
Bel sekolah berdering tanda akhir dari kelelahan hari itu. Semua siswa berlarian menuju gerbang sekolah, adapula yang sudah siap pulang dengan motor dan sepedanya. Elza menunggu di depan gerbang untuk mengambil angkot. Satu persatu siswa telah pulang, Elza kini berdiri sendirian di depan gerbang, ankot yang bisa ditumpanginya belum kalihatan sejak tadi. Tiba-tiba suara motor terdengar keluar paling terakhir di gerbang sekolah.
“Butuh tumpangan?” tawar Jemi kepada Elza.
“Kamu bisa duluan” jawab Elza.
“Kamu malu?” Tanya Jemi lagi.
“Untuk apa” kata Elza bersemu merah.
“Maka itu, naiklah” kata Jemi.
Elza pun terpaksa menerima tawaran Jemi untuk diantar pulang. Motor KLX Jemi sangat tinggi sehingga membuat Elza kesusahan untuk naik. Jemi mengisyaratkan Elza untuk memegang pundaknya. Selama perjalanan hanya suara angin yang sangat bising, mulut mereka berdua terkunci rapat, dan pada akhirnya keluar satu kata dari mulut Elza.
“Disini saja” kata Elza sambil menepuk pundak Jemi.
“Disini tidak ada rumah” kata Jemi.
“Rumahku di bukit, kendaraanmu tidak bisa naik kesana” jawab Elza dengan senyum.
“Berapa menit?” Tanya Jemi.
“Sekitaran 15 menit” Jawab Elza.
“Biar kuantar sampai di dalam, motorku bisa jika lorong seperti ini” tawar jemi lagi.
“Baiklah, terima kasih” kata Elza.
Mereka berdua melewati pemandangan yang indah, hal ini sangatlah baru untuk Jemi yang tinggal di kota. Membuat dirinya terpesona dengan keindahan yang disuguhkan oleh desa itu.
“Aku baru tau ada tempat seperti ini” Kata Jemi.
“Masih ada yang lebih indah dari ini, desa yang ku tinggali adalah surga kecil dunia dibalik bukit yang tinggi disana” kata Elza sambil menjunjukan bukit.
“Aku akan kesana mengambil Canopus” kata Jemi tiba-tiba. Mereka pun berhenti di ujung jalan.
“Terima kasih atas tumpangannya, hal ini sebenarnya tidak perlu. Rumahmu berlawanan arah denganku” kata Elza tak enak hati.
“Pergilah aku akan melihatmu lalu pulang” kata Jemi.
Elza tersenyum dan berjalan menaiki bukit, sesekali dia berbalik untuk melihat Jemi yang masih menunggunya dibawah.
Setelah melihat Elza yang sudah hilang ditikungan bukit, dia menyalakan mesin motornya dan pergi dari sana. “Dia memang misterius” Kata Jemi.
Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya Jemi tiba dirumahnya, terlihat beberapa mobil terpakir di halaman rumah Jemi. IBu Ami nenek Jemi keluar dan menyambut cucunya masuk kedalam rumah.
“Kau sudah datang? Ini dia jagoanku” Pak Fariz ayah Jemi.
“Waah dia tumbuh sangat sehat dan tampan” kata rekan Ayahnya.
Jemi terlihat bingung dengan situasi yang dialaminya secara tiba-tiba setelah sekian lama ayahnya datang melihatnya dan membawa orang asing kerumah itu. Neneknya mengisyaratkan kepada Jemi untuk memberi salam,
“Sore” kata Jemi kaku.
“Dia memang seperti itu” kata Ayahnya sambil tertawa kecil. Hal itu sama sekali tak dianggap lucu oleh Jemi.
“Aku akan berganti pakaian” kata Jemi.
“Cepatlah, lalu turun kembali untuk makan malam bersama” kata Ayahnya.
“Baik” kata Jemi.
Neneknya menemani cucu kesayangannya itu menuju kamar untuk menjelaskan apa yang terjadi.
“Gantilah bajumu dulu, bersih-bersih juga” kata Neneknya.
“Kenapa ayah tiba-tiba datang? Dan siapa mereka?” Tanya Jemi.
“Mereka rekan ayahmu, ada kepentingan sedikit disini, sekaligus memperkenalkanmu dengan anak rekan ayahmu. Dia cantik kan? Kau melihatnya tadi” kata Neneknya tersenyum.
“Biasa saja” Jawab Jemi masuk dan menutup pintu kamarnya.
“Nenek akan turun duluan, cepatlah!” teriak Neneknya dari balik pintu.
“Dia biasa saja” kata Jemi lagi.
Setelah selesai bersih-bersih, Jemi pun turun dan bergabung di meja makan yang panjang itu.
“Bagaimana sekolahmu ?” Tanya Ayahnya.
“Seperti biasa” jawab Jemi datar.
Ayah Jemi mempersilahkan semua tamunya untuk makan, merekapun berbincang-bincang. Ayah Jemi terdengar sangat membanggakan Jemi yang selalu menang olimpiade dihadapan rekannya. Tak mau kalah rekannya yang bernama pak Ahmad juga membanggakan putrinya yang bernama Keisha yang selalu mengikuti ajang modeling dan berhasil ditampilkan di sebuah majalah.
“Anak kita sepertinya serasi, mereka sangat berbakat” kata Pak Ahmad.
“Sepertinya begitu, tidak salah jika Keisha menjadi model dia memang sangat cantik, bukan begitu Jemi?” Tanya Ayahnya.
Beberapa saat Jemi terdiam namun neneknya menginjak kaki Jemi untuk menjawab pertanyaan ayahnya.
“Iya” kata Jemi singkat.
“Dia malu, anak sekarang sangat canggung dalam berteman, bukan begitu Keisha?” Kata Neneknya mencairkan suasana.
“Yaah itu benar sekali nek” Kata Keisha dengan senyum. Ia makan dengan sangat anggun, kebangsawanannya sudah terlihat dari cara makannya.
Makan malam pun usai. Pak Fariz menyuruh Jemi mengajak Keisha untuk berkeliling rumah bahkan mempersilahkan Keisha untuk melihat bintang menggunakan Canopus di teras kamar Jemi. Sungguh hal itu sedikit mengganggu privasi Jemi.
“Tapi ayah…”
“Ajaklah dia keliling” potong yahnya.
Jemi dan Keisha pun berkeliling rumah, Jemi membawanya ke ruang baca.
“Dimana tempat kesukaanmu dirumah ini?” Tanya Keisha.
“Semua sudut rumah” jawab Jemi cuek.
“Pasti di teras kamarmu kan? Tidak usah tegang, santai saja” kata Keisha tertawa kecil.
“Aku biasa saja” jawabnya melihat Keisha yang menertawakannya.
“Wajahmu sangat serius, ayolah mari kita berteman” kata Keisha mengajukan tangannya untuk bersalaman.
“Jemi” kata Jemi menjabat tangan Keisha.
“Yaah aku tau itu, namamu selalu jadi kebanggaan ayahmu” kata Keisha.
“Begitu” kata Jemi melepaskan tangannya.
“Kalau aku temanmu, maka ajak aku melihat bintang, aku belum pernah sebelumnya” kata Keisha.
“Kau bohong” Kata Jemi lagi.
“Aaah maksudku aku belum pernah melihat bintang dengan teleskop, maka ijinkan aku memakainya” bujuk Keisha sambil memegang kain baju Jemi.
“Kita belum sedekat itu, lepaskan. Baiklah kau temanku” melepaskan tangan Keisha dari bajunya dan berjalan keluar menuju kamarnya. Keisha mengikut di belakangnya.
“Waah kamarmu luas sekali, rapih pula. Apa kau tidur dilantai tanpa menyentuk kasur?” kata Keisha bercanda.
“Bukan urusanmu” kata Jemi ketus.
“Okeoke, kau memang sekeras batu” kata Keisha tak dihiraukan oleh Jemi.
Setelah membuka jendela kamarnya. Keisha berlari keluar karena pemandangan kamar Jemi benar-benar indah. Sementara Jemi terlihat mengeluarkan teleskopnya dari kamar.
“Lihatlah sepuasmu” kata jemi meletakkan teleskop di samping Keisha.
“Waah bintangnya indah, dia seperti bergerak, apakah setiap malam selalu tampak sama?” Tanya Keisha.
“Bukan bintang yang bergerak, dia tampak bergerak karena gerak rotasi bumi. Bumi membutuhkan waktu satu tahun untuk mengelilingi matahari, dan selama itu kita yang ada di bumi akan melihat porsi langit termasuk bintang yang berbeda beda di setiap malamnya” jelas Jemi.
“Teleskop ini benar-benar hebat” Kata Keisha.
“Namanya Canopus” kata Jemi.
“Nama yang unik seperti pemiliknya” Keisha masih menikmati hamparan bintang yang dilihatnya.