
Yue Jin terus melancarkan serangan bertubi-tubi, bahkan lawannya tidak mendapatkan kesempatan sedikitpun untuk mengeluarkan senjatanya ataupun melakukan serangan balasan.
Selain itu, lawannya juga tidak bisa meminta atau memanggil bantuan, karena seluruh kamar sudah diselimuti oleh aura kegelapan dan membentuk sebuah pelindung.
Slash!
Dhuaaar!
Sebuah tebasan berhasil yang diikuti oleh tendangan keras, berhasil mendarat di tubuh murid tersebut, sehingga membuatnya terlempar sampai menabrak dinding kamar.
"Si-siapa kau sebenarnya?"
"Sudah aku katakan, aku adalah orang yang akan membunuhmu. Dan satu lagi, aku adalah orang yang akan membunuh para pahlawan!"
Slash!
Karena tidak ingin berlama-lama, Yue Jin langsung membunuh murid itu dengan cara memenggal lehernya, lalu ia menggantung kepala murid itu di langit-langit kamar.
Setelah merasa cukup puas, Yue Jin kemudian pergi meninggalkan kamar tersebut, bahkan ia sudah mengembalikan raut wajahnya yang terlihat polos dan baik.
"Meski sudah biasa melakukannya, tapi aku masih saja benci dengan senyuman palsu seperti ini."
Sebelum dirinya berpindah ke dunia lain secara misterius, Yue Jin sudah terbiasa menunjukkan senyuman palsu juga wajah polosnya di hadapan semua orang yang pernah ia temui.
Dan anehnya, mereka semua benar-benar menganggap bahwa Yue Jin adalah pemuda baik dan polos, padahal dia adalah pembunuh dan seseorang yang sangat berbahaya.
Sewaktu di dunianya, Yue Jin pernah melakukan hal yang sangat gila. Kala itu, Yue Jin berhasil menjerat seorang gadis dengan senyuman palsu dan wajah polosnya itu.
Hubungan mereka-pun berjalan dengan baik tanpa adanya masalah, bahkan mereka sudah berencana untuk menikah. Tapi, Yue Jin malah tega membunuh gadis itu setelah berhasil menidurinya.
Untuk menghilangkan jejak, Yue Jin membawa tubuh kekasihnya itu ke puncak gedung pencakar langit, lalu melempar tubuhnya ke bawah tanpa adanya rasa iba sedikitpun.
***
"Ah, akhirnya kau datang juga!" ujar raja kota saat melihat Yue Jin datang menghampirinya.
"Maaf karena sudah membuat Anda menunggu, yang mulia" sahut Yue Jin.
"Tidak apa-apa. Jadi, berita penting apa yang kau bawa?"
"Sebelum itu..." Yue Jin sengaja menghentikan ucapannya, kemudian menunjukkan senyuman palsunya itu lagi.
"Aku mengerti" sahut raja kota, lalu menyerahkan sebuah cincin penyimpanan.
Yue Jin meraih cincin penyimpanan itu dan memeriksa isinya, ia cukup kaget saat melihat tumpukan koin emas dalam cincin tersebut, bahkan ia yakin jumlahnya mencapai lima ratus keping.
"Yang mulia, ini sangat banyak" ucap Yue Jin berbasa-basi.
"Ini tidak seberapa, bahkan aku bisa menambahkan jumlahnya, asalkan kau mau melindungi ku seperti yang lain."
"Dengan senang hati, yang mulia."
"Hahaha, bagus! Sekarang, katakan padaku, informasi apa yang kau bawa dari akademi?"
"Sebenarnya aku tidak mau mengatakan ini, tapi karena takut menyinggung Anda, yang mulia."
"Apa maksudmu?!"
"Hah" Yue Jin menghela napas berat seraya menggeleng pelan, "spiritualis kegelapan itu ada diantara petinggi istana."
"Apa?!"
Raja kota nampak kaget saat mendengar ucapan Yue Jin, bahkan ia terlihat tidak percaya pada perkataan Yue Jin, tapi setelah dijelaskan iapun menjadi yakin dan percaya pada Yue Jin.
Dalam penjelasannya, Yue Jin mengatakan bahwa pihak akademi sudah menyelidiki masalah itu, karena sebelum memberikan bantuan, mereka harus memastikannya terlebih dahulu.
"Apa jangan-jangan hal inilah yang membuat mereka terlambat menanggapi suratku?"
"Benar sekali, yang mulia!"
"Yue Jin, terima kasih karena sudah menyampaikan hal ini padaku, dan sebagai imbalannya, aku akan memberikan lebih banyak uang padamu."
"Terima kasih, yang mulia."
"Dasar bodoh! Padahal aku hanya mengarang cerita dan dia malah percaya begitu saja."
"Yang mulia, jika diizinkan, aku ingin jalan-jalan di kota Anda."
"Terima kasih! Dan Anda tenang saja, karena aku pasti akan membantu."
***
Restoran Qing Fei.
"Tuan muda! Syukurlah, akhirnya Anda kembali ke sini."
Alis Yue Jin berkerut saat melihat ekspresi wajah Qing Fei, "kau kenapa?"
Qing Fei menghela napas, lalu menjelaskan jika dirinya sangat mengkhawatirkan keadaan Yue Jin, karena istana yang ia datangi sudah sama seperti sarang monster.
Bagi orang lain, mendatangi istana yang dihuni oleh orang-orang kuat, juga terdapat murid-murid akademi Chen Xin, sudah merupakan tempat yang sangat berbahaya untuk didatangi.
Namun, semua itu tidak berarti apa-apa bagi Yue Jin, karena tempat yang dianggap oleh orang lain sebagai tempat tinggal para monster, sama saja dengan sebuah rumah baginya.
"Tidak usah khawatir, karena mereka tidak akan pernah bisa menyakitiku."
Qing Fei mengangguk, "meski begitu, Anda harus tetap berhati-hati, Tuan muda."
"Baiklah, aku akan lebih berhati-hati lagi."
"Oh, aku lupa mengatakan sesuatu."
"Apa itu, Tuan muda?"
"Sebentar lagi, kekacauan akan melanda kota ini."
"Apa?!"
Meski sudah bisa menduganya, namun Qing Fei tetap kaget saat mendengar hal itu dari Yue Jin, karena sampai saat ini, ia sendiri belum bisa membayangkan seperti apa kekacauan itu.
"Tu-tuan muda, me-memangnya apa yang telah Anda lakukan?"
"Aku hanya menyapa salah seorang dari mereka, tapi karena dia tidak ramah, aku-pun membunuhnya."
"A-apa? A-anda membunuh..."
"Habis sudah, sepertinya kekacauan besar akan menimpa kota ini."
***
Suasana di istana kerajaan menjadi kacau, karena beberapa menit yang lalu, salah seorang murid akademi Chen Xin ditemukan tewas dengan keadaan mengenaskan di dalam kamarnya.
Semuanya dimulai saat raja kota meminta pelayan memanggil para murid akademi, dan saat mendatangi salah satu kamar, pelayan menemukan mayat yang tidak lain adalah murid akademi.
"Kenapa kalian semua diam saja?!" ujar raja kota yang nampak murka.
"Jika tidak ada yang mau mengaku, maka aku akan menganggap bahwa kalian semua bersalah!" imbuh salah seorang murid akademi.
Walaupun menghadapi tekanan dari raja kota dan para murid akademi, namun tetap tidak ada yang mau mengaku, karena sejak awal, pelakunya memang bukan salah seorang dari mereka.
"Apa kalian semua bisu?!"
"Ya-yang mulia, kami benar-benar tidak melakukan apapun, dan tidak ada seorangpun dari kami yang berani melakukan hal itu."
"Jangan bohong! Karena aku sudah mengetahui semuanya."
"Apa maksudmu, raja kota?" tanya murid akademi.
"Sebelumnya aku minta maaf, tapi aku terpaksa melakukan semua ini" jawab raja kota, lalu menyampaikan informasi yang ia dapatkan dari Yue Jin.
"Apa maksudmu? Akademi tidak pernah menyelidiki masalah ini sebelumnya, dan akademi tidak mengutus siapapun selain kami."
"Apa?! Lalu siapa pemuda itu?"
"Dimana pemuda itu?!"
"A-aku tidak tahu" jawab raja kota.
"Sial! Cepat kerahkan prajurit untuk menemukan pemuda sialan itu!"
"Baik!"
Raja kota kemudian memerintahkan para prajuritnya untuk mencari Yue Jin di seluruh penjuru kota, ia juga meminta mereka untuk menutup gerbang, agar Yue Jin tidak bisa melarikan diri.