
“Kata indah seperti aku mencintaimu apakah cukup untuk hari ini?
Aku menginginkanmu dalam diam
Seperti dedaunan yang menunggu angin berhembus
Walau sebentar, aku ingin merasakannya”
Hamparan bunga matahari seolah bekerja sama dengan langit hari ini, sangat menenangkan. Suara deruh langkah petani menuju kebun, sawah dan ladang terdengar memantul di dinding-dinding kayu.
Sosok wanita cantik membuka jendela kamarnya dan berteriak menyapa dengan senyuman manisnya, memberi semangat pagi kepada petani yang berlalu di depan rumahnya. Matanya yang berbinar menunjukkan kesejukan dan ketenangan di desa itu. Dia melihat sekeliling lalu berlari keluar dari rumahnya menuju puncak, di atas sana terlihat segala keindahan yang telah tuhan rancang untuknya. Dari ketinggian dia merasakan keindahan sekaligus kehangatan yang paling nyata.
“Aaah sangat indah, mereka pasti menyesal telah menolak ajakan ku” desahnya mengingat ajakannya untuk naik bersama di puncak selalu ditolak oleh teman kelasnya.
Namanya Elza gadis berparas cantik, baik hati dan polos tinggal bersama Ibunya di daerah pegunungan, Ibunya bernama Ratih seorang juru masak sedangkan ayahnya Pak Saidt bekerja di luar kota sebagai buruh. Di desa itu hanya terdiri dari beberapa kepala keluarga, jarak antar rumah pun sangat jauh karena terpisah oleh sawah yang terbentang luas. Keluarganya yang sederhana membuatnya hidup apa adanya walaupun parasnya seperti anak yang lemah dan polos tapi dia merupakan sosok yang mandiri dan tidak mudah menyerah.
Terlihat Ibu Ratih yang sedari tadi sudah mempersiapkan sarapan untuk petani di saung kebun teh bersama dengan istri petani lainnya.
“Buk, kenapa Elza tidak dinikahkan saja? Carikan dia laki-laki yang baik itu sudah cukup. Orang seperti kita ini tidak perlu mencarikan anak-anak kita lelaki kaya bu, sekarang sangat sulit seperti itu” kata salah satu istri petani kepada Ibu Ratih.
“Iya buk apalagi Elza cantik, tidak usah disekolahkan tinggi-tinggi, masyarakat kecil seperti kita ini selalu dikebelakangkan jadi percuma” tambah petani yang lain.
“Hmmm benar, tapi saya tidak mau Elza menyerah seperti itu buk, saya masih percaya selagi diusahakan nantinya akan ada hasilnya” jawab Ibu Ratih dengan tersenyum.
“Semoga yah buk, kalo Elza sukses nantinya kami juga ikut bangga” tambah petani yang lain.
“Mari… mari… minum teh dulu” Ibu ratih menawarkan.
Elza telah turun dari puncak, ia mengambil jalan pintas agar bisa sampai lebih cepat membantu ibunya ke pasar untuk membeli beberapa bahan makanan yang telah habis. Kabut begitu lebat sehingga meghalangi pandangan Elza saat menuruni bebatuan curam, langkah per langkah ia coba agar tetap aman. Tingg…. Suara benda sepertinya jatuh dari saku jaketnya. Elza mencoba melihat apa yang baru saja ia jatuhkan dan teringat gantungan kunci yang ia dapatkan di bangku taman sekolahnya.
"Ya ampuun Elzaaa Elzaa” bergumam memarahi dirinya sendiri. Dia mencoba mencarinya dengan teliti karena kabut sangat lebat.
“Disitu kamu!” Elza melihat gantungan itu terselip di bebatuan lereng gunung, dia mencoba meraihnya namun tangannya tak sampai, sehingga ia mengambil ranting pohon diatasnya, saat dia menjinjit tiba-tiba keseimbangannya goyah dan akhirnya terjatuh. Elza berguling di lereng dan terbentur di pohon besar.
“Auuh” jeritnya
“1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 cukup...” elza selalu menghitung saat dirinya panik dan takut.
Elza berusaha berdiri dan mendaki lereng itu dengan tenaga yang tersisa untuk mengambil gantungan kuncinya, untungnya lerengnya tidak terlalu curam, iapun berhasil naik dan melanjutkan perjalanannya untuk pulang. Selama perjalanan dia menyanyikan lagu kesukaan nya “Till We Meet Again” untuk mengabaikan rasa perih kakinya yang tergores bebatuan.
Di rumah, ibu Ratih sudah cemas menunggu putri satu-satunya belum juga kembali. Dia terlihat selalu menoleh ke pintu masuk rumahnya. Suara hp berdering keras, ibu ratih menuju kamarnya untuk mengangkat telpon.
“Assalamualaikum bun. Disana sehat?” kata Pak Saidt
“Alhamdulillah yah, ayah disana gimana? Sehat? “kata Ibu Ratih
“Jangan hawatir kan ayah bun, disini Alhamdulillah ayah baik-baik saja, Elza gimana bun?” Tanya pak saidt.
“Alhamdulillah baik ayah, rencananya ibu akan kesana besok karena ada alat masak yang mau ibu beli di kota” kata ibu Ratih.
“Iya bun kabarin kalo bunda sudah tiba di terminal, udah bun ayah mau lanjut kerja dulu. Salam sama anak ayah” kata Pak Saidt.
“Iya yah” tutup Ibu Ratih.
Elza tiba di depan rumahnya berusaha agar semuanya terlihat baik-baik saja.
“Bundaa, Elza pulang” sambil merangkul jaketnya yang kotor.
“Itu jaketnya kenapa za?” Tanya Ibu Ratih
“Oooh ini tadi jatuh bun, tidak sengaja” sangkal Elza.
“Mandi sana za temenin ibu ke pasar” ajak Ibu Ratih.
“Elza sendiri aja bun, bunda nanti capek habis dari pasar langsung masak. Ibu istirahat aja dulu yah” kata Elza membujuk ibunya.
“Anak bunda memang baik” ungkap Ibu Ratih kepada anaknya.
“Amiiin” jawab Elza dengan tersenyum lepas.
Elza masuk dalam kamar untuk bersiap-siap. “Ffftt…” Elza meniup lukanya.
Elza memarahi dirinya sendiri dengan menunjuk-nunjuk gantungan yang berbentuk teleskop itu. “Aduh perih” jeritnya pelan.
Setelah selesai bersiap dan membersihkan lukanya, Elza pun pamit kepada Ibu Ratih.
“Bun elza pergi dulu” pamitnya.
“Hati-hati nak” teriak ibu dari dapur.
Butuh waktu 10 menit turun dari bukit. Melewati kebun teh, pepohonan yang menjulang tinggi serta ladang bunga yang indah membuat perjalanan Elza tidak pernah berat, sejenak dia melupakan rasa sakitnya. Setelah menuruni bukit Elza masih membutuhkan waktu 20 menit berjalan kaki untuk keluar kejalan raya.
“Aku membawa mu lagi” kata Elza melihat gantungan itu yang dibaliknya tertera ukiran bertuliskan Jemi.
Sesampainya dipertigaan, Elza menunggu angkot, jaraknya pun membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai ke pasar. Namun diseberang jalan terlihat seseorang sedang memperbaiki motornya. Pemuda itu terlihat kebingungan, Elza menghampirinya.
“Motornya mogok?” Tanya Elza ke pemuda itu.
“Iya nih mbak” pemuda itu menoleh ke Elza.
“Ooh maaf saya kira kamu mbak mbak hehe..” sambungnya setelah melihat Elza.
“Nggak apa-apa, ini bannya kempes atau gimana?” jawab Elza sambil tersenyum dan menyisihkan rambutnya ke belakang telinganya.
“Bannya pecah, mungkin karena medan yang dilewati tadi banyak bebatuan yang tajam” jawab pemuda itu langsung mengalihkan pandangannya dari wajah Elza.
“Ooh habis naik gunung, di lorong ini kamu bisa jalan sekitar 2 menit disitu ada bengkel kecil, kalo cuman mau nambal ban disana bisa kok” kata Elza sambil menunjuk jalannya.
“Aduh aku baru pertama kali kesini jadi nggak tau ternyata disana ada pemukiman juga yah?” jawab pemuda itu.
“Hanya 3 rumah yang ada di lorong itu karena ladang dan sawahnya luas, petani lain tinggal di sebelah bukit” jawab Elza.
Piiipp piiiip piiip. Klakson angkot sudah terdengar dari tikungan. Elza melambai untuk menghentikan angkot.
“Aku duluan yah, hati-hati” kata Elza sambil berlari menuju angkot.
“Eeeh belum kenalan kita” teriak pemuda itu namun Elza sudah berlalu.
Pertemuan singkat seperti itu selalu terjadi, Elza yang baik hati seperti sudah ditakdirkan selalu membantu orang lain, baik orang itu ingin dibantu ataupun tidak.
Di sisi lain ada keluarga besar yang tinggal di tengah kota kecil, mereka seperti sosok keluarga yang sempurna dikaruniai kekayaan yang berlimpah dan keharmonisan keluarga yang selalu menjadi gunjingan masyarakat. Seorang konglomerat bernama bapak Sofyan, memiliki puluhan hektar lahan pertanian dan perkebunan di beberapa desa di kota itu. Ia juga memiliki putra tunggal bernama Jeff sofyan. Anaknya juga menjadi salah satu pengusaha muda yang ada di kota itu, walaupun begitu Jeff merupakan sosok yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Pagi itu Jeff sedang melakukan olahraga rutinnya yaitu lari pagi mengelilingi kota kecil, sudah menjadi rutinitasnya setiap pagi mengunjungi para penjual sayuran di pasar yang mendapat produksi sayuran dari perkebunan milik ayahnya.
“Gimana buk jualannya?” Tanya jeff sambil tersenyum kepada Ibu penjual sayur yang disinggahinya.
“Alhamdulillah nak udah bisa setor lagi ini kayaknya” jawab Ibu itu dengan bahagia.
“Jangan buru-buru setornya buk, Ibu harus makan enak dulu malam ini” kata Jeff sambil mengelus pundak Ibu Mulya yang sudah lanjut usia itu.
“Ibu sawi nya habis yaah, tuh kan aku nggak kebagian lagi ini” potong Elza yang tiba-tiba datang menyapa Ibu Mulya dengan bercanda, Ibu Mulya merupakan langganan ibunya.
“Nih bu tadi aku beli ini keinget ibu panas-panasan tiap hari” sambung Elza sambil memberikan minuman dingin itu kepada ibu mulya.
“Iya nak udah habis, Alhamdulillah, tidak perlu repot nak” jawab Ibu Mulya tertawa kecil menanggapi gurauan Elza dan menerima pemberiannya.
“Aku pindah berarti hehe, duluan yah bu” kata Elza.
Elza terlihat akrab dengan semua penjual di pasar karena sudah terbiasa berinteraksi dengan mereka setiap dua hari sekali ia pasti ke pasar untuk menemani ibunya membeli bahan masakan.
“Itu tadi siapa bu” Tanya jeff.
“Langganan ibu itu, udah kayak cucu sendiri” jawab ibu mulya.
“Widih langganan to… tumben loh ada orang yang ketemu terus nggak pandang aku sama sekali, aku kurang ganteng yah hari ini bu?” bisik Jeff, Ibu mulya hanya tertawa kecil membalas pertanyaan Jeff.
Setelah selesai belanja, Elza kembali pulang menaiki angkot dan berjalan kaki menuju rumahnya di atas bukit. Dengan jalan yang sedikit pincang, dia mencoba melawan rasa perih di kakinya.
“Elza pulaaaang” kata Elza membuka pintu rumah sambil memegang semua barang belanjaannya.
“Dicek bun sempat Elza ada lupa” kata Elza masuk ke dapur menemui Ibunya yang sudah menanak nasi sepanci besar.
“Udah nak, kamu istirahat sana biar ibu yang masak, kamu capek pasti” kata Ibu Ratih mengelus rambut Elza. Elza membalasnya dengan senyum lebar tanda rasa terima kasihnya kepada Ibu Ratih. Elza pun masuk kedalam kamar dan membanting tubuhnya ke kasur karena kelelahan.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤