The God Of Darkness

The God Of Darkness
Chap 10. Gangguan.



Dengan kekuatan yang ia miliki saat ini, Yue Jin sudah mampu menandingi para guru akademi dalam duel, apalagi jika duel itu diadakan ditempat yang terdapat energi kegelapan.


Akan tetapi, Yue Jin masih belum puas jika hanya sekedar mampu menghadapi mereka, karena yang ia inginkan adalah bisa mengalahkan mereka tanpa perlawanan sedikitpun.


Dengan kata lain, Yue Jin harus meningkatkan kekuatannya lagi, agar tidak ada yang mampu menandinginya, termasuk tujuh pahlawan yang pastinya akan menjadi musuhnya juga.


"Akademi Chen Xin, mulai sekarang aku akan memburu kalian hingga tidak tersisa seorangpun!" ujar Yue Jin, lalu menghilang dalam kegelapan.


***


Setelah meninggalkan hutan, Yue Jin kini berada di ibukota kekaisaran Xin Dong, tempat dimana pemimpin akademi sekaligus salah satu pahlawan berkuasa, yaitu Chen Xin.


Tujuannya datang ke kota itu adalah untuk memulai rencananya, yaitu meneror para murid akademi Chen Xin dengan cara membunuh mereka satu-persatu.


"Berhenti! Tunjukkan identitas-mu!" ujar salah seorang prajurit penjaga gerbang kota.


Yue Jin kemudian mengeluarkan sebuah lencana dari sakunya, lalu menunjukkan lencana tersebut pada prajurit penjaga gerbang kota kekaisaran Xin Dong.


"Dari kota mana kau berasal?" tanya prajurit itu setelah memeriksa lencana Yue Jin.


"Dari desa yang letaknya sangat jauh dari kota ini" jawab Yue Jin.


"Pantas saja lencana ini sangat usang, ternyata kau hanya orang desa!"


"Hei nak, jika ingin memasuki kota ini, kau harus memberikan bayaran pada kami!" ujar prajurit yang satunya.


Yue Jin diam sejenak, ia menyadari jika kedua prajurit itu sedang mempermainkan dirinya, karena orang-orang yang masuk sebelumnya tidak membayar sepeserpun.


"Hah" Yue Jin menghela napas panjang, "apa ini cukup?" tanya Yue Jin setelah menyerahkan beberapa koin perak.


"Ini cukup, kau boleh masuk sekarang!" jawab salah seorang dari mereka sembari menunjukkan tatapan penuh kemenangan.


"Terima kasih" sahut Yue Jin, lalu memasuki kota.


"Tertawa-lah sepuasnya, karena malam ini, nyawa kalian akan melayang."


Yue Jin adalah seseorang yang pendendam, karena sejak kecil, ia diajarkan untuk tidak mengabaikan dendam, bahkan ia diharuskan untuk segera membalaskan dendam itu.


Oleh karena itu, Yue tidak berniat untuk melepaskan kedua penjaga kota tersebut, apalagi mereka berdua sudah mempermainkan dirinya dan sudah pasti, ia akan membalas mereka.


Setelah memasuki kota yang cukup besar itu, Yue Jin langsung mencari kedai ataupun restoran, karena perutnya sudah tidak bisa berkompromi lagi dengannya dan minta untuk segera diisi.


Tidak butuh waktu lama, Yue Jin langsung bisa menemukan sebuah restoran yang terlihat cukup mewah, dan karena perutnya sudah keroncongan, iapun langsung masuk ke sana.


Tanpa memperhatikan sekitarnya, Yue Jin langsung memesan makanan dan juga minuman terbaik yang ada di sana, selesai memesan, ia langsung duduk di salah satu meja yang kosong.


Penampilannya yang sederhana serta wajahnya yang asing, sontak membuat Yue Jin menjadi pusat perhatian pengunjung lain, khususnya para spiritualis yang penasaran dengannya.


"Siapa pemuda itu?"


"Entahlah, sepertinya dia orang baru di kota ini."


"Lihatlah penampilannya, aku yakin dia hanyalah pengemis yang kebetulan mendapatkan cukup banyak uang."


"Jaga bicaramu! Bagaimana kalau dia mendengarnya?"


"Biarkan saja dia mendengarnya, agar dia sadar diri dan mengetahui dimana tempatnya berada."


"Tapi bagaimana kalau dia seorang spiritualis?"


"Cihh, penampilannya saja tidak meyakinkan, bagaimana mungkin dia adalah seorang spiritualis."


"Perkataan-mu cukup masuk akal."


Selain menatapnya dengan tatapan aneh dan jijik, para pengunjung tidak segan-segan membicarakan Yue Jin, bahkan ada yang sengaja bicara dengan suara keras.


Walaupun begitu, Yue Jin tetap diam ditempatnya dan tidak menghiraukan mereka, karena yang ia pikirkan saat ini hanyalah mengisi ulang perutnya yang sudah sangat kelaparan.


Tidak berselang lama, makanan serta minuman yang dipesan oleh Yue Jin datang, dan karena sudah sangat kelaparan, Yue Jin langsung menyantap makanannya dengan lahap.


"Cihh, selera makan-ku langsung hilang saat melihatnya."


"Coba kau lihat, cara makannya sudah seperti anjing kelaparan."


"Hahahaha!"


Suara tawa langsung menggelegar memenuhi ruangan, sementara Yue Jin masih tetap fokus pada makanannya tanpa menghiraukan suara tawa mereka sedikitpun.


"Kau mau kemana?"


"Tunggu dan lihat saja!"


Salah seorang pengunjung restoran menghampiri meja Yue Jin, dan tanpa mengucapkan sepatah katapun, pria itu langsung duduk berseberangan dengan Yue Jin.


Cukup lama pria itu menatap Yue Jin dengan tatapan tajam, hingga akhirnya ia kesal karena diabaikan oleh Yue Jin yang masih saja sibuk dengan makanannya.


Brak!


Pria itu berdiri seraya menggebrak meja, suaranya cukup keras hingga membuat pandangan semua orang tertuju kearah mereka, selain itu, minuman di meja Yue Jin juga tumpah karenanya.


"Apa kau begitu lapar hingga mengabaikan seseorang didepan-mu?" tanya pria tersebut.


Yue Jin yang semula sibuk menyantap makanannya langsung terhenti, namun tatapannya justru tertuju pada minumannya yang tumpah akibat pria didepannya itu.


"Apa masalahmu?" tanya Yue Jin.


"Cihh, apa yang kau katakan, sialan?! Bicaralah dengan jelas!"


Brak!


Dengan gerakan yang sangat cepat, Yue Jin meraih kepala pria itu dan langsung menghantamkan kepalanya ke meja, dan berhasil membuat meja itu terbelah menjadi dua bagian.


"Aku bertanya, apa masalahmu, sialan?!"


Karena masih belum puas dan tentunya masih kesal, Yue Jin mencengkeram rambut panjang pria itu, kemudian menariknya ke atas hingga kepala pria itu terangkat.


"Hei, jawab pertanyaan-ku, apa masalah-mu?"


"A-aku..."


Brak!


Sebelum pria itu sempat menyelesaikan ucapannya, Yue Jin kembali menghantamkan kepala itu ke lantai restoran, kemudian menariknya lagi hingga wajahnya terangkat.


"Bicaralah dengan benar, aku tidak mengerti ucapan-mu" ucap Yue Jin.


"A-aku..."


Brak!


Lagi-lagi, Yue Jin mengulang perbuatannya dan tidak memberikan kesempatan pada pria itu untuk bicara, hal itu ia lakukan berkali-kali hingga pria itu pingsan.


Para pengunjung restoran yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa tercengang dan terdiam, khususnya orang-orang yang sebelumnya membicarakan Yue Jin.


"Cihh, dasar sampah!" ujar Yue Jin, lalu memesan makanan dan minuman lagi.


Walaupun meja didepannya sudah hancur, namun Yue Jin tetap memilih untuk duduk di sana, bahkan ia masih bisa makan dengan santai seolah tidak terjadi apapun.


Akan tetapi, ketenangannya kembali terusik ketika pemilik restoran datang menghampirinya bersama beberapa pria, dan lagi-lagi, Yue Jin tidak menghiraukan mereka sedikitpun.


"Aku tidak peduli siapa kau sebenarnya, yang jelas, kau harus bertanggungjawab atas perbuatan-mu ini" ucap pemilik restoran.


"Memangnya apa yang aku lakukan?" tanya Yue Jin tanpa menoleh sedikitpun.


"Anak muda, apa kau pikir aku tidak mengetahui apa yang sudah kau lakukan?"


"Jika kau sudah tahu apa yang aku lakukan, lalu kenapa kau masih bertanya seperti orang bodoh?"


"Dan satu lagi, jika kalian tidak ingin berakhir sama sepertinya, sebaiknya biarkan aku menghabiskan makanan ini terlebih dahulu."