
Dari kejauhan Jemi memperhatikan Elza yang keluar dari kelasnya, mereka berdua pada akhirnya tidak saling bertemu di sekolah. Kabar tentang kedekatan Rose dan Jemi menjadi perbincangan hangat kali ini, dan Elza di tuduh menjadi orang ketiga di antara Rose dan Jemi dilarenakan Jemi yang terang terangan menolong Elza beberapa waktu yang lalu di hutan.
"Lihat, apakah dia masih bisa berjalan dengan tersenyum. Dasar perebut pacar orang" gosip salah satu siswa di kantin saat melihat Elza berbelanja makanan.
Elza yang duduk sendirian akhirnya di hampiri oleh Baby.
"Tuh kan, semua orang jadi salah paham, aoa perlu aku yang beritahukan?" bisik Baby.
Elza menggeleng dan berusaha tidak memperdulikan pembicaraan orang-orang. Melihat itu Baby menjadi pasrah akan sikap Elza yang sangat santai.
"Kau jangan bergaul dengan orang seperti dia beb, dia orang kampung nggak tahu malu lagi kok bisa sih kamu ninggalin kita buat duduk sama dia" Sasa teman se genk Baby datang dan memukul meja Elza. Cipratan air bakso mengenai seragam Elza, melihat itu Baby berdiri dan melawan temannya sendiri.
"Kamu apa-apaan sih, kok kasar gini. Jangan mudah kemakan gosip deh kalo nggak tahu cerita sebenarnya" teriak Baby membela Elza.
"Emang apa sebenarnya?" tantang Sasa.
Takut akan kehilafan yang akan di ucap Baby akhirnya Elza berdiri dan memegang tangan Baby.
"Lebih baik urus urusanmu sendiri" Elza dengan beraninya membalas perkataan Sasa dengan tegas.
"Sudah kau jangan bertengkar dengannya, kau pergilah dengan mereka. Aku bisa sendiri" Kata Elza berdiri dan melepas tangan Baby.
"Tidak mau! aku hanya akan berteman dengan Elza. Kufikir pertemanan kita seru selama ini, tapi aku sadar kalian terlalu banyak bergosip yang tidak-tidak. Aku keluar!". teriak Baby di hadapan Sasa. Membuat Sasa mengangkat tangannya dan menampar Baby.
"Kau pun bukan apa-apa tanpa kami" kata Sasa meninggalkan kantin.
Melihat hal itu Elza kembali dan menarik tangan Baby. Keduanya pergi ke balkon sekolah.
"Sudah kubilanga aku bisa sendiri, tidak perlu seperti itu" Elza menghela nafas melihat pipi Baby yang memerah karena tamparan Sasa.
"Aku fikir genk itu bisa menaikkan popularitas ku. Ya benar memang naik, tapi sejenak aku melupakan jati diriku sendiri. Setelah mengamatimu selama ini, aku jadi iri kenapa kamu bisa bertahan sendirian tanpa teman di sekolah. Sedangkan aku rela membuang sikap peduli dan menjunjung kesombongan. Hanya karena ingin di akui. Aku tidak bisa seperti itu lagi" Baby duduk dan menangis tersed-sedu.
Melihat hal itu Elza juga ikut menangis tersedu-sedu.
"Dasar bodoh, seharusnya kau mempertahankan apa yang sudah kau usahakan selama ini. Kau ingin berteman denganku bukannya popularitas tapi malah akan di bully" tangis Elza dan Baby pecah di sana.
Mulai saat itu mereka berdua menjadi sahabat bahkan seperti saudara. Baby dan Elza saling menginap di rumah masing-masing. Baby adalah teman perempuan pertama yang dibawanya ke bukit.
Waktu ujian berlalu gosip itu masih mengikuti nama Elza. Hari berlibur adalah hari yang tepat untuk menenangkan fikiran dan hati Elza.
Siang itu Jemi berangkat ke kota untuk berlibur dengan neneknya. Pengawasan ketat dilakukan ayahnya terhadap Jemi. Bahkan ia yang mengatur pertemuan Keisha dan Jemi terus menerus.
Di kamarnya Jemi menelpon Elza.
"Mungkin besok akan ada berita yang mengagetkanmu, tolong mengerti posisiku. Ayahku sedang dilantik dan akan ada berbagai macam berita yang muncul. Tolong bersabarlah. Kapan kau akan ke kota untuk berlibur?"
"Baiklah aku akan menahannya apapun itu, kau tidak usah hawatir jem. Besok aku akan berangkat ke kota bersama Ibu. Kenapa kamu bertanya? Apa kita bisa bertemu?" balas Elza.
"Aku sangat ingin bertemu denganmu, aku akan atur waktunya. Nanti ku kabari yah" kata Jemi.
"Baiklah" pipi elza mengembang tersenyum menantikan pertemuannya dengan Jemi.
"Kalau begitu aku tutup yah, selamat malam za" ucap Jemi manis.
Malam itu di ruang tamu, sudah ada beberapa wartawan yang mewawancarai Ayah Jemi,
Para wartawan yang menanyakan keberadaan Keisha di rumah itu malah menjadi topik utama.
" Apakah ada hubungan khusus antara Keisha sang model terkenal dengan keluarga besar Sofyan?" tanya wartawan di acara live streaming kepada Pak Sofyan.
"Dia adalah calon tunangan anakku, dia adalah anak dari teman akrab istriku" mendengar itu baik Keisha maupun Jemi saling bertatapan dan kaget akan jawaban Pak Sofyan.
"Apakah ada rencana acara tunangan besar besaran antara anak anda dengan Keisha?" tanya wartawan lagi.
"Mereka masih sangat muda, Tentu kita perlu mempersiapkan hal itu. Tapi tidak dalam waktu dekat". tutup Pak Sofyan.
Wartawan kini mengejar Keisha dan mewawancarainya. Keisha terlihat kebingungan dan berusaha menjawab beberapa pertanyaan dari wartawan tanpa menimbulkan kesalah pahaman.
Jemi yang geram menggumpalkan tangannya melihat dan menatap mata ayahnya. Jemi berlari menuju kamarnya tanpa sepatah kata.
Jemi memukul bantal tinju dengan penuh amarah karena pernyataan ayahnya yang sangat tiba-tiba dan tanpa persetujuannya.
Setelah selesai dengan sesi wawancara singkat. Keisha naik ke kamar Jemi dan berusaha menenangkan Jemi.
"Buka dulu, kita bicara. Hal yang dikatakan ayahmu tidak akan terjadi. Sekarang kau boleh percaya itu. oke" teriak Keisha mengetuk pintu kamar Jemi.
Jemi pun keluar di depan pintu. dengan keringat dan tampilan yang berantakan.
"Apa kau dan ayahku merencanakannya?" mata Jemi memerah karena marah.
"Sungguh aku tidak tahu apa-apa jemi" geram Keisha.
Emosi Jemi benar-benar tidak terkontrol dia membanting badan Elza ke dinding dan memukul dinding tepat di samping telinga Keisha. Membuat Keisha melongo dan menahan tangisnya.
"Aku tidak suka air matamu!! kau jangan mimpi bisa mendapatkanku dengan cara ini. aaargh!!" teriak Jemi di depan wajah Keisha.
"Apa-apan ini!!" Pak Sofyan berdiri di depan tangga melihat kepalan tangan Jemi berada di samping Keisha. "Kamu sudah gila?!!". teriaknya.
Keisha berlari bersembunyi di belakang Pak Sofyan.
"Sejak kapan aku akan bertunangan dengan dia!!!! itu tidak akan pernah terjadi!!!!!!" teriak Jemi di hadapan ayahnya lalu masuk membanting pintu kamarnya.
"Anak tidak tahu malu!!!" teriak Pak Sofyan.
Mendengar itu nenek Jemi naik dengan terburu-buru. "Ada apa ini?" tanyanya.
"Kau tidak seharusnya memberikan penjelasan seperti itu ke wartawan nak, Jemi berhak menentukan pilihannya" jawab Nenek jemi membela cucunya.
"Bu, jika pilihannya benar aku akan mendukungnya. Dia malah menyukai gadis desa yang tidak punya apa-apa. Baik keturunan ataupun status sosialnya tidak bisa dibandingkan dengan kita!" Pak Sofyan masih emosi dengan tingkah Jemi.
Mendengar itu nenek Jemi menghela nafas dan menatap pintu kamar Jemi seolah tahu perasaan cucunya sedang hancur di dalam sana. Keputusan ayah Jemi selalu saja sepihak.
Dari dalam kamar mendengar itu Jemi tambah yakin bahwa ayahnya lah yang memata matai Elza selama ini.
"Kalau kau masih ingin menemui gadis itu, kau harus bicara dengan ayah besok. Kalau tidak ayah sendiri yang akan menyingkirkan gadis itu dari kehidupan mu!!"
Mendengar itu Jemi membanting jasnya dengan mata mulai memerah dan meneteskan air mata mengingat Elza yang sangat di rendahkan oleh ayahnya. Gadis polos dan rendah hati yang selama ini di kagumi oleh Jemi harus menanggung beban karena Jemi sendiri.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, kalaupun itu aku sendiri maka aku yang akan pergi" Jemi bersimpuh tertunduk mengingat Elza.