
Laura mengatakan bahwa dirinya adalah putri dari Raja Tifon, penguasa sah Kerajaan Tifon. Selama bertahun-tahun, semenjak Kekaisaran Rakuza menundukkan setiap negeri di Benua Ezzo, Keluarga Tifon sudah menderita.
Jika kabar kematian Yamata Rokuju tersebar sampai ke telinga Kaisar Orochi, maka Kota Leftnout akan menjadi lautan api.
“Shinden, dia siapa?” Nagato menghampiri Kashima setelah menahan serangan Touko.
Kashima sulit untuk menjelaskan, namun sebisa mungkin dia menjelaskan tentang Laura kepada Nagato.
“Aku yang mengajak Kashima. Kau bisa menyalahkan semuanya padaku.” Nagato menatap Laura yang menangis, “Shinden, kau urus wanita itu. Aku akan membantu Hayabusa.”
Kashima mengangguk dan langsung kembali bertukar serangan dengan Touko. Sementara langkah Nagato ditahan Laura.
“Apa yang akan kau lakukan jika semua penduduk tak bersalah mati?! Kau tidak tahu betapa kejamnya Orochi dan pengikutnya!” Laura menatap Nagato penuh amarah.
Nagato bisa melihat bagian diri Litha di dalam diri Laura. Bersikap tegar, demi mengejar impiannya. Itulah yang Litha lakukan. Sementara Laura membuang semua kebenciannya dan membiarkan dirinya menderita, asalkan orang-orang yang dilindungi ayahnya sebagai rakyatnya hidup bahagia.
Nagato menghela napas panjang dan menatap ke arah bukit, “Orochi tidak akan menyerang Kota Leftnout setelah mengetahui identitasku. Kau sebarkan pada penduduk jika dalang pembunuhan Yamata Rokuju dilakukan oleh seorang bermarga Kagutsuchi.”
Laura hendak kembali menghentikan Nagato, tetapi Nagato berhenti sendiri dan kembali menatapnya.
“Laura, aku serahkan tugas barusan padamu. Kau telah berjuang keras, pasti sangat menyakitkan menanggung semuanya sendirian. Mulai saat ini, kau bisa berbagi luka denganku dan teman-temanku. Aku berjanji akan mengalahkan Orochi dan seluruh aliansinya!” Setelah berkata demikian, Nagato langsung menghilang dari pandangan Laura.
Laura menangis mendengar perkataan Nagato. Sudah lama dia hidup menderita. Sekejap dia menghilangkan semua perasaannya yang tertahan dan berlari ke arah penduduk yang berkumpul di pusat kota.
Laura akan menyebarkan semua yang diperintahkan Nagato.
Setelah Laura menjauh, Kashima terlibat pertarungan sengit melawan Touko. Shuriken yang terbentuk dari aura berkali-kali memberi luka sayatan pada sekujur tubuh Touko.
“Kalian benar-benar melakukannya! Bukan hanya menghancurkan proyek gagal, tetapi kalian membunuh Rokuju. Beliau pasti tidak akan melepaskan kalian!” Touko menyuntikkan cairan kepada tangannya. Seketika tubuhnya berubah menjadi Beruang Es.
Kashima melepaskan aura tubuhnya dan memanipulasi senjata seperti cakram dan shuriken. Dengan lihai, Kashima terus memberikan serangan untuk menekan pergerakan Touko.
Kashima tersenyum mengejek, “Apa kau berubah menjadi Beruang Es karena ingin terlihat lebih berisi?” Tawa cekikikan Kashima membuat wajah Touko mengkerut.
Kashima memutar tubuhnya, seketika pusaran angin yang melepaskan ratusan senjata yang terbentuk dari aura menyerang Touko.
Putaran tubuh Kashima menghempaskan tubuh Touko yang berubah menjadi Beruang Es. Jarak keduanya sudah sangat dekat, dalam beberapa langkah saja Kashima sudah langsung membentuk kunai dengan aura tubuhnya dan mengincar bagian vital Touko.
Touko menggunakan segenap cara untuk menghindari serangan Kashima. Walau terbentuk dari aura, tetapi ketajaman senjata tajam yang dilemparkan Kashima sangat nyata. Sekujur tubuh Touko merasakan sakit.
Efek dari Beast sangat terasa dan membuat tubuhnya melemah. Dalam situasi yang tidak memungkinkan, Touko memilih menyerang secara membabi-buta demi menghabisi Kashima.
“Maaf, aku harus menolak ajakanmu!” Kashima menghindari pukulan tangan Touko. Tangan yang sebesar Beruang Es dia tapaki, Kashima mengincar kedua mata Touko dengan kunai yang terbentuk dari aura.
Melihat Kashima yang dapat menghindari serangannya dengan mudah, Touko berniat melompat mundur tetapi dengan tubuhnya yang berubah menjadi Beruang Es tidak memungkinkan dirinya bergerak lincah.
“Kenapa kau berani melawan orang yang memiliki kekuatan mutlak?!” Touko berteriak putus asa.
Kashima tersenyum tipis, “Aku tidak akan sanggup melakukannya. Tetapi setelah dia menganggapku sebagai seorang teman. Kami akan melawan siapapun itu!” Dua kunai dia mainkan dijarinya sebelum menusuk kedua mata Touko.
Suara raungan Beruang Es menggema. Kashima langsung mengakhiri nyawa Touko dengan pusaran angin yang melemparkan ratusan senjata tajam.
Situasi di Kota Leftnout terasa mencekam. Kashima menghabisi Hewan Buas yang masih mengamuk bersama Nekoya dan Panda.
“Kashima, apakah kita harus menguburkan mereka. Bagaimanapun...” Nekoya mengucapkan sesuatu, namun manusia kucing dengan paras menggemaskan itu tidak meneruskannya.
“Ya, kalian berdua bantu aku. Tubuh mereka menyusut setelah menjadi makhluk mengerikan.” Walau telah menyusut tubuhnya, setiap orang yang berubah menjadi Hewan Buas masih dalam bentuk Hewan Buas. Kashima sendiri masih tidak mengetahui apakah tindakannya sudah benar atau salah.
Nekoya bersama Panda mengangkat tubuh Hewan Buas dengan mudah, mereka menaruhnya di luar kota.
Beberapa penjaga gerbang tersadar. Kashima langsung memberikan jarum aura untuk menidurkan mereka. Kemudian melanjutkan pekerjaannya membersihkan jasad yang berserakan di jalanan.
“Perusuh yang datang bersama Nagato pergi kemana?” Kashima tidak mendapati Sonjo dan mayat Rokuju.
Jarak yang cukup jauh dari kota bagian timur, Kota Leftnout, terdapat sebuah bukit yang menjadi markas Asosiasi Pedang Darah.
Nagato melihat markas Asosiasi Pedang Darah menjadi tempat pertempuran. Disana terlihat Hayabusa yang sudah bertarung sengit melawan setiap pembunuh berjubah merah.
“Shinkū.”
Nagato segera memusatkan auranya pada satu titik. Ketika puluhan pembunuh tidak dapat bergerak, Hayabusa menghabisi pembunuh dengan mudah tanpa kesulitan.
“Nagato, maaf sepertinya aku tetap saja membutuhkan bantuanmu.” Hayabusa mengibaskan pedangnya dan menatap pembunuh yang berpangkat tinggi.
Nagato hendak mengatakan sesuatu pada Hayabusa, tetapi dia menahannya.
“Lain kali jangan bertindak sendiri, Hayabusa. Kau adalah temanku. Aku paling membenci jika kehilangan seseorang tanpa mengetahui saat-saat terakhirnya...”
Hayabusa tertawa pelan, “Oi, Nagato. Maksudmu ini aku akan mati jika kau tidak datang kesini. Maaf saja, aku tidak akan mati sebelum membunuh Magma!”
“Orang yang akan membunuhnya adalah aku.” Nagato dan Hayabusa saling berpandangan. Kemudian mereka berdua menerobos masuk lebih dalam ke markas Asosiasi Pedang Darah.