The God Of Darkness

The God Of Darkness
Chap 20. Samsak tinju.



Serangan demi serangan terus dilancarkan oleh tiga pengawal yang tersisa, tapi serangan mereka sia-sia dan tidak memberikan dampak apapun pada gorila raksasa itu.


Wushh!


Dhuaaar!


Satu lagi pengawal dibuat terbang sejauh puluhan meter oleh gorila tersebut, tubuhnya juga menabrak sebatang pohon hingga roboh dan ia langsung kehilangan kesadaran saat itu juga.


"Nona, pergilah dari sini, aku akan membantu mereka."


"Ta-tapi, bagaimana dengan kalian?" tanya Ling Yue.


"Tugas utama kami adalah menjaga keselamatan Nona, asalkan Nona selamat, kami rela melakukan apapun!"


"Tidak! Aku tidak akan pergi sendirian!" ujar Ling Yue.


Meski sering merasa jengkel pada para pengawalnya itu, namun jauh didalam lubuk hatinya, Ling Yue sangat peduli dengan mereka, karena mereka berlima sudah menjaganya sejak kecil.


"Nona tenang saja, kami akan segera menyusul" sahut pria tersebut, lalu melesat maju untuk membantu dua temannya yang tersisa.


Di tempat lain.


"Cihh! Kemana perginya monyet sialan itu? Padahal aku hanya pergi sebentar, tapi dia sudah menghilang."


Yue Jin terlihat sangat kesal, karena saat ia kembali, ia sudah tidak menemukan gorila raksasa yang dijadikannya sebagai samsak tinju, juga kelinci percobaan untuk menguji kekuatannya.


"Jangan sampai aku menemukanmu, monyet sialan!" ujarnya, lalu melepaskan kesadaran spiritualnya untuk menemukan keberadaan gorila tersebut.


Tidak lama berselang, Yue Jin akhirnya berhasil menemukan keberadaan gorila raksasa itu, selain itu, ia juga merasakan keberadaan beberapa pria yang sedang berhadapan dengan gorila tersebut.


"Sialan, jadi kau menolak bermain denganku dan malah bermain dengan orang lain, dasar monyet kurang ajar!"


Tubuh Yue Jin lenyap ditelan oleh kegelapan dan sesaat kemudian, ia telah muncul ditempat pertarungan. Namun, ia lebih memilih untuk menyaksikan pertarungan itu terlebih dahulu.


"Mereka gigih juga" gumamnya pelan.


Kegigihan yang ditunjukkan oleh para pengawal berhasil membuat Yue Jin berdecak kagum, ia cukup terkesan dengan kesetiaan mereka yang rela mati demi melindungi Ling Yue.


Tapi sayangnya, memiliki kegigihan dan keteguhan saja tidaklah cukup untuk membunuh gorila itu, karena yang paling utama diantara keduanya adalah memiliki kekuatan yang besar.


Tanpa kekuatan yang besar, jangankan untuk melindungi orang lain, bahkan melindungi diri sendiri saja akan sangat sulit, apalagi mereka hidup di dunia yang sangat kejam.


"Baiklah, saatnya memberi pelajaran pada monyet sialan itu." Yue Jin kembali menghilang ditelan oleh kegelapan.


***


Dari lima pengawal yang ditugaskan untuk menjaga Ling Yue, hanya satu orang saja yang masih sadarkan diri, sedangkan yang lainnya sudah terkapar di tanah.


"Nona, pergilah!"


Groarrrr!


Gorila itu meraung dengan sangat kencang, ia juga memukul-mukul dadanya seolah-oleh sedang membanggakan diri karena telah mengalahkan musuh.


"Yo, monyet sialan! Apa kau sudah lupa dengan perkataan-ku sebelumnya?"


Suasana mendadak hening, Ling Yue dan pengawalnya yang masih sadar, langsung mengarahkan pandangannya ke sumber suara, sementara gorila itu malah nampak gelisah.


"Siapa pemuda ini?"


"Ini aneh, kenapa gorila itu terlihat ketakutan? Apa jangan-jangan pemuda itu lebih kuat darinya?"


"Hei, kenapa kau diam saja, monyet sialan?!"


"Apa gorila itu bisa bicara?"


Tanpa disadari, gorila itu mulai melangkah mundur secara perlahan-lahan untuk menjauhi Yue Jin, tubuhnya juga bergetar karena merasa takut pada sosok Yue Jin.


Ia tentu masih mengingat seberapa mengerikannya sosok Yue Jin, karena beberapa hari yang lalu, ia juga bertarung melawan Yue Jin dan malah berakhir menjadi samsak tinjunya.


Selain dijadikan samsak tinju oleh Yue Jin, ia juga digunakan sebagai kelinci percobaan oleh Yue Jin, dan sudah tidak terhitung berapa kali dirinya disiksa dan disakiti oleh Yue Jin.


Setelahnya, Yue Jin mengeluarkan sebilah pedang dari cincin ruangnya, lalu melesat maju dan langsung menyerang gorila raksasa yang masih ketakutan tersebut.


Groarrrr!


Gorila raksasa itu meraung dengan sangat keras untuk membuang rasa takutnya, kemudian ia melompat kearah Yue Jin seraya melancarkan serangan dengan tangan kanannya.


Yue Jin menghentikan langkahnya, lalu bergerak kesamping untuk menghindari serangan gorila tersebut, pada saat yang bersamaan, Yue Jin juga melayangkan tendangannya.


Serangan Yue Jin mendarat tepat di kepala gorila tersebut, yang membuatnya terpental hingga terkapar di tanah, namun ia segera bangkit lagi untuk menyerang Yue Jin.


Dhuaaar!


Ledakan kembali terjadi saat serangan gorila itu menghantam tanah, sementara Yue Jin sudah menghilang dari tempatnya, dan sudah muncul lagi di atas kepala gorila tersebut.


"Mati!" ujar Yue Jin, lalu menebas leher gorila itu menggunakan pedang yang telah ia lapisi dengan energi spiritual.


Slash!


Berbeda dengan serangan para pengawal Ling Yue yang tidak memberikan dampak apapun, serangan Yue Jin justru berhasil merenggut nyawa gorila yang sangat besar tersebut.


Namun sayangnya, Yue Jin tidak bisa menyerap jiwa milik gorila itu, karena jika dia melakukannya, maka identitasnya sebagai spiritualis kegelapan akan terungkap.


Jika hal itu terjadi, maka dirinya akan berada dalam masalah besar. Apalagi, hutan tempat ia berada saat ini, jaraknya tidak terlalu jauh dari ibukota kekaisaran Xin Dong.


"Terima kasih, Tuan muda!" ujar pengawal Ling Yue yang masih sadarkan diri.


"Tidak perlu sungkan, aku hanya kebetulan lewat sini" sahut Yue Jin, lalu menoleh kearah Ling Yue selama beberapa saat.


"Kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya Yue Jin penasaran, karena dari penampilannya, Yue Jin bisa menebak jika mereka bukanlah orang biasa.


Pengawal itu mengarahkan pandangannya pada Ling Yue, lalu menjelaskan alasan kenapa mereka bisa berada di tempat yang sangat berbahaya tersebut.


"Lalu, bagaimana dengan Anda sendiri, Tuan muda?"


"Aku ingin ke kota Xin Dong, tapi aku malah tersesat dan sampai di hutan sialan ini!"


"Ah, kebetulan sekali, kami semua berasal dari kota Xin Dong. Jika Tuan muda tidak keberatan, kami akan menunjukkan arahnya."


"Tidak masalah."


Pria itu menghela napas lega, "syukurlah, aku senang mendengarnya. Tapi, kita harus menunda perjalanan sampai mereka pulih."


Yue Jin mengangguk, lalu membantu pria itu memindahkan tubuh teman-temannya, ia juga membantu menyembuhkan luka dalam yang dialami oleh teman-teman pria itu.


Malam harinya.


"Terima kasih" ucap Ling Yue yang tiba-tiba saja menghampiri Yue Jin.


"Untuk?"


"Karena kau sudah menyelamatkan kami semua, dan maaf karena baru bisa mengucapkan terima kasih" jawab Yue Jin.


"Sudahlah, aku hanya memberikan sedikit bantuan saja."


"Meski begitu, bantuan yang kau berikan sangat berarti bagi kami, terima kasih, Tuan muda."


"Yue Jin, panggil aku Yue Jin."


"Baik, tuan muda Yue Jin."


"Hanya Yue Jin, dan buang dua kata menyebalkan itu!"


"Ba-baik."


Karena nada bicara Yue Jin sangat dingin dan tidak bersahabat, Ling Yue akhirnya menjauh darinya. Lagipula, sudah tidak ada hal lain lagi yang bisa ia bicarakan dengan Yue Jin.


"Dasar aneh! Padahal aku sudah bicara baik-baik, tapi dia malah bersikap dingin dan tidak ramah!"