The Last Blossom

The Last Blossom
Pucuk Rahasia



Pak Saidt menggendong Elza menuruni bukit. Ada raut kehawatiran dan kelelahan di wajah pria tua itu. Sesampainya di bawah mobil pak Saleh sudah terlihat. Ayah Elza meminjam mobil Pak Saleh untuk dikendarai menuju rumah sakit, kondisi kaki Elza sungguh sangat memprihatinkan. Sesampainya di rumah sakit Elza langsung diperiksa oleh dokter.


“Sejak kapan seperti ini?” Tanya dokter.


“ 2 hari yang lalu dok” jawab Elza dengan sedikit menjerit.


“Kakinya untuk sementara di balut perban yah, nggak usah banyak jalan dulu” jelas dokter sambil mengarahkan perawat untuk memasang perban elastis di kaki Elza.


“Apakah tidak serius dok?” Tanya Pak Saidt.


“Insya Allah tidak apa-apa pak, kakinya terbentur jadinya memar dan membengkak. Elza nanti istirahat dulu dirumah 3 hari sambil rutin minum obat” jelas Ddokternya dengan tersenyum menandakan bahwa semua akan baik-baik saja.


“Alhamdulillah, makasih bu dok” ungkap Ibu Ratih.


Mereka bertiga akhirnya pulang dengan perasaan lega. Elza pada akhirnya tidak dapat bersekolah 3 hari kedepan.


Di sekolah terlihat siswa siswi mengerjakan ujian tengah semesternya. Baby yang kewalahan karena tidak banyak menegrti tentang materi biologi kini kalang kabut tanpa kehadiran Elza.


“Kerjakan soal kalian dengan teliti. Apa kalian sudah dapat kabar dari Elza?” Tanya Ibu Lia.


“Dia masih sakit buk, katanya di suruh istirahat sama dokter” Jawab Rafi.


“Dia akan menyusul ulangan nantinya. Sampaikan itu ke Elza yah” Ibu Lia memberikan toleransi.


“Baik bu” kata Rafi.


Saat semuanya masih sibuk menjawab di menit terakhir, Rose sudah berjalan melenggok untuk mengumpulkan hasil ulangannya. Dengan angkuh dia menyemangati teman lainnya sambil melambai keluar kelas.


“Dasar pelit” Gumam Baby.


Belum sempat Rose melangkah mendekati kantin dia melihat Jemi, iapun mengikutinya. Ternayata Jemi naik ke balkon sekolah yang terletak di atas aula sekolah.


“Aku menemukanmu lagi. Apakah kau yakin kita tidak jodoh?” Tanya Baby mendekati Jemi.


“Kenapa kau kesini, kau tidak punya kerjaan lain?” Kata Jemi diikuti senyuman dinginnya.


“Aku mengikutimu. Ngomomg-ngomong apa kau tahu Elza memperpanjang izinnya. Kenapa kau tidak menjenguknya?” Kata Rose sambil melihat ke bawah balkon.


“Apa aku tidak salah dengar? Apa pedulimu?” Jemi ketus berbalik ingin meninggalkan Rose.


“Tunggu. Aku akan peduli jika itu berkaitan denganmu, aku tulus. Kau pasti bisa melihat itu. Sudahlah, kau tidak akan percaya. Aku yang akan pergi. Bye Jemi” Sahut Rose dengan senyum yang lebar.


“Wanita aneh, mengajak berteman tapi ujung-ujungnya berharap sesuatu. Dia Keisha versi kota ini” Gumam Jemi melihat Rose yang berlalu di pintu balkon.


Bel istirahat berbunyi Baby yang heboh karena Rafi menarik kertas ulangannya dengan paksa.


“Jamnya sudah habis. Pasrah saja” kata Rafi .


“aaaaaaa tinggal 3 lagiii” teriak Baby.


“Itu masih banyak Beb” Reni menertawakan ocehan Baby.


“Aku akan tetap jadi model walaupun nilai biologiku buruk jadi sudahlah aku tidak peduli” gerutu Baby menyemangati dirinya sendiri.


“Babyyy baby… “ Rose masuk kelas dengan membawa beberapa cemilan.


“Dasar pelit” kata Baby melihat Rose yang menghampirinya.


“Aku masih lebih baik dari orang yang kau anggap dekat. Kau mau tahu sebuah rahasia?” Kata Rose sambil meletakkan biscuit di meja Baby.


“Elza dan Jemi pacaran. Sepertinya kau memang bukan siapa-siapanya haha” bisik Rose.


Mata Baby melotot kaget mendengar hal yang dikatakan oleh Rose.


“Bukannya kau yang…” katanya terputus, Baby lalu berlari keluar kelas mengambil handphone yang ada di tasnya. Sesampainya di taman ia langsung menelpon Elza.


Telepon terdengar berdering lama namun panggilan tidak jua di terima oleh Elza.


Elza yang baru bangun dari tidurnya melihat 7 panggilan dari Baby.


Apakah ada hal yang penting. Katanya dalam hati.


Kabut tebal kembali terjadi di bukit Elza, memandang keluar jendela dengan menghela nafas panjang, rindu akan puncak dan ketenangan disana. Kabur terlihat sosok laki-laki berdiri di depan rumah Elza. Memakai Jaket putih. Ibu ratih juga melihatnya dan keluar untuk bertanya.


“Ada yang bisa di bantu nak?” Tanya Ibu Ratih.


“Saya Jemi buk, teman Elza. Mau ngejenguk” Kata Jemi meraih tangan Ibu Ratih untuk bersalaman.


“oooiya, silahkan masuk nak” Ibu Ratih sedikit kaget dengan kehadiran Jemi. Dia mempersilahkan Jemi untuk duduk di ruang tamu. Dan pergi memanggil Elza.


“Zaaa, kamu ada tamu ini. Jemi namanya” Ibu Ratih mengetuk pintu kamar Elza.


Mendengar itu Elza terkaget mengingat Ibu dan Ayahnya sebenarnya tidak menyukai kedekatan mereka berdua. Elza mengambil sweaternya dan keluar menggunakan tongkat.


“Iya buk” Elza membuka pintunya dan pergi ke ruang tamu.


“Kau datang sehabis pulang sekolah, tidak usah repot-repot” kata Elza kepada Jemi diikuti senyuman yang manis.


“Ibu akan membuatkan teh, kalian duduklah dulu” Ibu Ratih pergi menuju dapur.


Didapur terlihat Pak Saidt yang baru keluar dari kamar mandi.


“Pak anak itu datang jenguk Elza. Gimana ini, kalau ayahnya tahu” Kata Ibu Ratih.


“Sudah mereka hanya berteman, buatkan mereka minum dia sudah jauh jauh datang kesini yah kita harus terima bun” sahut Pak Saidt.


“Ayah sungguh tidak mengerti anak jaman sekarang” Ibu Ratih sedikit mengomeli suaminya yang selalu menganggap Elza seperti anak kecil.


Tangan Jemi terlihat kaku dan bibirnya merubah jadi ungu karena kedinginan. Melihat itu Elza melepas syalnya dan mengalungkannya ke Jemi.


“Kau seharusnya tidak perlu jauh-jauh kesini, aku sungguh tidak apa-apa” Kata Elza dengan senyum.


“Pakai tongkat masih saja bohong” ujar Jemi.


“Aku sudah dari dokter jadi sudah tidak terlalu sakit” Elza mengambil pulpen warna di bawah mejanya dan memberikannya kepada Jemi.


“Tulis namamu disini. Katanya kakinya cepat sembuh kalau banyak tulisan” Elza terkekeh mendekatkan kakinya ke Jemi.


“Baiklah” Jemi menuliskan kata cepat sembuh dan menggambar canopus di perban Elza. Hal itu dilihat oleh Ibu Ratih yang semakin hawatir dengan kedekatan mereka.


“Ini teh nya, kamu pasti dingin” Ibu Ratih berusaha menyembunyikan raut kehawatirannya dan memilih memberikan Elza keluasan kali ini.


Pak Saidt bergabung duduk di ruang tamu berbincang dengan Elza dan Jemi. Awalnya berbasa-basi tentang alamat dan kesibukan Jemi. Tiba pada akhirnya perbincangan seriuspun dimulai setelah Jemi berterima kasih atas jasa keluarga Elza yang dulu telah menyelamatkannya di taman bermain.


“Apakah ayahmu tidak memberi tahu sesuatu?” Tanya Pak Saidt. Wajah Elza sangat hawatir akan pembicaraan yang terjadi antara kedua laki-laki yang disayanginya itu.


“Waktu itu dia sangat marah karena aku terlalu berani untuk pergi sendirian, hanya itu yang ku ingat pak” jawab Jemi santai.


“Kau tidak keberatan dengan Elza dan kami yang merupakan orang kampung biasa? Baru kali ini Elza kedatangan teman sekolahnya seumur hidup” kata ayah Elza.


“Aku sama sekali tidak keberatan pak, aku justru senang karena suasana disini sangat tenang, warganya juga ramah" ujar jemi tulus.


"Bapak harap Ayahmu juga tidak salah paham atas pertemananmu dengan Elza" Pak Saidt sedikit serius dengan perkataannya membuat suasana menjadi kaku.


Tanpa menjawab Jemi mulai merasa ada yang janggal diantara keluarga mereka, ia berbalik dan melihat Elza sedikit menunduk. Hal itu makin memperjelas ada hal yang belum diceritakan oleh Elza kepadanya. Tidak ingin membuat situasi canggung akhirnya Jemi pamit pulang setelah menghabiskan teh nya.


“Terima kasih pak, buk. Jemi pulang dulu maaf tidak sempat bawa apa-apa karena habis dari sekolah langsung kesini” sambil tersenyum Jemi berdiri dan bersalaman dengan kedua orang tua Elza.


“Jangan sungkan kesini, kalau kamu tidak keberatan maka kamipun begitu nak” kata Ibu Ratih dengan senyuman membuat suasana sedikit mencair.


“Baik buk kalau begitu saya pamit. Za cepet sembuh ya” Kata Jemi tersenyum lalu berlalu pergi .