The Last Blossom

The Last Blossom
Menemukanmu Tidak Tepat Waktu



Pagi yang cerah mengawali hari Elza, ia siap berangkat kesekolah dengan seragam putih abu-abu dan ransel pinknya, rambutnya yang terurai indah ia ikat dengan karet gelang sangat sederhana itulah Elza.


 


“Ini bekalnya nak” kata Ibu Ratih sambil menaruh kotak nasi di ransel Elza.


“Makasih bun, Elza pergi dulu yah” pamit Elza.


Tengg tengg tengg….. bel sekolah pun berbunyi dan pak Anto sudah mendorong gerbang sekolah.


“Paaaaak tunggguuuuu” teriak Elza yang baru turun dari angkot.


“Kamu telat za tumben” Tanya pak Anto.


“Angkotnya tadi singgah-singgah terus pak, maaf ya makasih juga pak” kata Elza terengah-engah berlari menuju lapangan sekolahnya untuk upacara bendera. Tasnya terpaksa ia simpan di bangku taman depan kelasnya karena tak sempat lagi.


Ia mencari barisannya dan menabrak seseorang. Bruk.


“Maaf maaf” kata Elza sambil mendongak melihat sosok yang di tabraknya. Elza lama memandang orang itu mungkin karena wajahnya yang asing bagi elza.


Tanpa kata orang itu hanya langsung pergi dan tidak membalas ucapan elza.


“Kayak pernah lihat, atau karena terlalu asing” kata Elza melanjutkan langkahnya menuju barisan kelas 11 C.


“Ayo lamunin apa?” kata Baby mengahmpiri Elza dan menariknya ke barisan.


“Mmm tidak apa-apa” balas Elza sambil tersenyum.


Proses upacara telah selesai semua siswa masuk ke dalam ruangan masing-masing. Elza menuju taman untuk mengambil tasnya. Di taman terlihat banyak siswa laki-laki dari kelas lain sedang berbincang disana. Elza mencoba mencari dimana tasnya dan ia melihat tasnya sudah terjatuh di bawah bangku.


“Permisi, aku mau ambil tas”. Kata Elza di hadapan orang yang duduk di bangku itu.


“Ambil aja” jawabnya ketus.


Elza bukanlah anak yang suka mencari masalah, ia memilih mengalah daripada memperpanjang masalah. Elza pun berjongkok untuk mengambil tasnya tetapi kaki orang yang duduk di bangku itu malah menghalangi Elza.


“Maaf bisa minggir sedikit?” kata Elza sopan.


“Nggak, ambil aja kalo bisa!” jawabnya sinis.


Elza akhirnya mengalah berusaha meraih tasnya dari samping bangku, belum sempat ia meraih tasnya, seseorang sudah mengambilnya. Saat menoleh elza melihat sosok yang familiar.


“Ini orang yang ku tabrak tadi” kata Elza dalam hati.


Orang itu berdiri dan memberikan tasnya kepada Elza. Tanpa sepatah katapun cuek dan tak berekspresi. Elzapun ikut berdiri.


“Terima kasih” kata Elza sambil mengambil tasnya. Elza pun bergegas pergi dari taman tapi entah kenapa wajahnya memerah.


Di dalam kelas riuh suara keributan akibat guru yang mengajar pada jam pertama tidak sempat masuk, tidak ada tugas ataupun portofolio yang diperintahkan oleh guru, bagi sebagian besar siswa bergembira akan hal itu tapi lain dengan Elza yang menganggap hal seperti itu akan membuatnya kesepian. Bagaimana tidak? semua siswa rata-rata memiliki gank dan teman jalan sedangkan Elza merupakan orang yang penyendiri, walaupun selalu membantu orang lain, Elza merupakan seseorang yang cukup tertutup.


Elza berjalan keluar kelas dan masuk ke ruang perpustakaan. Didalam perpustakaan juga banyak orang yang terlihat seperti sedang rapat. Elza melewati perkumpulan itu dan mengambil buku sastra sebagai bahan bacaannya.


“Jadi mungkin fixnya hari selasa, aku harap semuanya bekerja sama” kata Jeff kepada kawannya.


Suaranya terdengar jelas sehingga membuat pengunjung perpustakaan menoleh kearah mereka. Terlihat jeff berdiri dan menunduk meminta maaf kepada pengunjung perpus. Jeff dan kawannya ternyata alumni dari sekolah itu dan akan mengadakan acara seminar kecil-kecilan dengan junior mereka mengenai pemilihan jurusan yang sesuai dengan minat siswa. Mengingat kelas 12 sudah mendekati masa ujian.


Saat Jeff menunduk untuk meminta maaf kepada pengunjung perpustakaan tiba-tiba Elza menghampiri Jeff dan membungkuk dihadapan Jeff.


“Aah tidak perlu seperti itu, berdirilah” kata Jeff, ia mengira Elza juga meminta maaf kepadanya. Ia berfikir mungkin Elza ingin menunjukkan kesopanannya kepada seniornya. Tapi ternyata..


“Ini pulpennya jatuh” Elza berdiri dan memberikan pulpen itu kepada Jeff.


“Oooh pulpen” kata Jeff dengan suara perlahan sambil mengamati wajah yang tak asing baginya.


“Minuman dingin” kata Jeff spontan.


 


Membuat Elza melongo tidak mengerti.


“Saya permisi” pamit Elza dari hadapan Jeff karena tidak mengerti perkataan jeff.


 


Jeff mengikuti Elza dan duduk di hadapan Elza yang fokus membaca buku.


“Kamu benar-benar tidak memandang orang dengan baik tapi kamu baik” kata Jeff terus terang.


Elza kaget melihat jeff ada di hadapannya. Iya menoleh kearah samping kanan kiri dan tak mlihat siapa-siapa.


“Yang kumaksud itu kamu” kata Jeff berbisik menahan tawa.


“Ooh maaf aku tidak mengerti tadi” jawab Elza dengan senyum.


“Aku melihatmu di tempat jualan Ibu Mulya, itu kamu kan?” Tanya Jeff.


“Mmm aku juga melihatmu maaf memotong pembicaraan kalian” kata Elza.


“Kufikir kamu tidak melihatku, namaku Jeff” kata Jeff sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


“Elza” jawabnya singkat.


Bel jam pelajaran kedua berbunyi sehingga Elza tidak sempat meraih tangan Jeff. “Maaf senior aku harus masuk kelas, permisi” sambung Elza sambil mengatur kursi kembali ke tempat semula.


“Tanganku pun tidak dipedulikan, apa aku kurang terkenal padahal namaku ada di Koran” kata Jeff menggenggam tangannya sendiri. “Dia juga rapih” gumamnya sambil melihat kursi yang diduduki Elza tadi.


Setelah kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran Elza melihat gantungan kunci yang tergantung di tasnya. Guru di depan papan tulis menjelaskan mata pelajaran gizi. Dimana semua siswa di perintahkan menjumlahkan semua kalori yang diperlukan dalam setiap harinya sesuai dengan berat badan ideal masing-masing siswa. Hal itu dianggap sulit karena guru pun sangat berbelit menjelaskannya.


 


“Daripada kalian semua melongo, tolong Rafi panggilkan Jemi siswa kelas 11 B, dia cukup ringkas mengerti materi ini” ungkap Ibu Lia guru biologi siswa kelas 11.


 


Baby menoleh kebelakang melihat Elza dan bertanya.


“Kamu kenal Jemi? Siapa dia? pasti pintar tapi kok namanya jarang terdengar yah” kata Baby penasaran.


Elza mengangkat bahunya tanda tak tahu. Tetapi Elza teringat sesuatu dan mengambil tasnya, di gantungan kunci ternyata tertera nama Jemi disana.”Ini punya dia, akhirnya aku menemukannya” gumamnya dalam hati.


“Kamu mana bisa kenal sama orang za za, temen kelas ajah kamu nggak hapal” kata baby cemberut dan menunduk melihat mata Elza.


“Kan kamu tahu…” kalimat Elza dipotong oleh Baby.


“Iya iya tau, kamu nggak enak sama yang lain karena disini orang kota semua, tapi masa sama tetangga bangku kamu nggak mau main” potong Baby.


“Bukan begitu Baby, nanti teman gank mu marah sama kamu kalo kamu bergaul sama aku” jawab Elza dengan merendah.


“Lain kali kita main bareng yah, ini pin BBM aku” jawab Baby sambil menuliskan pinnya.


“Aku nggak punya BBM” kata Elza apa adanya. Memang handphone yang ia miliki tak secanggih handphone teman kelasnya yang lain.


“Kalo gitu telpon aku ajah, pake nomerku” kata Baby dengan memandang iba Elza. Pandangan seperti itu malah membuat dada Elza sesak. Di bebani dengan rasa kasihan orang lain terhadap dirinya. Tapi Elza membalasnya dengan senyum dan mengangguk.


Plak. Suara seseorang memukul meja. Ya itu Ibu Lia.


“Perhatikan teman kalian, ini jemi dia akan menuliskan contohnya jadi perhatikan baik-baik”


Di depan papan tulis terlihat sosok laki-laki yang sangat tinggi mungkin sekitaran 182 cm, memasukkan tangan kirinya ke saku celana dan mengerjakan soal dengan tangan kanannya. Dia sangat cepat menuliskan jawabannya sampai seluruh kelas tak bergeming melihatnya. Dia memang hebat. Setelah selesai dia langsung pamit kepada Ibu Lia tanpa melihat ke murid lain sekalipun. Wajahnya tertutupi topi sehingga samar terlihat.


“Waah dia sangat pintar, dan juga body goal” kata Rose yang duduk di kursi samping kiri elza. Rose merupakan siswa yang cerdas dan juga cantik di kelas 11 C.


“Nyerah aku kalo udah Rose yang mau, padahal aku mau bilang itu tadi za” kata baby lagi\-lagi menoleh kearah elza dengan wajah kecewa.


 


“Kamu balik depan gih” kata Elza kepada Baby.


 


Elza melihat Rose, memang benar semakin diperhatikan semakin ia berfikir sepertinya kecantikan yang di pujikan kepadanya oleh orang sedesa tidak sebanding dengan kecantikan anak kota seperti Rose. Elza merasa seperti kelinci yang baru keluar dari lubangnya. Rose menoleh kearah elza dan memberikan senyuman manis kepada Elza. Elza pun membalas senyuman Rose.


Jam istirahat berbunyi semua siswa berlari keluar kelas melepas kepenatan yang selalu dirasakan saat mata pelajaran berlangsung.


 


“Za mau ikut ke kantin?” panggil Baby yang terlihat bersama teman seganknya yang berasal dari kelas lain.


“Kamu duluan aja” kata Elza sambil menunjukkan kotak makannya.


“Oke” teriak baby dari depan kelas.


 


Setelah selesai menyantap bekalnya, Elza menuju kamar mandi untuk membersihkan kotak makannya. Kamar mandi di sekolah Elza berada di belakang laboratorium. Elza menuju kesana sendirian seperti biasanya. Tiba tiba langkahnya terhenti mendengar suara pecahan kaca yang berasal dari dalam lab.


 


“Apa ini?” gumam Elza melanjutkan langkahnya perlahan menuju kamar mandi, tiba-tiba seseorang di belakangnya menarik tangan Elza dari tempat itu.


“Maaf kalo kamu kesana bakal jadi masalah” katanya.


“Jemi kan?” hanya kata itu yang keluar dari mulut Elza sambil menatap dalam mata lelaki di hadapannya itu. Jemi terlihat kebingungan dan mengalihkan pandangan.


“Aku mau mencuci kotak makan, memangnya siapa didalam sana?” kata Elza mengalihkan fikirannya yang sempat tak terarah sambil menoleh lagi kearah kamar mandi.


Namun ia dicegah lagi oleh Jemi, Jemi menarik tangan Elza kedua kalinya. Membuat elza tak bergeming.


“Sebaiknya kamu kembali ke kelas, jangan ke kamar mandi!” kata jemi.


“Baiklah” jawab Elza sambil menarik tangannya dari genggaman jemi. Elza pun kembali berjalan pergi.


Di perjalanan menuju kelasnya Elza teringat akan gantungan kunci jemi, ia lupa memberitahukan Jemi bahwa gantungan itu ada padanya. Saat ia ingin kembali lagi memberitahukan Jemi, bel masuk berbunyi sehingga kesempatan Elza hilang untuk kedua kalinya. Sekali di taman dan yang terakhir di depan lab.


Saat jam pelajaran ketiga dimulai para guru sedang rapat sehingga proses pembelajaran kembali tertunda.


“Eeh denger denger guru rapat karena ada murid bermasalah” kata Rafi yang heboh memasuki kelas.


“Siapa emang?” Tanya siswa lain.


“Emang masalah apa? Tanya yang lain lagi.


“Sssst sssst kalian semua jangan ribut yah.


Katanya tadi ada yang kepergok berduaan didalam laboratorium” bisik rafi tepat di depan papan tulis.


Gonjang ganjing semuanya mulai bergosip satu sama lain. Menerka-nerka siapa siswa yang terkena masalah itu.


“Mmm anak jaman sekarang kebanyakan hoax, tapi aku bersyukur aku tidak perlu buka buku lagi” kata Baby terlihat bahagia.


“Jadi itu alasannya” kata Elza.


“Alasan apa? Kamu tau sesuatu nggak?” Tanya Baby.


“Aku nggak tau tapi tadi..” kalimat Elza terpotong karena teriakan teman-teman Baby di depan kelas. Yah benar mereka mengajak Baby ke taman sekolah.


“Aku pergi dulu yah za” Baby berlalu tanpa mendengar kalimat yang belum tersampaikan dari Elza.


Elza memutuskan keluar kelas dan melihat ada keriuhan di lapangan basket sekolah. Elza sangat terkejut melihat sosok Jemi yang sedang dihukum di bawah sinar matahari seorang diri. Sedangkan siswa lain bergosip sana sini.


“Aaah kan bukan dia yang salah kenapa dia yang di hukum, nanti ketampanannya luntur di bawah matahari” kata salah seorang siswi kelas 10.


“Ku dengar dia tidak memberitahukan guru lebih cepat dan malah pergi begitu saja setelah melihat kejadian antara pak anto dan Santi di lab tadi” gossip yang lain.


“Aku nggak nyangka pak anto sukanya sama yang super muda, jadi ngeri sendiri” kata Prisil dari kelas 11 B.


Elza sampai mundur kebelakang karena terlalu syok dengan semua gosip yang di dengarnya, tanpa fikir panjang ia berlari menuju ruang BP untuk menyatakan kesaksiannya karena berada di tempat kejadian. Alhasil Elza dihukum bersama jemi di lepangan sampai bel pulang sekolah.


“Saya memang salah pak, bapak bisa hukum saya tapi tolong jangan bilang ke bunda saya yah” Elza memohon.


“Baik, konsekuensi tetap konsekuensi kamu harus lebih berhati-hati dengan sekitarmu Elza, jika masalah seperti ini jangan lari tetapi laporkan segera, kamu ke lapangan sekarang” kata pak Fikri guru BP.


Elza melangkah menuju lapangan basket dan berdiri di samping jemi untuk mengikuti hukuman. Selang beberapa menit Jemi baru menyadari kehadiran Elza di dekatnya.


“Ngapain kamu disini?” Tanya Jemi.


“Dihukum” jawab elza singkat.


“Kamu lapor ke BP kalo kamu ada disana tadi?” tebak Jemi.


“Kamu tau, peramal yah?” kata Elza masih sempat bercanda.


“Jangan sok pahlawan, jangan terlalu baik, jika tidak perlu terlibat maka tidak usah!” kata jemi terang-terangan.


“Ini cuman masalah keadilan dan keinginan pribadi, jangan sok tau kamu” tangkis Elza.


“Cerewet!”kata jemi dengan wajah judes. Elza hanya membalasnya dengan senyum lebar.


Tak terasa bel pulang pun berbunyi dan jemi langsung berlari menuju kelasnya meninggalkan elza tanpa sepatah kata.


“Mulutku ini seperti tak berguna di hadapannya” kata Elza sambil mengambil gantungan kunci di saku bajunya.


Elza pun pulang paling terakhir, melihat gerbang yang sudah kosong tanpa penjaga, setiap harinya Pak Anto mengucapkan “selamat pulang” sambil tersenyum, namun sekarang gerbang itu benar-benar terlihat menyedihkan. Bahkan Elza pun tak habis fikir hal seperti itu dilakukan terjadi pada Pak Anto.


Angkot pun tiba di depan sekolah Elza, Elza menyebrang jalan dan menaiki angkot langganannya. Saat angkot yang dinaiki Elza berhenti untuk mengambil penumpang lain. Elza melihat Jemi dan Rose berboncengan melintas di seberang jalan. Entah kenapa ada sedikit kekecewaan di hati Elza. Di waktu yang bersamaan penumpang lain naik ke angkot, tak disangka dia adalah jeff.


“Ada apa denganku hari ini” Tanya Elza dalam hati.


“Rumahnya dimana?” Jeff bertanya kepada Elza namun Elza tak mendengarnya karena melamun.


Setelah turun dari angkot seperti biasanya elza menyusuri lorong dan siap mendaki bukit untuk pulang ke rumahnya. Setelah beberapa saat fikirannya terus melamun, Elza tersadar seperti ada orang yang mengikutinya dari belakang. Karena sangat takut dan tidak sanggup menoleh, Elza berjongkok dan menutup matanya.


“Kenapa kamu?” Tanya Jeff yang ternyata sedari tadi di belakang Elza.


Elza mengambil tasnya yang jatuh dari lengannya. “Huuuffft aku kira senior orang jahat” kata elza sambil berdiri.


“Melamun sih dari tadi” ejek Jeff.


“Tapi kenapa senior mengikutiku sampai disini?, senior kan bukan orang sini” kata Elza mundur beberapa langkah.


“Segitu seudzonnya yah kamu sama aku” jawab Jeff sambil tertawa kecil. “aku mau pergi melihat perkebunan di atas bukit katanya disini wilayahnya juga luas” sambungnya.


“Oooh maaf senior” kata Elza menunduk.


“Panggil Jeff, bukan senior!” kata jeff menekankan.


“I..tu se..dikit canggung” jawab elza terbata-bata dan tersenyum.


“Okede terserah kamu kalo gitu, ayo jalan bareng” kata jeff berjalan di depan Elza.


Kebanyakan cerita yang di lantunkan Jeff hanya di balas senyum oleh Elza.


“Aku kayak ngomong sendiri ini hehe, kalo boleh tau itu gantungan keren juga punya jemi yah pacar kamu pasti”


“Ooh ini, bukan…” balas Elza.


“Alah jangan malu, pantes kamu nggak suka mandang cowo ternyata udah ada yang punya “ kata Jeff sambil tertawa.


“Ini aku dapat di taman depan kelas, belum sempat ngembaliin” jawab Elza memutus kesalah pahaman.


“oo gitu, kirain” Jeff tersenyum.


Mereka akhirnya sampai disebelah bukit, terlihatlah ladang bunga yang tersusun rapi, mereka melewati sawah dan kebun teh. Jeff benar-benar menikmati pemandangan yang ada. Langit pun ikut bersemangat sangat cerah dengan kabut tipis.


“Disini sangat dingin kamu pasti terbiasa dingin” kata Jeff. Tiba-tiba Elza bersin, tak terduga orang yang selama hidupnya tinggal di bukit yang dingin masih belum bisa menyesuaikan diri.


“Maaf aku alergi dingin, disini selalu dingin tapi aku mungkin punya sedikit gangguan” kata Elza sambil tertawa kecil. Jeff memandang Elza yang tertawa untuk pertama kalinya.


“Aku duluan senior, ini rumahku. Bundaku lagi ke kota jadi senior nggak bisa aku ajak untuk singgah” sambung Elza.


“Lain waktu” jawab Jeff sambil tersenyum melihat punggung Elza yang sudah menghilang dari balik pintu rumahnya.


Nada getar dari handphone Elza terdengar sore itu. Panggilan dari baby.


“Za ceritain kenapa kamu kemarin di hukum sama jemi? Hayo?” tanpa ucapan salam baby langsung bertanya. Elza yang mengenali suara itu tak heran lagi.


“Aku mau nyuci kotak bekal di kamar mandi terus aku sempat dengar suara aneh dari Lab tapi jemi tiba-tiba datang dan bilang aku nggak boleh kasana jadi aku balik kelas”


“Terus-terus” Baby penasaran.


“Terus dihukum deh karena aku ngaku ke BP, kasian jemi kayak nggak adil ajah cuman dia yang di hukum” jawab elza.


“Jangan-jangan kamu suka juga yah sama Jemi? Kamu mau nemenin dia dihukum, iya kan? aku bilangin yah, jangan sampai kamu ada perasaan sama jemi loh. Dia itu orangnya PHP. Pantes ajah Rose nyanjung dia di kelas ternyata kabarnya mereka dekt loh” kata Baby panjang lebar.


“Baby, baby udah yahh aku mau bersih-bersih dulu, aku tutup” Elza mengakhiri percakapannya dengan baby.


Handphone Elza bergetar lagi dia mengira itu masih panggilan baby ternyata itu ibunya.


“Nak udah dirumah?"


“Iya bun”


“Bunda sudah siapin makanan itu tinggal kamu panasin”


“Makasih bun, salam rindu buat ayahku yah” kata Elza sambil tertawa.


“Iya ayah juga kangen katanya sama kamu, dia belum balik dari kerja mungkin bunda pulang besok jam 9 pagi, kamu sarapan dan ingat bawa bekalnya nak” Ibu Ratih mengingatkan.


“Iya bunda pasti” jawab Elza


“Udah dulu yah bunda tutup assalamualaikum”


“Waalaikumsalam bunda” tutup Elza.


🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤