
Fajar bersinar dari ufuk timur, Jemi membuka mata dari tidurnya yang tersiksa dengan beban yang diberikan ayahnya. Namun ia menepis pemikiran itu setelah mengingat Elza yang sedang sakit. Diraihnya ponsel di bawah bantal dan menelpon Elza.
“Selamat pagii” sambutnya dengan manis.
“Pagii, aku sudah sembuh. Jangan khawatir” jawab Elza.
“Baguslah. Aku istirahat menghawatirkan mu hari ini. Tidak ada yang aneh kan di sekitar rumah mu?” Tanya Jemi, takut jika penguntit itu mengincar rumah Elza.
“Semuanya baik-baik saja” balas Elza lagi.
“Syukurlah, hari ini aku juga tidak masuk sekolah. Aku akan ikut ayahku ke kota ada urusan mendadak” kata Jemi.
“Hati-hati kalau begitu. Aku akan sarapan dulu, daa” tutup Elza.
“Oke” Jemi menutupnya lalu melihat pesan ayahnya yang menyuruhnya bersiap untuk pergi ke kota.
“Jemiiii, keluar nak. Kita sarapan bersama” Teriak Ibu Ami.
Jemi pun keluar dan turun untuk sarapan.
“Kau sudah membaca pesan ayah, kau harus ikut untuk mendaftar les setiap pekannya. Tidak lama lagi kau sudah naik kelas 12. Kau harus berhati-hati dengan nilai mu” jelas ayahnya sambil menuang susu.
“Aku akan menuruti Ayah sekali ini saja” kata Jemi dengan ketus.
“Sudah sudah.., mari makan saja” Ibu Ami mengolesi selai coklat di roti Jemi.
Pak Anto terlihat menunggu di teras rumah. Mulai hari ini Pak Anto kembali dipekerjakan oleh Pak Faiz.
“Kenapa bapak tidak mengangkat teleponku?” kata Jemi menghampiri pak Anto.
Dengan berhati-hati pak anto menuliskan note di hpnya. ”Bapak menyadap handphoneku tuan”. Tulisnya.
Jemi yang melihat itu menghela nafas dan mengambil handphone Pak Anto dan mematikannya.
“Mulai sekarang jangan gunakan itu lagi” Jemi kesal.
“Bapak hanya perhatian tuan. Setidaknya tuan harus mengerti sekarang. Sebentar lagi bapak akan pemilihan ulang, tuan harus bersabar sedikit” jelas Pak Anto.
“Hanya kali ini” jawab Jemi terlihat memikirkan sesuatu.
“Apakah ada informasi soal motor yang mengikutiku kemarin?” Tanya Jemi lagi.
“DD nya tidak terdaftar tuan” jelas Pak Anto.
“Aku takut itu ulah Ayah” kata Jemi.
“Tuan besar mungkin tidak akan sejauh itu, sepengetahuanku” jawab Pak Anto.
“Jangan terlalu dipikirkan, setelah tahu tuan memiliki hubungan dengan gadis desa masih untung tuan muda tidak dipindah sekolahkan, tuan besar sangat mengedepankan status tuan” tambah Pak Anto.
“Aku tahu, sekarang aku hanya khawatir dengan Elza. Lalu bagaimana Ayah tahu soal Elza?” Jemi penasaran.
“Kalau itu aku kurang tahu tuan” Pak Anto tegak dari duduknya melihat Pak Faiz sudah keluar dari rumah.
“Mari kita berangkat” Ajak Ayah Jemi sambil memakai jas nya.
Di desa, Ibu Ratih mengantar puterinya masuk kedalam kamar setelah sarapan. Dan menanyakan hal mendadak kepada Elza.
“Nak, bunda kemarin melihatmu diantar oleh pria? siapa dia?” Tanya Ibu Ratih dengan serius.
“Mmmm itu teman sekolah Elza bun, dia yang membantu Elza saat terjatuh kemarin” jelas Elza.
“Tatapanmu kepadanya seperti ada sesuatu yang lain” kata Ibu Ratih mengelus pipi anaknya dengan tersenyum. Melihat hal itu Elza hanya membalas senyum ibunya dengan sangat manis.
“Apakah dia orang kota? bunda seperti pernah melihatnya sebelumnya” ujar Ibu Ratih.
Elza mengangguk. “Dia sangat tersembunyi, bunda ingat anak yang pernah ditemani di taman bermain dulu? Itu ternyata dia”
Seketika Ibu Ratih terdiam mendengar jawaban Elza. Dan memegang tangan Elza dengan lembut.
“Kamu ingatkan, kita hanya orang biasa. Ibu tidak mau saja kamu di banding-bandingkan dengan dia kelak. Bertemanlah saja, lagipula kau sudah hampir naik kelas 12. Alangkah baiknya fokus pada pelajaran dulu yah?” kata Ibu Ratih.
“Baik bun, maaf Elza masih belum bisa masuk 3 besar sampai sekarang” Elza tertunduk.
“Yang penting kamu sudah berusaha” Kata Ibu Ratih mengelus rambut puteri semata wayang nya. Elza tersenyum mendengar jawaban Ibunya.
"Terima kasih bunda" jawabnya.
"Kakimu masih bengkak, besok jika masih seperti kita ke dokter yah, bunda akan mengabari ayahmu" Ibu Ratih hawatir melihat kondisi kaki Elza.
"Ayah nanti sangat kepikiran bun, kita minta tolong saja ke pak saleh untuk mengantar Elza"
"Lebih tidak enak lagi nak, dia nanti ada kerjaan lain"
"Baiklah" akhirnya Elza pasrah.
Jalanan kota besar yang sesak akan kendaraan membuat Jemi sangat bosan menunggu kemacetan yang terjadi.
“Mulai sekarang kamu akan datang setiap sabtu sore. Tolong Pak Anto mulai sekarang antar Jemi untuk les setiap minggu nya” Kata Pak Faiz.
“Baik Pak” jawab Pak Anto.
Sementara Jemi hanya diam dan memasang earphone nya.
Setiap sudut kota diamati Jemi. Keramaian yang sangat ia benci akhirnya harus dia tempuh setiap minggu nya. Kemacetan panjang, pengemis yang duduk bersimpuh di trotoar jalan melengkapi suasana kota hari itu. Setelah perjalan panjang akhirnya Jemi tiba di rumah. Fasilitas di rumah Ayahnya tak kalah mewah dengan rumah yang di tempati Jemi di kota kecil. Pagar yang tinggi dan kokoh, terdapat taman yang asri menyambut siapapun yang datang ke sana, rumah bernuansa putih itu sangat mengingatkan Jemi kepada Ibunya. Walaupun Jemi membenci ayahnya karena beberapa hal, namun Jemi sangat mengahargai Ayahnya yang masih menepati janjinya untuk tidak melupakan Ibu Jemi, karena alasan tersebut Pak Faiz sampai kini tidak menikah lagi setelah Ibu Jemi meninggal dunia.
“Selamat datang tuan muda” Kata pembantu yang membukakan pintu.
Dirumah itu terdapat 5 pembantu, rumah yang sangat besar untuk Pak Faiz tinggali seorang diri.
“Ayah sudah merenovasi kamarmu, kamu mau lihat?” Ayah Jemi terlihat bersemangat akan kedatangan putra semata wayangnya.
Jemi hanya mengangguk melihat ayahnya.
“Bagaimana?” Pak Faiz membuka kamar Jemi.
Kamar itu sangat luas, juga dilengkapi computer gim yang sangat canggih. Disudut kamar terdapat treadmill dan barbell yang bisa digunakan Jemi untuk berolahraga.
“Apakah ini tidak berlebihan, aku tidak tinggal disini” Kata Jemi mendekati computer gim nya.
“Ini bukan apa-apa, hanya kamu alasan ayah bekerja. Jadi ini tidak seberapa. Ayah sudah sangat tidak sabar melihatmu kuliah agar bisa pindah kesini” Kata Pak Faiz tersenyum lebar.
“Itu masih lama” Kata Jemi duduk di sofa.
“Tapi kau akan menginap setiap malam minggu disini, jadi ayah menyiapkannya dari sekarang. Ini adalah keinginan ibumu, dulu saat rumah ini dibangun dia punya banyak rencana untuk mendesain kamarmu. Tapi ayah yang mendesainnya sekarang. Semoga kau suka” ungkap Pak Faiz.
“Terima kasih ayah” Kata Jemi tersenyum kepada ayahnya.
“Baiklah kamu istirahat dulu. Ayah akan pergi ke kantor. Pak Anto akan mengantarmu mendaftar les” Pak Faiz berbalik dan menutup pintu kamar Jemi.
Aku punya firasat buruk. Sepertinya benar kata Pak Anto, Ayah memang tahu tentang hubunganku dengan Elza makanya dia menyiapkan segalanya. Katanya dalam hati, Jemi menyimpan tasnya dan berbaring.
Pak Faiz akhirnya pergi ke suatu tempat. Mendatangi perusahaan besar yang ada di kota nya. Dia bertemu pak Hendrik direktur perusahaan itu sekaligus sahabatnya semasa kuliah di luar negeri.
“Waaah sudah lama sekali, kawan” Pak Hendrik menyambut Pak Faiz di ruangannya.
“yaa benar sudah sangat lama?” Kata Pak Faiz tersenyum.
“Silahkan duduk. Bagaimana kabarmu dan Jemi?” Tanya Pak Hendrik.
“Kabarku baik, sebagai orang tua tunggal kabarku buruk karena belum bisa membujuk anakku untuk tinggal bersama” katanya dengan tertawa tipis.
“Mendidik anak laki-laki memang bukan hal mudah. Kau tahu itu, kelak nanti dia juga paham” kata Pak Hendrik. Seorang sekertaris menyuguhkan teh.
“Kau ingin berkeliling?” Ajak Pak Hendrik.
“Boleh” sahut Pak Faiz setelah meneguk teh nya.
Mereka berkeliling melihat perusahaan, terlihat beberapa pekerja di cafeteria sedang makan siang. Tiba-tiba salah seorang pekerja berlari dan menabrak Pak Faiz.
"Maaf Pak, saya buru-buru" kata salah satu pekerja yang ternyata adalah Pak Saidt.
"Kau kerja harus hati-hati, kenapa jam makan siang masih saja bekerja. Kau tidak tahu aturan jam kerja?" Kata Pak Hendrik dengan nada yang menekan.
"Maaf pak, saya mempercepat ini karena ada keperluan mendadak" Jelas pak saidt yang sedari tadi terus meminta maaf.
"Sudahlah, aku tidak apa-apa" Kata Pak Faiz kepada Pak Hendrik.
"Pergi!" kata Pak Hendrik dengan kasar membuat seluruh mata disana mengarah kepada Pak Saidt.
"Maaf pak" kata Pak Saidt lagi sebelum pergi dari tempat itu.
"Sudahlah, itu bukan hal besar" Pak Faiz menenangkan Pak Hendrik.
"Kau adalah tamuku jadi wajar, sepertinya aku terlalu memberi keluasan kepada pengawas di sini, beberapa pekerja menjadi tidak becus" Pak Hendrik masih membara dengan kemarahannya.
"Sebaiknya kita kembali ke ruanganku" sambung Pak Hendrik.
"Sebaiknya begitu" Pak Faiz menoleh melihat semua pekerja dan memberikan kode untuk melanjutkan makan siang mereka.
Beberapa pekerja membicarakan kejadian yang dilihatnya.
"Kasihan Pak Saidt, dia rela tidak makan siang untuk cepat pulang, katanya anaknya sakit makanya dia akan ambil cuti besok"
"Baru satu kesalahan kita sudah di anggap rendah, memang sangat menyedihkan" sahut yang lain.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤
jangan lupa like dan komen 👍🙏☺️