
Malam harinya.
"Tuan muda, Anda mau kemana?"
"Hanya ingin berkeliling" jawab Yue Jin.
"Baiklah, mari saya temani, Tuan muda."
Yue Jin menanggapi perkataan Qing Fei dengan anggukan, kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan restoran, lalu disusul oleh Qing Fei yang mengekor dibelakangnya.
Sepanjang perjalanan, Qing Fei menjelaskan berbagai macam hal yang ada di kota tersebut, salah satunya adalah tempat pelelangan yang dibuka seminggu sekali.
"Kapan pelelangan itu akan dibuka?" tanya Yue Jin.
"Dua hari lagi, Tuan muda."
"Apa kau bisa membantuku?"
"Tentu saja, Tuan muda, aku akan menyiapkan segalanya untuk Tuan muda."
"Baiklah, aku mengandalkan-mu" sahut Yue Jin.
Setelah mengetahui semua hal yang ada di kot, Yue Jin kemudian meminta Qing Fei untuk kembali ke restoran, karena dirinya ingin berkeliling sendirian.
Pada awalnya, Qing Fei menolak untuk kembali karena masih ingin menemani Yue Jin, namun setelah dipaksa, ia akhirnya menuruti keinginan Yue Jin.
"Mari kita mulai" gumam Yue Jin dengan senyuman sinis terukir di bibirnya.
Sementara itu, di gerbang kota.
Dua orang prajurit nampak masih setia berjaga di depan gerbang kota, mereka berdua adalah prajurit yang sebelumnya meminta uang kepada Yue Jin.
"Ini hanya perasaanku saja atau udara malam ini lebih dingin dari biasanya? Selain itu, suasana malam ini juga lebih sepi dari malam-malam sebelumnya."
"Mungkin hanya perasaanmu saja."
"Mungkin saja!"
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka berdua, sepasang mata dengan tatapan tajam dan memancarkan niat membunuh yang kuat.
Pemilik dari sepasang mata itu tidak lain adalah Yue Jin, ia saat ini sedang bersiap-siap untuk melancarkan aksinya, yaitu membunuh kedua prajurit penjaga gerbang tersebut.
Setelah mengamati keadaan di sekitar, tubuh Yue Jin kemudian menghilang ditelan kegelapan. Detik berikutnya, Yue Jin sudah muncul kembali di belakang salah seorang prajurit.
Dengan gerakan yang sangat cepat, Yue Jin menarik pedang di pinggang prajurit tersebut, lalu setelahnya, Yue Jin menebas leher prajurit tersebut.
"Si-siapa kau?!"
"Dewa iblis!" ujar Yue Jin, kemudian melakukan hal yang sama pada prajurit yang satunya lagi.
"Hah" Yue Jin menghela napas lega, "akhirnya perasaan mengganggu ini hilang juga" ucapnya pelan.
Yue Jin kemudian memungut kepala mereka berdua, lalu menggantung kepala mereka di gerbang masuk kota, ia juga meninggalkan pesan di gerbang dengan darah kedua prajurit itu.
"Kegelapan yang sebenarnya akan segera menyelimuti dunia ini."
Itulah pesan yang ditinggalkan oleh Yue Jin di gerbang kota. Ia sengaja melakukannya dengan beberapa tujuan tertentu, salah satunya adalah sebagai pernyataan perang.
"Pahlawan tidak akan berguna jika villain-nya tidak ada," gumam Yue Jin sebelum akhirnya menghilang dari pandangan.
***
Keesokan harinya.
Seisi kota dibuat gempar karena penemuan dua kepala yang tergantung di gerbang kota, juga tulisan yang ditinggalkan oleh pembunuh dengan menggunakan darah.
Berbagai macam pendapat mulai bermunculan tentang kejadian itu, namun tidak ada satupun yang mengetahui maksud dari pesan yang ditinggalkan oleh pembunuh.
Karena tidak ingin hal yang sama terulang kembali, pemimpin kota memerintahkan untuk memperketat penjagaan, bahkan ia langsung meminta bantuan dari akademi Chen Xin.
Meski memiliki prajurit yang banyak dan cukup kuat, namun pemimpin kota masih belum bisa tenang, karena ia menganggap bahwa pesan itu ditinggalkan untuk dirinya.
Oleh karena itu, ia langsung meminta bantuan pada akademi Chen Xin, karena ia yakin bahwa murid-murid akademi Chen Xin bisa dan mampu melindungi dirinya dari segala ancaman.
Restoran Qing Fei.
"Tuan muda, ada informasi penting!"
"Katakan!"
Yue Jin yang tengah menikmati sarapannya langsung terhenti, ia tersenyum puas setelah mendengar informasi dari Qing Fei, karena umpan yang ia pasang telah dimakan.
"Qing Fei, aku butuh bantuan-mu lagi."
"Katakan saja, Tuan muda."
"Aku ingin sebuah senjata."
"Senjata jenis apa yang Anda inginkan, Tuan muda?"
"Aku yakin kau bisa memilih senjata yang cocok untukku."
"Baik, Tuan muda!"
Qing Fei langsung meninggalkan restoran setelah mendapatkan perintah dari Yue Jin, ia juga membawa beberapa bawahannya agar tidak ada yang curiga pada dirinya.
Akademi Chen Xin.
Surat yang dikirim oleh raja kota tempat Yue Jin berada telah sampai di tangan para guru akademi, mereka terlihat cukup tertarik setelah membaca surat yang dikirim oleh raja kota.
"Apa pria sialan ini bisa dipercaya?" tanya salah seorang guru.
"Percaya atau tidak, tidak ada salahnya jika kita memeriksanya terlebih dahulu."
"Aku sependapat!"
"Baiklah, kalau begitu kirim beberapa murid ke sana untuk memeriksa masalah ini."
Meski tujuan utamanya adalah meminta bantuan, namun raja kota tidak menyampaikan hal itu secara langsung, karena ia tahu jika akademi Chen Xin tidak akan mau membantunya.
Oleh karena itu, raja kota mengarang cerita tentang kemunculan spiritualis kegelapan, agar para guru akademi Chen Xin mau mengirim para murid untuk memeriksanya.
Disisi lain, raja kota akan memanfaatkan keberadaan mereka untuk melindunginya, bahkan ia sudah menyiapkan sejumlah uang untuk membujuk para murid itu nanti.
***
"Bagaimana, apakah ada balasan atau tanggapan dari akademi Chen Xin?"
Raja kota nampak gelisah dan tidak tenang, karena setelah beberapa hari berlalu sejak ia mengirim surat, pihak akademi Chen Xin belum juga memberikan balasan.
"Belum, yang mulia."
"Sial! Bagaimana jika mereka tidak mau menyelidiki masalah ini?"
"Kami tidak mungkin mengabaikan masalah yang berkaitan dengan spiritualis kegelapan!" ujar seseorang dari arah pintu masuk istana.
Pandangan semua orang langsung tertuju kearah pintu masuk, mereka semua nampak senang saat melihat beberapa pemuda yang tengah berdiri diambang pintu.
Tidak hanya mereka saja, bahkan raja kota yang semula nampak lesu, gelisah dan tidak tenang, langsung bersemangat saat melihat beberapa pemuda yang masih berada di ambang pintu itu.
"Selamat datang, mari, silahkan masuk."
"Terima kasih, yang mulia!" ujar para pemuda itu serempak.
Sementara itu.
Berita mengenai kedatangan para murid akademi Chen Xin sudah menyebar dengan cepat ke seluruh kota, bahkan berita itu sudah terdengar sampai ke telinga Yue Jin.
"Bagus, sekarang aku bisa memulai rencanaku" gumam Yue Jin.
"Satu lagi, bagaimana dengan pesanan-ku?"
"Sudah aku siapkan, Tuan muda" jawab Qing Fei, lalu mengeluarkan dua bilah pedang dari cincin penyimpanan miliknya.
"Kenapa ada dua?"
"Agar Tuan muda bisa memilihnya sendiri."
Yue Jin mengangguk pelan, lalu meraih kedua pedang itu, "beratnya sama, ukuran bilahnya juga tidak terlalu besar dan panjangnya juga sesuai dengan keinginanku."
"Apakah tuan muda mau mencoba ketajamannya?"
"Tidak perlu, karena aku yakin kau tidak akan memberikan pedang tumpul padaku."
"Jadi, pedang manakah yang Tuan muda inginkan?"
"Keduanya!"