
Pak Saidt tiba di depan rumah disambut oleh Ibu Ratih.
“Elza bagaimana bun?” Tanya Pak Saidt.
“Didalam yah” jawabnya.
Pak Saidt membuka pintu kamar anaknya, Elza terlihat tidur pulas di sore itu.
“Kok bisa bun?” Tanya Pak Saidt melihat kaki Elza yang membiru.
“Kemarin dia belajar biologi di hutan, terpeleset katanya” Ibu Ratih memandang Elza.
“Ayah, ada yang bunda ingin cerita. Kita keluar dulu yah” Kata Ibu Ratih.
“Ada apa bun?” Ayah Elza menutup pintu kamar Elza.
Ibu Ratih menceritakan mengenai Jemi dan Elza. Tentang anak yang pernah mereka tolong di taman bersama, ternyata adalah orang yang sepertinya di sukai Elza.
“Kenapa kebetulan sekali, Ayah juga membuat kesalahan di perusahaan kemarin. Pak Faiz adalah ayah anak itu kan? Kalau ayah tidak salah ia sudah menjadi pejabat di kota. Ternyata dia berteman dengan direktur perusahaan” jelas Pak Saidt.
“Bagaimana ini yah. Ayah masih ingat kan? Bagaimana Pak Faiz menuduh kita waktu itu menculik anaknya. Bunda hawatir dia juga merendahkan Elza seperti merendahkan Ayah waktu itu” Ibu Ratih terlihat meremas jari-jarinya karena cemas.
“Mungkin dia sudah berubah bun, lagipula Elza hanya kagum dengan anak itu. Ayah yakin itu” Pak Saidt menenangkan Istrinya.
“Bagaimana kalau mereka lebih dari itu? Elza sudah beranjak dewasa yah. Kita tidak bisa berfikir seperti itu lagi” sahutnya lagi.
“Maka kamu sebagai bundanya harus memberikan dia pengertian. Anak kita adalah anak yang selalu mendengar keputusan apapun dari kita, jadi tenanglah” Pak Saidt tersenyum menenangkannya.
"Apakah segampang itu, ayah tidak tahu hati peremouan itu sangat sensitif. Bagaimana jika Elza mencoba melanjutkan hubungannya dengan anak itu? apa harus bunda paksa untuk berhenti?" Ibu ratih melepaskan genggaman suaminya.
"Elza akan tahu dan mengerti jika dia sudah lebih dewasa kelak bun, jadi tolong jangan terlalu hawatir. Sekarang kita fokus sama kaki Elza semoga besok pemeriksaannya baik-baik saja" Pak Saidt berdiri dan menuju kamarnya.
Dibalik pintu Elza mendengar semua pembicaraan Ayah dan Ibunya. Matanya memerah menahan air mata yang tergenang di ujung matanya. Ia berjalan tanpa memperdulikan rasa sakit di kakinya, kembali menuju tempat tidurnya.
Apakah hubungan ini pertanda buruk? Ataukah perasaanku yang egois ? Kenapa harus sekarang? Kenapa Ayah tidak berfikir bahwa aku sudah beranjak dewasa? Apakah salah jika menyayangi seseorang?. Semua pertanyaan itu tertumpuk di otak Elza.
Malam minggu yang dingin, hujan turun sangat deras. Aliran musik klasik terdengar dari kamar Elza yang berusaha menenangkan diri. Elza mengangkat telepon dari seseorang, seketika Elza meraih speaker dan mengecilkan suaranya.
“Yaa dengan siapa?” Elza tak melihan nama yang tertera ti handphonenya.
“Aku manusia ajaibmu” balas Jemi bercanda.
“Maaf aku tidak melihat layar handphoneku” Elza menyembunyikan kesedihannya.
“Suara mu kenapa?” Tanya Jemi.
“Mmm tidak, aku tidak apa-apa” balas Elza.
“Syukurlah, haruskah kita pergi jalan-jalan saat kau sembuh?” ajak Jemi.
“Pantaskah? Apa itu perlu?” Tanya Elza lagi.
“Baru kali ini aku mendengar jawaban seperti itu. Aku tidak tahu maksud jawabanmu, tapi kita harus pergi ke suatu tempat yang sangat penting” kata Jemi.
“Baiklah” Jawab Elza tanpa panjang lebar.
"Kita belum saling mengenal lebih satu sama lain Za, tapi aku harap kamu mau berusaha mencoba dan saling mengerti" jelas Jemi.
"Masih ada hal yang tidak kita ketahui satu sama lain, entah itu baik atau buruk, bisa diterima ataukah tidak. Kuharap jika waktunya tiba kita bisa saling bercerita" Elza berharap.
"Tentu, jika hal yang ku sembunyikan tidak membuatmu menangis, aku akan tetap tinggal. Tapi jika itu sangat menyakitkan untukmu. Aku sendiri yang akan menghilang" Jemi dengan wajah serius.
"Maka jangan sampai hal itu sangat menyedihkan" kata Elza dengan meneteskan air mata yang tak tertahankan lagi.
“Istirahatlah, besok aku tidak akan mengabarimu. Aku akan sibuk untuk mendaftar les” jelas Jemi.
“Kalau begitu ajari aku juga, setelah kau mendapat pelajaran tambahan disana” Elza akhirnya sedikit melupakan kesedihannya karena telah berbincang dengan Jemi.
Lagi-lagi Elza kembali memikirkan keputusan ayah dan bundanya. Tapi di luar itu Elza masih ingin mencoba langkah demi langkah bersama Jemi. Begitupula Jemi yang berusaha untuk mencari tahu apa rencana ayahnya tentang dia dan Elza.
Jemi memandangi foto ibunya lama. Terdengar suara Keira yang mengetuk pintu.
“Apa aku tidak boleh masuk? Kita teman kan?” teriak Keisha.
“Aku tidak mau di ganggu!” balas Jemi menghidupkan komputernya.
“Aku masuk!” Keisha menerobos masuk kedalam kamar Jemi. Hal itu membuat Jemi marah dan menarik Keira keluar.
“Apakah kau tidak malu? Bagaimanapun kita hanya berteman. Aku butuh privasi!” kata Jemi dengan nada tinggi.
Mendengar itu mata Keisha meneteskan air mata.
“Aku sungguh benci air mata. Kau bisa menyuruh bibi memanggilku” jelas Jemi lagi.
Mendengar keributan itu Pak Faiz menghentikan Jemi untuk memarahi Keira.
“Ayah yang menyuruhnya naik kesini” Pak Faiz mendekati Jemi dan berbisik. “Kau sudah janji dengan ayah bukan?” katanya.
Jemi hanya bisa menghela nafas dan meminta maaf kepada Keisha.
“Ke ruang perpustakaan, Ayah sudah menyiapkan ruangan khusus untuk teman-temanmu disana” Pak Faiz menepuk pundak Jemi.
Jemi berjalan diikuti Keisha di belakangnya yang masih menunduk. Jemi menghentikan langkahnya malah ditabrak oleh Keisha yang tidak memperhatikan langkahnya.
“Sudah menangisnya. Aku tidak akan seperti itu lagi. Aku hanya butuh privasi dan kamarku salah satunya” jelas Jemi.
“Maaf” hanya kata itu yang keluar dari bibir kecil wanita itu.
Namun setelah memasuki ruangan. Keisha kembali bersemangat dengan melihat segala fasilitas yang disediakan Ayah Jemi.
“Aku akan menyuruh ayahku untuk membuatkan ruangan rahasia seperti ini” Katanya sambil tersenyum lebar.
“Kau sangat mudah berubah ternyata” Jemi kesal.
“Kau sudah mengenalku dekat” Katanya lagi dengan duduk di atas sofa yang Nampak sangat mahal itu.
“Omong kosong” jawab Jemi ketus.
“Mulai besok kita akan les di tempat yang sama, kau pasti mengikutiku kan?” Keisha duduk di dekat Jemi dan menuangkan jus apel untuknya.
“Ayahku yang menentukannya” Jemi bergeser sedikit.
“Baiklah kau masih jual mahal rupanya” Keisha meneguk Jusnya.
“Kau lebih suka pelajaran apa?” Tanya Jemi.
“Matematika” jawab Keish cepat.
“Membosankan, tidak ada tantangan” Jawab Jemi angkuh.
“Lihat saja nanti, apa kau bisa mengalahkan nilai matematika ku atau tidak” Keisha mengajak Jmei untuk chers.
Jemi menerima tantangan dari Keira.
“Tahu ataupun pura-pura tidak tahu, kita harus dekat selama kau disini. Kita terlahir dengan status sosial dan tekanan yang tinggi. Tidak ada gunanya melawan orang tua. Jadi jalani saja. Ini simbiosis mutualisme” Keisha bersandar di sofa sambil membuka lembaran buku.
“Jadi jangan sampai kau jatuh cinta. Hal itu mustahil antara kita berdua” Jemi to the point atas penjelasan Keisha.
“Aku tidak bisa menjanjikan itu. Perkataanmu tidak bisa merubah segalanya” Keish tersenyum sinis kepada Jemi.
Jemi menghiraukannya dengan pergi membawa jusnya keluar dari ruangan.