The Last Blossom

The Last Blossom
Kata tak sampai



Elza tiba di kota untuk berlibur, dia dijemput oleh ayahnya dan juga sepupunya Rani.


"Bibimu sudah menunggumu di rumahnya, kau dan Rani pergilah kesana. bunda akan ikut ayah dulu" kata Ibu Ratih.


"Setelah ayah pulang dari kerja, Ayah dan bunda akan menuju kerumah bibimu juga" Pak Said mengelus pundak Elza.


"Baik ayah, hati hati yaaah" kata Elza melambai melihat bunda dan ayahnya naik ke bajai.


"Sini ikut kaka, sebelum kerumah. Apa kamu mau makan ice cream dulu?" ajak Rani dengan senyuman melihat sepupunya itu.


"Boleh" Elza mengangguk.


Rani membawa Elza ke caffe ice cream terkenal di kota itu. Interior yang instagrameble. Hal yang baru dilihat oleh Elza. Elza duduk dengan tenang dan Rani telah memesan ice cream yang di rekomendasikan oleh pelayan, televisi besar terlihat di dinding caffe itu, memperlihatkan berita terkini.


"Silahkan menikmati" Pelayan menyajikan pesanan mereka berdua.


Mata Elza tertuju pada layar televisi yang menunjukkan wajah Jemi dan Ayahnya. Terlebih lagi berita pertunangan Jemi dan Keisha menjadi perbincangan panas orang-orang di caffe itu.


"Waah laki-laki itu beruntung mendapatkan Keisha, Kaka sangat ngefans dengan Keisha, dia cantik dan pekerja keras di umurnya yg masih muda sudah bisa menjadi model majalah ternama loh" Kata Rani menyeruput ice cream nya di hadapan Elza.


Elza yang melihat dan mendengar hal itu tiba-tiba menjatuhkan sendoknya.


"Za kenapa?"


"Oooh maaf kak, aku cuman sedikit pusing habis naik mobil" Elza menyembunyikan rasa sedih hatinya.


"Tolong, ambilkan sendok lain mbak" sahut Rani kepada pelayan yang lewat di belakangnya.


Elza seketika tidak bisa melanjutkan makannya, melihat hal itu Rani sesegera mungkin menghabiskan ice creamnya dan mengantar Elza kerumahnya.


"Waaah Elza udah besar banget yaah, cantik lagi. Kamu istirahat dulu yah nak, kayaknya kamu capek deh" Bibi Elza mengantar Elza ke kamar tamu.


"Kaka ke kantor dulu yah, kalo ada perlu kamu tinggal bilang ke mama. Oke" kata Rani tersenyum menutup pintu kamar yang dimasuki Elza.


Elza tak bisa menahan rasa penasarannya akhirnya mengambil handphonenya untuk menelpon Jemi.


"Halo Jemi"


"Za aku minta maaf" seolah Jemi tahu bahwa Elza telah mendengar berita miring itu.


"Kamu baik-baik saja kan?" kata Elza berusaha menenangkan Jemi walaupun dirinya sebenarnya lebih kaget akan berita itu.


"Ayahku" hanya kata itu yang keluar dri mulut Jemi.


"Mm ternyata sudah di mulai, apa kita bisa bertahan, para orang tua menganggap perasaan ini hanya kekanak-kanakan" Elza merendahkan suaranya.


"Aku tidak akan nyerah Za, aku janji secepatnya bisa mencari jalan keluarnya. Aku ingin mempertemukan mu dengan ayahku, kau bisa?"


Elza sejenak terdiam.


Aku sebenarnya takut, tapi aku ingin mencobanya. Apakah ayah akan marah?apakah tidak akan ada apa-apa yang terjadi jika aku menghadapinya?


Dalam hati Elza bimbang.


"Baiklah" jawab Elza ragu.


"Ada aku, kamu tidak perlu hawatir Za" Kata jemi meyakinkan.


"Kapan?" tanya Elza.


"Lusa, kirimkan aku lokasimu , Pak Anto akan menjemputmu"


"Pak Anto? security sekolah?" kaget Elza.


"Dia kerja dengan ayahku sebagai supirku, kau tenang saja dia org kepercayaan" sahut Jemi.


Elza kini mengerti kenapa saat konflik itu terjadi Jemi sangat bingung.


"Aku tutup dlu Za, sepertinya ada orang di luar kamar"


Elza menutup panggilannya.


Jemi membuka pintu dan mendapati neneknya berdiri disana.


"Nenek masuklah" Jemi mempersilakan.


Nenek Jemi berjalan menuju teras kamar Jemi, diikuti Jemi di belakangnya.


"Siapa perempuan itu nak?" tanya Ibu Ami.


"Apa nenek juga melarangku seperti ayah?"


jemi berdiri di samping neneknya.


"Walaupun nenek mendukungmu, ayahmu lah yang memegang keputusan akan kehidupanmu nak, kau mungkin mengira ayahmu egois. Tapi memang seperti itulah orang tua, apalagi ayahmu menjadi orang tua tunggal selama membesarkan mu. Hal itu membuat rasa hawatir lebih besar lagi" jelas Ibu Ami.


"Keputusan hidupku seharusnya milikku bukan? ayah seharusnya mendukungku. Aku sudah besar. Aku bisa menentukan mana yang baik dan buruk" balas Jemi.


"Apakah dia perempuan yang manis dan baik hati?" tanya Ibu Ami tersenyum mencairkan suasana.


"Dia mirip ibu, dia sangat polos, baik hati dan penuh pikiran positif. Melihatnya saja membuatku tenang" Kata Jemi tertunduk malu mengatakannya di depan Ibu Ami.


"Kau sudah besar, tidak terasa. Berusahalah untuk meyakinkan ayahmu, nenekmu yang tua ini akan selalu mendukung mu sampai kapanpun" Ibu Ami memeluk Jemi dengan hangat.


"Terima kasih nek" senyum Jemi terselip di samping neneknya.


Hari yang di tunggu Jemi akhirnya datang. Elza berhasil mengajak Rani untuk ke toko buku sebagai alasan bisa keluar dari rumah.


"Kau mau beli buku apa za?" tanya Rani.


"Kak sebenarnya aku perlu bertemu dengan seseorang, tapi ayah dan ibu tidak akan mengizinkanku. Jika kaka berkenan aku ingin minta tolong" kata Elza kemudian menceritakan antara dia dengan lelaki di tv kemarin.


"Astagfirullah, kok bisa kebetulan banget yah" Rani kaget mendengar cerita dari Elza.


"Maaf kak merepotkan" kata Elza turun dari mobil Rani.


"Kaka akan kesini sore nanti, kau juga harus pulang sehabis sholat ashar yah. Kaka akan cari alasan lain. Kaka dukung kamu za, kita nggak boleh ditindas mentang-mentang keluarga kita cuman org sederhana dan tidak ounya pengaruh" Rani pun ikut jengkel mendengar cerita Elza.


"Terima kasih kak"


Tak lama kemudian Pak Anto datang dengan mobil mewah berwarna hitam.


aku seperti Cinderella hari ini. kata Elza dalam hati melihat Pak Anto membuka pintu mobil itu.


"Senang bertemu lagi Za, silahkan masuk" sambut Pak Anto dengan senyuman.


Elza masuk ke dalam mobil.


"Za bukannya ingin menakuti, bapak ingin tanya, kamu benar-benar siap kan? jika kamu tidak siap mental sebaiknya aku antar pulang. Biar tuan menjadi tanggung jawab saya" kata Pak Anto yang hawatir.


"Setidaknya Elza akan coba pak" Elza menggenggam erat tangannya yang sebenarnya gemetar.


Setibanya di depan gerbang rumah Jemi, Elza kembali melongo melihat kemewahan yang ada disana. Ia menelan ludah, rasa percaya dirinya saat turun dari mobil Rani kini mencair seketika melihat perbedaan derajatnya dengan Jemi yang terlihat dari kekayaan Jemi dan kepopuleran keluarganya di kota besar itu.


"Jika tidak perlu di jawab, diam saja yah za. Tolong jangan melawan. Orang kecil seperti kita ini memang tidak dianggap oleh orang yang memiliki kedudukan" Pak Anto memberikan saran kepada Elza.


Elza yang mendengar itu hanya bisa mengangguk dan menghela nafas.


Jemi terlihat menunggu Elza di depan rumahnya dan berlari membuka pintu mobil untuk Elza. Sementara Ibu Ami melihat Elza dari jendela kamarnya.


"Terima kasih sudah datang za" Jemi tersenyum menggenggam tangan Elza dan menuntunnya masuk ke rumahnya.