The Last Blossom

The Last Blossom
Inikah Cinta?



Semua siswa berkumpul di lapangan sekolah. Elza adalah siswa yang terakhir memasuki lapangan. Dengan rambut yang terurai dan pakaian yang sederhana membuatnya tampak sangat cantik dengan syal di lehernya. Sekejap beberapa pasang mata tertuju padanya. Baby yang melihat perubahan Elza dari kejauhan berlari mengahmpiri Elza.


“Waah aku tidak tahu kau secantik ini” Kata Baby terpaku melihat Elza.


“Kau sangat melebihkan” senyum Elza.


“Serius, kamu nggak lihat sampai siswa laki-laki semuanya melihat kamu tadi” Kata Baby.


“Itu karena aku yang terakhir datang” Elza masih tidak percaya diri.


“Cek cek, apa semuanya sudah hadir?” Ibu Lia berteriak menggunakan pengeras suara.


“Sudah buuuuuk” teriak semua siswa.


“Kalau begitu ibu akan membagi kelompok, ibu akan mengacak nama kalian jadi kemungkinan besar kedua kelas akan berada pada kelompok yang sama” Jelas Ibu Lia.


Prisil terlihat bersama Rose berdiri dibelakang Jemi. Berharap ia dan Jemi bisa satu kelompok. Namun sialnya Rose harus menerima kenyataan bahwa dirinya tidak sapat bersama Jemi dalam satu kelompok. Ada siswa yang setuju dan tidak setuju atas pembagian yang dilakukan oleh Ibu Lia tapi Ibu Lia tidak akan mengubah keputusannya. Mereka pun naik keatas bus untuk berangkat. Rose masih mengikut dibelakang Jemi, melihat hal itu Elza hanya diam tak mengubris.


“Mereka benar-benar pacaran . aaah Rose sangat menunjukkannya terang-terangan” bisik Baby kepada Elza.


“Mungkin mereka belum pacaran” kata Elza duduk di kursi bus.


“Benarkah, bagaimana kau tahu?” Baby penasaran.


“Aku hanya menebak” jawab Elza sambil tersenyum. Elza masih menyembunyikan hubungannya, ia mempertimbangkan ucapan Jemi kemarin.


“Elza aku mau memberitahukanmu rahasiaku” kata Baby berbisik.


“Aku suka lelaki di samping” ungkap Baby tersenyum lebar.


Elza yang penasaran menengok siapa yang duduk di kursi yang berseblahan. Ternyata dia Raka dan Jemi. Jemi yang melihat Elza memberikan notice kelingking di hadapan Elza. Melihat itu Elza tersipu malu dan tersenyum.


“Kenapa kau tersenyum?, kau tidak menyangka bukan?. Raka tampan kan? Dia juga atletis” Baby terkekeh melempar banyak pertanyaan kepada Elza.


“Semoga beruntung beb” kata Elza trsenyum kepada Baby. Elza sadar betapa lugunya Baby yang mengungkapkan rasa sukanya kepada Raka.


Selama perjalanan beberapa siswa menyanyi bersama diiringi gitar oleh Pak Fikri. Perjalanan yang seru dan mengundang gelak tawa di atas bus saat Raka menceritakan kejadian lucu.


Perjalanan itu akhirnya berakhir, sampai dilokasi yang dituju. Daerah yang cukup luas dipenuhi rerumputan hijau, Pak Fikri mengumpulkan semua siswa. Setelah melakukan pembukaan dan doa bersama siswa diarahkan untuk mengerjakan tugasnya masing-masing dan berpencar sesuai kelompoknya masing-masing. Rose mengarahkan kelompoknya searah dengan Jemi. Sedangkan Elza berada dibarisan paling depan. Dia berjalan sendirian, semua teman kelompoknya berasal dari kelas 11 B sehingga membuatnya canggung.


“Namamu Elza kan? Anak desa itu bukan?” kata Ranti siswa kelas 11 B.


Elza hanya mengangguk dan tersenyum mengiyakan.


“Namaku Ranti, salam kenal” Ranti memperkenalkan dirinya.


“Salam kenal” Elza sambil berjabat tangan dengan Ranti.


“Elzaaaa” teriak Baby diantara siswa lain di belakangnya.


Seketika Elza berbalik namun tidak dapat melihat keberadaan Baby, akhirnya Elza memutuskan kembali ke belakang untuk mencari Baby di antara kerumunan kelompok lain. “Permisi.permisi…maaf” kata Elza sambil berusaha melewati kerumunan orang. Agar tidak kesusahan di tengah orang banyak akhirnya ia memutuskan untuk menepi di pinggir jalan untuk mencari Baby. Elza berusaha berjinjit untuk melihat Baby, ia terus berjalan.


“Elza, aku disiniiiii” teriak Baby melambaikan tangannya.


“Baby….” Seketika Elza memutar badannya untuk melihat Baby, namun ia di senggol oleh seseorang yang berlalu di sampingnya. Kakinya terlipat dan terjatuh, terdengar raungan kecil dari mulut Elza. Hal ini terdengar oleh Jemi, Jemi berusaha mencari keberadaan Elza.


“Elzaa..” Baby kaget melihat Elza terjatuh dan buru-buru menerobos kerumunan orang untuk membantu Elza.


“1 2 3 4 5 6 7 8 9..” Elza kembali menghitung dan menutup mata, tiba-tiba ada yang meraih tangannya. Ia membuka mata ternyata itu salah satu siswi yang melihatnya terjatuh sedangkan yang lain hanya tak acuh terhadap Elza.


“Berdirilah” Kata siswi itu.


“Terima kasih” Elza mencoba berdiri namun sepertinya kakinya terkilir sehingga menjerit kesakitan. “ Auuh..” jeritnya. Elza menahan air matanya yang sudah tergenang di kelopak matanya. Ia kembali menutup mata untuk menahan sakitnya.


Semua siswa akhirnya menghentikan perjalanannya karena mendengar jeritan Elza. Jemi sudah menemukan Elza yang duduk kesakitan, melihat itu Jemi sudah tak tahan.


“Kau baik-baik saja?” Tanya Jemi menghampiri Elza.


Elza membuka matanya dan melihat Jemi, air matanya tak tertahan lagi dan menetes begitu saja di depan Jemi dan siswa lain yang melihatnya.


“Bisa berdiri?” Tanya Jemi khawatir.


Elza menggeleng dan memegang erat kakinya. Melihat para siswa berkumpul akhirnya Pak Fikri berlari menuju kerumunan itu dan melihat Elza.


“Suda diperingatkan supaya hati-hati, sini bapak lihat” Kata Pak Fikri kepada Elza.


“Sudah jangan menangis” teriak Ibu Lia membuat siswa lainnya bubar dari kerumunan itu.


“Tahan sebentar saja, ini agak sakit” Pak Fikri meluruskan kaki Elza dan memutarnya dengan satu putaran lalu menariknya.


“Auuuuuh” Teriak Elza menutup matanya kesakitan. Namun berkat Pak Fikri Elza sudah bisa berdiri walau sedikit pincang.


“Jemi kau bantu Elza, Elza kau hanya perlu mencari satu jenis jamur, maka lebih berhati-hatilah. Poin mu akan tetap dikurangi”Jelas Ibu Lia tanpa ampun.


“Semuanya lanjutkan pencariannya!” teriak Ibu Lia lalu kembali ke titik awal perkumpulan meninggalkan Elza, Baby, Raka dan Jemi yang sekarang menjadi sekelompok.


“Dia memang jahat, tenang saja aku akan membantumu mencari 10 jenis jamur, dasar guru tidak berperasaan” Baby mengomel.


“Sudah, dia cukup baik masih mengijinkanku ikut mencari. Dia hanya hawatir” ungkap Elza.


“Sini ku bantu” Jemi mengangkat Elza dan membantunya berjalan.


“Untuk mencari 20 jenis jamur, aku mencarikan Elza dank au harus mencarikan 10 untuk Jemi, OKE!” kata Baby kepada Raka.


“Kenapa harus aku?” Tanya Raka.


“Karena hanya kau dan aku yang bisa melakukannya, mereka berdua akan jalan telalu lamban, kamu mau kelompok kita menjadi yang terakhir?” Baby mengucapkannya dengan sangat cepat sehingga membuat Raka bingung.


“Mari aku yang menopang Elza” kata Raka.


“TIDAK BOLEH!!” Jemi dan Baby bersamaan.


Membuat Elza dan Raka kaget.


“Maksudku terlanjur aku, kau duluan saja dengan Baby” Jelas Jemi.


“Yah benar sekali, siniii” Baby menarik tangan Raka menyusul teman yang lain untuk mengumpulkan jamur.


“Kau menertawakanku?” Tanya Jemi.


“Baby, bukan kamu!” kata Elza sambil menunjuk punggung Baby yang sudah jauh.


“Kau masih bisa tersenyum setelah menangis seperti tadi, kau sangat jelek saat menangis” ungkap Jemi.


“Siapa bilang aku cantik” Elza menunduk tersinggung karena perkataan Jemi.


“Kau juga baperan” sambung Jemi lagi sambil tersenyum.


“Tidak” mata Elza spontan menatap lekung wajah itu, dua pasang mata itu lagi-lagi bertemu.


“Jangan memandangku seperti itu, kau dalam bahaya” kata Jemi tanpa ekspresi.


Elza mengalihkan matanya ke bawah, dadanya terasa berderuh ingin meledak setiap menatap Jemi seperti itu.


“Kau kalah” kata Jemi tersenyum melihat sisi samping wajah Elza yang tertunduk.


“Kau harus kuat, jangan pernah menangis di depanku lagi” ungkap Jemi.


Jemi sangat membenci melihat air mata seseorang, itu mengingatkannya saat kematian Ibunya dimana semua orang menangis, namun beberapa bulan kemudian melupakan Ibunya dengan begitu saja. Mereka tak ada yang pergi bersiarah di tempat peristirahatan terakhir Ibunya, bahkan ayahnya sekalipun. Hanya Jemi dan neneknya yang setiap minggu kesana. Itulah alasan Jemi tidak ingin tinggal dengan ayahnya. Dia takut tidak akan ada lagi yang mengingat ibunya disini.


“Duduklah dulu, kau pasti lelah” Kata Jemi membantu Elza duduk di bebatuan.


Elza membuka tasnya dan mengambil botol air, memberikannya kepada Jemi.


“Kau yang lebih lelah, aku past berat” Elza tersenyum.


“Kau yang minum duluan” kata Jemi membuka tutup botolnya.


“Baik” Elza meminum airnya. Lalu memberikannya kepada Jemi.


“Terima kasih gadis baik” gombal Jemi.


Elza tertawa kecil mendengar gurauan kuno dari Jemi.


“Bukankah ini Jamur?” Elza melihat ada jamur tanah di belakang bebatuan yang didudukinya.


“Clitocybe nebularis” Kata Elza tersenyum bahagia mendapatkan jamur pertamanya.


“Kau sangat mudah bahagia, haruskah kita mencatatnya?” gurau Jemi megambil kertas dan pulpen di dalam tasnya perlahan.


“Ada jurnal di tasku. Tunggu” Elza mencari jurnal yang sudah ia baca di bus sebelumnya.


”Ini dia, mari kerjakan bersama” sambung Elza tersenyum mengambil kertas yang dipegang Jemi. Mereka bekerja sama mengerjaka lembar penelitian.


Di balik bebatuan besar Rose melihat Elza dan Jemi yang sedang bersama. Prisil disampingnya menguatkan Rose. Bahwa yang dilihatnya hanya kerja kelompok tidak lebih dari itu. Tapi Rose sudah tahu yang sebenarnya Jemi menyukai Elza, namun ia tak ingin mundur kalah karena Elza hanya gadis desa yang tidak pantas bersama Jemi.


“Aku tahu, dia tidak pantas”.


“Ayo kita kembali ke titik perkumpulan” ajak Prisil menarik lengan Rose.


Jemi melihat arah jarum jamnya yang sudah menunjukkan pukul 12 siang, matahari sangat terik dan sudah waktunya makan siang.


“Kita harus kembali ke titik perkumpulan, jika kita berjalan seperti tadi maka kita akan sampai sore nanti, kakimu masih sakit jika dipaksakan nanti tidak bisa berdiri lagi. Aku akan menggendongmu!” raut wajah Jemi berubah serius menatap dalam mata Elza untuk meyakinkan.


Tanpa diduga Elza mengangguk membuat tangan Jemi meraih tubuh Elza yang mungil itu dan mengangkatnya. “Pegangan, aku akan berjalan secepat mungkin” kata Jemi menunduk melihat wajah manis Elza.


Elza hanya bisa membalas semua perkataan Jemi dengan anggukan karena baru pertama kali diperlakukan seperti itu oleh seorang lelaki.


“Maaf aku membawamu dengan cara seperti ini, sepertinya kita harus menanggung gossip itu bersama-sama” ucap Jemi tersenyum dengan tubuh Elza di kedua tangannya yang terguncang.


Tubuh Elza pun ikut terguncang karena langkah Jemi yang cepat. Elza memandang garis wajah pacarnya yang tegas dan hangat itu. Membuat hatinya tak henti-hentinya berdebar. Jemi mungkin menyadari Elza yang memandanginya namun ia fokus melihat jalanan yang dilaluinya dengan hati-hati.


“Terima kasih, aku merepotkanmu lagi” sahut Elza. Jemi hanya tersenyum lebar.


Senyumnya sangat hangat membuat hati terasa tenang. Mungkin alasan tuhan tidak membuatnya selalu tersenyum karena bidadari pun akan jatuh cinta dengan senyuman Jemi yang lembut dan menenangkan.


Akhirnya mereka sampai ke titik perkumpulan. Baby berlari menuju Elza. Hal itu menjadi tontonan dua kelas itu selkaligus Pak Fikri dan Ibu Lia.


“Kakinya masih sakit Pak, dan sulit berjalan” kata Jemi terengah-engah menurunkan Elza dari tangannya.


“Ini memang bengkak. Sepertinya keseleo” kata Pak Fikri melihat kaki Elza.


“Bawa dia ke bus” perintah Pak Fikri kepada Jemi.


Elzapun naik ke bus untuk beristirahat dan makan siang. Dia ditemani Jemi yang juga makan bersama Pak Fikri untuk menjaga Elza.


“Aku bisa sendiri Pak, kalian bisa kembali bergabung dengan yang lain. Lagipula ada supir bus disini” ujar Elza.


“Jemi kau tetap disini, karena dia teman kelompokmu. Biar 2 lainnya yang menyelesaikan pekerjaan tugas kalian” jelas Pak Fikri.


Jemi mengeluarkan lembar penelitian yang dilakukannya bersama Elza.


“Ini hasil kerja kami pak, tolong berikan kepada Ibu Lia” kata Jong.


“Baiklah, kau juga istirahat, kau sudah berlari menggendongnya” ujar Pak Fikri.


“Terima kasih pak” ucap Elza dan Jemi bersamaan.


“Makanlah lalu tidur, setiba di sekolah kau akan di obati di UKS” Jemi menepuk tangan Elza lembut.


Melihat mereka berdua supir bus bertanya “Apa kalian pacaran?” sambil tersenyum melihat kedekatan keduanya..


“Mmmm(sambil tersenyum)” perkataan Elza dipotong oleh Jemi.


“Kami dekat” jawabnya cepat.


Mendengar itu Elza tersenyum, setidaknya Jemi tidak menjawab tidak kali ini.


🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤


Jangan lupa like+coment+rate 5+vote.. semangat buat semua outhor ❤️ happy readers🤗