The Last Blossom

The Last Blossom
Setangkai Tulip "Pengakuan"



Lagu Till We Meet Again beralun disudut meja kamar Elza mengawali hari ini. Elza bersiap-siap mengenakan seragam. Hari ini dia tidak mengikat rambutnya, dia mencoba membiarkan rambutnya terurai panjang dan bergelombang dengan indah. Dia mengambil tas ransel biru yang baru dibelikan oleh Ibunya di kota kemarin tas itu sangat lucu dengan banyak gantungan. Tak lupa Elza memindahkan gantungan teleskop Jemi ikut berkumpul dengan gantungan lainnya di tas baru Elza.


“Bundaku memang terbaik” kata Elza dengan wajah ceria keluar dari kamarnya mengacungkan jempol kepada Ibu Ratih.


“Ada apa hari ini? Elzaku sangat sangat cantik” seru Ibu Ratih menggoda anaknya.


“Aku akan cantik, secantik tas yang Bunda dan Ayah pilihkan” jawabnya memeluk Ibu Ratih.


“Ini kotak bekalnya. Berangkat sana, kamu nanti telat” kata Ibu Ratih.


“Okeei. Elza pergi dulu bun” kata Elza sambil mencium tangan Ibu Ratih.


Sesampainya di sekolah, di depan gerbang terlihat seorang anak berdiri memegang bunga di tangannya. Iapun menghampiri anak itu, tanpa bicara anak itu memberikannya setangkai bunga tulip dan berlari pergi. Elza merasa tersentuh dengan kelakuan anak tadi sangat manis dan melengkapi keceriaannya hari ini. Elza pun berlari memasuki sekolah karena sebentar lagi Bell berbunyi.


“Waah bunga untuk siapa itu? Hayooo” kata Baby yang sudah nongkrong di depan kelas sepagi ini.


“Aku mendapatkannya dari anak kecil tadi” Kata Elza.


“Hari ini kamu akan beruntung” kata Baby tersenyum.


“Amiiiin” jawab Elza dengan harap.


“Hari ini Elza cantik kan? Wooow Elza sudah berubah teman-teman” teriak Rafi saat datang.


“Hatinya berbunga seperti itu, jadi biarkan dia, jangan ganggu!” kata Baby menunjuk bunga yang dipegang Elza sambil tersenyum.


“Aku iri” kata Rafi tersenyum dan masuk kedalam kelas.


“Kau membuat gossip lagi, ini hanya dari anak kecil” kata Elza membela diri.


“Ayo, ayo kita masuk saja” sambil merangkul Elza masuk kedalam kelas.


Dari kejauhan terlihat Jemi duduk di bangku taman mengamati Elza, dia tersenyum melihat bunga ditangan Elza. Jelas dia yang merencanakannya. Dia melanjutkan permainan game di handphonenya dengan semangat.


“Aku akan menang kali ini” kata Jemi sambil memainkan gamenya.


Jam masuk pun berbunyi semua siswa berlari masuk kedalam kelas mereka. Riuh kelas berhenti saat guru mata pelajaran melangkah masuk ke 11 C.


“Selamat pagi anak-anak” Kata Ibu Lia.


“Selamat pagi bu” jawab semuanya serentak.


“Elza tolong ke perpustakaan mengambil buku paket biologi” suruh Ibu Lia.


“Baik bu” Lia lalu berdiri dari tempat duduknya menuju perpustakaan.


Sesampainya di perpustakaan. Saat Elza mengambil buku paket tiba-tiba penjaga perpus memberitahukan Elza bahwa kemarin ada buku sastra yang masuk berjudul Laluba, buku itu direkomendasikan untuk Elza yang senang dengan puisi. Elza pun pergi mengambilnya di rak paling belakang. Karena buku tersebut berada di rak ke 5, Elza kembali pergi mengambil kursi untuk dipijakinya tapi ia masih tak sampai.


“Sesuatu yang berharga memang sangat tinggi” kata Elza mencoba meraih buku itu dengan tangan kecilnya. Namun tak berhasil.


“Ada yang bisa di bantu?” kata seseorang di belakang Elza. Ternyata dia Kiera, siswa terpopuler di sekolah karena tampilan dan kedudukannya sebagai wakil OSIS.


“Aku ingin mengambil buku itu” kata Elza menunjuk buku Laluba.


“Biar ku bantu” kata Kiera sambil naik ke kursi untuk mengambil bukunya.


“Ini dia” sambung Kiera sambil memberikan buku itu kepada Elza.


“Terima kasih” kata Elza dengan senyum.


“Kalau begitu aku harus kembali ke kelas” kata ELza sambil melihat jam tangannya.


“Oke silahkan” jawab Kiera.


Setelah berhasil mengambil buku sastra itu, Elza mengambil buku paket yang telah diperintahkan oleh Ibu Lia dan iapun bergegas pergi ke kelasnya.


“Rafi bagikan!” kata Ibu Lia pada saat melihat Elza sudah didepan pintu kelas, sepertinya dia marah karena Elza terlalu lama.


Elza merasa bersalah karena keterlambatannya, iapun menunduk meminta maaf kepada Ibu Lia. “Maaf bu”. Katanya sambil kembali ke tempat duduknya.


“Kamu kok lama banget sih?” Tanya Baby.


“Lagi ketemuan kali” potong Rose yang duduk disampingnya.


“Aku meminjam buku ini tadi” sambil memperlihatkan buku itu kepada Baby.


“Seleramu memang membosankan” ungkap Baby melihat buku yang ditunjukkan oleh Elza.


“Begitulah” kata Elza sambil mengangkat bahunya. Mata pelajaranpun berlangsung.


Saat semua orang mengerjakan tugas dengan teliti, Rose yang pertama kali mengumpulkan tugas yang diberikan oleh Ibu Lia.


“Kau memang keren” kata Rafi melihat Rose mengumpulkan tugasnya.


“Terima kasih” Jawab Rose tersenyum menyindir.


R : Apakah Jemi sedang di kelasmu? Apa yang dia lakukan sekarang?


P : Seperti biasa dia tertidur dan tidak memperdulikan guru. Astaga kau benar benar menyukainya. Tapi kalian memang cocok. Jemi sangat pintar fisika dan kau anak kesayangan Pak Roy hehe.


R : Maka dari itu aku sangat menyukainya, tanpa belajar dia sangat mudah mengerti segalanya.


P : Aku akan mengurusmu dengannya, tenang saja. Apalagi kabar kedekatanmu dengan Jemi sudah diketahui banyak orang.


R : Itu kabar baik, jadi tidak ada yang bisa mendekatinya selain aku hehe..


P : Kalau begitu akan ku salamkan kau padanya, tenang saja.


R : Terima kasih ^ ^~


Setelah berhasil mendapatkan Prisil sebagai penyambung dirinya dengan Jemi, Rose terlihat sangat bahagia hari itu.


Jam istirahatpun berdering. Rose bergegas ke kantin dengan teman-temannya. Begitupula Baby dengan ganknya. Elza memasukkan buku pelajarannya ke dalam tas dan mengambil buku sastra serta kotak bekalnya, lalu berjalan menuju taman depan kelasnya. Dibawah pohon yang rindang dia membaca sambil memakan masakan Ibu ratih yang terlihat sangat enak. Hal itu sangat menyenangkan bagi Elza, banyak senyum di wajahnya saat membaca beberapa lebaran di buku itu.


“Kau!” seru Jemi yang tiba-tiba menghampiri Elza.


Elza yang kaget akan hal itu hampir menjatuhkan kotak makannya, untungnya tangan Jemi dengan sigap memegang kotak makan itu. “Maaf, maaf” kata Elza sambil menutup kotak makannya.


“Kenapa kau duduk disitu?” Tanya Jemi.


“Mm, aku setiap hari makan disini. Kalau kamu mau duduk silahkan. Aku akan pergi” kata Elza.


“Tidak perlu, kau duduk saja disana. Siapa yang peduli” jawab Jemi ketus.


“Mm baiklah” kata Elza. “Apa kamu mau?” tawar Elza sambil membuka kotak makanannya yang berisi dua roti lapis.


“Tidak” jawab Jemi ketus, hanya fokus membaca buku yang berjudul komet. Namun tiba-tiba perut Jemi berbunyi, terdengar sangat jelas oleh Elza yang duduk bersebrangan dengannya.


“Buang malumu, dan makanlah. Aku akan pergi jika kamu sungkan aku disini”


“Tidak perlu” jawabnya lagi sambil menahan malu. Namun beberapa saat kemudian terdengar lagi bunyi dari perut Jemi.


“Kamu diet yah” kata Elza, karena tidak tahan dengan keangkuhan Jemi. Akhirnya dia memberanikan diri untuk duduk di samping Jemi.


“Kalau kamu tidak sungkan denganku, maka makan ini” tegas Elza sambil memberikan Jemi kotak bekalnya. Jemi menoleh kewajah Elza dan mereka bertatapan beberapa saat.


“Sini” kata Jemi sambil menarik kotak bekal yang dipegang Elza.


“Aku akan membaca, kamu tidak perlu menghiraukanku. Makan saja” kata Elza sambil fokus membaca buku.


Jemi melahap roti itu sampai habis. Setelah selesai makan dia melihat Elza yang sangat fomus membaca bukunya. Iapun melihat judul buku yang Elza baca dan tersenyum.


Akhirnya aku melihatmu dari jarak sedekat ini. Kata Jemi dalam hati sambil memandang Elza.


“Alih alih berbicara tentang mimpi, kini menulis ceruk-ceruk batin manusia yang paling dalam dan misterius, aku jatuh cinta dengan pengarangnya” kata Elza tersenyum sambil menutup buku karya Nukila Amal itu.


Kata-kata itu membuyarkan tatapan Jemi yang sedari tadi memandanginya.


“Kau sangat membosankan” kata Jemi menghadap kedepan.


“Tapi aku suka, bagaimana lagi” kata Elza berbalik dan tersenyum kearah Jemi.


“Aku juga suka” kata Jemi tiba-tiba.


“Kita punya selera yang sama berarti, kamu paling suka judul apa?”


“Aku tidak membaca buku sastra” jawab Jemi.


“Kamu bilang tadi suka” tanya Elza.


“Kamu” jawab Jemi cepat.


“Oooh kamu, tunggu…. apa? Aku?” Tanya Elza kaget dengan pernyataan Jemi yang tiba tiba.


“Tidak boleh?” kata Jemi sambil menatap wajah Elza dengan datar.


“Ituu, baiklah” jawab Elza salah tingkah.


“Jawaban apa itu? Sangat klise”kata Jemi dengan ekspresi datar.


“Aku akan menjawabnya dengan jelas saat kamu meminta gantungan mu kembali” kata Elza berdiri dari bangku taman.


“Namanya canopus, itu pemberian orang yang sangat penting” kata Jemi menatap balik Elza.


“Minta kapanpun kau mau, aku akan ke kelas. Sampai jumpa” kata Elza sambil tersenyum dan beranjak pergi.


Melihat Elza telah masuk kedalam kelasnya. Jemi memegang dadanya yang terasa sesak sedari tadi. Menyatakan pengakuan cinta lewat setangkai tulip dan perkataan singkat membuat jantung Jemi berdetak kencang untuk pertama kalinya.


“Jawaban apa itu? Baiklah? Apakah itu bisa disebut jawaban iya atau tidak? Waaah aku malu sekali” kata Jemi menutupi wajahnya dengan buku.