The Dawn

The Dawn
The Dawn 21 : Pemuda Berambut Biru



Panda dan Nekoya sedang mengobrol bersama Chibi. Setelah mengantar para tahanan ke Kota Jill. Mereka bertemu di luar gerbang kota.


“Kerajaan Ellesmere. Ini adalah tempat persembunyian Sekte Pemuja Iblis yang belum kita datangi...” Laura membaca denah lokasi yang diberikan Nagato, “Untuk menghemat uang kita bisa bermalam di hutan. Dan kalian para laki-laki memiliki tugas mencari makanan.”


“Masalah itu serahkan padaku dan Naga Hitam Putih.” Sonjo menjawab paling cepat.


“Kita berangkat sekarang. Dua markas lagi. Kita akan menghadapi Gore. Kekuatan orang itu dapat membuatku tidak berdaya. Aku bertanya pada kalian sekali lagi...” Nagato menatap wajah seluruh rekannya, “Yang kita lakukan ini adalah pertarungan antara hidup dan mati. Apakah kalian masih tetap mengikuti jalan yang terjal ini?”


Seluruh rekannya menganggukkan kepalanya. Mereka sudah bertekad dan memiliki tujuan dan impian masing-masing.


Tak lama mereka bergegas menuju Kerajaan Ellesmere. Di Kerajaan Ellesmere, Nagato mempunyai kenangan pahit saat dirinya dan Hound dianggap sebagai pembawa kematian dan monster pembunuh.


Nagato mendecakkan lidahnya. Dia paling membenci ketika hati dan pikirannya melirik ke belakang.


___


Kota yang paling ujung di Kerajaan Ellesmere tampak ramai. Sekelompok orang baru sampai setelah melakukan perjalanan selama satu hari.


“Kota ini...” Nagato menatap pintu masuk kota yang dahulu tempat dimana Hound membawanya.


Rekan-rekannya melihat tatapan matanya yang sedih. Nagato segera memejamkan matanya dan berjalan memasuki kota itu.


“Kita cari kedai makan untuk mengisi tenaga. Lagipula kita sudah beristirahat semalaman...” Kashima sedang berbicara dengan Laura.


“Benar juga, aku masih ada uang yang tersisa.” Sekilas Laura menatap Panda dan Nekoya yang memakai pakaian begitu mencurigakan, “Nekoya, Panda. Tenang saja, aku akan memukul orang yang menghina kalian.”


“Wah, Laura-Chan memang pemberani...” Kashima menggoda Laura. Semenjak Laura bergabung, Kashima sudah akrab dengan gadis yang merupakan tuan putri Kerajaan Tifon ini.


Mereka memasuki kedai makan yang sepi pengunjung. Laura memesan makanan dengan harga terjangkau dan air putih.


“Pakai uang rampasan ini. Lagipula mayat tidak butuh harta bukan?” Hayabusa mengeluarkan puluhan keping emas.


“Pelayan, berikan hidangan terlezat di kedai makan ini. Jangan lupa ikan mentah dan bambu!” Hayabusa memesan makanan seenaknya.


Tetapi selang beberapa menit, hidangan lezat tersaji di depan meja makan mereka.


“Terimakasih Hayabusa. Tidak sia-sia kau hidup selama ini...” Sonjo menatap hidangan di meja.


“Hei, bukankah kau tidak akan makan uang hasil rampasan?” Hayabusa menatap Sonjo yang terkekeh.


“Selamat makan!” Mereka semua langsung menyantap hidangan dengan lahap.


Tidak beberapa lama Sonjo dan Hayabusa mengobrol tentang markas Sekte Pemuja Iblis yang berada di Kerajaan Ellesmere.


“Panda, cobalah minuman ini...” Hayabusa hendak menawarkan sake kepada Panda.


“Aku tidak tertarik.” Panda sibuk dengan bambu. Sama seperti Nekoya dan Chibi yang sedang memakan ikan mentah.


Nagato hanya makan secukupnya, tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak. Sekarang tatapan matanya menatap ke arah pemuda berambut biru yang menjadi pelayan.


“Nagato, jika kau dapat membunuh Gore. Maka Orochi dan Magma bisa kita atasi. Aku akan melawan para jendral raja iblis mereka!” Terkadang perkataan Sonjo ada benarnya.


Jika Nagato dapat menguasai peningkatan aura, maka dia dapat bertarung seimbang melawan pengguna Air Suci yang telah mengalami pembangkitan. Yang jadi masalah adalah Magma sudah mengalami pembangkitan atau justru belum mengalaminya.


Saat kelompok Nagato asyik membicarakan rencana untuk mendatangi markas Sekte Pemuja Iblis di Kerajaan Ellesmere, pemuda berambut biru menjatuhkan beberapa daging yang dipesan Hayabusa.


“Apa kalian sadar dengan yang kalian katakan itu?” Pemuda berambut biru menatap Nagato dan yang lain tidak percaya.


Nagato merasa tidak asing dengan pemuda ini. Butuh beberapa menit untuk mengingatnya.


‘Bukankah dia...’ Pemuda berambut biru ini pernah menolongnya saat dirinya lari dari kejaran penduduk di kota ini bersama Hound.


“Ada apa? Apak kau mata-mata dari Gore?” Sonjo mengemut tulang dan menatap tajam pemuda berambut biru.


Hayabusa langsung memukul perut Sonjo, “Hei, kau bisa membocorkan misi kita! Kemungkinan terburuk kita harus menghabisinya!”


Sonjo langsung diam dan melanjutkan makannya. Emosi Hayabusa sudah di ujung kepala karena sikap Sonjo sudah menarik perhatian orang lain.


“Kenapa kalian bertindak bodoh bertarung melawan kekuatan mutlak?!” Pemuda berambut biru ini berteriak dan memukul meja.


“Jika kita tidak bertarung, maka kita tidak menang. Aku tidak peduli mereka kuat ataupun berkemampuan monster sekalipun. Selama aku dapat merebut kembali kebebasanku, aku akan bertarung.” Nagato berkata demikian karena merasa pemuda berambut biru ini mengetahui Sekte Pemuja Iblis daripada mereka semua.


“Kau...” Pemuda berambut biru ini menatap tajam Nagato, “Jadi kau pemilik kekuatan Roh Sang Hitam. Hah, pantas saja. Kita berbeda, aku ini hanyalah kutu beras dan kau nasi putih yang lezat.”


“Laura-Chan, apa yang orang ini katakan?” Kashima berbisik di telinga Laura.


“Entahlah, jangan berbicara ketika makan.” Laura melanjutkan makannya sambil mendengarkan perkataan pemuda berambut biru.


“Hati-hati dengan Gore, Brusca, Reptile dan Wang Zhi. Walau kalian memotong tubuh mereka berkeping-keping, orang itu tidak akan mati...” Pemuda berambut biru ini meninggalkan kelompok Nagato setelah berkata demikian.


“Nagato, apa kau mengenalnya?” Laura bertanya.


“Sekitar empat tahun lalu, dia pernah menolongku.” Nagato menjawab.


Mereka mencoba memikirkan maksud dari pemuda berambut biru.