The Last Blossom

The Last Blossom
Kata Malam ini



“Bundaa.. Elza pulang” kata Elza memasuki rumah.


“Sini nak makan, kamu pasti lapar kan?” Kata Ibu Ratih merangkul anaknya.


“Elza ganti baju dulu yah bun” kata Elza sambil tersenyum.


Elza masuk ke kamarnya dan melihat kembali gantungan yang ada di tasnya. Dia masih memikirkan kejadian di sekolah tadi, kenapa sifat Jemi seperti itu? Kenapa dia menyuruh Elza menyimpannya? Kenapa dia meningglkan Rose di UKS?. Semua pertanyaan itu tertanam didalam benaknya dan membuatnya bingung ada apa dengan perasaannya hari ini. Elza pun keluar kamar.


“Waah makanannya enak, apa jadinya aku tanpa bunda, aku tidak bisa memasak seenak masakan bunda” rayu Elza kepada Ibu Ratih.


“Kamu ini, makan banyak-banyak bunda sudah kepingin liat kamu besar” kata Ibu Ratih sambil tersenyum lebar melihat Elza.


Senyumannya dapat menular kepada siapapun yang melihatnya.


Situasi yang sangat berbeda terjadi di rumah Jemi. Saat jemi membuka pintu rumahnya yang sepi seakan menandakan kehidupan Jemi yang gelap dan sangat kesepian. Ia hanya tinggal bersama neneknya yang bernama Ibu Ami di kota itu sedangkan Ayahnya bekerja diluar kota sebagai pejabat, tak ada waktu untuk Jemi karena ia sangat sibuk. Jemi sudah terbiasa dengan itu.


“Ma aku pulang” Kata Jemi tersenyum melihat foto wanita yang terpajang di kamarnya. Ibunya sudah meninggal saat Jemi berumur 5 tahun sehingga dia bahkan tidak bisa merasakan kehangatan Ibunya selama ini. Tapi jauh di hatinya paling dalam ia sangat merindukan sosok Ibu yang bisa merawatnya seperti yang dilakukan semua Ibu kepada anaknya.


Senjapun terlihat di ufuk barat, cahayanya masuk kedalam kamar Jemi dengan terang seolah menyambut kehadiran Jemi yang telah kembali. Jemi mendekati jendela untuk merasakan kehangatan senja sore itu, ia duduk di sofa, sesekali melihat teleskop kesayangannya. Pemberian ayahnya saat ia berhasil meraih juara olimpiade Fisika saat SMP.


Apakah dia pernah memikirkanku? Merindukanku?. Kata jemi dalam hati.


Mengingat ayahnya yang sangat jarang berkunjung untuk melihat Jemi di kota itu, mereka bertemu hanya pada saat Jemi bersama neneknya pergi ke luar kota saat libur sekolah. Terlihat Jemi mengepalkan tangannya. Sangat terlihat bahwa dia benar- benar muak dengan kesendiriannya.


“Jemi kemu belum makan, turunlah untuk makan, nenek akan menginap di rumah tantemu, Lisa sakit jadi nenek akan membantu mengurusnya” kata Ibu Ami dari balik pintu kamar.


“Apa kamu mendengar nenek” Tanya neneknya sekali lagi.


“Nenek pergilah, aku akan menelpon pak Anto untuk menemaniku” kata Jemi dari dalam kamar.


“Baiklah” kata neneknya terdengar kecewa.


Pak anto merupakan supir pribadi yang pernah dipekerjakan ayahnya saat Jemi masih SD. Tapi pak Anto berhenti saat Jemi sudah memasuki sekolah menengah atas. Alasan itu yang membuat Jemi sangat mengenal pak Anto. Jemi pun menghubungi pak Anto untuk menemaninya. Beberapa saat kemudian.


“Tuan saya sudah di bawah” kata pak Anto di telpon.


Jemi turun untuk membuka pintu, Jemi terlihat tersenyum kepada pak Anto, sejauh ini Jemi hanya benar-benar tersenyum pada orang yang telah mengenal dirinya dengan dekat.


“Masuk pak, silahkan” Jemi mempersilahkan.


“Baik Tuan” kata pak Anto.


Merekapun duduk di teras rumah sambil berbincang dan bermain catur bersama.


Malam itu sangat indah bintang tampak berkelip disela awan yang tipis, bersanding dengan bulan yang menjadi pemeran utama saat kegelapan datang.


“Pasti tuan menganggap kelakuanku memalukan, sama seperti yang lain, yah itu sangat memalukan sebenarnya” kata Pak Anto sambil tertawa kecil seolah hal itu bukan kesalahan besar.


Usia Pak Anto memasuki 27 tahun berbeda sekitar 11 tahun dengan Jemi.


“Aku orang yang tidak bisa menebak” jawab Jemi dengan mengangkat alisnya.


“Semua orang membicarakan pertemuanku dengan Santi di Lab, ku akui cinta memang gila. Hari itu aku bertengkar dengan Santi dan Santi sempat melempar kaca preparat dan mengancam untuk mengiris tangannya, adegan itu yang kamu lihat bukan? Aku melihatmu di pintu lab tapi mengabaikanmu karena terlalu hawatir dengan Santi, aku membalut goresan di tangan Santi. Pada saat itu juga guru fisika masuk dan melihatnya.. Aaah … dia memang masih belum dewasa tapi entah kenapa aku menyukainya tulus” jelas Pak Anto dengan senyum tanpa rasa ragu.


“Aku tau kalian bertengkar, maka dari itu aku mengawasi keadaan dari luar. Tapi gadis itu datang membuatku membeku dan tak bisa menahan diri sehingga setelah menahannya untuk, aku langsung pergi dari sana” ungkap Jemi.


“Masih gadis itu? Waah tuan memang setia, apakah tuan menyapanya dengan baik?” Tanya Pak Anto.


“Aku menyuruhnya pergi, aku hampir gila setiap melihatnya. Entah kenapa beberapa hari ini aku selalu berhadapan dengannya, bahkan conapus ada ditangannya” kata Jemi.


“Berarti tuan sudah ada peningkatan, daripada melihatnya di balik buku perpustakaan dan pos jaga, lebih baik maju dan mendekat. Menyukai itu bukan dosa. Apalagi teleskop kecil itu sudah menyambungkan tali dengan ajaib” ungkap Pak Anto sambil menepuk pundak Jemi.


“hmm…(tersenyum), aku belum tau itu akan tersambung dengan baik ataukah tidak, dia masih sangat baik, super baik dan cantik. Aku tidak bisa bersama dengan gadis yang terlalu baik” kata Jemi sambil menggerakkan catur kudanya dan menskak mat pak Anto.


“Baiklah aku kalah, semoga tuan tidak akan menyesal nantinya” kata Pak Anto.


“Aku sudah tidak disekolah untuk menemani tuan, maka tuan haruslah berusaha menatapnya dari jauh sendirian mulai sekarang” sambung pak Anto dengan tertawa bercanda.


“Itu melelahkan tapi aku menyukainya” balas Jemi dengan senyum manisnya.


Kilas balik. Pak Anto adalah calon supir yang paling muda diantara pelamar yang lain. Sewaktu itu Ayah Jemi mengetes para pelamar untuk membujuk Jemi berbicara. Siapa yang bisa berbincang dengan Jemi dia yang akan diterima sebagai supir pribadi untuk anaknya. Pelamar kebanyakan merayu Jemi dengan banyak permainan dan makanan namun lain halnya dengan Pak Anto, ia hanya duduk sambil mengikuti semua gerakan yang dilakukan Jemi. Hal itu tentu mengganggu Jemi.


“Apa kau tidak sekolah? Apakah kau harus bekerja disini? Aku tidak butuh siapa-siapa!” kata Jemi dengan nada menekan dan ekspresi datar.


“Hanya ini keahlianku, menemani seseorang yang membutuhkanku, aku akan sedih jika tidak bisa menemani orang yang sebenarnya ingin ditemani” ungkap Pak Anto.


“Apa kesukaanmu?” Tanya Jemi.


“Membaca buku, bepergian dengan menyetir, bermain catur, dan duduk. Umurku memang mungkin terlalu muda untuk menjadi supir kepercayaan. Tapi hobiku sangat mirip dengan hobi orang berumur bukan?” kata Pak Anto dengan tersenyum.


Karena hal itulah Pak Anto diterima sebagai supir pribadi Jemi sejak itu, mereka berdua sangat melengkapi dengan hobi yang sama dan pembicaraan yang selalu berbeda pendapat justru membuat keduanya tampak cocok.


Kembali ke teras rumah.


“Apa rencana bapak kedepannya?” Tanya Jemi.


“Aku akan menunggu Santi selesai sekolah dan menikahinya” jawabnya datar namun serius.


Jawaban itu membuat Jemi tertawa dan Pak Anto ikut tertawa. Mereka melewati malam yang panjang dengan kisah yang tulus dan membingungkan. Biarlah waktu yang menjawabnya.