
Sinar matahari mulai menyeruak menembus awan dan memancarkan sinarnya.
Di dalam gubuk kecil, terlihat Sura terbaring lemah. Sementara Panda dan Chibi menangis histeris.
Nagato mendengarkan penjelasan Sura tentang cara menyembuhkan kutukannya. Satu-satunya cara untuk menyembuhkan kutukannya adalah berhubungan badan dengan pemilik Tubuh Jelmaan Dewi. Nagato sendiri mengetahui hal ini dari Emi dan Shinigami.
Keduanya mengobrol lama, hingga akhirnya Sura memberitahu Nagato jika umurnya sudah tidak akan bertahan lebih lama.
“Nagato, apa kau mempunyai impian? Apa kau mempunyai keinginan?” Sura menatap wajah cucunya penuh kecemasan.
“Aku ingin menemukan kebahagiaan. Mungkin aku terinspirasi dengan setiap tindakan adikku. Tetapi aku adalah orang terburuk yang pernah ada. Bahkan sampai saat ini diriku dipenuhi ambisi daripada impian...” Nagato menarik napas dalam. Saat ini Sura sudah terbaring lemah, kakek yang memiliki tujuan terakhir menurunkan ilmu Klan Kagutsuchi kepadanya akan segera pergi meninggalkannya.
“Impian, aku akan memastikan mimpi adikku bukanlah hal yang pantas ditertawakan. Aku akan melihat sendiri tempat legenda yang ingin dilihat Litha...” Nagato mulai menceritakan sedikit keinginannya.
Nagato ingin bahagia. Dia ingin menemukan arti kehidupannya. Masa kecilnya tidaklah indah, sehingga Nagato berpikir ingin merasakan kehangatan keluarga dan tidak akan membiarkan keluarganya merasakan hal yang sama seperti dirinya.
“Aku ingin mengetahui alasan mengapa leluhurku Klan Kagutsuchi tiada. Mengapa orang asing membunuh keluargaku.” Nagato menatap Sura lama sebelum balik bertanya, “Kakek, bisakah kau ceritakan sedikit tentang Kagutsuchi Mugen?”
Sura memejamkan matanya dan mulai menceritakan jika Mugen adalah orang yang baik. Kakak kandungnya adalah pemimpi yang hebat. Hanya saja Sura tidak pernah menyangka Mugen akan menjadi seorang penjahat keji yang ditakuti seluruh dunia.
“Bahkan salah satu mantan bawahannya membunuh ayahmu. Kazan adalah anggota Mugen di masa lalu. Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka. Tetapi Nagato...” Sura menatap cucunya yang mendengarkan ceritanya, “Jangan sampai biarkan pikiranmu, tubuhmu diambil alih oleh kutukan itu. Aku tidak tahu secara pasti, tetapi Kagutsuchi adalah keluarga manusia yang memiliki janji di masa lalu.”
Di masa lalu Kagutsuchi termasuk dari lima keluarga manusia yang membawa janji. Tekad, impian yang terus-menerus diwariskan menuju masa depan.
“Nagato...”
“Ya.”
Sura tampak semakin lemah. Bahkan Nagato memegang pergelangan tangannya. Denyut nadi kakeknya semakin melemah.
“Jangan pernah mengkhianati temanmu. Tidak perlu memiliki teman yang banyak, walau sedikit asal mereka menerima dirimu apa adanya maka itu sudah cukup.” Sura berkata pada Nagato dengan susah payah. Kemudian dia menarik napasnya sebelum mencoba menyentuh Nagato.
“Aku ingin kau mengetahui alasan mengapa Kagutsuchi berjanji. Pelajari tentang dunia ini dan jadilah yang teratas, Nagato...” Sura menyentuh rambut Nagato.
Tak lama Sura tersenyum dan ambruk ditangkapan Nagato. Sura menghembuskan napas terakhirnya setelah menurunkan ilmu Klan Kagutsuchi kepada Nagato.
“Kakek, aku akan menguasai ilmu Klan Kagutsuchi yang kau ajarkan padaku. Dan aku akan bertahan hidup lebih lama dari siapapun, walau sesakit apapun itu.” Nagato membaringkan tubuh Sura ke ranjang sebelum keluar memberitahu Panda dan Chibi.
Di luar Panda dan Chibi menangis karena telah lebih dahulu mengetahui tentang Sura.
“Panda, Chibi. Kita pergi.” Nagato langsung memakai jaket pemberian Hound. Sementara tubuh Sura dibalut kain putih.
Nagato menggendong tubuh Sura di depan dan langsung bergegas menuju Lembah Matahari. Tempat leluhurnya, Klan Kagutsuchi.
___
Matahari terbenam. Di ufuk merah bayangan dari seorang pemuda yang membawa tubuh seorang kakek tua renta berjalan menapaki hamparan tanah, dengan pedang yang tersarung rapi di pinggangnya.
Nagato menguburkan Kagutsuchi Sura di Lembah Matahari sesuai permintaannya. Walau kakeknya baru saja meninggal, tidak ada satupun butir air mata yang menetes dari matanya.
“Sesuai permintaanmu, kakek.” Nagato menyentuh gundukan tanah dan memejamkan matanya, “Aku menguburkanmu disini. Tempat kediaman keluarga kita, Kagutsuchi.”
Nagato tidak menyangka kediaman Klan Kagutsuchi sangat luas. Tetapi sekarang menjadi lembah yang digunakan sebagai tempat pemakaman untuk korban pembantaian malam berdarah.
“Chibi, apa kau ingat orang-orang yang membunuh penduduk tak bersalah di Kota Roshima?” Nagato mengelus Chibi yang membaringkan tubuhnya di pangkuan Nagato.
“Tujuh Dosa Besar Mematikan? Aku selalu mendengar pembicaraan kalian...” Dengan matanya yang tampak bercahaya, Chibi menatap Nagato. Hari memang semakin gelap, sehingga Nagato duduk di tempat yang jauh dari pemakaman dan membuat api unggun.
“Aku akan membunuh Tujuh Dosa Besar Mematikan menggantikan adikku. Saat ini aku akan menemui Nenek Beo dan mencari jejek keberadaan Sekte Pemuja Iblis.” Nagato menatap api unggun yang bergoyang karena tiupan angin malam.
“Nagato, aku akan ikut denganmu. Mungkin aku adalah manusia hewan, tetapi aku juga dapat bertarung.” Panda menatap Nagato dengan tatapan memohon.
“Panda, kau tidak perlu mengotori tanganmu. Kita memang telah berteman, tetapi...”
“Nagato! Aku mengenal dunia luar! Aku pernah membunuh puluhan manusia Aku ini tak lebih dari seorang pembunuh! Jadi biarkan aku menjadi temanmu, jangan menanggung semuanya sendirian!” Panda memotong perkataan Nagato dan berdiri sembari menatap Nagato dengan kedua bola mata yang nampak menggemaskan.
“Aku mengerti.” Sahut Nagato singkat.
Chibi memperhatikan Nagato dan Panda sebelum benar-benar tertidur di pangkuan Nagato.
“Seseorang harus melakukannya. Seseorang harus mengotori tangannya.” Nagato memegang rambutnya dan menariknya ke belakang.
“Membunuh orang-orang seperti mereka, maka kita mengurangi kejahatan, Nagato. Setidaknya tidak ada orang lain yang menjadi korban kekejaman mereka.” Panda menanggapi perkataan Nagato.
“Ya, aku mengerti, Panda. Tetapi pada akhirnya tindakanku ini sama saja dengan ego dan dendam. Sekali membunuh tetap membunuh. Tak ada alasan untuk kebajikan palsu. Membunuh ribuan orang, dan sebagian orang menganggap pembunuh itu seorang pahlawan? Sungguh menggelikan! Jika ada dunia yang seperti itu, maka semua orang berlomba-lomba menjadi pembunuh!” Nagato menghela napas panjang. Kemudian dia menaruh Chibi di atas batu sebelum memberi isyarat pada Panda agar mengikutinya.
Nagato dan Panda berjalan menuju tempat prasasti emas yang ada di Lembah Matahari. Disana Nagato melihat sinar rembulan yang menyinari prasasti emas, terlihat ukiran bahasa kuno disana. Tetapi Nagato tidak bisa membacanya.
Panda berdiri disamping Nagato melihat prasasti emas itu dan menyentuhnya.
“Dahulu ada manusia yang singgah di Pulau Galapagos untuk mencari batu emas ini. Apa kau bisa membacanya, Nagato?” Tanya Panda sambil memeriksa prasasti emas itu.
“Tidak.” Jawab Nagato singkat.
Nagato menatap prasasti emas itu cukup lama sebelum kembali ke perapian dan duduk semalaman melihat Panda dan Chibi yang tertidur.
“Kak Serlin...”
Nagato mengepalkan tangannya. Di dunia ini tidak ada yang namanya kebenaran. Siapapun bisa menjadi manusia berwujud iblis, walau orang baik sekalipun.
“Aku harus mengakhirinya...” Gumam Nagato pelan.
Matanya menatap api yang menyala. Mencoba tertidur, namun tetap tak bisa. Pada akhirnya dia tetap terjaga dan menunggu pagi datang menyinari tempat tanah para leluhurnya.