
Sonjo menguburkan mayat Rokuju di hutan. Kemudian dia menatap ke arah bukti setelah berkali-kali terdengar suara ledakan.
“Ksatria pahlawan pedang akan segera datang!” Dengan kecepatan tinggi, Sonjo melangkahkan kakinya menuju markas Asosiasi Pedang Darah.
Langkah kakinya menapaki bukit di dataran tinggi, dan sesampainya disana, Sonjo melihat Nagato dan Hayabusa yang sedang menerobos masuk ke dalam markas Asosiasi Pedang Darah.
“Nagato! Kau tidak mengajak tangan kananmu ini!” Sonjo mengayunkan pedangnya dari kejauhan.
Nagato melirik Sonjo yang sudah berada disampingnya, “Lihat, orang yang kau buat pingsan mengejarmu.” Nagato menyuruh Sonjo melihat ke belakang.
Sonjo menoleh dan terkejut, “Bagaimana mungkin? Aku yakin sekali tadi telah menyegelnya...”
“Segel? Kau hanya membuat mereka pingsan. Seorang pembunuh bayaran seperti mereka tentu sudah terlatih.” Nagato menjauh dari Sonjo dan berlari memasuki markas Asosiasi Pedang Darah.
Nagato dan Hayabusa langsung menuju ke dalam markas, sementara Sonjo membuka jalan untuk keduanya.
“Pemimpin! Ada orang yang menyusup ke markas kita!”
Salah satu pembunuh bayaran berteriak sebelum Hayabusa menusuk jantung pembunuh bayaran tersebut. Nagato mendecakkan lidahnya ketika tiga puluh pembunuh bayaran keluar dan mengepung mereka.
“Siapa dua orang bodoh ini? Mereka punya nyali berurusan dengan Asosiasi Pedang Darah!”
“Jangan remehkan mereka berdua. Mereka sudah membunuh teman-teman kita!”
“Jangan takut! Selama pemimpin bersama kita, mereka berdua bukan tandingan Asosiasi Pedang Darah!”
Pembunuh bayaran mengepung Nagato dan Hayabusa dari segala arah. Pembunuh bayaran dari Asosiasi Pedang Darah memang sudah mahir dalam dunia pembunuhan, darah adalah minuman mereka sehari-hari, sementara memotong daging adalah kebiasaan mereka.
Tetapi hari ini, pembunuh bayaran terbaik yang berkumpul dalam satu tempat tidak berkutik ketika Nagato dan Hayabusa sudah mulai memainkan pedang mereka.
“Suruh pemimpin kalian keluar! Walau kalian semua bersatu, tidak akan bisa menghentikan kami!” Hayabusa benar-benar memainkan pedangnya dengan brutal. Intimidasi adalah keahliannya, sehingga Hayabusa sengaja menekan mental pembunuh bayaran.
“Masih bisa berbicara seperti itu. Kalian berdua terlalu percaya diri, terutama kau pengguna dua pedang!” Salah satu pembunuh bayaran yang menggunakan pedang besar menyerang Hayabusa.
Hayabusa menyambut serangannya, ketika kedua bilah pedang bertemu, keduanya langsung bertukar serangan.
Nagato fokus menghabisi pembunuh bayaran yang mengepungnya. Untuk mendapatkan sesuatu, dia harus kehilangan sesuatu. Demi mendapatkan kebahagiaan, dia mengorbankan perasaan.
Nagato yakin Hayabusa memiliki alasan tersendiri menghancurkan Asosiasi Pedang Darah. Tidak ada alasan baginya untuk mundur, setelah Hound dan Sura menolongnya, Nagato telah memutuskan.
Memutuskan untuk melihat sampai sejauh mana perkembangannya demi membunuh seluruh anggota Organisasi Disaster di Kerajaan Sihir Azbec.
Setelah membunuh pembunuh bayaran yang mengepungnya, Nagato bergerak cepat membunuh pembunuh bayaran dalam satu tarikan napasnya. Setelah markas Asosiasi Pedang Darah tampak sunyi, Nagato melirik Hayabusa yang juga telah membunuh lawannya.
Tak lama suara tepukan tangan terdengar. Lima orang keluar dari lorong menatap Nagato dan Hayabusa yang telah menghabisi pembunuh bayaran yang berada di markas.
“Sepertinya kita kedatangan tamu yang menarik. Mereka benar-benar melakukannya. Membunuh teman-teman kita.” Pria yang berpenampilan seperti seorang wanita turun dari tangga dan berdiri di depan Nagato.
Nagato menatap pria yang berbicara padanya, “Tanpa kuberitahu, kau sudah mengetahui jawabannya bukan?” Tangan Nagato sudah mengibaskan pedangnya.
Tanpa menunggu lebih lama, pria berpenampilan yang seperti seorang wanita menyerang Nagato dengan agresif.
“Dibalik penampilanmu, ternyata kau sangat agresif.” Nagato menangkis tebasan pedang yang agresif sambil terus melancarkan serangan beruntun.
Pedang Kusanagi Nagato bertemu dengan pedang pembunuh bayaran berpangkat tinggi itu, benturan tebasan keduanya menciptakan hembusan angin yang kencang dan gelombang udara.
Nagato mempercepat tebasannya hingga dia menemukan celah besar pada lawannya. Dalam satu gerakan tipuan sesaat, sekejap Nagato dapat menghunuskan pedangnya tepat di jantung lawannya itu.
“Kau...” Matanya melebar. Pria itu hendak mengatakan sesuatu, namun dia telah menghembuskan napas terakhirnya lebih cepat.
Nagato menarik pedangnya dan mengibaskannya. Pandangannya menatap empat pembunuh berpangkat tinggi yang lainnya.
Ketika Nagato dan Hayabusa sudah bersiap untuk menyerang empat pembunuh berpangkat tinggi, ledakan dari arah pintu terdengar keras.
“Nagato, kau tidak mengajak tangan kananmu ini bersenang-senang.” Sonjo mengibaskan pedangnya yang berlumuran darah.
Empat pembunuh berpangkat tinggi sangat mengenal Sonjo, sehingga mereka langsung menarik pedangnya.
“Kalau tidak salah dia adalah Sonjo si Penebas! Tidak heran jika mereka berdua menjadi anggota orang gila ini!”
Salah satu pembunuh bayaran berpangkat tinggi langsung mengambil posisi kuda-kuda, tak lama dia menghilang dari pandangan Sonjo.
“Terima ini!”
Sonjo menyeringai, “Kurang cepat. Aku masih bisa melihatmu walau kau berusaha mengecohku!” Sonjo menahan tebasan pedang pembunuh bayaran tersebut. Kemudian membalasnya berkali-kali lipat guna membunuhnya dalam satu kali tebasan yang dilapisi aura hitam pekat.
Tebasan pedang Sonjo menebas dalam dada pembunuh bayaran berpangkat tinggi yang menyerangnya.
“Tersisa tiga. Sepertinya kalian tidak ingin memanggil pemimpin kalian yang menjadi bawahan raja iblis itu.” Sonjo kembali bergerak agresif menyerang tiga pembunuh berpangkat tinggi yang tersisa.
Hayabusa memblokir tebasan pedang Sonjo, “Nagato, apakah dia juga telah menjadi teman kita? Kemampuannya ini sangat berbahaya.”
Sonjo memutarkan pedangnya, lalu kembali melepaskan serangan pada Hayabusa, “Aku adalah tangan kanan Nagato. Kau sendiri siapa?”
Mata Hayabusa menajam, “Tangan kanan? Apa yang kau katakan?”
Nagato menggelengkan kepalanya melihat keduanya terlibat pertarungan, “Hayabusa! Sonjo! Berhenti melakukan hal yang bodoh! Lihat ke depan!”
Tiga orang pembunuh bayaran yang memakai jubah berwarna merah memancarkan aura yang berbeda dari pembunuh lainnya.
Hayabusa dan Sonjo langsung melompat berdiri di samping Nagato.
“Akhirnya kau muncul raja iblis palsu!” Sonjo tersenyum lebar. Sementara Hayabusa sangat mengenal tiga orang tersebut.