The Last Blossom

The Last Blossom
Doa Tulus



Elza sampai dirumahnya namun menemui rumah yang kosong. Ibunya tidak disana karena hawatir Elza berlari ke ladang untuk mencari Ibunya.


“Pak lihat Bundaku?” teriaknya di pinggir sawah.


“Tadi dia ke kota Za katanya ayahmu kecelakaan kerja” teriaknya.


Elza mengambil handphonenya dan berusaha menelpon ibunya namun tidak di angkat. Ia berfikir untuk menelpon Rani.


“Kak, Ayah” katanya tertahan tak sanggup menanyakan kabar ayahnya.


“Zaaa, om Saidt. Kamu dimana?” nadanya menurun dengan isakan tangis bibi yang terdengar di speaker hp Elza. Elza tak bisa mengeluarkan air matanya karena masih tidak percaya, jantungnya berdegup kencang hingga ingin mati rasa, ia berlari tanpa henti untuk kembali ke jalan raya. Hanya satu di fikirannya saat itu.


Tolong jangan ambil ayahku, kumohon. Katanya dalam hati sambil terus berlari tanpa henti menuruni bukit. Ia terus berlari sampai di pertigaan namun tidak ada angkutan yang lewat. Ia kembali berlari menuju ke terminal bus menyusuri jalanan raya yang panjang, mungkin butuh waktu 20 menit untuk sampai ke terminal jika ia hanya mengandalkan kakinya. Setiap langkah kakinya dia hanya bisa berdoa dan sesekali berhenti untuk mengambil nafas. Ia berlari hanya bermodalkan uang seadanya dan hp nya. Berniat menggadaikan hpnya jika tak cukup biaya untuk sampai ke rumah sakit.


“Zaaaa kamu mau kemana?” teriak Baby yang sedang berbelanja di took bersama dengan ibunya.


Elza tak mendengar teriakan Baby, yang memenuhi telinganya hanyalah suara degupan jantungnya dan fikirannya pun hanya untuk ayahnya.


Tolong, tolong. Selamatkan Ayahku. Hanya itu yang selalu dilantunkan di bibir anak yang manis itu.


Sesampainya di terminal iya pun langsung menaiki bus tujuan ibu kota. Selama perjalanan ia tak pernah mendapat kabar dari ibunya maupun Rani, sesampainya di Ibu Kota iapun mengambil taksi untuk pergi ke rumah sakit umum karena dia sangat yakin keluarga yang tidak berkecukupan seperti mereka akan di tempatkan di rumah sakit pemerintah bukan swasta.


“Mau kemana dek?” Tanya supir taksi.


“Rumah sakit umum pak” balas Elza tergesa-gesa.


Elza naik ke mobil dengan menggenggam jemarinya tanda hawatir dan takut.


“Dari mana dek?” Tanya supir itu ramah.


Elza yang sangat ketakutan tidak bisa konsentrasi kali ini, dia hanya diam.


“Siapa yang sakit?” Tanya supir itu lagi dengan memerhatikan kegelisahan Elza dari spion mobil.


“Ayahku akan selamat” hanya itu yang diucapkannya.


Sesampainya di depan rumah sakit, ia mengambil dompet dan ingin membayar taksi namun benar saja uangnya tak cukup untuk membayar taksi itu.


“Uangku tidak cukup pak, bapak bisa mengambil handphone ini, hanya ini yang aku punya” katanya dengan menyodorkan hp nya.


“Sudah dek, saya ikhlas. Masuk dan temui saja ayahmu” balas supir itu dengan tersenyum.


“Terima kasih pak, terima kasih banyak atas bantuannya” Elza menjabat tangan supir taksi itu dengan memberinya semua uang yang ada di dompetnya, walau tidak cukup Elza masih ingin membayarnya sebisanya.


Elza berlari menuju meja informasi dan menanyakan pasien atas nama Pak Saidt.


“Di UGD, apa perlu saya antar?” kata perawat yang berjaga di sana.


“Terima kasih sus” jawab Elza lalu berlari mengikuti tanda arah ke UGD.


Di depan UGD Ibu Ratih sudah menangis tersedu-sedu di temani saudaranya dan Rani yang juga duduk tertunduk sambil menangis.


Air mata Elza tak bisa tertahan lagi ia berlari dan menghampiri Ibunya.


“Bundaaa, ayah kenapa?” katanya dengan mata yang sudah penuh dengan air mata.


“Zaaaaaa ayahmu zaaaa” tangis ibu Ratih masih pecah.


“Ayahmu paling lambat besok pagi harus di operasi Za tapi biayanya sangat mahal, ibumu dan bibi tidak memiliki uang sebanyak itu” jelas bibinya menghampiri Elza.


“Berapa bi?” Tanya Elza.


“59 juta Za” jawabnya.


“Ya tuhaan, cobaan apa ini?” tangis Elza juga pecah. Ia bersandar di dinding dan merasakan sakit di dadanya. Melihat ayahnya yang terbaring lemah butuh bantuan namun mereka di halangi uang.


“Ayah kecelakaan kerja kan? Mana pihak perusahaan yang bertanggung jawab biii' ?” kata Elza sambil menghapus air matanya.


“Mereka hanya bisa menanggung 10 juta biaya rumah sakit Za” kata Bibinya sambil memegang kepalanya.


“Ini tidak bisa dibiarkan kenapa seperti ituuu, ayaaaaaah” Elza jatuh dan menangis sekeras-kerasnya.


Dokter keluar dari ruang UGD.


“Bagaimana? Dari pihak keluarga apakah sudah menyelesaikan administrasinya. Pendarahan tidak bisa di hentikan jika tidak operasi, kantung darah pun ikut menipis. Ada baiknya beliau di operasi mala mini juga, jika tidak maka kami tidak bisa melakukan apa-apa lagi” jelas dokter itu.


“Dok tolong selamatkan ayah ku dulu, pembayarannya aku akan memastikannya akan di lunasi besok” kata Elza memohon.


“Baiknya di urus di bagian administrasi, disana akan diberikan solusi terbaik” balasnya.


Mendengar hal itu Ibu Ratih berdiri dan memegang pundak Elza.


“Bagaimana caranya nak?” Tanya Ibu Ratih.


“Elza akan mengurusnya bun” Elza kemudian beranjak menuju staf administrasi rumah sakit.


“Maaf bu, untuk operasi besar seperti ini tidak bisa di tanggung oleh BPJS” sahut perawatnya.


“Apa bisa di bayar setengahnya dulu sus, saya minta tolong sus, ayah saya harus di selamatkan dahulu. Aku janji akan membawakan uangnya sebelum ayah saya keluar dari rumah sakit ini, tolong” Elza terus menerus memohon.


“Baik bu, kami akan memberikan keringanan namun biayanya harus di lunasi besok malam. Tolong tanda tangani ini” kata perawatnya.


Elza tanpa ragu menandatangani surat itu walau tahu keluarganya tak punya uang sebanyak itu.


Akhirnya ayahnya bisa di operasi malam itu juga. Hematoma intracranial membuat ayahnya yang kehilangan banyak darah dan harus segera di operasi. Dengan perasaan yang takut bercampur dengan hawatir Elza dan Ibu Ratih menuju mushollah RS untuk mendoakan keselamatan Pak Saidt. Sedangkan Rani dan ibunya kembali ke rumah untuk mengambil barang-barang yang dibutuhkan di rumah sakit jika Pak Saidt sudah selesai menjalani operasi.


Setelah selesai solat Ibu Ratih dan Elza berpelukan saling menguatkan satu sama lain.


“Nak bagaimana kita melunasi nya?” Tanya Ibu Ratih.


“Bunda pakai semua simpanan untuk biaya sekolah ku, dan biaya tanggungan dari perusahaan. Itu cukup untuk membayar setengahnya kan bu?” kata Elza.


“Bagaimana dengan kuliahmu nanti nak?” Tanya Ibunya menangis,


“Kita hanya perlu memikirkan ayah sekarang bun, aku akan berusaha untuk mendapatkan beasiswa” jawab Elza.


“Lalu setengah dari biaya rumah sakit ayahmu bagaimana?” Tanya Ibunya lagi.


“Entah ini akan di setujui oleh ayah atau bunda juga” balasnya dengan lesu mengingat rencananya sendiri.


“Katakan saja nak, apapun itu kita harus korbankan untuk ayah” sahut Ibu Ratih.


“Ada baiknya kita menjual sawah kita bun, itu akan cukup kan?” kata Elza memandang ibunya.


“Baik, kita msih punya kebun di samping rumah bukan? Ibu akan menelpon pak Sofyan untuk itu, beliau sudah pernah mengatakan itu kepada ibu. Ini rezeki ayahmu” kata Ibu Ratih tersenyum lega mendengar saran dari anaknya itu. Walau sawah dan rumah di desa adalah sisa peninggalan nenek Elza. Kali ini mereka harus merelakannya.


Elza kembali ke depan kamar operasi menunggu ayahnya berjam-jam. Ibunya terlihat sudah menelpon Pak Sofyan untuk membicarakan jual beli sawah. Tak lama kemudian ayahnya sudah keluar dari ruang operasi dan di dorong menuju ruang bangsal. Pak Saidt masih tidak sadarkan diri karena syok ditambah dengan anastesi saat operasi berlangsung. Keesokan harinya Jeff datang membawa uang yang dibutuhkan Elza dan ibunya hasil dari penjualan sawah.


Jeff masuk ke ruangan dan melihat Elza yang tidur di samping ayahnya. Diapun menyelimuti Elza dengan sweaternya.


“Nak Jeff, maaf Ibu merepotkan” kata Ibunya di pagi itu.


“Tidak apa-apa buk, bagaimana keadaan Pak Saidt?” Tanya Jeff.


“Dia semalam sudah sadar subuh tadi namun sepertinya masih kesakitan setelah operasi” jawab Ibu Ratih.


“Ini semua ujian dari Allah buk, semoga ibu bisa sabar. Elza juga” katanya.


Elza terbangun dan melihat Jeff ada disana.


“Senior” Elza lalu berdiri menyapa Jeff.


“lanjut saja tidurnya” kata Jeff.


“Aku sudah cukup istirahanya. bunda juga harus tidur. Pulanglah kerumah bibi” kata Elza memandang Ibunya.


“Aku tidak bisa meninggalkan kamu sendiri disini za” kata Ibu Ratih.


“Cukup ayah yang sakit, bagaimana denganku jika bunda juga ikut sakit. Tolong nanti siang bunda bisa kembali lagi ke sini, masakkan aku sup di rumah bibi. Aku ingin memakannya dengan ayah” rayu Elza.


“Aku akan mengantar ibu. Aku juga akan menemani Elza sampai ibu datang lagi nanti, jadi sekarang dengar saja perkataan Elza bu” tambah Jeff.


“Baiklah. Kabari bunda jika ada apa-apa nak” kata Ibu Ratih.


Elza mengangguk dan melambai melihat ibunya pergi bersama Jeff.


Baby bersama adiknya berjalan jalan di taman seusai lari pagi. Dia melihat Jemi yang juga duduk sendiri di taman kota.


“Jemiiii” teriak Baby sambil berlari menghampiri Jemi.


“Hai” jawab Jemi singkat.


“Waaah kau seperti hantu, hilang dan ada di waktu yang tak terduga” kata Baby di hadapan Jemi.


“Kau sudah bertemu Elza?” Tanya Baby tiba-tiba.


“Tidak” jawabnya singkat. Terlihat bahwa dia cemas akan keadaan Elza selama ini namun tak bisa berkata karena suatu alasan.


“Wajar saja, kau pasti sudah putus dengan Elza. Dasar jahat kamu, menghilang begitu saja. Kau tau Elza selalu mencari mu, mondar-mandir menanyakanmu kepada orang yang mengenalmu. Aku sangat kasihan sampai-sampai ingin memukulnya untuk berhenti mencarimu selama setahun ini” kata Baby.


Mendengar itu Jemi menghela nafas. “Aku tidak menyuruhnya untuk mencariku” ia lalu berdiri dan pergi membelakangi Baby.


“Sepertinya sesuatu hal buruk terjadi kepada Elza, kemarin dia berlarian di pinggir jalan. Mungkinkah dia turun bukit sampai disini berlari? Kau tidak hawatir?” kata Baby yang masih mematung dan berteriak agar Jemi mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“uuuuh dasaaarrr” Baby geram dengan perlakuan Jemi yang berubah total saat membahas soal Elza. Biasanya dia selalu excited.


Jemi naik ke mobil Pak Anto. Kali ini sikap Jemi ke Pak Anto pun sangat berbeda.