
Pukul 7.15 Elza sudah memasuki gerbang sekolah. Pagi yang sangat cerah di sekolah diawaliya dengan melihat Jemi yang duduk di pos jaga Pak Anto, seluruh siswa yang melewati gerbang itu melihat Jemi dengan tatapan heran. Elza yang menyadari hal itu masuk dan menarik tirai jendela di pos agar tak terlihat dari luar. Jemi tidak menghiraukan tindakan Elza dan malah meletakkan kepalanya di meja jaga seakan-akan ia ingin tidur. Melihat hal itu Elza sadar bahwa Jemi ingin sendiri, dan Elzapun langsung beranjak pergi dari sana.
Kenapa aku tidak bisa meminta gantunganku yang ada di tasnya, jelas-jelas gantungan itu milikku. Kata Jemi dalam hati sambil membenturkan kepalanya pelan ke meja.
Jemi merupakan siswa kelas 11 B dan dia juga bagian dari anggota osis tapi entah kenapa dia tidak begitu terkenal seperti teman organisasinya yang lain. Dia seperti kotak Pandora yang akan muncul sesekali dengan penuh pesona tak terduga dan menghilang tak terlihat. Jemi merupakan sosok yang sangat dingin dan pendiam, tempat favoritnya adalah balkon sekolah dimana dia selalu membaca tentang antariksa disana, walaupun terkenal dengan kepintarannya di beberapa mata pelajaran, tapi sesungguhnya dia hanya tertarik dengan bidang antariksa. Jemi adalah anak dari seorang anggota dewan di kota besar namun begitu dia lebih memilih bersekolah di kota kecil ini.
Jam masuk berbunyi Jemi akhirnya keluar dari pos dan berjalan menuju kelasnya. Diatas meja Jemi terdapat beberapa surat dan makanan, seperti biasa itu dari penggemarnya. Tanpa ragu dia mengambil semua makanan itu dan memberikannya kepada cleaning service sekolah.
“Yah… yaah sayang ituu” kata Dika sahabat Jemi. Jemi dengan ketus tak menjawab perkataan Dika.
“Kamu harus terbuka, humble ngerti nggak? “ kata Dika menggoda Jemi.
“Baik pak” jawab Jemi kaku.
“Bercandamu pun seperti serius, Jeeem Jeeem” balas Dika sambil memukul bahu Jemi.
Saat pelajaran berlangsung Jemi hanya tertidur di bangku pojok belakang.
“Jemi!!” panggil Pak Roy.
Jemi langsung mengangkat kepalanya perlahan dari mejanya, seakan tak terjadi apa-apa di dalam kelas.
“Kerjakan soal diatas!!” teriak pak Roy.
Jemi maju kepapan tulis dan mengerjakan semuanya tanpa kendala sesekali ia berhenti karena kelelahan memegang spidol, jawabannya teramat panjang sehingga seluruh papan tulis penuh seperdua bagian.
“Duduk, dan jangan ada lagi yang tertidur di dalam kelas! Mengerti?” teriak pak Roy sebagai guru matematika kelas 11.
“Mengerti paak” jawab siswa lain serentak.
Selagi pak Roy menjelaskan jawaban yang dituliskan oleh Jemi siswa lain terdiam sambil focus menulis jawaban tersebut di buku catatan meraka, nampaknya semua siswa kelas 11 B sudah terbiasa dengan kepintaran Jemi yang memang sangat sempurna dalam pelajaran matematika.
“Permisi.. Aku ijin ke UKS pak” kata Jemi mengangkat tangannya.
“Baik pergi saja” balas pak Roy dengan santainya.
“Kau memang mau mati ya, heii teganya kamu meninggalkanku” bisik Dika yang duduk dibelakang Jemi. Jemi hanya membalas keluhan Dika dengan kedipan mata dan wajah datar.
“Waaahhh keterlaluan, kau benar-benar…” kata Dika menggaruk kepalanya.
Sampainya Jeff di UKS dia melihat Rose sedang mengobati lututnya yang berdarah. Tanpa menghiraukan Rose, Jemi berbaring diatas crank dan menutup tirainya. Tak bisa tertidur pulas karena suara menjerit Rose yang berisik membuat Jemi bangun dan membuka tirai.
“kamu bisa tenang sedikit? Itu hanya luka kecil!!” kata Jemi dengan nada menekan.
Tanpa menjawab pernyataan Jemi. Air mata Rose menetes karena sudah semampunya menahan perih yang dirasakannya. Tak tahan melihat hal itu akhirnya Jemi berdiri dari crank dan berjalan kearah Rose.
“Maaf” kata Jemi pelan.
“Aku sudah mencoba menahannya tapi ini sangat perih” jawab Rose mengusap air matanya.
Jemi membantu Rose membersihkan lukanya dengan sangat pelan. Hal itu membuat Rose tersipu malu.
“Aku belum mengucapkan terima kasih tentang tumpangan kemarin” ungkap Rose.
“Tidak perlu” jawabnya ketus sambil menyimpan kotak PPK di meja UKS. Jemi kembali berbaring di crank dan menutup tirai.
“Walaupun begitu aku tetap berterima kasih, sepertinya kita jodoh kamu selalu datang membantuku” kata Rose sambil tertawa kecil.
“Berisik” kata Jemi.
Rose pun berbaring diatas cranknya untuk beristirahat, dan ia sesekali masih mencoba melirik Jemi tapi tak terlihat.
Dikelas 11 C terlihat Elza yang terburu-buru memasuki kelas.
“Kok balik lagi? Kan kamu tugas di UKS hari ini?” Tanya Baby.
“Mmm itu, oiya ada yang kelupaan. Aku akan membaca di UKS” jawab Elza sambil mengambil buku dan gantungan kunci.
Elza pun berjalan sangat lambat menuju UKS. Seperti enggan untuk menginjakkan kakinya ke UKS dengan cepat.
Memang kenapa kalo mereka berduaan apa hubungannya denganku. Kenapa aku sedih? Itu bukan adegan sedih tapi romantis, aaah perasaan ini sangat aneh.Ya ampuuun Elza kamu kenapa…. Kata Elza dalam hati sambil menundukkan kepalanya.
Elza pun sampai di UKS dia berjalan sangat pelan takut mengganggu Rose dan Jemi. Dia hanya duduk dan membaca buku puisi kesukaanya.
Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
-Sapardi Djoko Damono-
Itulah puisi terakhir dari buku itu. Elza terlalu menghayati setiap kata yang tertulis, setelah menutup buku dia kaget melihat Jemi berdiri disampingnya.
“Maaf, ada yang diperlukan?” Tanya elza berdiri dari kursinya.
“Buku apa itu?” kata Jemi tiba-tiba.
“Bukan apa-apa” jawab Elza sambil menyembunyikan buku dibalik punggungnya.
“Gantungan itu?” Tanya Jemi lagi.
“Mmm begini, aku sudah lama ingin mengembalikannya tapi aku tidak mengenalmu, dan kemarin sepertinya tidak ada waktu” jawab Elza dengan cepat sambil tertunduk.
“Kalau begitu simpan saja, aku tidak mood untuk mengambilnya hari ini” kata Jemi sembari melangkah keluar UKS.
“Aah ini membebaniku, kenapa jemi tidak ingin mengambilmu” cerutu Elza sambil duduk kembali di kursinya. Belum sempat ia duduk dengan benar Jemi kembali masuk ke UKS sehingga Elza berdiri kembali.
“Kalau itu hilang, aku akan menghilangkanmu juga!” kata Jemi mendekatkan wajahnya ke hadapan Elza sampai membuat Elza mundur secara perlahan.
“Baik” jawab Elza tergagap. Setelah itu Jemi kembali melangkahkan kakinya pergi dari UKS.
Semua peristiwa itu di dengar oleh Rose dibalik tirai. Setelah langkah Jemi sudah tak terdengar. Rose membuka tirai dengan kasar dan menghampiri Elza.
“Hai kamu baru datang, untung tadi ada Jemi yang menggantikan tugasmu mengobatiku. Tapi bagaimanapun aku berterima kasih atas keterlambatanmu” kata Rose menyidir dan berlalu di hadapan Elza. Elza hanya diam terpaku.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤