The Last Blossom

The Last Blossom
Pengakuan



Matahari terbit dari ufuk timur, seperti biasa semua bunga di ladang bermekaran. Para petani sudah berkumpul di saung untuk sarapan sebelum bekerja. Ibu Ratih menyiapkan roti goreng dan teh, berbincang dengan para petani dengan senyum yang hangat di pagi itu.


 


“Saya pulang duluan, Elza sedang flu di rumah sendirian” Kata Ibu Ratih pamit kepada lainnya.


“Bawa ke rumah sakit bu, flu tidak bisa dianggap remeh loh” Kata salah satu petani.


 


“Iya buk, Elza sangat susah dibujuk jika ingin dibawa ke rumah sakit, kalo begitu saya pamit duluan” Kata Ibu Ratih sambil turun dari saung.


Sesampainya di rumah Ibu ratih langsung masuk ke kamar Elza untuk memeriksa keadaan putrinya.


“Apakah kepalanya masih sakit” Tanya Ibu Ratih.


“Lumayan bun” Jawab Elza dengan suara serak.


“Kalau begitu kita ke rumah sakit yah?” bujuk Ibunya.


“Tidak perlu bun, besok sudah sembuh kok” kata Elza.


“Mmm kalau begitu istirahat saja, Bunda akan memasak bubur untukmu” Kata Ibunya.


“Terima kasih bun” jawab Elza sambil tersenyum tipis.


Elza berusaha meraih hpnya di sudut meja untuk mengabari Baby agar menyampaikan keterangan sakitnya kepada guru.


Panggilannya pun berdering.


“Baby ini Elza” Kata Elza dengan suara yang serak.


“Kau baik-baik saja? Ini sudah hampir jam masuk, kenapa belum datang?” Kata Baby.


“Aku sedang kurang sehat, tolong sampaikan ke guru. Aku tidak sempat menulis surat sakit” kata Elza.


“Baiklah, istirahat yang cukup yang za, cepat sembuh yaah” kata Baby.


“Baiklah aku tutup, terima kasih Beb” tutup Elza.


Jam pelajaran pun dimulai semua siswa kelas 11 mengikuti kelas olahraga di lapangan sekolah secara bersamaan. Semuanya tampak sibuk bertanding dengan berbagai macam jenis olehraga sesuai dengan minat mereka. Rose memilih tenis bersama dengan Baby.


“Partnermu di team volley tidak datang?” Tanya Rose kepada Baby.


“Elza sakit, jadi aku setidaknya bergabung denganmu kali ini” Kata Baby.


“Apakah Elza pernah bercerita tentangku?” Tanya Rose lagi.


“Elza dan aku tidak sedekat yang kau bayangkan, walaupun aku sangat ingin akrab dengannya, dia sebenarnya orang yang tertutup” Jelas Baby.


“Baguslah” Kata Rose sambil mengambil Raketnya.


Terlihat kelas 11 A dan 11 B bertanding di lapangan basket. Ada Leo sebagai kapten kelas A dan Raka kapten dari kelas B, Jemi berhasil mencetak poin pertama lalu disusul dua poin oleh Wahyu dari kelas A, pertandingan yang sangat seru itu akhirnya jadi tontonan semua siswa sekaligus guru olahraga yang bergabung menjadi wasit di pertandingan.


“Ayo kita kesana” Prisil menarik tangan Rose menuju lapangan basket untuk melihat Jemi bermain.


“Wow dia memang hebat” kata Rose sambil melonpat melihat Jemi mencetak poin kedua kalinya.


“Sana pergi beli air putih, kau harus memberikannya kepada Jemi jika pertandingan usai, sebentar lagi jam olahraga akan berakhir” Kata Prisil.


“Oke, tunggu aku disini” Kata Rose sambil berlari menuju kantin.


“Hati-hati” teriak Prisil. Dia benar-benar jatuh cinta dengan Jemi. Sambungnya.


Pertandingan usai poin tertinggi dimenangkan oleh kelas A. Terlihat Keira membagikan air mineral kepada teman kelasnya. Rose pun menghampiri Jemi untuk memberikannya air mineral didepan banyak orang. Hal itu disambut teriakan dari semua penonton disana.


“Apa-apaan ini?” Kata Jemi kepada Rose.


“Ambillah, kau sepertinya haus” Kata Rose.


“Tidak perlu!”Jawabnya ketus.


Namun tiba-tiba Raka datang menghampirinya dan menyuruh Jemi untuk tidak malu mengambil pemberian Rose karena semua orang sudah melihatnya. Karena tak ingin membuat Rose malu dihadapan banyak orang akhirnya Jemi menerima air yang diberikan Rose.


“Terima kasih” ungkap Jemi singkat.


Rose tersenyum. Hal itu kembali mengundang teriakan dari semua siswa yang menganggap hal itu romantis. Jemi kemudian meninggalkan lapangan dan Rose mengikutinya.


“Kau sangat keren tadi, walaupun tidak menang kau mencetak banyak poin” Kata Rose yang berjalan di belakang Jemi.


“Itu hanya permainan” Jawab Jemi.


“Walau begitu aku sangat mengagumimu” kata Rose.


Langkah Jemi terhenti mendengar kata-kata Rose. Dan ia berbalik menatap Rose.


“Berhentilah, kamu bukan tipeku” Kata Jemi blak-blakan.


“Aku tahu, memang bukan sekarang tapi nanti, lihat saja” Kata Rose masih kukuh.


“Jangan menunggu” Kata Jemi.


“Kenapa? Apa hakmu melarangku menunggumu, kau bahkan menunggu Elza” Kata Rose tak tahan lagi dengan penolakan yang diberikan Jemi.


Jemi melihat kesekitar, takut perkataan Rose terdengar oleh banyak orang.


“Berhentilah, cukup. Ceritaku beda” ungkap Jemi.


“Baiklah, bukan berarti aku akan berhenti. Begini saja jadikan aku temanmu dan lihat saja nanti” Tantang Rose.


“Terserah kau saja” jawab jemi dengan wajah datar.


“Oke, anggap saja aku memberikanmu kesempatan dekat dengan Elza dan bandingkan aku dengan dia. Aku sungguh tidak tahu seistimewa apa Elza untukmu. Jika kau sudah mengubah tipemu. Beritahu aku” Kata Rose dengan angkuh.


“Kau sangat percaya diri, aku duluan” kata Jemi berbalik meninggalkan Rose.


“Aku menunggu” teriak Rose.


Hal itu terdengar jelas oleh siswa lainnya membuat perbincangan baru di sekolah itu.


Jam istirahat berbunyi seperti biasa Jemi duduk di bangku taman, menunggu untuk melihat Elza yang sedari tadi tidak terlihat. Dia menunggu sampai jam istirahat sudah hampir habis. Jemi berdiri dan memberanikan diri untuk lewat di depan kelas Elza. Namun yang ditemuinya justru Rose yang berdiri di depan pintu kelas 11 C.


“Apa lagi?” Kata jemi berbalik.


Tiba-tiba Rose berjinjit dan membisikkan sesuatu kepada Jemi. “Elza sakit” bisiknya. Setelah mengatakan itu Rose tersenyum dan berlari kembali menuju kelasnya. Tentulah hal itu semakin memperjelas kesalahpahaman yang terjadi.


“Dia pintar akting” kata Jemi dalam hati. Jemi pun berlalu tanpa memperdulikan teriakan teman-temannya yang menganggap dirinya dan Rose resmi berpacaran karena kejadian hari ini.


“Selamat yah hehe” kata seorang siswi yang dilewati Jemi.


“Mereka memang pasangan cocok, sama-sama pintar” hal itu terdengar saat jemi memasuki kelasnya.


“Apa kau benar-benar berpacaran dengan Rose?” Tanya Raka.


“Tidak mungkin” jawab Jemi singkat.


“Aaah kau sangat pemalu juga yah, kau berntung mendapatkan Rose waah” kata Raka menggoda Jemi.


Jemi sangat cuek sehingga tidak memperdulikan gosip yang beredar, dengan seketika nama Jemi dan Rose menjadi papan berita utama di sekolah itu. Jam pelajaran fisika berlanjut dan Jemi sangan fokus jika pelajaran kesukaannya telah dimulai.


Jam pulang berdering, Jemi terlihat terburu-buru untuk pulang. Rose yang melihat itu melepaskan keinginannya untuk pulang bersama Jemi hari ini. Di dalam hatinya masih sangat bertekad untuk mendapatkan Jemi.


Elza baru selesai meminum obatnya. Dia sudah terlihat baikan walau suaranya masih sangat serak. Dia meminta ijin kepada Ibu Ratih untuk naik ke puncak sore itu.


“Tapi kamu kan masih sakit nak” Kata Ibu Ratih.


“Nggak kok bun” Elza meraih tangan ibunya dan menempelkan ke jidatnya yang sudah tidak terlalu panas seperti semalam.


“Lagian puncak juga obat Elza bun” kata Elza memohon.


“Baiklah, jangan terlalu lama diatas yah” kata Ibu Ratih mengizinkan putrinya.


Elza mengambil syal merah dan sweater coklatnya. Dia masih terlihat cantik walaupun bibirnya sangat pucat. Elza keluar dari rumah dan melihat seorang laki-laki sudah menunggunya di halaman rumah.


“Kau?” Elza kaget melihat Jemi yang berdiri tepat di hadapannya.


“Benar disini sangat indah, aku punya mulut untuk bertanya dimana rumahmu, jadi aku kesini” kata Jemi.


“Mmm aku ingin ke puncak, kau mau ikut?” kata Elza dengan suara yang serak.


“Dimana?” Tanya Jemi. Elza menunjuk puncak bukit yang ada di belakang rumahnya.


“Tapi kau kan sakit” Kata Jemi.


“Siapa bilang” jawab Elza menutupi bibirnya yang pucat dengan syal.


“Kalau kau tidak mau ikut, tunggu aku di dalam rumah. Perlu kupanggilkan bundaku?” sambung Elza.


“Aku ikut” jawab Jemi cepat.


Elza hanya tersenyum mendengar jawaban itu. Mereka berjalan dengan perlahan menaiki puncak, Elza sesekali berhenti karena kelelahan. Jemi di belakangnya tampak hawatir dengan kondisi Elza namun tak sanggup berbicara di depan wanita itu. Membutuhkan waktu 15 menit kali ini untuk mencapai puncak bukit. Nafas Elza dan Jemi terengah-engah namun terbayarkan dengan pemandangan yang terlihat dari atas sana.


“Ini yang kau maksud surga kecil?” Tanya Jemi.


“Desa ini surga kecil untukku dan ini tempat persembunyianku” kata Elza sambil tersenyum.


“Kau juga keras kepala, sakit tapi masih ingin mendaki” ungkap Jemi.


“Ini vitaminku” Jawab Elza singkat.


“Apa aku orang pertama yang kau ajak kesini?” Tanya Jemi penasaran.


“Senior pernah datang kesini, dia mengikutiku. Dia mengira aku ingin bunuh diri, lucu bukan?” kata Elza sambil tertawa kecil.


“Senior?” Tanya Jemi lagi.


“Jeff Sofyan” kata Elza.


“Oooh, kau dekat dengannya?” Jemi masih penasaran.


“Aku baru bertemu beberapa kali dan semua itu dadakan” jelas Elza.


“Begitu rupanya” kata Jemi sedikit cemburu.


“Apakah hanya Jeff, atau ada yg lain lagi?” sambungnya.


“Dengan ini” Elza mengeluarkan Canopus dari kantong celananya.


“Canopus?” Jemi kaget dengan jawaban Elza.


Elza menceritakan kisahnya yang selalu mengajak teman sekolahnya untuk melihat pemandangan di puncak tetapi tak ada satupun yang menerima ajakan Elza. Sampai suatu waktu dia tersadar gantungan kunci itu yang selalu menemaninya kemanapun. Ia mendapatkan gantungan itu saat penaikan kelas 11 tahun lalu namun tak bisa menemukan siapa pemiliknya karena Elza tak punya keberanian menanyakan nama siswa lain kepada teman lainnya, mengingat elza tidak memiliki teman akrab. Nama Jemi pun ia fikir hanya ukiran biasa dari gantungan itu. Dia tak menyangka akan bertemu pemiliknya.


“Kau seharusnya mencariku lebih dulu” kata Jemi.


"Haruskah?" Elza tersenyum.


Jemi bercerita kapan pertama kali melihat Elza dan itu ternyata saat kelas 6 SD, di taman bermain saat keduanya ada di kota. Saat itu Jemi menagis karena ditinggal oleh ayahnya namun Elza dan Ibunya datang untuk menemani Jemi dan memberikannya gulali. Setelah sekian lama akhirnya Jemi menemukan Elza kembali di sekolah yang sama dengannya, sudah setahun Jemi memperhatikan Elza dari jauh namun Elza tak menyadarinya. Menurut Jemi sekarang adalah waktu yang tepat untuk memberitahukan Elza.


“Kau anak cengeng itu ternyata” Elza bergurau tak menyangka anak yang sangat murah senyum saat kecil menjadi pria dewasa yang sangat cuek.


“Aku bukan anak kecil lagi” kata Jemi masih datar.


“Baiklah” jawab Elza tersenyum manis sambil memberikan canopus kepada Jemi.


“Aku sungguh tidak tau kenapa canopus bisa ditemukan olehmu, tapi syukurlah” kata Jemi tersenyum. Baru kali ini Elza melihat Jemi tersenyum.


“Senyummu masih manis” kata Elza tertawa kecil.


Jemi kembali memasang wajah datarnya karena malu.


“Apa jawabanmu” kata Jemi sambil melihat gantungannya.


“Aku belum tahu perasaan apa yang aku miliki terhadapmu, tapi setelah melihatmu aku merasa aku selalu aman dan tidak sendiri, seperti yang kurasakan saat membawa gantungan itu” Jelas Elza melihat canopus yang ada di tangan Jemi.


Jemi menatap Elza lama, mereka saling berpandangan beberapa detik, Elza tersenyum melihat keteduhan wajah Jemi.


“Aku rasa itu sudah jelas” Jemi membalas senyum Elza sambil menutupi senyum Elza dengan syalnya. Mereka berdua memandangi matahari terbenam yang hangat seperti hati keduanya.


🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤