
“Panda, semalam kau membuatku tidak bisa tidur! Beruntung aku tidak menebasmu menjadi dua bagian!” Hayabusa menguap lalu menatap sengit Panda.
“Maaf...” Panda mengambil tali dan mengayunkan di lehernya.
“Oi, oi! Tunggu, tunggu! Apa kau ingin mati?!” Hayabusa panik melihat Panda yang melilit tali ke lehernya.
“Panda pengganggu sepertiku lebih baik mati...”
Nagato menghela napas panjang, sementara Sonjo menatap Panda tanpa ekspresi. Sedangkan Hayabusa baru mengetahui jika Panda sangat sensitif.
“Aku bercanda. Jadi jangan melakukan hal yang konyol, Panda!” Hayabusa mengambil paksa tali itu dan membuangnya.
Setelah matahari semakin meninggi, Nagato memutuskan melanjutkan perjalanan. Mereka sarapan pagi seadanya.
Dalam kelompok yang dibentuknya, Nagato merasa Laura memiliki kecerdasan dan bakat istimewa tersendiri.
“Kelompok perampok sekaligus yang menculik gadis-gadis dan anak-anak ini bernama Bunga Darah...” Laura membaca dokumen dan denah lokasi yang diambil dari markas Asosiasi Pedang Darah.
Bunga Darah adalah salah satu dari lima kelompok organisasi bawah tanah yang bergerak di Benua Ezzo.
“Kelompok perampok ini pasti mempunyai uang. Lagipula orang yang akan menjadi mayat tidak akan membutuhkan uang...” Hayabusa masih berpikir ingin menjarah uang dari markas Bunga Darah.
“Seorang pahlawan pedang hitam tidak akan pernah memakan hasil curian.”
Hayabusa mengangkat alisnya mendengar perkataan Sonjo, “Julukanmu itu berganti lagi, kah?”
Laura ingin membebaskan para tahanan Bunga Darah. Dia ingin menciptakan sebuah negeri tanpa ada diskriminasi dan perbudakan. Sebuah mimpi yang mulia untuk seorang gadis keturunan kerajaan.
Nagato juga berpikir demikian, dia bersikeras ingin menghancurkan kelompok hitam yang membuat Benua Ezzo dalam kekacauan. Dirinya juga sadar cepat atau lambat, kelompok kecil yang dia bentuk akan masuk ke dalam arus kekacauan tersebut.
“Markas mereka di dalam gua. Biarkan aku memeriksanya. Sebagai seorang kunoichi, aku akan memastikan lokasi tempat tahanan dan petinggi kelompok Bunga Darah.” Seperti biasa Kashima akan mengintai dan masuk menyelinap ke dalam markas musuh.
“Hati-hati Shinden. Segera beri tanda jika terjadi sesuatu yang diluar rencana.” Nagato berkata dengan tenang sambil melihat Kashima yang tersenyum padanya.
Tak lama mereka menunggu dari kejauhan. Di bawah bukit, genangan air membasahi tanah. Semakin dekat dengan markas Bunga Darah, maka akan semakin banyak genangan airnya.
Beberapa saat setelah kepergian Kashima, Nagato melihat Kashima datang dihadapannya ketika kepulan asap keluar dari udara.
“Disana banyak tahanan yang akan dijual sebagai budak. Kemungkinan besar Bunga Darah akan menjual tahanan ke Kekaisaran Kinai.” Jelas Kashima sambil menarik napas panjang sebelum melanjutkan perkataannya, “Bunga Darah memiliki lima petinggi, mereka semua berada di satu tempat.”
Nagato melihat raut wajah Kashima yang sulit untuk menjelaskan, “Saatnya bergerak. Sebelum tahanan yang lainnya menjadi korban.”
Setelah berkata demikian, Nagato sudah melesat dengan kecepatan tinggi menapaki tanah yang tergenang air menuju markas Bunga Darah.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka sampai di depan markas Bunga Darah. Menurut informasi dari dokumen milik Asosiasi Pedang Darah, kelompok ini memiliki sekitar puluhan anggota.
“Tempat yang sangat dekat dengan kota. Bahkan pemerintah membiarkan mereka...” Laura mengamati markas Bunga Darah dan mengepalkan tangannya.
“Nekoya, Kashima. Kalian berdua bersama Laura pergi bebaskan tahanan. Sisanya bantu aku untuk mengurus petinggi Bunga Darah dan anggotanya...” Nagato menatap Kashima yang mengangguk, “Dan Kashima, sebarkan pada tahanan jika seseorang bermarga Kagutsuchi telah kembali...”
“Aku mengerti. Aku tidak akan membiarkan mereka melukai Laura-Chan dan Nekoya-Chan...” Kashima menjawab sambil melihatkan jari jempolnya.
Nagato dan Hayabusa langsung masuk ke dalam markas Bunga Darah dengan melancarkan satu tebasan yang menghancurkan pagar-pagar markas.
“Sonjo, jangan memanggilku Naga Hitam Putih! Kau membuatku malu! Pujianmu itu tidak akan membuatku senang, dasar bodoh!” Tangan Panda memukul punggung Sonjo hingga pemuda yang sedang memegang sarung pedangnya terpental menabrak Hayabusa yang sedang dikepung puluhan perampok.
Sonjo terkejut merasakan kekuatan Panda, “Inikah kekuatan Naga Hitam Putih yang sebenarnya?!”
BRUK!!!
“Sonjo, sialan! Kau selalu saja merusak suasana!” Hayabusa menendang perut Sonjo karena merasa begitu kesal.
“Siapa yang mengacau di markas Bunga Darah?!” Perampok Bunga Darah menatap tajam kedatangan Nagato, Hayabusa dan Sonjo yang terlihat sangat mencolok. Belum sempat dia mengamati keadaan dengan seksama, sebuah pukulan mendarat di wajahnya.
“Panda Punch!”
Panda dalam suasana hati yang bagus mengalahkan satu demi satu seluruh perampok yang berjaga. Bahkan Nagato dan Hayabusa yang sudah menarik pedangnya hanya diam dan mengamati.
Sonjo tertawa melihat kemampuan Panda, “Nagato, dimana kau bisa mendapatkan makhluk agung Naga Hitam Putih ini...”
“Oi, hentikan...” Hayabusa menegur Sonjo karena perkataannya akan membaut Panda semakin riang dan kesenangan.
“Kalahkan mereka semua Naga Hitam Putih!” Sonjo justru menyoraki Panda yang kian bersemangat. Hayabusa segera melepaskan satu jitakan tepat di kepala Sonjo.
“Hayabusa!” Sonjo membalas tindakan Hayabusa. Keduanya bertengkar hebat disamping Nagato yang sedang berjalan menghampiri Panda.
“Panda, cukup. Kita segera masuk ke dalam. Di dalam sana hanya tersisa ima petinggi yang tersisa. Kita tidak boleh biarkan mereka menyentuh, Laura, Shinden dan Nekoya...”
“Aye-aye!” Panda menjawab teguran Nagato penuh semangat, “Nagato, apakah aku sudah mirip dengan Naga Hitam Putih?”
Dengan ekspresi tenangnya Nagato menjawab, “Kau ini mirip Beruang Hitam Putih.”
Suasana hati Panda langsung jatuh. Hayabusa tertawa terbahak-bahak melihat wajah Panda yang menggemaskan. Menurutnya tidak buruk juga memiliki teman-teman yang seperti ini.
“Memiliki teman-teman aneh seperti ini tidak buruk juga.,” Gumam Hayabusa.
Setelah seluruh penjaga markas dan perampok yang menjadi bawahan telah dilumpuhkan. Nagato, Hayabusa, Sonjo dan Panda memasuki gua dan langsung menuju ke tempat lima petinggi Bunga Darah.
Sebelum mereka berempat masuk ke dalam gua lebih dalam lagi, sebuah ruangan yang merupakan tempat dari lima petinggi mengeluarkan ledakan air yang besar.
“Chibi!” Nagato melempar Chibi ke atas batu yang tinggi. Dia mengira Kucing Manis peliharaan adik sepupunya itu membenci air.
“Nagato perlakuan aku lebih lembut! Aku ini kucing betina tahu!” Chibi terlihat geram menatap Nagato yang sedang mengalirkan aura pada bilah Pedang Kusanagi.
Satu tebasan melesat memotong air dan menghancurkan pintu ruangan, Nagato menatap lima bayangan orang. Tak lama dia melirik Sonjo yang sudah berlari memasuki ruangan lima petinggi Bunga Darah.
“Dia selalu saja seenaknya!” Hayabusa ikut berlari mengikuti Sonjo dari belakang.
Keduanya berlari kencang tidak peduli dengan debu-debu yang menutupi jarak pandang.