The Last Blossom

The Last Blossom
Puzzle



Hari yang menyenangkan dilewati oleh semua siswa. Satu persatu siswa turun dari bus untuk mengakhiri pelajaran sekaligus perjalanan hari ini. Elza dibantu oleh Baby menuju UKS sekolah untuk diperiksa oleh dokter yang telah dihubungi Ibu Lia. Jemi terlihat mengamati Elza dari jauh.


“Kenapa bisa seperti ini?” Tanya Dokter Vani.


“Terjerat di akar pohon buk” Jawab Elza.


“Berbaringlah, ibu akan mengompresnya terlebih dahulu” Dokter Vani membantu Elza untuk berbaring di atas crank.


Jemi terlihat menunggu di depan pintu UKS bersama Raka.


“Ada apa kamu dengan Elza?” Raka penasaran dengan sikap Jemi.


“Bukan urusanmu” jawabnya Ketus seperti biasa.


“Ooo Tuhaaan, kau tahu, karena kau membantu Elza tadi aku terjebak bersama Baby. Tak ku sangka Baby ternyata sangat lincah dan mulutnya tidak bisa diam. Lalu kau hanya bilang bukan urusanku” Raka melemas mendengar jawaban dari Jemi.


“Dia hampir mirip denganmu, kalian cocok” kata Jemi tersenyum.


“Waaah itu pasti sangat lucu sampai bisa membuat patung sepertimu tersenyum. Aku sungguh orang yang berhati mulia bisa berteman denganmu” Kata Raka sambil berjalan bolak balik di hadapan Jemi.


“Duduklah, terima kasih telah menyelesaikan tugas kelompok” Sahut Jemi.


“Maka teraktir atau makan, atau panggil aku ke rumahmu untuk bermain gim, bagaimana?” bujuk Raka.


“Aku akan mentraktir mu makan” jawab Jemi cepat.


“Kau memang orang kaya pelit, bahkan gim pun tidak mau berbagi” Raka mengomel.


Jemi yang mendengar itu hanya tersenyum tipis sambil menoleh ke dalam UKS. Ia melihat jam tangannya.


“Kau punya mobil jeep kan?” Tanya Jemi kepada Raka.


“Kenapa?” Tanya Raka balik.


“Aku ingin meminjamnya, berikan kuncinya kepadaku” Jemi menengadahkan tangannya ke depan Raka.


“Sudah ku duga kau ada hubungan dengan Elza” Kata Raka, Jemi langsung menutup mulut Raka keras.


“Mmmmm..mmmmmmm” tak terdengar kata apa yang ingin dikeluarkan oleh Raka.


“Tolong jangan beri tahu siapa-siapa” Jemi melepaskan tangannya dari mulut Raka.


“ffuuuuh” Raka menghela nafas. “Kau hampir membunuhku, pakailah sampai kau bosan teman” sambung raka menepuk pundak Jemi dengan tawa yang tertahan, membuat Jemi juga salah tingkah.


“Akhirnya kau akan berutang budi padaku kawan, ini kuncinya..” Raka mengejek Jemi dan pose piss sebagai tanda maaf sekaligus.


“Tamat jika kau menyebarkannya” Jemi tersenyum kepada Raka. Raka yang mendengar itu memberi hormat kepada Jemi. “Siap, perintah diterima”katanya.


“Apa yang kau lakukan, hormat juga untukku sekali” Tiba-tiba Baby keluar menopang Elza.


“Aahh aku baru saja mendapat kotak Pandora dari Jemi” gurau Raka ditatap tajam oleh Jemi.


“Baiklah aku diam, Beri aku kunci motormu. Mari baby aku akan mengantarmu untuk pertama dan terakhir kalinya” Ajak Raka sambil menangkap kunci motor yang di lemparkan Jemi.


“Sepertinya aku terlalu banyak berbuat baik hari ini” Baby merangkul tangan Raka dan melepaskan Elza.


“Pulanglah, terima kasih Beb” kata Elza.


“Aku duluaaan, hatiii-hatiiii Elzaaa” Baby ditarik pergi oleh Raka. Membuat Elza tertawa kecil melihatnya.


“Kau sepertinya sudah sembuh” sahut Jemi memegang pundak Elza.


“Tidak perlu seperti ini, masih ada dokter di dalam” Elza melepas tangan Jemi dari pundaknya.


“Mmm tunggu aku disini, aku akan mengambil mobil dulu. Aku mengantarmu pulang sampai di rumah” Jemi berlari menuju parkiran tanpa mendengar tanggapan dari Elza.


Elza yang melihat itu tersenyum gembira.


“Mari ku bantu” Jemi menawarkan lengannya untuk membantu Elza. Elza pun meraihnya dan masuk kedalam mobil.


“Kau tidak perlu repot-repot, anak kelas lain masih di sekolah sekarang” kata Elza tak enak hati.


“Teman kelas kita sudah pulang semuanya, dan yang lain masih di kelas masing-masing. Jadi jangan khawatir” kata Jemi tersenyum sekilas kepada Elza.


“Terima kasih” jawab Elza dengan senyum lebar.


“Dimana aku bisa memarkir mobil?” Tanya Jemi saat hampir tiba di ujung lorong.


“Di sana, semua petani pasti masih bekerja sekarang jadi masih sempat parkir di sana” Elza menunjuk jalan masuk ke ladang.


“Baik aku akan memarkir nyonya” gurau Jemi.


“Aku takut melihatmu bergombal. Jangan ulangi lagi!” kata Elza sambil tertawa.


“Raka juga kaget melihatku tersenyum, apakah salah? Aku juga manusia” jawab Jemi sambil memarkirkan mobil.


“Itu karena kau sangat dingin. Apakah kau tahu aku alergi dingin, maka dari itu jangan dingin lagi. Aku bisa bersin” Elza bercanda lagi.


“Sungguh? Aku akan mencobanya” balas Jemi terseyum tipis.


“Aku bisa naik sendiri, kau bisa pulang” Elza menatap Jemi.


“Mana bisa aku pulang dengan tatapan itu, aku malah ingin tinggal” kata jemi dengan ekspresi datar.


“Aku sangat merepotkanmu hari ini” Elza tertunduk.


“Cerewet!” Jemi turun dari mobil dan bergegas membuka pintu untuk Elza.


“Turunlah” Kata Jemi sambil menawarkan lengannya lagi.


“Akhirnya….” Elza lega.


“Ambil ini, kita tidak akan bertemu 3 hari kedepan karena kakimu masih bengkak, anggap itu aku” Jemi memasukkan Canopus ke dalam saku jaket Elza.


“Dia memang punyaku” Kata Elza lagi-lagi tersenyum.


“Apa perlu ku antar masuk?” Tanya Jemi sampai di depan rumah Elza.


“Tidak perlu, aku akan masuk sendiri. Keburu malam jika kau tak pulang sekarang” Jawab Elza.


“Baiklah, aku akan pulang sekarang” Kata Jemi berbalik .


“Bawa ini, kau pasti haus” Elza menghentikan langkah Jemi dan memasukkan sebotol air minum di tas Jemi.


“Terima kasih” Jemi berbalik kembali dan berjalan mundur meninggalkan Elza.


“Sudah, berbaliklah. Kau nanti jatuh” teriak Elza.


Akhirnya Jemi berbalik dan melambai ke belakang.


Jemi sampai di bawah bukit. Terlihat seseorang sedang mengawasinya dari jauh. Orang itu memakai masker hitam dan pakaian serba hitam. Saat Jemi mencoba mengejarnya, orang itu pergi dengan menaiki motornya.


“Aaah sial, siapa dia. Mencurigakan sekali” Jemi berhenti setelah berusaha mengejar motor penguntit itu.


Jemi menelpon Pak Anto untuk mencari tahu orang yang mengikutinya dengan menyebutkan DD motor orang itu.


“Tolong cari tahu Pak, dia sungguh mencurigakan” Kata Jemi.


“Baik tuan, apa perlu saya beri tahu bapak?” Tanya Pak Anto.


“Jangan, tidak perlu. Ini menjadi rahasia kita saja” Balas Jemi sambil menutup teleponnya.


Jemi pun pulang kerumah. Pak Faiz terlihat menelpon seseorang di ruang tamu.


“Apa Ayah belum pergi?” Kata Jemi melihat ayahnya.


“Baik, ku tutup dulu” Pak Faiz menutup teleponnya dan menghampiri Jemi.


“Mobil siapa yang kau pakai itu?” Tanya Pak Faiz.


“Temanku, Ayah belum menjawab pertanyaanku” katanya datar.


“Apakah salah jika Ayah tinggal beberapa hari disini?” Tanya Ayahnya.


“Aneh saja, ini baru kali pertama sejak Ibu meninggal” Jemi berbalik menuju kamarnya.


“Ayah tidak disini, bukan berarti kau seenaknya melakukan sesuatu. Jangan meminjam mobil teman mu lagi. Beri tahu ayah jika kau butuh mobil, Ayah akan kirimkan kesini” nada Ayah Jemi terlihat kesal melihat anaknya yang meminjam barang temannya.


“Tidak perlu, lagipula besok akan ku kembalikan” Jemi kembali menaiki tangga menuju kamarnya.


Pak Faiz menghela nafas. Ibu Ami yang melihat perdebatan diantara keduanya menghampiri Ayah Jemi.


“Sejauh ini dia baik-baik saja” Ibu Ami menepuk pundak Pak Faiz.


“Apakah Jemi sudah mulai menyukai seseorang?” Tanya Ayah Jemi.


“Hal itu normal untuk anak seusianya” Jawab Ibu Ami.


“Tidak Ibu, Jemi tidak boleh menyukai sembarang gadis. Ibu tahu aku ini anggota dewan, apa jadinya jika dia dikabarkan dengan orang yang tidak jelas seluk beluk keluarganya. Itu bisa mencoreng nama keluarga kita. Aku sengaja mengajak keira kesini, itu karena aku sudah sejak jauh hari berencana menjodohkan Jemi dengannya. Mereka sangat cocok bukan? Keira akan membawa dampak positif untuk Jemi dan keluarga kita” Jelas Pak Faiz.


“Aku tidak bisa membenarkan dan menyalahkan hal itu. Tapi biarlah dia memilih dulu, tiba saatnya dia mengerti dia akan mendengarkanmu. Sejujurnya dia sangat kesepian disini” Ibu Ami menunduk mengingat keseharian Jemi.


“Aku akan mendaftarkan dia untuk latihan golf, agar dia memiliki kesibukan, besok aku harus kembali ke kantor. Tolong jaga Jemi” kata Pak Faiz.


“Baiklah. Itu bagus” jawab Ibu Ami sambil tersenyum.


Disudut tangga Jemi mendengar semua hal itu, membuat dia turun dan menemui ayahnya. Pak Faiz yang melihat itu, mengisyaratkan Ibu Ami untuk meninggalkan mereka berdua.


“Kau mendengar semuanya bocah nakal” Kata Pak Faiz dengan senyum.


“Ayah tidak berhak mengaturku, kenapa tiba-tiba seperti itu?” Tanya Jemi dengan raut wajah yang kesal.


“Kau anak Ayah jadi pasti menjadi urusan ayah. Hidupmu bukan semata-mata milikmu, ingat Jemi saat hidupmu tidak berjalan baik nama ayahmu dan ibumu akan ikut di belakangnya maka dari itu perhatikan setiap perlakuanmu.” Tegas Ayahnya.


“Aku belum pernah mengecewakan ayah, tapi apakah harus dengan perjodohan? Hal itu sangat konyol” bantah Jemi.


“Ayah dan Ibumu juga dijodohkan, bahkan Ibumu dan Ibu keira juga bersahabat. Apakah ayah salah? Keira adalah anak yang multitalent. Dia sangat cocok denganmu, Ayah tidak memaksamu menikah sekarang. Itu tidak mungkin, tapi dari sekarang kau harus sadar akan derajat keluarga yang harus kau jaga. Itu tanggung jawabmu” Pak Faiz memegang pundak anaknya.


Mendengar hal itu Jemi hanya melepaskan dirinya dari genggaman ayahnya dan pergi menaiki tangga.


“Pak Anto akan kembali bekerja sebagai pengurus rumah dari sekarang!” teriak ayahnya dari bawah. Jemi menghiraukannya.


Jemi menutup pintunya dan melempar tasnya ke tempat tidur.


“Aaaaah” teriak Jemi sambil bersimpuh di hadapan foto ibunya.


“Apakah ini yang ibu inginkan, sungguh?” Jemi meneteskan air matanya. Wajahnya layu tak lagi teduh namun mendung.


“Apakah orang yang mengikutiku tadi suruhan ayah?” Jemi membasuh air matanya setelah terpikirkan akan kejadian di bukit tadi.


Jemi dengan segera menelpon Pak Anto untuk menanyakan hal itu. Telepon beberapa kali berdering namun tak di angkat.


🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤


jangan lupa like+vote dan komen yah. ..👍☺️