti oleh seseorang yang memotretnya di taman. Setibanya dirumah ia langusung menelpon Pak Anto untuk berbicara.
Dengan terburu-buru Pak Anto yang tinggal di
belakang rumah Jemi akhirnya menemui Jemi.
“Ada apa tuan?” Tanya Pak Anto memasuki kamar jemi sambil menutup pintu.
“Orang itu juga mengikutiku hari ini saat aku
bersama dengan Elza. Aku semakin yakin itu ulah Ayah”
“Bagaimana rencana tuan selanjutnya?” Tanya Pak Anto.
“Jika aku keluar bersama dengan Elza lagi, aku minta tolong ke Pak Anto untuk mengawasi orang itu. Karena aku yakin setiap aku bersama dengan Elza, orang itu selalu mengikutiku. Jika ada hal lain yang Pak
Anto ketahui tentang Ayah, tolong beritahukan jika itu berkaitan denganku” Jemi
dengan wajah seriusnya.
“Baik tuan, kabari saya jika tuan ingin keluar dengan Elza, kalau begitu saya pamit Tuan” Pak Anto terlihat terburu-buru untuk keluar dari kamar Jemi. Hal yang sangat aneh. Pak Anto yang sebelumnya akan tinggal mendengar cerita Jemi malah pergi dengan tiba-tiba.
Di tempat lain, Elza keluar dari kamarnya untuk makan malam bersama Ibu dan Ayahnya. Ayah Elza cukup mengambil cuti yang panjang kali ini untuk menemani keluarganya selama Elza sakit. Bagi dia Elza
adalah harapan keluarganya yang sangat berarti bagi Ibu Ratih dan Pak Saidt.
“Keluar sama temen Elza pak” jawabnya dengan gugup menyuap sesendok nasi ke mulutnya.
“Anak yang hari itu datang?” Tanya Ayahnya lagi.
“Iya Ayah” Elza masih berusaha santai.
“Apakah dia satu-satunya temanmu? Tidak baik anak perempuan jalan berdua dengan laki-laki, bagaimanapun kalo orang lain
melihatnya mereka akan salah paham nak” jelas Ayahnya.
“Itu yang terakhir, Ayah jangan hawatir” Elza
mengucapkannya dengan wajah muram. Melihat itu Ibu Ratih mencoba membahas
masalah sekolah Elza yang sebentar lagi akan libur karena ujian siswa kelas 12 akan dilaksanakan.
“Kan kamu akan libur, gimana kalo kita pergi ke kota dengan Ayah? Kamu juga akan sedikit refreshing. Kaka sepupumu disana akan
mengajakmu jalan-jalan katanya” kata Ibunya dengan tersenyum.
“Aku mengikuti Ayah dan bunda saja” Jawab Elza
membalas senyuman Ibunya.
“Itu ide bagus bun. Kapan liburnya nak?” Tanya Ayahnya.
“Minggu depan Yah” jawab Elza.
“Kalau begitu ayah akan menunggu kalian” Pak Saidt akhirnya tersenyum.
“Anak kita sudah besar ayah, di kota nanti
luaskan dia berjalan-jalan dengan sepupunya” sahut Ibunya.
“Tentu, ayah tidak keberatan jika dia ditemani
oleh sepupunya” Kata Pak Saidt.
"Kamu besok akan ulangan, malam ini istirahat yang cukup yah nak" kata Ibu Ratih.
Elza menjawabnya dengan anggukan.
"Besok Ayah akan kembali ke kota, kamu baik-baik yah nak disini. jangan buat bunda dan Ayah kecewa" Pak Saidt menuangkan air putih ke gelas anak semata wayangnya dengan senyuman harap.
"Baik Yah" Elza tersenyum.
Sesudah sholat subuh , Pak Saidt siap-siap untuk berangkat ke kota. Dia cukup mengambil cuti yang panjang selama Elza sakit.
"Ayah hati-hati di jalan. Senternya jangan lupa di bawa" Kata Elza memeluk Ayahnya di depan pintu.
Ibu Ratih dan Elza melambai ke arah Pak Saidt yang sudah hilang di tengah kabut subuh itu.
"Bunda akan siapkan sarapan nak, kamu pergi mandi gih" Kata Ibu Ratih.
"Baik bun" Elza berjalan menuju kamar mandi.
Mereka pun makan bersama, hampa tanpa Pak Saidt lagi. sesekali di benak Elza ingin menyusul untuk menetap dengan Ibu dan Ayahnya di Kota. tapi di sisi lain, sawah peninggalan neneknya yang diurus oleh Ibu Ratih tidak dapat di tinggalkan begitu saja dan pekerjaan Ibu Ratih di desa itu juga sedikit membantu menambah penghasilan Pak Saidt membiayai Elza bersekolah sekaligus menabung untuk masa depan anak semata wayangnya.
"Bun Elza pamit yah, nanti takut ketinggalan angkot" Elza mengambil gelas namun tiba-tiba gelanya terjatuh dan pecah berhamburan. Elza spontan duduk membersihkan pecahan kaca itu.
"Astagfirullah Za, hati-hati nak" Ibu Ratih membantu Elza.
"Sudah-sudah biar bunda yang bersihkan, kamu berangkat sekarang yah" kata Ibu Ratih.
"Tapi bun...." Elza memelas.
"Lebih penting sekolah kamu dari ini Za, nggak papa nak" Ibu Ratih meyakinkan puterinya.
"Maaf yah bun, Elza ceroboh" kata Elza tak enak hati.
"Sudah, ini tasnya. kamu hati-hati yah" Ibu Ratih memakaikan tas ke punggung Elza.
"Elza pamit bun " Elza mencium tangan Ibunya dan melambai pergi.
Setibanya di kelas. Ia sudah melihat raut wajah tak wajar dari Baby, dengan tenang Elza menaruh tasnya di bawah kursi.
"Kau memang tidak menganggapku teman yah? kau tahu aku sangat hawatir tapi kenapa kau tidak mengangkat telepon ku hari itu? kau juga tidak memberitahukanku rahasia besar. Aku merasa tidak berguna tau nggak'' ocehan Baby berturut-turun menghantam wajah Elza yang baru saja duduk di belakangnya.
"Satu satu beb, yang penting dulu'' Elza tersenyum melihat tingkah Baby yang sangat kepo itu.
"Kau menganggapku temanmu kan?" tanya Baby mengeriutkan alisnya.
"Tentu" jawab Elza memegang pundak Baby.
"Oke itu yang paling penting, selebihnya aku akan mewawancaraimu setelah jam istirahat" Ekspresi Baby menjadi berubah sumringah mendengar satu kata yang diucap Elza.
"Oke" Elza tersenyum lebar menjawab Baby.
Rose yang baru datang terlihat memakai barang branded hari itu, dari tas, sepatu bahkan sweater yang diipakainya. semua pasang mata yang dilewatinya menjadi mematung melihat gaya Rose hari itu yang beda dari biasanya.
"Dia pamer lagi, ya tuhaan. aku sangat muak melihat ruba itu" Bisik Baby kepada Elza.
"Ssst, tidak boleh berkata seperti itu" Elza menutup mulut Baby. sekejap Elza juga terpaku akan tampilan Rose yang modis.
terdengar Rafi berteriak dari pojok kelas. "Waaah anak calon pejabat datang nih. Beuuh" Katanya menggoda tampilan Rose.
"Dia kaya, cantik dan pintar. Aku merasa menjadi rapunzel di kelas ini za" Baby cemberut melihatnya.
"Tapi kau yang paling baik, bukankah itu yang paling penting. Hukum awal dan akhir bergantung kebaikan seseorang loh" Elza menyemangati Baby yang mulai insecure dengan diri sendiri.
"Elza memang yang paling peka terhadap kebaikanku" Baby mengacungkan dua jempolnya lalu mebgibas rambutnya memutar balik pandangannya kedepan untuk fokus
Melihat itu Elza tersenyum sendiri melihat tingkah lucu dari Baby.