
Jeff menyapa para petani di kebun teh. Kabut masih mengambang menutupi perkebunan, terlihat para petani menggunakan baju tebal berselempang sarung, mereka dengan tekun memetik teh adapula yang mengantarkan hasil petikan teh menuju pabrik di kota. Melihat suasana ini Jeff sangat tersentuh melihat kerja keras para pekerja dalam bekerja.
“Sore bu, saya Jeff” kata Jeff sambil mengajukan tangan untuk bersalaman.
“Anaknya pak Sofyan yah? Waduuh kenapa nggak bilang kalau mau datang nak, mari nak mari” kata ibu wati sembari menjabat tangan Jeff dan mengajak Jeff untuk pergi ke saung.
“Iya buk, bagaimana buk hasil panenya banyak yang rusak atau gimana?’ Tanya Jeff di belakang Ibu Wati.
“Alhamdulillah nak, hasil panen kali ini sangat banyak melampaui tahun kemarin malah” jawab Ibu Wati sambil duduk di saung.
“Alhamdulillah… “ kata Jeff sambil tersenyum.
“Tumben nak Jeff yang kesini, biasanya bapak? Bapak sehat kan?” Tanya Ibu Wati.
“Bapak ke pabrik buat ngecek, jadi Jeff yang datang buk” balas Jeff.
“Nak Jeff mau jalan-jalan lihat kebun teh atau mau disini saja, Ibu mau lanjut kerja dulu” kata Ibu Wati sambil mengambil caping yang tergantung di tiang saung.
“Silahkan buk, Jeff disini aja” kata Jeff.
Jeff merupakan pengusaha yang menjual alat-alat pertanian, ia memiliki banyak cabang toko di beberapa daerah, usianya yang masih sangat muda membuatnya menjadi salah satu motivator bagi pengusaha muda lainnya, namun hal itu tidak membuatnya lupa akan tugasnya untuk membantu ayahnya mengurus lahan pertanian. Maka dari itu, wajar seluruh masyarakat disana mengenalnya dengan sangat baik karena buruh tani dari lahan pertanian Pak Sofyan sebagian besar adalah masyarakat di desa. Setelah Jeff selesai berjumpa dengan beberapa petani dan mengecek hasil panen, akhirnya ia turun dari kebun teh dan bersiap kembali ke kota tapi langkahnya melamban ketika melihat elza yang berlari keluar dari rumahnya menuju puncak, melihat hal itu Jeff merasa hawatir apalagi elza seorang diri. Sehingga ia memutuskan untuk mengejar Elza ke atas puncak bukit.
Wanita ini sangat membuatku penasaran. Melelahkan sekali.keluhnya dalam hati.
“Wah tempat persembunyian mu disini?” Tanya Jeff terengah-engah sampai di puncak.
“Aku memang selalu punya firasat buruk, senior kenapa bisa tau tempat ini?” kata Elza kaget.
“Aku mengikutimu, aku fikir kamu mau bunuh diri sendirian disini ataukah mau ketemu peliharaan ganas disini” kata Jeff masih terengah-engah.
“Yaa ampuun senior” jawab Elza tertawa kecil dan menarik Jeff untuk duduk di bebatuan.
Jeff tersenyum melihat tingkah manis elza yang kesekian kalinya. Akhirnya mereka duduk berdampingan. Menikmati pemandangan puncak yang sangat dibanggakan Elza. Elza sesekali memandangi wajah Jeff disampingnya.
Masih dengan pandangan terpaku melihat keindahan dihadapannya tiba-tiba Jeff berbalik menatap Elza. “Kamu baru menyadari kegagahanku bukan?” Tanya Jeff . Terdengar irama jantungnya berdegup kencang sehingga kembali mengalihkan pandangannya dari mata Elza.
“Aku hanya heran, senior adalah pengusaha muda tetapi kenapa aku selalu melihatmu di tempat yang tidak terduga” Tanya Elza masih memandangi wajah Jeff.
“Urusan kantor aku punya pegawai disana, aku hanya perlu menandatangani beberapa dokumen dan langsung pulang” jawab Jeff sambil melekuk lengannya kedinginan.
“Semua orang mempunyai situasi yang dianggap menyenangkan, tergantung orang itu menikmatinya dengan cara seperti apa” jawab Jeff sambil tersenyum.
“Matahari sedang malu hari ini. Dia tak menampakkan diri dengan terang” sambil melihat cahaya matahari yang tertutupi kabut tipis.
"Dia malu bertemu denganku sekarang" gurau Jeff.
"Ia hanya memiliki 2 waktu, terbit dan terbenam, tapi takdir masih bisa merubahnya menjadi 1 waktu dengan menyembunyikannya dalam-dalam, apa senior percaya takdir?" kata Elza menatap lurus kedepan.
"Aku percaya, takdir tidak mengikuti apa yang diusahakan manusia, tak memandang siapa dan bagaimana karena ia memang mutlak ada, seperti kisah yang sudah tamat dan hanya bisa di jalani sesabar mungkin" ungkap Jeff.
"Akan sangat sakit jika tak bisa diterima, juga tak bisa lega jika sudah dirasakan, hidup di tempat ini membuatku jauh bersyukur. Tapi, kadang keraguan menghampiriku. Beban di pundakku untuk membahagiakan orang tuaku sangat kupertanyakan. Hanya aku yang mereka punya dan mereka sangat mengandalkanku. Sangat berat karena takut mengecewakan" Curhat Elza.
"Aku mengerti itu, kau manusia terpilih. Usiamu masih segini tapi kamu sudah memikirkan hal yang jauh kedepan. Itu baik untukmu, setidaknya kau mencoba jalan yang kau pilih. Setiap jalan tak berujung, kau bebas melangkah terus menerus" Jeff menyemangati juniornya itu.
"Terima kasih sudah mendengar keluhanku,, senior sepertinya orang pertama yang mendengarku mengeluh" Elza tertawa kecil sambil menunduk menyembunyikan sedih di wajahnya.
"Sepertinya kau kesini benar benar ingin bunuh diri" ejek Jeff.
"Aku masih punya iman" Elza akhirnya tersenyum lebar.
"Syukurlah" kata Jeff tersenyum.
“Senior sepertinya kedinginan?” Elza memutus pembicaaan.
“Kita turun saja, matahari akan menyambutku lain waktu” kata Jeff kepada Elza dengan senyuman.
Merekapun menuruni puncak, dalam perjalanan mereka berdua hanya diam. Elza yang berada di depan diikuti Jeff dibelakangnya. Sosok Jeff benar-benar maskulin dilihat dari sisi kepribadiannya. Jeff menggunakan senter Hpnya untuk menerangi langkah kaki Elza. Pada akhirnya sampai di depan rumah Elza.
“Tunggu sebentar” kata Elza. Ia berlari masuk kedalam rumahnya, tak lama kemudian ia keluar dengan sweater hitam dilengannya.
“Senior pakai ini saja, perjalanan senior masih jauh untuk turun bukit” kata Elza sambil memberikan sweater itu kepada Jeff.
“Sungguh tidak apa? Kalau aku lupa mengembalikannya gimana?” kata Jeff.
“Pakai saja” jawabnya singkat namun penuh arti.
“Baiklah, terima kasih. Sampai ketemu dilain waktu agar aku bisa mengembalikannya” kata Jeff dengan senyum manis.
Elza membalasnya dengan senyuman dan melambai melihat seniornya berjalan menjauh. Jeff sesekali menengok kebelakang melihat apakah Elza masih melihatnya atau tidak.
Kenapa sweaternya bisa sehangat ini, wah bocah itu sepertinya membuatku goyah. Kata Jeff dalam hati, tak henti-hentinya tersenyum mengingat tingkah Elza hari ini.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤