
Beberapa hari setelah Nagato meninggalkan Kerajaan Ellesmere. Dia langsung bergerak menuju Hutan Cakrawyuha. Sebelum itu dia singgah di Kota Daruma.
Di Kediaman Bunga Es Musim Dingin, Nagato bertemu dengan Oichi yang sedang bermain dengan anak kecil berumur tiga tahun.
“Kamu...” Oichi terkejut, bahkan Nagato lebih terkejut karena melihat anak kecil yang menggemaskan.
“Nagato?” Oichi berdiri dan menghampiri Nagato yang terlihat lebih dewasa, bahkan anak perempuan yang berumur tiga tahun menatap Nagato dengan tatapan menggemaskan.
“Nagato, kau harus tahu. Sebenarnya Az...” Oichi tercekat, dia membatin lirih dalam hatinya, ‘Biarkan mereka berdua bertemu.’
Nagato hanya diam dan tersenyum tipis. Oichi mengenalkan anak perempuannya yang dia beri nama Fuyumi Hayasaka. Anak ini merupakan anak dari Azai dan dirinya.
Ketika Oichi sedang mengobrol dengan Nagato, Hika dan Tika datang bersama gadis cantik yang tidak asing di mata Nagato.
Oichi hendak mengatakan sesuatu, tetapi dia melihat Nagato sudah menyadari tentang ingatan Iris yang membeku. Gadis cantik itu kehilangan kemampuan bertarungnya dan menjalani kehidupan biasa selama empat tahun belakangan ini.
Nagato langsung pergi setelah memastikan Iris dalam keadaan sehat. Walau ingatannya menghilang, dan tidak dapat kembali ke dunia yang dipenuhi pertarungan, itu jauh lebih baik.
Nagato trauma karena gagal melindungi Hisui dan Litha. Tentu saja saat dia langsung pergi, Shirayuki menghadangnya.
“Nagato! Setidaknya sapa kami!” Tika berteriak karena melihat perubahan dalam diri Nagato.
“Tika, Tika. Jangan memarahi Nagato. Bagaimanapun dia yang paling terpukul diantara kita...” Hika memegang pundak Tika.
“Apa kamu tidak ingin menyapa Bibi Shirayuki?” Wanita ini tetap saja cantik walau semakin tua. Nagato mengalihkan pandangannya.
”Aku hanya ingin memastikan keadaan Iris. Aku akan pergi.” Nagato kembali melangkahkan kakinya, namun Shirayuki membekukan kedua kakinya.
“Apa benar kamu yang mencari masalah dengan Orochi dan Sekte Pemuja Iblis?” Shirayuki merasa pemuda ini tidak ingin melibatkan siapapun.
Nagato mendekati Shirayuki dan membisikkan sesuatu pada perempuan itu. Shirayuki terperanjat kaget dan menatap Nagato dalam.
“Aku tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk melindungi kalian semua.” Nagato langsung menghilang dari pandangan Shirayuki. Pemuda itu seperti lenyap tertelan bumi.
Shirayuki menatap Iris dan menangis lirih, “Lihat, Naga ingin melindungimu. Melindungi kita...”
____
Nagato kembali bertemu Hayabusa dan yang lainnya. Mereka menunggu kedatangannya di hutan yang jauh dari Kota Daruma.
“Hiragi, apa kau masih menyukai Iris?” Nagato melirik Hiragi yang terdiam.
“Bagaimana kabar Bibi Yuki?”
“Seperti biasa. Dia tidak tersenyum padaku.” Hiragi tersenyum kecut.
Nagato melihat wajah Panda, Hayabusa, Kashima, Nekoya dan Laura terlihat gelisah. Sementara Chibi justru tertidur pulas dengan santainya.
“Sepertinya kalian telah mengetahuinya...” Nagato menarik leher Chibi dan menaruhnya di pundak. Kemudian dia melanjutkan perjalanannya menuju Hutan Cakrawyuha.
Teman-teman Nagato mengetahui masa lalunya dari Hiragi. Sekarang mereka melihat pemuda itu sedang dalam batin yang berkecamuk.
Nagato dan teman-temannya terus berjalan melewati gunung dan bukit, hingga akhirnya setelah beberapa hari perjalanan mereka sampai di Hutan Cakrawyuha.
“Tempat ini sudah berbeda...” Nagato menatap dalam diam ketika ratusan Kera Hitam dan Kera Putih menyambutnya. Hatinya teriris mengingat Litha. Bagaimanapun perasaan ini sangat menyakitkan dan menyayat hatinya.
Kepalanya menunduk hingga menyembunyikan ekspresi wajahnya.
“Naniki...” Nekoya ingin memeluk Nagato, tetapi Laura menahannya.
Saat Nagato sedang mengumpulkan keberaniannya menapaki masa depan, sihir bayangan milik Serlin terlihat.
Nagato menatap bayangan perempuan yang tak asing. Dia adalah Serlin.
“Kalian tunggulah disini!” Nagato menatap seluruh temannya yang mengikuti dirinya hingga ke Hutan Cakrawyuha.
“Mulai dari sini hanya Nagato yang boleh memasuki hutan ini...”
Teman-teman Nagato menatap bayangan Serlin yang berbicara, mereka hendak memotongnya, tetapi Nagato mengangkat tangannya.
“Aku mengerti, mereka hanya menemaniku sampai sini.”
Setelah Nagato memasuki Hutan Cakrawyuha, Sonjo terlihat kesal.
“Percaya padanya. Jika dia tidak bisa berdamai dengan masa lalunya, maka Nagato tidak pantas menjadi pemimpin kita.”
Perkataan Hayabusa membuat semua yang hendak menyusul Nagato memilih diam.
Nagato menarik napas dalam dan menikmati Hutan Cakrawyuha dengan perasaan kosong yang tak terlukiskan.