
“Laura, jangan lakukan itu. Jangan pernah bunuh diri!” Kashima memegang pundak Laura dan mencengkeramnya.
Nagato merasa terganggu dengan perkataan Laura dan Kashima. Sebagai orang yang mencoba bunuh diri berkali-kali, kata-kata bunuh diri sangat sensitif di telinga Nagato.
“Bukan itu. Maksudku aku ingin membebaskan penderitaan yang dilakukan Orochi! Aku tidak memiliki kemampuan bertarung, tetapi aku akan berusaha agar tidak menjadi beban untuk kalian!” Perkataan Laura membuat Nagato tidak menyangka tindakannya akan menemukan teman-teman seperjalanan dan sepemikiran dengannya.
“Tidak masalah bila kau tidak memiliki kemampuan bertarung. Kau bisa peras otakmu itu untuk membantu kami.” Nagato menerima keberadaan Sonjo dan Laura sebagai temannya.
Tak lama Nagato menjelaskan rencana mereka. Jika ingin menumbangkan penguasa Kekaisaran Kinai ataupun Kekaisaran Rakuza, maka satu hal yang perlu dilakukan mereka adalah melemahkan kekuatan tempur musuh.
“Perdagang manusia, perbudakan, bisnis bawah tanah, gudang senjata dan sumber kekacauan di Benua Ezzo, Sekte Pemuja Iblis. Kita akan melenyapkan mereka semua.” Jelas Nagato pada teman-temannya. Ada alasan mengapa dirinya bertindak sejauh ini, membuang perasaannya dan mewujudkan ambisinya untuk melegakan jiwanya.
“Sebenarnya rencanaku ini demi membunuh Magma. Diantara semua orang yang ada di Benua Ezzo, aku yakin sosok Magma lah yang terkuat. Maka dari itu, aku ingin melihat sejauh mana kemampuanku berkembang sebelum berhadapan dengannya.” Perkataan Nagato membuat Sonjo tersenyum, namun Kashima dan Laura terkejut. Sementara Hayabusa, Nekoya dan Panda hanya terdiam.
“Melawan Magma, akan berurusan dengan Organisasi Disaster. Tidak ada masa depan atau hal yang baik sekalipun jika berhadapan dengan kelompok itu. Tetapi dia adalah raja iblis yang menjajah manusia kan, Nagato?” Di saat yang lain menahan napas setelah mendengar penjelasan, hanya Sonjo yang menanggapi perkataan Nagato dengan gaya bicaranya yang terkesan kekanak-kanakan.
“Ya, selagi Kazan berada di luar benua ini. Aku ingin membebaskan tanah kelahiranku, Azbec. Tempat dimana semuanya berawal.” Nagato mengakhiri pembicaraan.
Tak lama mereka berbincang cukup lama di puing-puing reruntuhan markas Asosiasi Pedang Darah. Laura tidak percaya orang seperti Nagato melakukan perjalanan tanpa membawa uang. Dari penampilannya Nagato adalah seorang pemikir dan terlihat rupawan. Ketampanannya membuat Nagato terlihat sempurna, namun Laura tidak menyangka Nagato akan seceroboh ini.
Tujuan mereka selanjutnya adalah Kota Jill yang berada di Kerajaan Plasa. Setelah membuat kerusuhan di Kota Leftnout, Nagato memandang Kota Leftnout dari atas bukit sebelum melanjutkan perjalanan.
Di suatu tempat yang dekat dengan Kota Jill terdapat kelompok bawah tanah yang merupakan dalang dari perdagangan manusia dan perbudakan. Nagato berpikir jika dia harus terus memancing kemarahan Kekaisaran Kinai dan Kekaisaran Rakuza.
Selain itu Nagato juga sadar jika dia mengakhiri kelompok yang terlibat dalam perdagangan manusia, maka tidak ada orang yang berakhir menjadi budak.
“Nagato, apa kau sudah mengunjungi Hutan Cakrawyuha?” Sebenarnya Hayabusa ingin bertanya lebih awal setelah melihat Nagato memegang Pedang Kusanagi dan bukan pedang peninggalan Pandu.
“Belum.” Nagato hanya menjawab singkat, selebihnya dia hanya diam dalam perjalanan. Tidak ada hal yang ingin dia bahas tentang Hutan Cakrawyuha dengan teman-temannya.
Hayabusa tidak bertanya lebih jauh setelah mendengar tanggapan Nagato yang biasa saja. Dia berpikir dapat menggunakan pedang peninggalan Pandu, tetapi desas-desus tentang pedang Pandu yang telah merenggut nyawa karena ketidakcocokan pengguna juga menjadi alasannya penasaran bagaimana Nagato tidak membawa pedang tersebut.
Pengalaman pertama tentang dunia di luar Kekaisaran Kai adalah neraka dunia. Semenjak malam penuh kedinginan yang menghunus tulang-tulangnya, Nagato sudah membulatkan tekadnya.
Seseorang harus melakukannya. Seseorang harus mengakhirinya, ‘Tidak ada waktu untuk memikirkan tindakanku ini benar atau salah. Jika aku menunjukkan kelemahanku, maka aku akan kehilangan orang-orang yang berharga bagiku kembali. Aku akan menunjukkan pada mereka ketakutan yang sempurna!’
Beberapa hari telah berlalu, perjalanan Nagato dan teman-temannya bisa dibilang berjalan tanpa hambatan. Berkat bantuan Laura yang memiliki uang dari hasil jerih payahnya, gadis yang sebaya dengan Kashima itu menyewa penginapan untuk tempat mereka bermalam.
Penampilan Nekoya dan Panda juga sedikit berbeda, karena mereka berdua memakai jubah yang menutupi seluruh bagian tubuhnya, bahkan sampai kepala.
“Kita menginap di Kota Jill, Nagato. Aku masih memiliki uang yang cukup untuk menginap...” Laura berkata dengan napas yang terengah-rengah.
“Terimakasih Laura. Lain kali aku akan mencari uang.” Nagato menanggapi singkat.
Kashima menatap Nagato dengan tatapan menyelidik, “Apa? Apa? Jangan bilang kau ingin mencari nafkah untuk Laura-Chan, nah, Nagato-Sama?”
Nagato tidak menanggapi perkataan Kashima yang sengaja menggodanya, melainkan menghentikan langkah kakinya ketika melihat sebuah kota yang jaraknya tidak jauh dari mereka.
Memasuki perbatasan Kerajaan Plasa dapat dilakukan dengan melewati hutan belantara, tanpa harus berurusan dengan pasukan penjaga perbatasan.
“Kita tidak perlu khawatir. Tetap bersikap seperti biasa agar tidak ada orang mencurigai kita.” Hayabusa memandang Kota Jill dari kejauhan.
Kota Jill termasuk kota dengan infrastruktur yang megah berada di Kerajaan Plasa. Semenjak Kaisar Orochi bersama pasukan Kekaisaran Rakuza membumihanguskan Ibukota Kerajaan Plasa sebelumnya, maka Kota Jill bisa dibilang sebagai Ibukota Kerajaan Plasa yang baru.
Memang setelah penyerangan yang dilakukan Kekaisaran Rakuza, masa kepemimpinan Orochi semakin menguat. Perselisihan antara keluarga atau klan dimanfaatkan Orochi dengan baik. Dengan cara bekerjasama dengan keluarga yang memiliki ambisi dendam pada keluarga kerajaan, Orochi dapat menundukkan negeri-negeri lain di Benua Ezzo dengan cara seperti itu.
Nagato sendiri sadar jika kekuatan Kaisar Orochi memiliki daya penghancur yang mengerikan. Setelah masuk ke dalam Kota Jill, Nagato tidur sekamar dengan Hayabusa, Panda dan Sonjo. Sementara Laura tidur bersama Kashima, Nekoya dan Chibi.
“Asal kalian mempunyai uang, maka proses masuk ke dalam kota akan berjalan lancar. Mulai besok aku akan berburu emas karena aku ini adalah ksatria pahlawan pemburu...” Sonjo menggumam dan membaringkan tubuhnya di lantai.
Sementara Nagato sedang mengobrol berdua dengan Panda. Cerita dari Panda tentang kondisi lautan di luar Benua Ezzo membuat Nagato terkejut.
“Nagato, aku mengambil harta milik Asosiasi Pedang Darah. Apakah kita akan menggunakannya? Aku pikir kau tidak menyukai uang dari hasil curian...” Hayabusa datang membawa sake dan makanan lezat ke kamar.
Nagato menatap Hayabusa, “Aku mempunyai prinsipku sendiri.”
Mendengar jawaban Nagato, Hayabusa mulai makan dengan lahap menggunakan uang hasil rampasan.
Setelah melakukan perjalanan dari Kota Leftnout ke Kota Jill, mereka mengistirahatkan tubuh guna menghadapi hari esok.
Ketika malam tiba, Nagato makan bersama teman-temannya menggunakan roti yang keras dan seadanya. Bisa dibilang ini adalah pelajaran untuk Nagato ketika mengalami krisis uang.
“Aku ingin makan ikan mentah...” Chibi dan Nekoya menggumam bersamaan sebelum tertidur.
Di kamar sebelah, Panda memeluk tubuh Hayabusa dengan erat, “Bambu ini sangat tidak enak...”
Semalaman itu, Hayabusa tidak bisa tertidur akibat Panda yang memeluk tubuhnya. Sementara Nagato menenangkan diri dengan mencoba melihat gambaran tentang beberapa teknik barunya.