
Jemi turun dari kamarnya dengan membawa tas. Sementara ayahnya di ruang kerja di panggil oleh Pak Anto untuk mencegah Jemi.
“Maaf tuan, Jemi sepertinya ingin pergi” Kata Pak Anto tergesa-gesa.
“Anakmu satu-satunya ingin pergi apa kau akan diam saja seperti itu. Jika seperti ini aku akan mengambilnya dan tidak akan pernah membiarkanmu mengambilnya dari ku” Ibu Ami masuk dan mengancam menantunya yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri.
Pak Faiz keluar dengan mengepalkan tangannya.
“Berhenti disana!!” teriaknya.
Jemi yang sudah siap menaiki motornya berhenti seketika.
“Sampai kapan Ayah akan menyalahgunakan kekuasaan ayah? Kepada orang yang lemah?” Tanya Jemi melempar helmnya.
“Masuklah ayah punya pilihan untukmu” Ayah Jemi kembali melangkah masuk ke dalam rumah.
Namun tidak dengan Jemi. Ia mengambil helmnya dan melaju kencang meninggalkan rumah ayahnya.
Ibu Ami terjatuh. Melihat hal itu Pak Anto membantu Ibu Ami untuk berdiri dan membawanya masuk ke dalam rumah.
“Aku sungguh tidak mengerti apa jalan pikiranmu sebagai ayahnya Jemi. Anakmu hanya menginginkan kebebasan dalam memilih seseorang yang membuatnya bahagia, tapii ini? Ibu Jemi pasti kecewa jika melihatmu seperti ini” kata Ibu Ami.
Pak Faiz memegang jidatnya. “Maka dari itu sudah kubilang sebelumnya aku tidak bisa apa-apa tanpa ibu Jemi bu” Pak Faiz menunduk sedih.
“Keluarga ini sudah sangat sedikit, bahkan anakmu pun berfikir pergi darimu. Apa yang akan kamu lakukan?” Tanya Ibu Ami berdiri dari duduknya dan pergi menuju kamarnya.
Tinggal Pak Anto dan Pak Faiz disana,
“Berhentilah mengikuti Jemi dan anak itu, kembalilah ke sana dan jaga Jemi. Aku sungguh ingin yang terbaik untuk putera tunggal ku, aku tidak ingin masa depan dan keluarga kami dipandang rendah oleh orang lain. Itu alasanku menjauhkan Elza darinya. Sampaikan ini aku memberinya pilihan aku akan merestuinya jika Elza membuktikan diri bahwa dia bisa menjadi anak yang sukses kelak dan Jemi harus tinggal di sini. Pilihan kedua adalah dia tetap disana ataukah aku benar-benar akan menyalahgunakan kekuasaanku untuk menekan keluarga anak itu” Jelas Pak Faiz.
“Bukankah pilihan pertama terdengar bahwa anda tetap tidak merestuinya?” Pak Anto berani angkat bicara.
“Setidaknya jika mereka berjauhan, jarak dan waktu bukan milik mereka lagi, mungkin kamu benar tapi aku akan mempertimbangkan jika Elza benar-benar bisa menjadi sukses. Aku tidak bisa membiarkan Elza bersama dengan putera tunggal ku saat ini. Akupun punya tugas khusus yang harus kau sampaikan kepada orang tua Elza terutama ayahn nya. Ku harap kau ada di pihakku, kau berharap semua yang sempurna untuk Jemi kan. Akupun akan menanggung sekolah calon isteri mu” Pak Faiz melepas kaca matanya.
Mendengar itu Pak Anto menjadi bingung dan hanya bisa menunduk terhadap perintah majikannya.
“Iapun membeli kepercayaan dengan uang” kata Ibu Ami dalam hati mendengar perbincangan mereka berdua dari balik dinding ruang tamu.
Elza bersama keluarganya mempersiapkan kejutan untuk Rani, Elza terlihat menggosok balon di rambutnya agar bisa tertempel di palfon rumah. Ibunya dan bibinya mempersiapkan kue ulang tahun di dapur. Tiba-tiba seorang laki-laki berkunjung dan mengetuk pintu rumah.
“Assalamualaikum, Tante ohh maksudku Ibunya Rani ada?” Tanya lelaki itu. Terlihat lelaki itu tidak asing bagi Elza.
Beberapa saat Elza mencoba mengingat dimana ia pernah melihat wajah itu. Namun ingatannya buyar ketika bibinya keluar dan menjamu tamu itu.
“Yaaaah, kau tidak beritahu Rani kan?” Tanya bibinya seperti akrab dengan laki-laki itu.
“Kenalkan ini sepupu Rani, Elza namanya” bibinya memperkenalkannya.
“Elza” Katanya sambil tersenyum.
“Sandi. Sepertinya aku pernah melihatmu, tapi aku ragu dimana itu” kata Sandi berpikir.
Elza mengingat ekspresi itu. “aaa aku ingat yang bannya hari itu bocor kan?” kata Elza.
“Nahh ituu, aku ingat. Waaah benar dunia tidak selebar daun kelor” kata Sandi sambil tertawa lebar.
“Sip” hanya kata itu yang diucapkan Sandi dengan mengacungkan dua jempol.
“Kalau begitu aku akan meniup balonnya” kata Sandi. Dengan sigap Elza memberikannya balon huruf yang lumayan banyak. Membuat Sandi menghela nafas dan tertawa.
Di jalan Jemi mengebut kencang hingga diteriaki dan di klakson oleh pengguna jalan lain. Tidak menghiraukan itu Jemi tetap dengan kecepatannya. Pada akhirnya dia singgah di warteg untuk makan. Dia melihat pesan dari Elza yang mengirimkan fotonya penuh dengan kue terenyum menghadap kamera bersama dengan Rani sepupunya.
“Senyumnya sangat manis dan lugu, aku sungguh tidak pantas mendapatkannya. Ya benar aku yang tidak pantas, bukan dia” kata Jemi menyimpan hp nya kembali ke dalam tasnya.
Seseorang yang juga makan disana bersama Jemi seolah bisa membaca situasi yang terjadi kepada Jemi.
“Kau kabur?” Tanya nya dengan menyendok nasi yang menggunung di hadapannya.
Jemi tidak menghiraukan perkataan orang itu dan melanjutkan makannya.
“Kamu butuh teman, skill, dan keberanian untuk mengahadapi hidup. Tidak bisa hanya berbekal berani saja. Jika seperti itu pada akhirnya orang yang akan kau lindungi harus ikut memberanikan diri tanpa berani” jelasnya dengan makanan yang penuh di mulutnya.
Mendengar itu Jemi tak nafsu makan dan berdiri setelah menghabiskan es teh nya. Membayar dan mengambil tasnya, sepanjang jalan fikirannya kosong dengan kecepatan 100/km. Di perempatan lampu kuning telah menyala namun dia masih menerobosnya. Suara tarikan rem dan benturan yang keras memenuhi perempatan itu. Kiiiiiik Brruuk.
Ban motor Jemi berputar dan ia terlempar ke atas mobil.
Ibu Ami menjatuhkan kopernya setelah mendapat telepon dari rumah sakit.
“Faaaiiiiiiiz” teriaknya histeris dan kemudian pingsan.
Dengan wajah yang pucat Pak Faiz mengambil handphone milik Ibu Ami dan mendengarkan perkataan suster bahwa kini Jemi sedang kritis. Tanpa berkata apa-apa Pak Faiz mematikan telepon dan berlari mengambil kunci mobilnya, tanpa sadar iapun berlari tanpa menggunakan alas kaki.
Pak Anto yang mendengar hal itu juga ikut terjatuh di depan Ibu Ami. Ia berusaha membangunkan Ibu Ami. Para pembantu menolong Ibu Ami dengan membawanya ke kamarnya. Pak Anto sendiri berlari menuju rumahnya untuk mengambil motornya.
“Anak saya dimana sus? Dia baikkan?” Tanya Pak Faiz dengan wajah pucat.
“Pasien dengan atas nama siapa pak?” Tanya perawat.
“Jemi” katanya cepat.
“Pasien baru saja dilarika ke ruang ICU pak” jawabnya.
Dengan langkah terbata-bata Pak Faiz yang berjalan seperti tak sadarkan diri itu, akhirnya menangis tersedu-sedu di depan ruang ICU. Hanya satu harapannya, dia bisa melihat anaknya dan akan menuruti segala permintaan puteranya itu.
“Dok bagaimana anak saya dok?” Tanya Pak Faiz kepada dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU.
“Syukurlah dia selamat, dia tertolong karena cepat di larikan ke rumah sakit. Bapak bisa masuk” jelas dokter itu.
Dengan telanjang kaki Pak Faiz lari menemui putera tunggalnya itu dan memeluknya.
“Syukurlah, ayah bersyukur sekali. Jika kau tidak kuat maka ayah mungkin akan mengakhiri hidup ayah. Maaf nak maaf” Pak Faiz menggenggam tangan puteranya.
“Bapak bisa pakai sandal ini, kaki bapak berdarah. Apa perlu saya bantu?” perawat datang dengan memberikan sandal untuk Pak Faiz.
“Terima kasih sus, kakiku tidak ada sakitnya setelah melihat puteraku masih bernafas” kata Pak Faiz sambil menerima sandal yang diberikan oleh perawat itu.
“Baik, saya permisi pak”