The Dawn

The Dawn
The Dawn 14 : Perusuh Di Kota Leftnout



“Kau...” Touyoru menatap tajam Nagato yang menusuk jantungnya. Perlahan wujudnya kembali menjadi manusia.


Nagato memperhatikan Kashima dan Sonjo yang tidak kesulitan menghadapi masalah, namun yang membuatnya heran adalah keberadaan Panda dan Nekoya yang membantu Kashima.


“Hayabusa, apa kau berniat menghabisi Asosiasi Pedang Darah tanpa bantuan kami?” Nagato mendecakkan lidahnya dan menarik pedangnya dari jantung Touyoru.


“Beliau akan membunuhmu...” Touyoru hendak memaki Nagato, tetapi mulutnya penuh dengan darah segar. Tak lama dia menghembuskan napas terakhirnya.


Orang yang dapat berpikir setelah dalam wujud Beast hanyalah Touyoru, Touko dan Hanzo. Sekarang Nagato mengalihkan perhatiannya untuk menghadapi pasukan dari Rokuju.


Namun sebelum Nagato bergerak dirinya sudah berada di tengah-tengah kerumunan manusia yang berubah menjadi Hewan Buas. Tidak ada celah baginya untuk melangkah, karena disekelilingnya hanyalah Beast.


Nagato memainkan pedangnya untuk menahan serangan dari berbagai arah. Saat ini dirinya berbeda dari empat tahun yang lalu, itulah yang diyakini Nagato karena berkat keinginan hidup yang tinggi serta ambisi dan mimpinya, Nagato bisa bangkit kembali walau dijatuhkan serendah-rendahnya, dia akan mencoba mendaki kembali.


“Siren!”


Gelombang api menebas kepala Hewan Buas dan memotongnya dengan bara. Teknik milik Litha, Nagato ubah menjadi miliknya.


Dalam satu tarikan napasnya, Nagato kembali melangkah menghabisi Hewan Buas yang mengamuk di Kota Leftnout. Tindakan Nagato memancing kemarahan Rokuju. Ini tak lebih dari pemberontakan.


Sonjo yang sedang bertarung sengit melawan Hanzo sudah mendekati akhir pertarungan. Permainan pedang Sonjo sangat lihai, dan dapat menekan Hanzo ke dalam posisi bertahan.


“Sonjo, apa kau berniat menentang Kaisar Orochi dan Sekte Pemuja Iblis? Hidupmu tidak akan tenang setelah berurusan dengan kami. Walau kau berhasil membunuh kami, kau tidak akan bisa kemana-mana setelah beliau mengetahuinya.” Hanzo langsung menyuntikkan cairan ke dalam tangannya setelah berkata demikian.


Sonjo menyeringai mendengarnya, “Aku adalah ksatria pahlawan pedang yang memiliki pendidikan revolusioner karena kedua orang tuaku. Kau pikir aku takut dengan mereka?”


Pernyataan Sonjo membuat mata Hanzo menajam, “Berandalan sepertimu itu kurang pendidikan dari orang tua!” Tubuh Hanzo berubah menjadi Hewan Buas, Elang Api.


Sonjo tersenyum lebar, “Dengan senang hati aku akan melayanimu, binatang jahanam!” Sonjo justru semakin bersemangat setelah melihat perubahan wujud Hanzo.


Secepat mungkin dia memadatkan auranya disekitar bilah pedangnya, kemudian Sonjo menebaskan pedangnya dengan tebasan horizontal.


Hanzo yang berubah menjadi Elang Api menghindari setiap tebasan Sonjo, kemampuan terbangnya memanglah cepat. Tetapi pada akhirnya Hanzo tak lebih dari bagian Proyek Beast milik Gore.


Puluhan tebasan yang membentuk sabit berwarna hitam pekat menyebar di udara. Sonjo berniat mengalihkan pandangan Hanzo. Ketika melihat Hanzo menghindari serangannya dengan mudah, Sonjo sudah dalam posisi ancang-ancang untuk serangan penghabisan.


Terlihat napas Hanzo terputus-putus, “Jadi ini efek dari Beast? Sial! Walau aku sudah berulang kali mengendalikannya, tetapi kemampuan ini sangat menguras seluruh energiku...”


Saat Hanzo hanya melayang di udara, sebuah tebasan berbentuk sabit memotong salah satu sayapnya. Sekejap tubuhnya terhempas ke bawah dan terjatuh tepat di depan Sonjo.


“Aku penasaran dengan rasa daging dari Elang Api...” Sonjo mengakhiri nyawa Hanzo setelah berkata demikian.


Kemudian Sonjo mengarahkan pandangannya menatap Rokuju. Tujuan awalnya memang membunuh Rokuju. Dengan kecepatan tinggi, Sonjo langsung menyerang pasukan yang bekerja di bawah perintah Rokuju.


“Dia adalah Sonjo si Penebas!”


Tidak jauh dari tempat Sonjo bertarung melawan pasukan Kerajaan Tifon, Nagato dapat mengatasi pasukan Beast dengan mudah. Tetapi Nagato terkejut ketika melihat Sonjo berniat langsung menghabisi Rokuju.


“Dia!” Nagato mengumpat dalam hatinya. Jika Rokuju terbunuh, maka secara tidak langsung tindakan Nagato bersama Kashima, Hayabusa, Nekoya dan Panda akan menantang pemerintahan Kaisar Orochi dan dianggap sebagai pemberontak walau mereka bukan bagian dari Kekaisaran Rakuza.


Jarak antara keduanya sudah mendekat, Sonjo tidak menghabisi pasukan Kerajaan Tifon yang memang tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti permintaan Rokuju. Setelah sudah saling berhadapan, Sonjo langsung menebas dada Rokuju.


“Argh!” Rokuju mengerang kesakitan. Berbeda dengan Orochi yang memiliki bakat kemampuan bertarung, Rokuju sama sekali tidak mempunyai bakat tersebut.


“Kalian semua! Bunuh berandalan busuk ini!”


Sonjo menatap pasukan Kerajaan Tifon yang sudah tergeletak karena telah dikalahkannya, “Mereka tidak mati. Tenang saja, kau sudah melakukan tugas menjadi pemimpin yang baik.” Satu kali tebasan dalam mengenai dada Rokuju.


Saat itu juga Penguasa Kerajaan Tifon yang palsu bernama Rokuju telah menghembuskan napas terakhirnya. Bersamaan dengan Sonjo yang telah membunuh Rokuju, ledakan dari bukit yang tak lain adalah markas Asosiasi Pedang Darah terdengar keras.


“Naniki! Apakah tindakan yang kita lakukan ini benar? Aku sudah mendengar ceritanya dari Panda jika Naniki bermarga Kagutsuchi?” Nekoya melompat di depan Nagato. Kemampuan Nekoya membuat Nagato kagum.


“Aku sendiri tidak mengetahuinya Nekoya. Hanya saja sebisa mungkin aku tidak ingin menyesali perbuatanku.” Nagato mengelus kepala Nekoya. Seketika Nekoya menjilati pipi Nagato dan menggigitnya.


“Naniki!”


Suara Nekoya memang menggemaskan. Melihat Nagato yang lebih menyukai Nekoya, membuat Chibi hendak mencakar wajah Nagato.


“Nagato, wajahmu ini membuatku kesal!”


”Chibi, jangan bilang kau cemburu padaku?” Nagato memegang leher Chibi dan menaruhnya di pundak, “Kau cukup diam karena kau adalah rekan pertamaku setelah malam itu.”


Nekoya melepas gigitannya, kemudian membantu Panda yang sedang bertarung melawan pasukan Beast.


Nagato melebarkan aura tubuhnya. Kemudian mengubahnya menjadi hawa panas, api yang membara.


Sepuluh Beast hendak menerkam tubuhnya, namun setelah Nagato menebaskan pedangnya. Tubuh sepuluh Beast terpotong, terutama di bagian kaki.


Nagato kembali bergerak dan menghabisi satu demi satu Beast yang tersisa.


“Kashima! Kenapa kalian melakukan ini?!” Disaat semua penduduk melarikan diri. Laura, gadis yang mendaftar pekerjaan dengan Kashima justru datang ke kota bagian timur.


Kashima terkejut melihat kedatangan Laura, “Kami hanya ingin menghancurkan markas Sekte Pemuja Iblis...”


Laura menampar pipi Kashima cukup keras karena sampai menimbulkan bunyi yang nyaring.


Laura memegang kerah pakaian Kashima dan menangis, “Kashima kau tahu, jika pasukan Orochi datang. Mereka akan membunuh penduduk tak bersalah!”