
"Duduk Za, kamu mau minum apa?" Tanya Jemi.
"Yang ada aja jem" kata Elza tersenyum sembari duduk di ruang tamu.
Jemi bergegas ke dapur untuk membuatkan jus spesial untuk tamu spesialnya kali ini.
Terlihat Ibu Ami yang membuka kamarnya dan menghampiri Elza. Melihat hal itu Elza langsung berdiri dan menyapa Ibu Ami dengan sopan. Mereka berdua berbincang mengenai tempat tinggal dan sekolah Elza.
"Ternyata Jemi benar kau sangat mirip ibunya, boleh nenek memegang tanganmu?"
tanya Ibu Ami lembut.
"Tentu" Elza tersenyum mendekati Ibu Ami.
Ibu Ami mengelus tangan Elza sambil memberikan nasihat.
"Kau masih sangat muda, nenek tahu hubunganmu dengan Jemi sangat dekat, namun ayahnya menentang itu. Nene minta bertahanlah sampai titik dimana kamu bisa menahan semuanya nak. Nenek sangat bahagia melihat senyum Jemi akhir-akhir ini selama dia berhubungan denganmu, terima kasih nak telah memberi celah untuk Jemi merasa bahagia" dengan senyum Ibu Ami menatap dalam mata Elza.
Melihat itu Elza tersenyum dan berkata "Aku akan mencoba memberanikan diri sampai di titik dimana aku harus merelakan kebahagiaanku demi Jemi, Apakah menurut nenek perasaanku dan Jemi kekanak-kanakan? Ayahku menganggapnya begitu" iapun tertunduk.
"Perasaan tidak pernah bisa ditentukan umur dan waktunya, aku melihat ketulusan kalian berdua dan itu cukup menunjukkan kalian sama-sama saling memperjuangkan. Itu sudah dewasa menurut nenek" Ibu Ami mengelus tangan Elza.
Mendengar itu Elza tersenyum setidaknya ada satu orang yang mendukung hubungannya dengan Jemi.
"Waah kalian cepat akrab" Jemi membawa jus untuk Elza.
Melihat cucunya menjadi orang yang sangat hangat membuatnya terharu.
"Nenek tidak pernah melihatku sekeren ini, dia kadang lebay" Kata Jemi meletakkan jus dan mengelus pundak neneknya.
Klakson Pak Faiz terdengar memasuki pagar rumah. Elza menjadi gugup dan meminum jusnya dengan satu tegukan. Jemi berdiri dan bersiap menjawab segala pertanyaan ayahnya.
Pak Faiz melangkahkan kakinya masuk ke pintu rumah, seketika langkahnya berhenti melihat Elza yang tersenyum ke arahnya dan menunduk sopan. Namun tiba-tiba ia kembali berjalan dan tidak menghiraukan keberadaan Elza. Jemi mengikuti ayahnya untuk memberikan penjelasan mengenai Elza..
"Dia Elza, ayab pasti sudah tahu bukan?" Kata Jemi.
"Maka suruh dia bersantai sejenak dan pulang!" Jawaban Pak Faiz ketus.
"Dia jauh-jauh untuk bertemu ayah, apakah tindakan ini mencerminkan wakil rakyat? sungguh aku tidak mengerti dari sisi mana ayah bisa dikatakan merakyat" Jawaban Jemi membuat ayahnya berhenti untuk mencoba membuka jam tangannya.
"Keluarlah, ayah akan menemuinya" tiba-tiba Pak Faiz mengiyakan.
Setelah sejam menunggu akhirnya Pak Faiz keluar dan duduk di hadapan Elza. Seketika dia duduk, Keisha dan ayahnya juga datang. Melihat itu Elza, Ibu Ami dan Jemi kaget. Jemi menghela nafas kesal.
"Sore om" Kata Keisha duduk di samping Jemi.
"Mari silahkan duduk" Pak Faiz menyambut Keisha dan ayahnya dan mengajaknya duduk di ruang tamu.
" Dia siapa Jem?" tanya keisha.
Belum sempat di jawab oleh Jemi, ayahnya langsung menjawab.
"Ooow dia teman Jemi, dia juga akan ikut les dengan kalian" Pak Faiz tiba-tiba membuat semua hal menjadi penuh tanda tanya.
"Ooiya, sampai lupa siapa namamu nak?" tanya Pak Faiz kepada Elza.
"Elza pak" dengan berusaha tersenyum Elza mempertaruhkan harga dirinya yang sudah berani datang kesana.
"Elza kau ahli di bidang apa?" tanya ayah Keisha.
"Bukankah itu sangat mudah" Keisha menimpa perkataan Elza dengan remeh.
Jemi yang mendengar itu tidak bisa berbuat apa-apa selain mengepalkan tangannya.
"Lalu orang tuamu kerja dimana nak?" tanya Ayah Jemi lagi.
"Ibuku seorang.." katanya terpotong oleh jawaban Jemi. "Chef, Ibunya chef! sudah cukup hari ini Za, kamu boleh pulang" Jemi berdiri dari duduknya, melihat itu Ibu Ami membantunya dengan membisikkan Elza untuk berdiri dan bergegas pergi.
Elza berdiri dan membungkuk memberi salam kepada semua orang di ruang tamu itu.
"Saya pamit dulu Pak, terima kasih" Elza masih berusaha terus tersenyum dan berlalu menuju Jemi yang sudah menunggunya di depan pintu rumahnya.
"Pak Anto antar dia pulang" perintah Jemi kepada Pak Anto.
"Maaf untuk hari ini Za" terlihat dari wajah jemi, dia sangat jengkel dan marah atas kelakuan ayahnya kepada Elza.
"Aku baik-baik saja, sungguh. Masuklah" Elza berusaha tegar, tak di balas senyum ataupun ucapan selamat tinggal. Jemi malah pergi meninggalkan Elza di depan rumah.
"Mari saya ntar pulang" ajak Pak anto.
Melihat tingkah Jemi, Elza menjadi bingung dan sedih melihat Jemi yang terlihat hawatir dan juga acuh kepada dirinya.
Kembali ke ruang tamu setelah Elza berlalu pergi meninggalkan rumahnya. Kini Jemi tak tahan menahan emosinya.
"Dia adalah perempuan yang kusuka, aku harap ayah dan om serta Keisha bisa menerimanya, maaf dan terima kasih" setelah mengatakan itu dia pergi menuju kamarnya.
"Ayah pastikan kau hanya bertemu dengannya sekali, atau mungkin tidak akan pernah sama sekali!!" Teriak ayahnya.
"Sudahlah dia masih remaja, wajar. Tidak usah diambil hati. Lelaki di masa itu memang harus melewati hal seperti itu" Ayah Keisha menepuk pundak Pak Faiz.
Entah mengapa Ibu Ami sangat menatap sinis wajah Ayah Keisha
"Benar om sudahlah, lagi pula. Jemi hanya akan menyukai ku" Keisha tertawa lebar ingin menghibur.
Di kamar Jemi membereskan bajunya untuk siap-siap kabur dari rumahnha besok untuk pulang ke rumah neneknya.
"Aku sungguh tidak menegerti dimana ayah mempunyai sifat itu ibu" Jemi melepas tasnya dan menatap foto Ibunya.
Elza telah sampai dirumah bibinya diantar oleh Rani. Entah feeling ibu selalu benar ataukah informasi yang bocor Ibu Ratih Dan Pak Saidt mengetahui bahwa Elza telah pulang dari rumah Jemi.
"Masuk kamar!!" kata Ayahnya tegas.
Elza pun duduk di sudur tempat tidur. Tiba-tiba Ibu Ratih melemparkan sebuah surah ke pangkuan Elza. Elza membukanya dam ternyata itu adalah surat penerimaan dari tempat les. Pak Saidt memeluk puterinya berfikir Elza mengikuti tes akhir-akhir ini.
"Yeeey, Elza kita memang cerdas. Ibu tahu hanya anak orang kaya yang bisa les disana namun Elza menerimanya cuma-cuma, wooollw, aku bangga dengan Elza kitaa!!!" Rani kegirangan.
"Ibu dapat dari mana?" Elza teringat kata-kata ayah Jemi.
"Kantor pos mengirimnya atas namamu nak" Jawab Ibu Ratih.
Dalam hati Elza sudah jelas memikirkan hal ini di rencanakan oleh Ayah Jemi. Entah niatanmya baik atau buruk Elza tidak bisa menentukannya sekarang.
"Mulai sekarang Elza akan sering datang kesini, apa perlu bibi buatkan kamar?" bibi Elza sangat menyayangi keponakannya itu.
"Bibi bisa saja,, tapi terima kasih semuanya" Elza bertepuk tangan di hadapan semua orang, namun hatinya gelisah memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya.