
Setelah memakamkan Sura di Lembah Matahari yang dahulu merupakan kediaman Klan Kagutsuchi, Nagato segera bergegas pergi menuju Wilayah Me bersama Chibi dan Panda.
Dalam perjalanan Nagato melewati hutan yang jauh dari permukiman, bahkan jalanan yang sering dilewati banyak orang. Setelah melewati perjalanan selama tiga hari akhirnya Nagato sampai di Wilayah Me.
Kota Reruntuhan Kuno terlihat lebih baik dari beberapa tahun lalu saat Kakek Hyogoro mengajaknya ke teman para orang buangan ini. Nagato menatap permukiman penduduk yang semakin ramai bersama Chibi dan Panda dari atas bukit.
“Nagato, apa kau mempunyai uang?” Chibi bertanya karena Nagato hanya mengandalkan berburu hewan untuk bertahan hidup.
“Aku tidak mempunyai uang sama sekali.” Nagato menutup wajahnya menggunakan kain putih. Kemudian dia berniat mengajak Chibi dan Panda memasuki Kota Reruntuhan Kuno.
“Nagato, aku takut dengan manusia...” Panda menghentikan langkahnya. Nagato mengamati Panda. Dia tahu Panda mungkin masih trauma dengan perlakuan orang-orang kepadanya.
“Jika ada yang menghinamu, maka mereka akan berurusan denganku. Kau adalah temanku, Panda. Jangan pikirkan pendapat orang lain.” Nagato kembali berjalan setelah berkata demikian.
‘Cih, mereka selalu menilai seseorang dari luarnya saja!’ Nagato mendecakkan lidahnya.
“Ayo Panda...” Chibi menatap Panda yang berjalan lambat di belakang Nagato.
Setelah memasuki Kota Reruntuhan Kuno, tentu saja kehadiran Nagato menarik perhatian banyak orang. Nagato segera mempercepat langkah kakinya menuju tempat keberadaan Nenek Beo.
Bangunan yang seperti lorong itu membuat Panda memegang punggung Nagato. Sementara Chibi langsung meminta Nagato untuk menaruhnya di pundak.
“Dilihat dari segi manapun tempat ini terlihat sangat mencurigakan...” Panda memandang kegelapan yang ada di lorong.
“Tunggu, aku lupa membawa biji-bijian kesukaan burung beo!” Nagato menghentikan langkahnya tepat di depan lorong.
“Tenang saja, Nagato. Aku ingat bagaimana burung beo itu menghinaku. Kali ini aku akan menangkap mereka. Lihat saja!” Chibi yang berada di pundak Nagato sudah dalam posisi ancang-ancang.
Nagato menarik napas sebelum memasuki lorong tersebut bersama Chibi dan Panda. Kegelapan dan tetesan air yang jatuh dari atas berkali-kali membuat Panda melompat memegang pundak Nagato. Semakin mereka masuk ke dalam, maka akan semakin pengap.
“Nagato, tempat ini sangat pengap...” Panda mengamati sekelilingnya dengan waspada. Tak lama dua burung beo hinggap di kepala Chibi dan Panda.
“Argh!”
“Meong!”
Nagato mendecakkan lidahnya mendengar Panda dan Chibi yang berteriak hampir bersamaan.
“Maaf, jika tempat ini pengap. Kau telah ditunggu, Nagato.” Suara burung beo yang berbicara membuat Panda terkejut.
“Nagato, apakah binatang itu bisa berbicara?” Ekspresi Panda yang terkejut justru membuat Nagato menghela napas panjang.
“Cih, kau sendiri juga bisa berbicara...” Nagato menggumam pelan dan masuk ke dalam ujung lorong. Disana Nenek Beo sudah menunggunya.
“Aku tahu suatu saat nanti kau akan datang menemuiku.” Nenek Beo menyapa Nagato yang baru masuk ke ruangannya.
“Siapa beruang hitam putih itu? Apakah dia Hewan Buas yang akan kau jual?” Nenek Beo berdiri dan menatap Panda dengan seksama.
“Dia...”
“Aku Panda, lain beruang hitam putih!” Panda menatap Nenek Beo dengan sengit.
“Dia berbicara!” Nenek Beo tersentak kaget. Bagaimanapun ini adalah pengalaman pertamanya melihat hewan seperti Panda yang dapat berbicara.
“Duduklah Nagato. Aku akan buatkan teh.” Nenek Beo langsung masuk ke dalam ruangan yang lain.
“Aku gagal menangkap burung beo itu! Sudah kuduga, ikan mentah lebih enak dari burung!” Chibi terlihat masih trauma dengan apa yang barusan terjadi.
Nagato sudah mulai terbiasa dengan sikap Chibi dan Panda. Setelah Chibi dapat berbicara, Nagato bisa mengetahui jika Chibi memiliki emosi layaknya manusia. Walau Chibi adalah betina, tetapi Nagato justru menganggapnya sebagai kucing jantan karena kemalasannya.
Beberapa saat kemudian Nenek Beo datang membawa teh hangat dan makanan. Ketika melihat Panda meminum teh hangat, Nenek Beo kembali terkejut. Sementara Nagato hanya diam dan tidak peduli.
Tak lama suara langkah kaki dari lorong terdengar. Langkah kaki dari Hayabusa yang datang bersama Demet dan Devon.
“Demet, dia berteriak!”
“Devon, aku tidak salah dengar bukan?”
Demet dan Devon terkejut melihat Panda, sementara Hayabusa tersentak kaget karena mendengar jelas bagaimana Panda berteriak.
“Beruang hitam putih ini bernama Panda. Dia adalah temannya Nagato.” Nenek Beo memperkenalkan Panda pada Demet, Devon dan Hayabusa.
“Aku Panda, lain beruang!” Panda terlihat kesal ketika orang-orang menyebutnya dengan beruang.
Ketika mendengar nama Nagato, segera Demet dan Devon langsung mencoba menatap pemuda berumur enam belas tahun itu. Sedangkan Hayabusa tersenyum melihat Nagato dapat melewati masa-masa sulitnya.
“Lama tidak berjumpa, kalian berdua...” Nagato menyapa Demet dan Devon dengan santai. Keduanya langsung membalas sapaan Nagato dan mengobrol.
Mereka bertiga mengobrol singkat sebelum Devon dan Demet memberitahu identitas pengkhianat ataupun beberapa kejadian besar di Kekaisaran Kai akhir-akhir ini. Setelah mendengarkan perkataan Demet dan Devon, Nagato hanya diam dan tidak menanggapi apapun.
“Nagato, katakan padaku maksud kedatanganmu menemuiku?” Nenek Beo menyodorkan surat terakhir yang ditulis Kakek Hyogoro sebelum kematiannya.
Nagato memegang surat itu. Surat berisikan pesan untuk dirinya dan Litha.
“Nenek Beo, beritahu aku tempat persembunyian Sekte Pemuja Iblis. Itu alasanku datang menemuimu.” Nagato mengambil surat itu setelah berkata demikian.
Nenek Beo menghela napas panjang karena sudah menebak maksud kedatangan Nagato. Sebelum memberitahu tempat persembunyian Sekte Pemuja Iblis, Nenek Beo memberitahu kekacauan yang disebabkan Sekte Pemuja Iblis selama beberapa tahun terakhir.
Sekte Pemuja Iblis memiliki banyak anggota, hanya saja kebanyakan anggota dari Sekte Pemuja Iblis adalah manusia yang menjadi kelinci percobaan Gore. Bahkan empat tahun lalu, anak dari Kaisar Hizen berguru kepada Gore.
“Hiragi...” Nagato mengangkat alisnya mendengar perkataan Nenek Beo.
“Kemungkinan besar tujuan Hiragi adalah membunuh ayah kandungnya sendiri.” Sahut Nenek Beo.
Sekte Pemuja Iblis memiliki empat tempat persembunyian yang tersebar di seluruh Benua Ezzo. Tempat persembunyian pertama berada di perbatasan antara Kekaisaran Kai dan Kekaisaran Kinai. Kedua, Sekte Pemuja Iblis memiliki tempat persembunyian lain di Kerajaan Ellesmere. Tempat persembunyian ketiga berada di Kerajaan Tifon.
“Markas utama atau tempat persembunyian terakhir berada di Lembah Rafinha. Sebuah tempat yang dekat dengan Kerajaan Sihir Azbec dan Kerajaan Ellesmere.” Jelas Nenek Beo.
“Nagato, simpan kertas ini.” Nenek Beo memberikan kertas setelah dia selesai menulis, “Jangan bertindak gegabah. Aku sudah menulis semua yang ku ketahui disini.”
Nagato menerima kertas itu dan membacanya. Kemudian dia bangkit berdiri untuk melanjutkan perjalanannya kembali.
“Terimakasih Nenek Beo. Kemampuanmu untuk berkomunikasi dengan burung sangat menolongku.” Nagato mengakhiri pembicaraan dan segera bergegas, tetapi langkahnya terhenti karena Nenek Beo menahannya.
“Nagato, apa kau melakukan ini demi membalas dendam?” Tanya Nenek Beo sekedar memastikan.
Nagato menarik napas dalam, “Kurang lebih seperti itu...” Nagato sendiri tidak mengetahui secara pasti apakah tindakannya kali ini benar. Hanya saja dia tidak ingin menyesal kembali tanpa berbuat apapun.
“Nagato, biarkan aku bergabung dengan kelompokmu ini. Kita sebelumnya pernah bertemu.” Hayabusa yang sedari tadi diam mulai angkat bicara.
“Hayabusa...” Nagato menatap Hayabusa yang bersandar pada dinding dekat lorong, “Baiklah. Kemampuanmu akan membantuku...”
Nenek Beo menghela napas panjang melihat keadaan Nagato yang sekarang. Tetapi entah mengapa pemuda itu terlihat bertindak bukan untuk membalas dendam, melainkan tujuan yang lain.
“Nagato, apakah kau tidak berniat mengunjungi makam Hyogoro terlebih dahulu?”
Langkah kaki Nagato terhenti. Matanya melebar dan detak jantungnya berpacu lebih cepat. Dia mengatur napasnya agar tetap tenang.
“Belum saatnya aku mengunjunginya. Saat ini aku tidak mempunyai uang untuk membeli sake untuknya.” Nagato beralasan. Dia tidak dapat mengunjungi makam Kakek Hyogoro sebelum dirinya membunuh Gore dan membasmi Sekte Pemuja Iblis dengan tangannya sendiri.
Setelah Nagato berkata demikian, dia langsung pergi meninggalkan tempat Nenek Beo bersama Chibi dan Panda. Sedangkan Hayabusa berpamitan dengan Nenek Beo dan mengikuti Nagato.
‘Untuk pria yang tidak mempunyai tujuan hidup sepertiku. Setidaknya aku ingin membalas budi kebaikan guruku...’ Hayabusa berkata dalam hatinya dan menatap punggung Nagato.