The Dawn

The Dawn
The Dawn 20 : Bunga Darah II



Suara ledakan diiringi tebasan pedang yang tajam menggema di dalam gua.


“Nagato, kau adalah master pahlawan. Biarkan aku yang mengatasi mereka!” Sonjo menatap tajam pria yang menahan tebasan pedangnya, “Dan kau Hayabusa, menjauh dariku dan bantu makhluk agung Naga Hitam Putih berdiri!”


Hayabusa melirik Panda. Manusia hewan ini sedang menggambar sesuatu di lantai-lantai gua dan menggumam tidak jelas.


“Kalian berani menyusup ke markas kami! Siapa yang memberitahu kalian keberadaan kami?! Katakan padaku, aku akan membunuhnya!” Sonjo terpental ketika perutnya terkena tendangan pria yang menahan tebasan pedangnya.


Nagato dengan tenang berjalan dan melepaskan aura intimidasi, “Tenang saja, aku akan mengantarmu bertemu dengan orang-orang yang tahu keberadaan markas ini...”


Gerakan Nagato begitu cepat, Pedang Kusanagi sudah menembus kulit pria itu. Jantungnya tertusuk, belum sempat berbicara dia sudah menghembuskan napas terakhirnya.


“Nagato...” Sonjo sendiri tidak menyangka melihat kecepatan Nagato dalam bergerak.


“Sepertinya kalian pendekar pedang dari Kekaisaran Kai. Menyebalkan, kalian mengganggu kesenanganku!” Sekarang pria berbadan kekar mengayunkan pedangnya secara brutal mengincar leher Nagato.


Nagato menghindarinya, dan menatap dingin pria itu. Tanpa keraguan, satu tebasannya memberikan luka dalam pada pria berbadan kekar itu.


“Kalian berdua urus sisanya...” Nagato memasuki ruangan dengan santainya karena melihat beberapa berkas-berkas di ruangan milik petinggi Bunga Darah.


Ketiga petinggi merasa diremehkan. Salah satu dari mereka hendak memotong leher Nagato.


“Jangan mengabaikan kami! Akan kuhancurkan wajahmu itu!” Pria itu melompat dan melepaskan tebasan yang tajam dan mematikan.


“Kau sendiri mengabaikan keberadaanku...” Hayabusa menahan tebasan pria itu dan membuka jalan untuk Nagato.


Sonjo dan Panda menyadari jika Nagato memiliki aura dan kharisma yang berbeda. Keduanya langsung kembali berdiri sebelum saling menatap satu sama lain.


“Naga Hitam Putih, aku serahkan yang sebelah kiri padamu!” Sonjo langsung berlari setelah berkata demikian pada Panda.


“Aye-aye!” Panda memutar tubuhnya sebelum mengambil ancang-ancang dan bergerak dengan kecepatan tinggi melepaskan satu pukulan bertenaga.


“Apa-apaan hewan ini?!” Pria di sebelah kiri terpental masuk ke dalam ruangan dan terbang ke arah Nagato.


“Panda, hati-hati. Bisa merepotkan jika kau kelaparan karena banyak bergerak...” Nagato memukul wajah pria yang terlempar ke arahnya, sementara Hayabusa tertawa karena dia tidak percaya Nagato akan mengatakan hal itu.


“Apa-apaan dengan kalian ini?! Kami tidak pernah menyinggung kalian!” Pria dihadapan Hayabusa berteriak.


“Kau terlalu lama menjadi seorang sialan yang mempermainkan hidup seseorang. Anggap saja kalian dari organisasi bawah tanah telah menyinggungku...” Hayabusa juga mengalahkan lawannya dalam satu kali tebasan.


“Apa ini, kelompok ini bahkan lebih lemah dari Asosiasi Pedang Darah...” Hayabusa menyarungkan kedua pedangnya dan menepuk telapak tangannya.


“Jangan lengah, Hayabusa. Mereka semua adalah bawahan raja iblis...”


“Ya, ya. Kalahkan dulu lawanmu baru berbicara...” Hayabusa memotong perkataan Sonjo dan menutup kedua lubang telinganya dengan jari kelingkingnya.


“Kau semakin haus darah Muramasa...” Sonjo berbicara sambil menatap pedangnya.


Di dalam ruangan, Nagato sudah mengambil semua berkas-berkas dan memberikannya pada Hayabusa.


“Bawa ini, kita temui mereka bertiga...” Nagato berjalan melewati Hayabusa dan Sonjo, lalu pandangannya beralih menatap Chibi, “Ayo pergi, Chibi...”


___


Di luar gua terlihat Laura dan Kashima telah membebaskan para tahanan. Sementara Nekoya melompat ke pohon dan menatap langit.


“Kashima, apa kau bisa menangkap burung itu? Aku lapar...”


“Nekoya-Chan, jangan terlalu tinggi. Hati-hati...” Kashima justru khawatir melihat Nekoya yang berdiri tegak di atas ujung pohon.


“Hei, apa kamu ibunya?” Laura menepuk Kashima.


Para tahanan yang baru dibebaskan berwajah murung, tanpa bertanya, Kashima dan Laura mengetahui apa yang terjadi pada mereka.


“Andai aku memiliki kekuatan! Kenapa mereka selalu menindas orang yang lemah dan tidak bersalah!”


“Laura-Chan...”


Kashima memegang pundak Laura karena teriakan gadis ini membuat wajah para tahanan terkejut.


“Aku sendiri merasa jika Benua Ezzo akan berakhir di tangan penjajah Kekaisaran Kinai, penjajah Kerajaan Sihir Azbec dan Kekaisaran Rakuza. Tetapi saat aku melihat Nagato, aku merasa dia menatap dunia yang berbeda dengan kita...” Kashima berkata pelan sambil memperhatikan gua, “Tatapan matanya, adalah tatapan orang yang mengetahui rasa sakit yang sebenarnya...”


Laura menarik napas panjang setelah mendengar perkataan Kashima, “Kita antar mereka ke kota dan sebarkan informasi yang disuruh Nagato.”


Kashima mengangguk setuju, kemudian dia menatap Nekoya yang masih mengamati burung yang terbang di angkasa, “Nekoya-Chan, saatnya menyelesaikan tugas kita!”


Nekoya merunduk dan melompat ke bawah, tubuhnya memutar di udara dengan indahnya. Penampilannya sangat menggemaskan, tetapi membuat Kashima dan Laura jantungan.


“Benar juga kucing memiliki tujuh nyawa...” Kashima dan Laura berkata bersamaan karena mengkhawatirkan Nekoya.


Nekoya dengan wajah imutnya langsung memeluk tubuh Kashima dan Laura, “Aku ini memiliki darah hairmau... Jadi kalian berdua jangan khawatir...”


Laura mencubit pipi Nekoya dan menariknya, “Ini tidak ada hubungannya dengan hairmau. Jika kakimu patah bagaimana?”


“Hei, kamu ibunya, kah?” Kashima menepuk pundak Laura, karena gadis ini memarahi Nekoya.


Para tahanan yang berwajah murung tertawa melihat tingkah Kashima, Laura dan Nekoya.


Tak lama mereka bertiga mengantar para tahanan menuju Kota Jill.