
Nagato menjelaskan bahwa tempat persembunyian Sekte Pemuja Iblis yang berada di Kerajaan Tifon berada di surau tempat yang ada di Kota Leftnout.
Menurut Hayabusa, Kota Leftnout adalah kota besar yang ada di Kerajaan Tifon. Selain menjadi pusat perdagangan dan tempat tinggal orang-orang yang tunduk pada kekuasaan Kaisar Orochi, Kota Leftnout menjadi markas Asosiasi Pedang Darah dan Yamata Rokuju, orang yang memimpin Kerajaan Tifon.
“Asosiasi Pedang Darah dibayar mahal oleh Orochi untuk membantu penyerangan di Ibukota Daifuzen...” Hayabusa merasa ingin menghancurkan Asosiasi Pedang Darah setelah mereka mengatasi tempat persembunyian Sekte Pemuja Iblis yang berada di Kota Leftnout.
“Aku pernah mendengarnya. Kekaisaran Kai juga dipimpin penguasa bodoh bukan?” Kashima menanggapi perkataan Hayabusa sambil membaca denah lokasi yang diberikan Nagato.
“Shinden, kemampuanmu sangat berguna untuk menyusup ke dalam Kota Leftnout. Ini mungkin tugas yang berat, bisakah kau mencari keberadaan markas Sekte Pemuja Iblis yang berada disana?” Banyak yang tidak menyangka Kota Leftnout akan menjadi markas Sekte Pemuja Iblis yang menjadi dalang dari berbagai kejahatan di Benua Ezzo. Nagato berharap kemampuan Kashima dapat menemukan keberadaan markas Sekte Pemuja Iblis.
“Nagato, Kashima. Kalian berdua masuk ke dalam kota dan cari keberadaan markas Sekte Pemuja Iblis. Aku bersama Nekoya dan Panda akan mendatangi markas Asosiasi Pedang Darah. Dan satu lagi, tinggalkan Chibi bersama kami, karena dia dapat menuntun jalan...” Jelas Hayabusa.
Chibi sedikit kesal dengan perkataan Hayabusa, yang menganggapnya sebagai penuntun jalan, “Jangan remehkan aku, Hayabusa. Aku bisa saja mencakar wajah bodohmu itu!”
Nekoya tertawa melihat Chibi yang marah, “Hayabusa, aku sudah hafal dengan bau badan Naniki. Biarkan Chibi bersama Nagato.”
“Baiklah. Manusia hewan memang dapat diandalkan.” Hayabusa langsung menyarungkan kedua pedangnya, “Kami bergerak sekarang Nagato.”
“Ya, hati-hati. Jaga mereka berdua, Hayabusa. Jika ada yang menghina, beri pelajaran pada orang itu.” Nagato menatap Panda dan Nekoya, kemudian dia bersama Kashima langsung bergegas memasuki Kota Leftnout.
Setelah berpisah dengan Hayabusa, Nekoya dan Panda, kini Nagato dan Kashima memasuki Kota Leftnout lewat gerbang. Penjaga gerbang kota terlihat sedang mabuk-mabukan, bahkan mereka tidak menyadari ada dua orang asing yang masuk ke dalam kota.
Kota Leftnout adalah kota megah yang berada di Kerajaan Tifon. Infrastruktur Kota Leftnout sangat berbeda dengan kota-kota yang ada di Kekaisaran Kai.
Nagato dan Kashima berjalan dengan santainya memasuki Kota Leftnout sambil mencari bangunan yang terlihat mencurigakan.
“Tempat milik pemerintah dan menjadi tempat berkumpulnya banyak orang...” Nagato berpikir sesaat, kemudian dia melihat beberapa poster buronan dirinya bersama Hound di papan pengumuman.
Kashima yang melihat poster buronan Nagato terkejut. Di sebelah poster buronan Nagato terdapat lowongan pekerjaan bagi pria dan wanita.
“Lowongan sebagai pasukan khusus yang bekerja langsung di bawah arahan Kaisar Orochi?” Kashima mengangkat alisnya.
“Nagato, aku akan menyamar masuk ke dalam bangunan yang ada di denah lokasi ini. Jika aku terdesak atau menemukan tempat persembunyian mereka, aku akan memberimu tanda menggunakan kembang api berwarna merah.” Kashima mengeluarkan beberapa bom asap dan tersenyum tipis.
“Kita jadikan kota yang penuh dengan senyuman palsu ini menjadi ceria.” Setelah berkata demikian, Kashima langsung menuju tempat pendaftaran bagi orang yang ingin mendaftar sebagai pasukan khusus.
Nagato merasa dirinya diperhatikan banyak orang, terutama tatapan perempuan kepada dirinya.
“Sepertinya lain kali aku harus memakai topeng...” Setelah melihat Kashima menjauh, Nagato langsung berjalan menyusuri kota untuk melihat sendiri bagaimana raut wajah penduduk Kota Leftnout.
Walau berhasil membayar pajak dan tunduk pada pemerintahan Kaisar Orochi, tetapi penduduk di Kota Leftnout tidak terlihat bahagia, senyuman mereka penuh dengan kepalsuan.
Nagato terus berjalan menapaki jalan dan berhenti di dekat sebuah bangunan yang dekat dengan tempat Kashima mendaftar pekerjaan.
Ketika Nagato sedang berdiri dengan tenang, beberapa pria yang mengenakan jubah berwarna merah mendekatinya.
“Kau tidak akan bisa lari lagi, Sonjo si Penebas!”
“Di kota ini tidak ada orang yang berkeliaran membawa pedang. Bagaimanapun dia sangat mencurigakan. Aku yakin orang ini adalah Sonjo!”
Nagato menatap tajam puluhan orang yang terlihat sangat waspada dengannya.
“Hei, kau. Katakan padaku siapa namamu?!” Salah satu pria berjubah merah mengeluarkan pedang dan mengarahkannya pada Nagato.
Nagato menarik napas dalam melihat ujung pedang yang tepat di depan matanya, “Aku ingatkan padamu. Pedang ini bukanlah mainan. Jadi jangan pernah digunakan untuk mengancam. Karena kesabaranku ini ada batasnya.”
Perkataan Nagato membuat puluhan pria berjubah merah tertawa terbahak-bahak. Mereka langsung mengelilingi Nagato dari segala arah dan menatapnya dengan tatapan meremehkan.
“Jika dia bukan Sonjo juga bukan masalah. Selama kita menuduh perbuatannya, maka kita terbebas tanpa mendapatkan hukuman.” Salah satu pria berjubah merah yang berpenampilan seperti pemimpin menatap sinis Nagato.
“Cih, merepotkan!” Nagato menarik pedangnya secara bertahap ketika melihat puluhan pria berjubah merah langsung menyerangnya tanpa aba-aba.
Dalam satu kali tarikan napasnya, Nagato menghilang dari pandangan mereka semua. Gerakan Nagato begitu cepat, ketika mereka menyadari Nagato berada di tengah pengepungan, tubuh mereka ambruk ke jalanan.
Nagato hanya membuat mereka pingsan dan tidak membunuhnya. Karena rencananya hanya akan menghancurkan markas Sekte Pemuja Iblis di Kota Leftnout.
Saat Nagato dan pria berpenampilan kasar saling menatap tajam satu sama lain, seorang pemuda yang berlari datang dan berdiri di depan Nagato.
“Kau!” Pria berpenampilan kasar yang berlagak layaknya pemimpin menunjuk pemuda yang berdiri di depan Nagato.
“Sonjo si Penebas! Akhirnya kau menunjukkan diri! Aku akan membawa kepalamu pada Rokuju-Sama!”
Nagato menatap pedang yang ada di pinggang pemuda itu. Menurutnya energi yang terpancar pada pedang tersebut menunjukkan bahwa pedang itu bukanlah pedang sembarangan.
“Aku adalah ksatria pahlawan pedang yang datang untuk menjatuhkanmu, raja iblis!” Pemuda yang bernama Sonjo menarik pedangnya dan berbicara tidak jelas menurut Nagato.
“Jadi rumor jika kau orang gila adalah sungguhan. Hah, lagipula aku tidak peduli. Kau harus mati ditanganku, Sonjo si Penebas!” Pria berpenampilan kasar yang hendak bertarung melawan Nagato langsung menebaskan pedangnya kepada Sonjo.
Sonjo menyambutnya, kemudian melancarkan serangan beruntun yang membuat lawannya kewalahan. Dalam pertukaran serangan yang singkat, Sonjo mengakhiri lawannya dengan membuat pingsan lawannya.
“Jangan paksa aku membunuhmu. Sepertinya dia juga bawahan raja iblis. Aku harus menyegelnya...”
Nagato tidak mempedulikan Sonjo dan memilih menjauh. Tetapi pundaknya di pegang oleh Sonjo.
“Aku belum menanyakan namamu. Siapa namamu?”
Nagato melirik Sonjo. Kemudian menangkis tangan pemuda itu, “Namaku Nagato.”
“Nagato? Aku pernah mendengar nama ini...” Reaksi Sonjo membuat Nagato merasa jika dirinya harus membungkamnya. Tetapi tak lama Sonjo justru terlihat begitu terkejut.
“Apakah namamu nama margamu adalah Kagutsuchi?”