
Elza bersama dengan ibunya kembali ke tempat tinggal nya. dua minggu berlalu Elza berlibur di ibu kota namun ia tak dapat kabar dari Jemi.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Rani.
“Sepertinya tidak kak” jawab Elza dengan tersenyum.
“Setiap akhir pekan kamu akan kesini, sepertinya aku akan menyediakan kamar baru untuk Elza” kata bibinya memeluk ponakannya itu.
“Tidak perlu repot-repot bi, aku akan tidur bersama kak Rani” kata Elza terenyum lebar.
Setelah libur yang panjang, deringan bel terdengar dari seluruh sudut sekolah. Semua siswa sedang belajar dengan semangatnya. Seperti biasanya Baby tampil dengan lipstick tebal hari itu.
“Kau sungguh tidak takut di marahi guru?” Tanya Elza di belakang Baby.
“Kita sudah 17 tahun Za aku sudah dewasa, lagian yah lipstikku akan menambah kepercayaan diriku dan itu bagus untuk merangsang otakku” celetuknya.
“Aku baru tahu kepercayaan diri bisa merangsang otak beb” Elza tertawa lebar.
“Bagaimana dengan Jemi? Ku dengar dia tidak ada kabar. Guru masih memperpanjang izin nya” kata Baby tiba-tiba membicarakan hal yang tidak ingin di bahas oleh Elza.
“Mmm dia hilang, aku mencarinya tapi tidak bisa dapat kabar. Bahkan dia keluar dari tempat les” jawab Elza.
“Kau les dengannya, bagaimana bisa?” Tanya Baby penasaran.
Pembicaraan mereka terhenti saat guru memasuki kelas.
Di rumah sakit Jemi masih terbaring koma. Disampingnya Ibu Ami terus membacakan ayat suci Alqur-an untuk cucunya. Beberapa saat jemari Jemi bergerak menyadari itu Ibu Ami lalu menekan bel untuk memanggil perawat. Dokterpun datang menangani Jemi. Tak lama kemudian Pak Faiz bersama dengan Pak Anto datang dan menunggu di depan ruang rawat.
“Apa Jemi sudah sadar bu?” Tanya nya.
“Berdoalah semoga Allah mengabulkan doa kita” kata Ibu Ami yang mondar-mandir.
Dokter pun keluar. “Alhamdulillah Jemi sudah sadar, untuk sekarang mungkin dia tidak akan banyak merespon akibat ototnya masih kaku karena koma beberapa minggu, maka dari itu diperlukan fisioterapi untuk penanganan selanjutnya” jawab Dokter.
“Terima kasih dok. Terima kasi banyak” jawab Pak Faiz menyalami tangan dokter itu.
Dengan tangis bahagianya Pak Faiz masuk dan memeluk puteranya.
“Kau memang anak ayah, terima kasih sudah sadar nak” katanya.
Jemi tak banyak merespon seperti ucapan dokter, hanya matanya yang berkedip perlahan terlihat masih butuh istirahat dari tidur panjangnya selama ini.
Hari-hari berlalu seperti biasanya namun Elza masih berusaha mencari informasi dari teman-teman Jemi di sekolah namun hasilnya masih nihil. Kelas 12 adalah waktu yang singkat untuk sampai pada hari kelulusan. Semua nya sibuk untuk mempersiapkan try out, ujian sekolah dan ujian nasional sendiri. Elza setiap akhir pekan mengikuti les tambahan di ibu kota. Dia menjadi lebih fokus dan berusaha menjadi orang yang lebih baik dan memiliki nilai tinggi. Dan usahanya membuahkan hasil dengan menjadi nomor dua tertinggi untuk nilai ujian sekolah. Dengan bahagia Elza membawa surat keterangan lulusnya pulang kerumah. Di perjalanan ia menghentikan angkot di depan toko bunga.
“Cantik, apa kau akan menjaga orang yang akan menerima mu nanti?” katanya dengan tersenyum lebar. Ia membeli bunga tulip karena konon kata pegawai disana tulip melambangkan pengakuan cinta dan perhatian.
Setelah berhari-hari mencari Jemi baik itu saat di Ibu kota maupun di rumah neneknya di kotanya. Namun Elza hanya bisa pasrah. Setahun berlalu dan pengumuman kelulusan juga sudah di depan mata. Elza akhirnya berhenti mencari Jemi.
“Aku berhenti Jemi, maaf tidak bisa mencarimu” Elza berjongkok di depan pagar rumah Ibu Ami sambil menangis membawa bunga tulip untuk Jemi.
Tak lama kemudian mobil mewah berhenti di hadapan Elza, batapa kagetnya ia saat melihat Jemi dari kaca mobil. Ibu Ami turun dan menuntun Elza untuk berdiri. Elza memeluk Ibu Ami antara haru dan sedih akhirnya bisa melihat Jemi kembali.
“Kau sudah menunggu lama, masuklah” ajak Ibu Ami.
Tanpa turun dari mobil Jemi malah menyuruh Pak Anto untuk menyuruh Elza pulang.
“Aku tidak bisa bertemu lagi dengannya” Kata Jemi memalingkan matanya dari mata Elza.
Mendengar itu Elza berdiri mematung dan memandangi wajah jemi yang samar di dalam mobil. Iapun hanya tersenyum membalas perkataan pak Anto dan memberikan bunganya kepada Ibu Ami.
“Aku bersyukur dia baik-baik saja” katanya sambil tersenyum lebar kepada Ibu Ami dan Pak Anto.
“Kalau begitu Elza pamit” Elza menyalami tangan Ibu Ami dan pergi dari sana.
Jemi menahan air matanya dengan mata yang memerah, ia melihat senyuman Elza tadi kepada neneknya membuat hatinya ter iris.
Dia masih lugu, maaf za. Kata Jemi dalam hati.
Berjalan dengan pura-pura kuat, akhirnya Elza terjatuh dan menangis di pinggir jalan raya. Ia menangis sambil tersenyum. Di sisi lain dia merasa bersyukur melihat Jemi baik-baik saja namun di sisi lain sepertinya Jemi sudah melupakannya. Nomor telepon yang di blokir dan perkataan pak Anto mengiris hatinya dalam.
Sepeda motor berhenti tepat di samping Elza. Elza mengangkat kepalanya dan melihat sosok pria dewasa sedang membuka helmnya. Sosok yang familiar untuknya.
“Senior” kata Elza meneteskan air mata nya sebelum berdiri dan menutup wajahnya.
“Kamu kenapa, di pinggir jalan begini. Apakah bertemu orang jahat. Kamu di copet?” Tanya Jeff.
Elza mengusap air matanya. “Tidak apa-apa, aku permisi” Elza kembali berjalan tertunduk.
“Waah anak ini masih sama sombongnya’’ kata Jeff yang mengejarnya.
“Biar ku antar, kamu seperti ini, malah disangkanya aku yang penjahat” kata Jeff mencoba membujuk Elza.
Elza menghentikan langkahnya dan berbalik.
“Aku patah hati” katanya jelas dan singkat lalu ia kembali berjalan.
“Anak ini” keluh Jeff.
“Aku bukan anak-anak lagi” Elza tiba-tiba berbalik dengan wajah cemberut.
“Baik-baik, kau patah hati lalu duduk di pinggir jalan dan menangis. Kalau kau dewasa kau tidak akan melakukan itu. Naik ke motorku. Ibumu akan marah jika melihatmu bucin seperti ini” Kata Jeff dengan nada sedikit marah.
Mendengar itu malah membuat Elza makin cemberut dan tersinggung, akhirnya dia berjalan dan berlari menuju angkot yang singgah tidak jauh darinya.
“Apa perkataanku sangat kasar tadi?” kata Jeff sambil melihat punggung Elza yang berlari.
Jeff kembali ke motornya dan bertemu dengan orang yang memungut syal Elza.
“Nak Jeff apakah ini milikmu?” Tanya orang itu yang sepertinya mengenal Jeff.
“Iya pak, bapak mau ke pabrik ?” Tanya Jemi sambil mengambil syal itu.
“iya nak, Pak Sofyan memanggilku kesana. Kapan nak Jemi kembali dari Brunei?” katanya.
“Aku baru tiba semalam pak, sini biar ku antar” kata Jeff.
“Tidak perlu nak, bapak bawa motor ada di depan bank sana. Saya kesini karena melihat motor nak Jeff tadi” jelasnya.
“Oiya pak, kalau begitu Jeff pamit duluan yah pak” Jeff menyalami tangan bapak itu dan berpisah disana.
Jeff mengikuti angkot yang dinaiki oleh Elza. Berharap dia bisa mengembalikannya syalnya.