The Dawn

The Dawn
The Dawn 17 : Akhir Asosiasi Pedang Darah



“Raja iblis?” Nagato mengangkat alisnya.


Hayabusa mengangguk pelan, “Nagato, dia sedang berada dalam fase itu. Bertindak agar terlihat keren. Kau pernah mengalami juga bukan?”


Nagato kembali mengangkat alisnya, “Aku bahkan tidak mengetahuinya, apalagi mengalami fase bodoh itu.”


Hayabusa tertawa pelan dan tidak berbicara lebih banyak karena dia sendiri mengetahui Nagato memiliki masa lalu yang kelam. Nagato adalah pemuda yang tumbuh dengan dunia berbeda pada orang-orang seusianya.


Tanpa menunggu lebih lama, Nagato melepaskan auranya. Sementara Sonjo dengan penuh percaya diri menyerang semua pembunuh berpangkat tinggi.


“Apakah kau tidak terlalu percaya diri, berandalan tengik?!” Pria yang berpenampilan seperti pemimpin menendang perut Sonjo dengan telak.


Sonjo terpental menabrak Hayabusa. Keduanya langsung saling menatap tajam satu sama lain, sebelum memaki penuh kekesalan.


Nagato menatap pria yang menendang Sonjo. Dua pembunuh bayaran mencoba menahan pergerakannya, tetapi Nagato bergerak cepat melewati mereka dan melancarkan satu tebasan pedang yang tajam pada pria yang menendang Sonjo.


“Pemimpin Yamaki!”


Pemimpin Asosiasi Pedang Darah yang bernama Yamaki menyeringai dan menyambut tebasan pedang Nagato dengan permainan pedangnya yang agresif.


“Gunakan pil itu jika kalian tidak ingin binasa! Aku tidak siapa dirimu, tetapi kenapa kau menghabisi Asosiasi Pedang Darah?!” Yamaki tidak habis pikir jika tempat yang sudah dia bentuk selama puluhan tahun akan berakhir.


“Sepertinya rumor pasukan pemberontak di Kekaisaran Rakuza benar apa adanya. Tidak heran, kami pembunuh bayaran yang bekerja di bawah Kaisar Orochi akan memiliki banyak musuh...” Yamaki tertawa dan sebisa mungkin membalas serangan Nagato.


Bersamaan dengan Yamaki yang sudah berhadapan dengan Nagato, pembunuh lainnya juga telah berhadapan dengan Hayabusa dan Sonjo.


Walau Asosiasi Pedang Darah memiliki nama yang besar di Benua Ezzo, kini yang tersisa dari mereka hanyalah tiga anggota. Sungguh ironis, bahkan pembunuh bayaran berpangkat tinggi yang tersisa dapat diatasi Hayabusa dan Sonjo tanpa kesulitan yang berarti.


“Hei, kau lawan orang yang disana. Aku akan melawan orang ini.” Hayabusa bergerak cepat ke depan, menebaskan pedangnya pada pria yang sedang mengamatinya bertarung.


“Hayabusa, Mantan Jendral Kekaisaran Kai. Apakah kau datang menghancurkan kelompok kami karena empat tahun yang lalu?”


Hayabusa hanya tersenyum tipis, “Aku hanya ingin mengambil dokumen tentang markas kelompok bawah tanah dan gudang senjata Kekaisaran Rakuza da Kekaisaran Kinai.”


“Kalian membunuh Rokuju, dan menghabisi kami. Tindakan kalian ini memancing kemarahan banyak pihak.” Mendengar itu, justru Hayabusa tertawa.


“Saat itu aku tidak memiliki kekuatan dan keberanian yang cukup. Tetapi sekarang aku tidak sendiri. Kami akan bersama-sama menghancurkan dunia yang busuk ini!”


Setelah berkata demikian, Hayabusa langsung mempercepat tempo tebasannya. Pertukaran sengit terjadi, keduanya keluar dari markas dan bertarung di halaman yang penuh dengan lumuran darah.


Sementara Sonjo yang menghadapi pembunuh bayaran yang tersisa dapat membunuh lawannya tanpa kesulitan yang berarti.


“Aku akan membereskan mereka...” Sonjo mengumpulkan mayat yang berserakan di satu tempat. Kemudian mengamati pertarungan Nagato melawan Yamaki.


Terlihat permainan pedang Yamaki semakin menajam setelah meminum pil berwarna merah darah, namun semua itu tak berarti dihadapan Nagato.


Walau sudah menelan pil berwarna darah merah, anggotanya juga mati dengan mudah, Yamaki tidak habis pikir bahwa Asosiasi Pedang Darah akan berakhir hari ini.


Nagato menyadari perubahan raut wajah pada Yamaki. Napas pria yang menjadi lawannya itu terputus-putus. Perlawanannya menurun bahkan gerakannya kian melambat.


“Kuat karena obat-obatan memang bukanlah hal yang baik. Aku sudah mengetahuinya, tetapi tidak kusangka tubuhku tidak dapat mengikuti kemauanku saat seperti ini...” Yamaki tertawa putus asa.


Setelah menjadi kelompok pembunuh yang besar, Asosiasi Pedang Darah menerima tawaran kerjasama dengan Kaisar Orochi. Namun semenjak kejadian di Ibukota Daifuzen, kekuatan Asosiasi Pedang Darah kian melemah.


“Kenapa kau menghancurkan organisasiku? Apakah kami pernah membunuhmu salah satu kerabatmu?!” Yamaki bertanya dengan nada penuh putus asa.


“Ya, bisa dibilang kalian terlibat denganku di masa lalu. Orang sepertimu tidak akan mengingatnya.” Nagato melapisi Pedang Kusanagi dengan aura. Setelah api membara disekitar bilahnya, Nagato melepaskan sayatan yang dalam ke tubuh Yamaki.


“Kalian masih muda, tetapi sangat disayangkan. Kehancuran kami akan membuat kalian menjadi buronan...” Yamaki memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak, “Dunia ini memang kejam. Ini mungkin ganjaran dari perbuatanku. Hancurkanlah dunia yang busuk ini. Aku akan menanti berita baik dari dalam sana.”


Yamaki menghembuskan napasnya setelah luka dalam yang dialaminya merenggut nyawanya. Tubuhnya ambruk di depan Nagato.


“Hayabusa, sebenarnya apa yang kau cari?” Nagato menatap Hayabusa yang melompat ke atas tangga.


“Aku mencari sesuatu yang akan membantu perjalanan kita.” Setelah menjawab, Hayabusa langsung mencari berkas keberadaan yang menyimpan dokumen milik Asosiasi Pedang Darah.


Nagato berjalan keluar markas, dia melihat Sonjo menebaskan pedangnya membuat lubang yang besar. Tak lama disana terlihat tumpukan mayat yang menderet.


“Aku akan menyegel mereka selamanya...” Sonjo menggumam dan mengambil satu persatu jasad pembunuh.


Nagato berdiri di dekat pohon dan melihat Kashima, Nekoya dan Panda yang datang ke arahnya.


“Chibi keluarlah.” Nagato memberi tanda pada Chibi agar keluar dari semak belukar.


Saat ini yang ada di dalam pikirannya adalah masalah yang akan dia hadapi mendatang. Nagato menatap wajah teman-temannya.


‘Aku mengajak mereka hanya untuk membantuku menuntaskan ambisiku. Sejak kapan aku berubah menjadi manusia terburuk seperti ini!’ Nagato menarik napas panjang dan menatap Hayabusa yang baru saja kembali dari markas bersama Sonjo.


“Nah, Nagato. Apa dia juga telah menjadi salah satu dari kita?” Hayabusa melempar dokumen kepada Nagato.


“Pertemuan kita sudah ditentukan oleh takdir, Kagutsuchi Nagato. Mari kita bentuk kelompok yang melebihi Revolusioner. Aku akan bergabung denganmu.” Sonjo menyarungkan pedangnya dan menatap Nagato dan Hayabusa.


“Kemampuanmu dalam menggunakan pedang akan berguna untuk melindungi mereka. Sonjo, gunakan kekuatanmu itu untuk melindungi teman-temanmu.” Tegas Nagato sambil menatap Sonjo yang terlihat berbinar-binar matanya.


Hayabusa menjelaskan dokumen yang berisi perdagangan manusia dan beberapa kelompok bawah tanah yang terlibat. Denah lokasi dan nama-nama anggotanya tercatat dengan rapi.


Saat Nagato sedang membaca dokumen yang dibawa Hayabusa, dari arah lereng terlihat Laura berlari sekuat tenaga menghampiri Nagato.


Dengan napas yang terengah-rengah, Laura melihat tatapan orang-orang dihadapannya menatapnya keheranan.


“Ajak aku bersamamu! Aku akan mengakhiri penderitaan ini!” Kata-kata Laura membuat Kashima terkejut, sementara Nagato memejamkan matanya dan menarik napas seperti biasanya.